
Nadia semakin tersedu dengan pertanyaan Dirga, seketika rasa bersalah menggelayuti hatinya.
" Maafkan aku, Boo ..." Masih dengan tersedu Nadia mengatakan permohonan maafnya.
" Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Hubungan kita sudah lama berakhir, terlebih saat ini kamu sudah mengandung anak dari Bang Bima," ucap Dirga dingin.
" Hiks ... hiks ...."
" Sejak kapan kalian berhubungan?" Dirga mencoba mengingat, hampir dua bulan ini Nadia memang hampir jarang mengusiknya melalu telepon atau datang ke kantornya. Tapi tidak pernah terlintas di benaknya jika hal ini berhubungan dengan Bima, abangnya.
" Hiks ... hiks ... a-aku ...." Dengan terbata Nadia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dua bulan sebelumnya ...
Nadia sedang membuka-buka majalah fashion di ruang tengah rumah orang tua Dirga sore itu. Dia sengaja menunggu Dirga pulang, dia pun berniat untuk menginap di rumah Dirga karena besok adalah hari ulang tahunnya. Nadia ingin merayakan pergantian usia yang ke dua puluh empat tahun bersama Dirga.
" Eheemm, sedang menunggu Dirga?"
Nadia menoleh ke arah suara seseorang yang menyapanya dari arah tangga.
" Kak Bima? Iya, Kak. Aku sedang menunggu Dirga pulang," sahut Nadia.
Bima sedikit berlari kecil menuruni anak tangga. " Apa kamu tak lelah menghadapi si manusia kutub itu?" sindir Bima, karena setau Bima sejak dia kembali ke Indonesia, Dirga selalu bersikap dingin terhadap Nadia. " Aku heran, kenapa adikku itu bisa berubah sikap terhadapmu, Nad. Padahal kalau aku ingat dulu, dia itu sangat mencintaimu. Apa saat kamu di luar negeri kamu selingkuh di belakang dia?" tuding Bima kemudian.
" Astaga, Aku tidak pernah berbuat seperti itu, Kak! Aku sangat mencintai Dirga!" ketus Nadia memberengut kesal dengan tuduhan Bima yang dialamatkan kepadanya.
" Hahaha ... aku 'kan hanya menduga, nggak usah marah gitu, dong. Tapi kamu tetap cantik kok walau sedang cemberut juga." Bima tergelak membuat Nadia semakin mencebikkan bibirnya.
" Kalau kamu nggak selingkuh, tapi adikku itu masih saja bersikap acuh terhadapmu, kenapa kamu nggak coba cari pria lain saja, Nad. Kamu cantik, pintar, untuk apa kamu mempertahankan Dirga yang belum tentu masih mencintaimu." Bima seolah mencoba mempengaruhi Nadia. " Aku yakin pasti banyak pria yang menginginkanmu. Buatlah seorang pria memuja dan mengejarmu, bukan kamu yang mengejar-ngejar pria."
Kata-kata Bima sangat menohok di hati Nadia, membuat hati wanita itu semakin kesal. Akhirnya Nadia memilih bangkit dan hendak meninggalkan Bima.
" Pikirkan baik-baik perkataanku tadi, Nad. Dunia itu luas, tidak hanya seputar Dirgantara dan Dirgantara." Kata-kata Bima sempat menahan langkah Nadia, sebelum akhirnya wanita itu melangkah pergi meninggalkan Bima yang mengembangkan senyum licik di sudut bibirnya.
__ADS_1
***
Nadia memperhatikan waktu di ponselnya, sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi tak ada tanda-tanda Dirga datang memberi surprise di hari ulang tahunnya ini. Nadia mendesah gelisah, dia teringat kata-kata Bima, apakah penantiannya pada Dirga benar akan sia-sia? Nyatanya setelah Dirga ditinggalkan Kirania, ternyata hampir dua tahun berjalan, hubungannya dengan Dirga tak juga membaik tapi malah sebaliknya, Dirga semakin bersikap dingin terhadapnya.
Notif pesan di ponsel Nadia banyak berbunyi, dari orang tua, keluarga dan teman-temannya, tapi tak membuatnya bahagia. Karena yang dia tunggu adalah kedatangan seorang Dirgantara.
Tok tok tok
Nadia langsung terkesiap saat mendengar pintu kamar tamu rumah orang tua Dirga yang dia tempati diketuk seseorang. Seketika senyumnya mengembang di bibirnya. Dengan cepat dia berlari untuk membuka pintu kamar.
" Happy Birthday cantik."
Nadia memberengut, karena bukan pria yang dia harapkan yang datang tapi ternyata Bimantara lah yang kini berdiri di depan pintu dengan membawa bolu berukuran kecil dengan satu lilin yang sudah dinyalakan api.
