RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Ongkel Do


__ADS_3

Siang ini Kirania mendampingi Dirga menemui salah satu kolega bisnisnya. Dijadwalkan mereka akan bertemu saat jam makan siang di salah satu Japanese Restaurant di Jakarta.


" Selamat siang, Pak Dirga. Senang bisa bekerja sama dengan Anda." Seseorang pria kisaran umur menjelang empat puluh menyambut kedatangan Dirga.


" Selamat siang juga, Pak Dicky. Saya justru yang merasa senang karena mendapatkan kesempatan luar biasa ini." Dirga dengan ramah menerima sambutan itu.


" Mari silahkan, silahkan ..." sahut pria bernama Pak Dicky itu mempersilahkan Dirga dan Kirania duduk, tapi matanya tak lepas memandangi kehadiran Kirania yang mendampingi Dirga. " Sekretaris Anda, Pak Dirga?" tanyanya kemudian.


Dirga langsung melirik Pak Dicky yang terlihat sedang memperhatikan Kirania, dan tentu saja hal itu membuatnya tak nyaman.


" Dia asisten pribadi saya, Pak Dicky." Dengan sedikit malas Dirga menjawab. " Kita langsung bahas soal kerjasama kita sekarang?" Dirga mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Santailah, Pak Dirga. Anda baru saja tiba, kita bincang-bincang santai sejenak saja dulu." Pak Dicky terkekeh. " Pasti sangat menyenangkan bekerja selalu ditemani wanita cantik seperti asisten pribadi Anda ini ya, Pak Dirga?"


Dirga mengeratkan giginya, dia dibuat kesal dengan tingkah pak Dicky yang tak juga berhenti memandang Kirania.


" Dia sudah punya calon suami, sebentar lagi akan menikah," jawab Dirga kemudian.


Pak Dicky yang mendengar jawaban Dirga langsung saja tergelak. " Saya hanya mengatakan senang bekerja didampingi wanita cantik, tapi Anda berpikirnya sampai ke calon suami asisten Anda ini, Pak Dirga. Apa itu cara Anda memprotek asisten Anda yang cantik ini dari gangguan pria lain?" sindir Pak Dicky menyeringai sembari menaikkan satu alisnya


Tak beda dengan Dirga, Kirania sendiri tak nyaman jika ada pria yang terang-terangan memujinya seperti yang dilakukan oleh relasi bisnis bosnya itu. Apalagi Pak Dicky yang sedari dirasanya tak melepas pandangan darinya.


" Siapa nama Anda, Nona cantik?" tanya Pak Dicky kepada Kirania.


Kirania menoleh ke arah Dirga seolah bertanya apa yang harus dia lakukan, tapi justru Dirga lah yang menjawabnya.


" Namanya Kirania, Pak Dicky."


" Kirania, nama yang cantik, secantik orangnya. Setelah pertemuan ini, boleh saya mengenal Anda secara lebih dekat, Nona Kirania?"


" Tidak boleh!" sergah Dirga menyahuti spontan, membuat semua orang di sana termasuk dirinya sendiri kaget karena reflek mengatakan hal itu.


" Maaf, Pak Dicky. Sebaiknya kita fokus membahas soal urusan kerjasama kita.," lanjutnya.


Pak Dicky mengeryitkan keningnya sebelum akhirnya menjawab, " Baik, baiklah ... kita langsung membahas soal proyek yang akan kita jalani." Matanya kini bergantian menatap Dirga dan Kirania.


Hampir satu jam waktu yang dihabiskan Dirga dan Pak Dicky untuk berbincang perihal proyek kerjasama mereka.


" Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu bertemu dengan saya, Pak Dicky. Senang bisa bekerjasama dengan Anda, semoga semua berjalan lancar. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Dicky," pamit Dirga seraya membangkitkan tubuhnya dan mengulurkan tangan ke arah Pak Dicky.


" Tunggu sebentar, Pak Dirga." Pak Dicky menahan Dirga. " Nona Kirania, bisakah saya meminta nomer kontak Anda?" tanya Pak Dicky seraya menatap Kirania, membuat Kirania memicingkan matanya. " Jika saya kesulitan menghubungi Pak Dirga, saya bisa menghubungi Anda, Nona." Pak Dicky beralasan, karena saat itu dia langsung mendapakan sorot mata penuh selidik dan penuh intimidasi dari Dirga yang diarahkan kepadanya.

__ADS_1


" Maaf, Pak. Bapak bisa menghubungi Pak Dirga saja. Saya yakin Pak Dirga akan cepat merespon jika Bapak hubungi," tolak Kirania dengan bahasa yang lugas.


" Hmmm, Oke ... baiklah, semoga kita bisa berjumpa lagi Nona Kirania." Pak Dicky pun berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Kirania hingga membuat rahang Dirga mengeras. Karena uluran tangannya diabaikan tapi Pak Dicky malah mengulurkan tangan ingin menjabat Kirania.


Kirania langsung bereaksi, dia mengatupkan kedua tangan di dekat dada seraya sedikit membungkukkan tubuhnya seraya berucap, " Terima kasih, Pak."


Dirga yang melihat sikap Kirania mengembangkan sedikit senyuman. " Saya pemirsi, Pak Dicky." Seraya mengulurkan tangannya kembali, Dirga berpamitan yang akhirnya dibalas uluran tangan Pak Dicky.


" Lain kali jika bertemu dengan dia, kamu nggak usah ikut denganku," ujar Dirga saat mereka berdua meninggalkan restoran menuju parkiran.


" Yang memerintahkan saya menemani Bapak 'kan Bapak sendiri." Kirania menyahuti santai.


" Lain waktu jika bertemu pria model Pak Dicky tadi, kamu harus mempertahankan sikapmu seperti tadi. Pria model Pak Dicky itu hanya ingin bersenang-senang dengan wanita. Tidak memikirkan anak istri di rumah, yang dia pikirkan hanya memikirkan bagaimana menyalurkan hasrat sebagai pria dewasa kepada wanita lain selain istri sah nya di rumah."


Sebenarnya Kirania agak jengah mendengar Dirga berbicara tentang urusan pria dewasa itu. Tapi ada kalimat-kalimat Dirga yang menggelitik hatinya hingga dia tak kuasa untuk tidak berkomentar. " Bapak sendiri gimana? Bapak juga 'kan sudah berkeluarga?" sindir Kirania membuat Dirga langsung menoleh ke arahnya


" Nggak usah mulai. Cepat masuk!" Dirga langsung membukakan pintu mobil untuk Kirania, kemudian menutup pintunya saat Kirania masuk ke dalam, setelah itu dia berputar arah menuju kursi kemudi mobil yang dia kendarai untuk kembali ke kantornya.


***


Sementara itu di sebuah perumahan elit ...


" Ongkel Do ..." Kayla berlari saat melihat kehadiran Edward di rumahnya.


" Ongkel bawa mainan buat Kela, ya?" Kayla memperhatikan goodie bag yang ada di tangan Edward.


" Memang ini buat, Kayla?" Edward mengeryitkan keningnya mencoba menggoda gadis mungil itu.


" Iya dong buat Kela, maca (masa) buat mama?" Kayla yang sempat mengintip goodie bag itu berisi boneka langsung mengomentari.


Edward terkekeh mendengar celoteh Kayla yang menggemaskan. " Mama Kayla ada?" tanyanya kemudian.


" Ada di kamal (kamar)" sahut Kayla.


" Sus, bisa panggilkan mamanya Kayla sebentar?" Edward meminta salah seorang pengasuh Kayla untuk memanggilkan Nadia.


" Ada apa, Do?" Tiba-tiba terdengar suara Nadia dari arah tangga.


Edward menoleh ke arah suara Nadia, dia mendapati sosok wanita cantik itu mengenakan dress warna nude di atas lutut tanpa lengan menuruni anak tangga. Cantik, sudah pasti itu. Tak heran jika kakak beradik Bimantara dan Dirgantara dulu pernah tertarik dan menyukai wanita itu, pikir Edward.


" Ada berita apa, Do? Kamu sudah berhasil meyakinkan Dirga?"

__ADS_1


Edward mengerjapkan matanya, pertanyaan Nadia tadi sontak menyadarkan dirinya yang sempat terkesima melihat kecantikan Nadia.


" Oh ... sebaiknya kita berbincang di tempat lain." Edward melirik ke arah ke Kayla dan pengasuh yang ada di sana.


" Kita bicara di ruanganku saja kalau begitu, atau kamu ingin di tempat lain?" tanya Nadia.


" Di mana saja asal tidak terlihat anakmu," sahut Edward.


" Hmmm, kita bicara di luar saja kalau begitu. Tunggu sebentar, aku ambil tasku dulu." Nadia kembali memutar arah menuju kamarnya.


" Ongkel Do mau pelgi cama mama, ya?" tanya Kayla.


" Iya, Sayang. Uncle Do pinjam Mama Kayla sebentar, ya?!"


" Pinjam buat apa, Ongkel?"


Edward terkekeh menanggapi pertanyaan polos Kayla. " Uncle mau bawa Mama Kayla pergi dulu, mau ada keperluan."


" Kela nda diajak?"


" Kayla di rumah dulu sama suster, oke?!" Edward mengacak rambut halus Kayla, tapi Kayla malah mencebikkan bibirnya merajuk.


" Napa Kela nda diajak? Kela 'kan ingin ikut jalan-jalan cama Ongkel." Kayla menggerutu.


" Kayla mau jalan-jalan sama Uncle?" Kayla mengangguk cepat menyahuti pertanyaan Edward.


" Bagaimana kalau nanti Uncle ajak Kayla pergi jalan-jalan?"


" Mau Ongkel mau ..." sorak Kayla dengan wajah berbinar. " Ongkel mau ajak Kela ke mana?"


" Kayla maunya ke mana?"


" Kayla mau Disnilen, Ongkel."


" Disneyland? Hmmm, boleh ... nanti Ongkel ajak Kayla ke Jepang lihat Disneyland di sana. Kita pergi berdua, Oke?"


" Mama nda diajak, Ongkel?"


Bersambung ...


Visual Kayla

__ADS_1



Happy Reading ❤️


__ADS_2