" Kenapa Kak Bima kemari?" tanya Nadia kecewa
" Memangnya kamu mengharapkan siapa? Dirga? Apa kamu masih belum jelas dengan kata-kataku sore tadi? Cepat tiup lilinnya, nanti keburu habis meleleh, lho." Bima menyodorkan bolu itu ke hadapan Nadia.
" Ayolah, aku sudah berbaik hati nemenin kamu, lho. Hari ulang tahun itu harus disambut gembira, bukan disambut dengan cemberut," sindir Bima.
" Aku nggak butuh Kakak temani!" Nadia menutup kencang pintu kamar dan segera menguncinya, kemudian dia berhambur dan menghempas tubuhnya sambil terisak di atas tempat tidur hingga akhirnya dia terlelap.
Pagi harinya, Nadia terbangun saat pintu kamar kembali diketuk dari luar.
" Ada apa lagi, sih? Kak Bima ingin ganggu aku lagi?" ketus Nadia, saat lagi-lagi dilihatnya Bima yang muncul di pintu kamar.
" Siapa juga yang mau ganggu kamu? Aku justru ingin mengajak kamu bersenang-senang." Bima langsung menerobos pintu dan masuk ke kamar yang ditempati Nadia.
" Kak Bima mau apa masuk-masuk kamar? Cepat keluar, nanti kalau Tante Utami tahu, pasti tante akan berpikir yang macam-macam." Nadia mencoba mengusir Bima.
" Memang apa yang akan mama pikirkan? Kalau mama punya pikiran macam-macam, pasti akan suruh aku tanggung jawab, paling juga suruh kita ke KUA. Ya sudah kita nikah saja kalau gitu." Bima terkekeh, membuat Nadia mendelik seraya mencebikkan bibirnya.
" Buruan cepat mandi, atau ingin aku bantu mandiin kamu?" Bima memainkan alisnya turun naik.
__ADS_1
" Kak Bima maunya apa, sih?!"
" Aku mau ajak kamu jalan-jalan. Hari ini kamu 'kan ulang tahun, jadi kamu harus bersenang-senang." Bima lalu mencengkram kedua pundak Nadia dari belakang, lalu mengarahkan tubuh wanita itu ke arah bathroom.
Beberapa jam kemudian ...
Nadia menyampirkan helaian rambut yang melambai-lambai tersapu angin pantai sore ini saat dia melihat indahnya hamparan laut luas di hadapannya.
" Bagaimana? Kamu suka?" tanya Bima dari arah belakang dia berdiri.
" Indah sekali alam di sini." Nadia memuji keindahan alam ciptaan Sang Kuasa.
" Aku bisa mengajakmu ke tempat-tempat indah seperti ini kalau kamu mau."
" Maksud Kakak?" Nadia mengeryitkan keningnya.
" Lupakan Dirga, ikutlah bersamaku. Aku akan membawamu ke mana pun kamu inginkan." Bima menarik bahu Nadia hingga kini posisi mereka berhadapan.
" A-aku nggak mau, Kak. Aku nggak bisa." Nadia menepis tangan kekar Bima yang mencengkram pundaknya.
" Jangan bersikeras seperti itu, Nad. Kamu sendiri yang akan terluka." Bima memperingatkan.
" Aku mencintai Dirga, Kak. Aku akan menunggu dia bisa kembali mencintaiku." Nadia bersikukuh.
" Penantianmu akan sia-sia, Nad. Dirga sekarang bukanlah Dirga yang dulu kamu kenal. Aku sendiri pun tak pernah menduga kenapa adikku bisa berubah sedingin itu sikapnya. Aku kasihan padamu, aku nggak ingin melihat kamu terluka karena Dirga. Karena itu aku menawarkan diri sekali lagi, ikutlah bersamaku, aku bisa janjikan kebahagiaan yang tidak bisa Dirga berikan kepadamu." Bima merangkum wajah cantik Nadia, perlahan-lahan dia mendekatkan bibirnya ke arah bibir Nadia, membuat Nadia membulatkan matanya. Dan sebelum bibir Bima menyentuh bibir warna merah delima milik Nadia, tangan Nadia terlebih dulu mendorong kuat tubuh Bima, hingga Bima mundur selangkah ke belakang.
" Jadi ini maksud Kak Bima membawaku kemari?! Dirga itu adik Kakak, kenapa Kakak tega mempengaruhi aku supaya berpaling darinya?" Nadia menggelengkan kepala tak percaya dengan perbuatan Bima. " Aku benci Kak Bima!" sembur Nadia, sebelum akhirnya wanita itu berlari ke arah resort yang dipesan oleh Bima saat merela tiba tadi di Labuan Bajo.
Bersambung ...
Ternyata Bima & Dirga setipeš¤š¤ Coba dari awal Bima datang ke Indonesia, aku jodohkan dengan Nadia, biar Dirga aman sama Raniaš
Happy Readingā¤ļø
__ADS_1