RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Apa Yang Kalian Sembunyikan?


__ADS_3

Kirania merebahkan tubuhnya di atas springbed kamar hotel yang sudah empat malam ini dia tempati. Dia masih mencari tempat kost yang akan dia tempati nantinya, mungkin jika ketemu hari libur nanti dia baru bisa survei ke tempat yang akan dia pilih.


Ddrrtt ddrrtt


Kirania segera meraih ponselnya saat terdengar ada panggilan masuk. Kirania memperhatikan nomer asing yang memang tidak tersimpan di kontak teleponnya. Dia hanya memandangi tak berniat mengangkatnya hingga nada panggil itu berhenti. Tapi dalam hitungan detik teleponnya kembali berbunyi, masih dari nomer yang sama. Akhirnya Kirania memutuskan mengangkat panggilan telepon itu.


" Assalamualaikum ..." sapanya kemudian.


" Waalaikumsalam, kamu belum tidur kan, Ran?"


Kirania menghela nafas saat mendengar suara dari balik telepon itu ternyata milik Gilang.


" Belum, Kak."


" Aku ada di lobby, kamu bisa turun ke bawah?"


" Kak Gilang masih ada di sini?"


" Iya, mestinya sore ini aku pulang ke Cirebon, tapi saat aku tahu kamu ada di sini, aku cancel pulang ke Cirebon nya." Gilang terkekeh saat mengucapkan kalimat itu.


" Tapi aku mau istirahat, Kak." Kirania masih saja berusaha menghindar.


" Ayolah, Ran. Baru juga jam delapan, mumpung kita ketemu di sini. Aku mau ngobrol-ngobrol sama kamu. Sampai kapan kamu mau terus menghindari aku?"


Kirania kembali menarik nafas perlahan. " Oke, tapi nggak bisa lama ya, Kak." Kirania memutuskan menemui Gilang. Rasanya tidak adil juga untuk pria itu jika dia selalu menghindarinya.


" Oke aku janji." Gilang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat mengucapkan kalimat itu.


Akhirnya Kirania pun bangkit dari berbaring. Dia merapikan rambutnya dan memakai aket hoodie, untuk menutupi baju tidurnya yang tanpa lengan.


***


" Ran ..." Gilang langsung menyapa Kirania saat melihat wanita itu sampai lobby hotel.


" Kita ke resto di rooftop saja, yuk." Gilang langsung menarik tangan Kirania membuat Kirania membelalakkan matanya.


" Kak ..." Kirania langsung menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Gilang.


" Oh, maaf, Ran. Aku terlalu excited ..." Gilang terkekeh. " Ayo ..." Gilang pun melangkah menuju lift yang akan membawanya ke rooftop hotel, dan Kirania pun hanya mengekor di belakangnya.

__ADS_1


" Kamu mau makan apa, Ran?" tanya Gilang sesampainya mereka di resto di atas hotel itu.


" Aku nggak lapar, Kak. Kak Gilang kalau mau pesan, silahkan pesan saja," tolak Kirania.


" Nggak enak dong, masa aku makan sendirian. Atau kamu mau aku suapin sekalian?" goda Gilang membuat Kirania seketika bersemu.


" Aku bercanda, Ran. Kalau aku berani lakukan itu, yang ada kamu malah lari dari aku. Sudah susah-susah bujukin kamu untuk ketemu, nggak mungkin sampai aku bikin kacau," tutur Gilang kemudian.


Kirania hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat Gilang yang pria itu anggap hanya sebuah candaan.


" Aku mau pesan Red Velvet sama capuccino latte, kamu mau juga?" Gilang menawarkan.


Kirania pun akhirnya mengangguk pelan menyetujui apa yang dipesan Gilang. " Aku air mineral saja minumnya."


Akhirnya Gilang pun meminta pelayan resto mencatat pesanannya.


" Sepertinya aku mesti catat hari dan tanggal hari ini dalam sejarah, deh."


Kirania langsung mengeryitkan keningnya saat mendengar ucapan Gilang. " Memang ada apa, Kak?"


" Karena setelah sekian lama, akhirnya aku berhasil juga mengajak kamu duduk berdua ngobrol seperti ini. Kamu tahu sudah sejak lama aku menginginkan hal ini, tapi kamu susah sekali untuk didekati."


" Kenapa Kak Gilang tak pernah berhenti mengharapkan aku?" Kirania menyadari sejak di Cirebon pun dia selalu menghindar jika Gilang datang ke rumahnya, ada saja alasan yang dia berikan. Kadang dia malah mengacuhkan pria itu berharap Gilang patah semangat dan berhenti mengejarnya, tapi ternyata hal itu tak mempengaruhi keinginan Gilang untuk terus mendekati Kirania.


" Karena aku selalu merasa aku tetap punya kesempatan untuk memiliki kamu, sambil berharap hati kamu luluh."


" Apa Kak Gilang tak pernah merasa lelah? Sampai kapan Kak akan terus mengharapkanku?" tanya Kirania menatap wajah pria tampan yang dulu pernah menjadi idola saat mereka masih berseragam putih abu-abu.


" Sampai aku tidak punya kesempatan lagi, saat kamu telah menemukan kebahagiaan dengan pria lain. Saat itulah mungkin aku akan menyerah."


Hati Kirania mencelos seketika mendengar penuturan Gilang. Dia merasa sangat bersalah, dia tahu jika Gilang adalah pria yang baik yang selama ini selalu dia acuhkan.


" Jika Kakak mencintai aku, tapi aku memilih menikah dengan pria lain sebagai pendamping hidupku, tapi aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dengan pernikahanku, apa yang akan Kakak lakukan?"


Gilang menatap heran dengan pertanyaan Kirania. " Aku akan dukung apapun yang terbaik untukmu, termasuk berpisah dengan pria yang tak bisa memberimu kebahagiaan. Setelah itu aku lah yang akan mengambil tugas memberikan kebahagiaan untukmu."


" Apa Kak Gilang tak takut dituding sebagai perebut istri orang?"


Gilang terkekeh. " Jika kita merebut kebahagiaan orang lain, bolehlah kita berpikiran seperti itu. Logikanya, kebahagiaan siapa yang aku rebut? Kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu, artinya pendamping kamu pun sama tidak bahagia. Mungkin karena kalian dijodohkan, entahlah ... yang pasti namanya perasaan cinta itu tidak bisa dipaksakan, Ran." Gilang menjeda ucapannya. " Seperti perasaan aku ke kamu, Aku tidak bisa memaksa kamu membalas perasaanku, aku hanya berusaha agar semakin lama hati kamu bisa luluh dan bisa menerima cintaku." Gilang kemudian menatap ke arah mata indah Kirania.

__ADS_1


" Ran, aku tahu dari Tante Saras, jika saat ini kamu tidak sedang dekat dengan pria manapun. Jika kamu berkenan memberi aku kesempatan, aku berjanji aku akan membahagiakanmu seumur hidup, Ran." Gilang kemudian menggenggam tangan Kirania, Kirania ingin menepis tapi Gilang menghalanginya. " Aku beri waktu kamu untuk memikirkan baik-baik permintaan aku ini."


" Kak, aku ...."


" Nggak usah dijawab sekarang, pikirkan saja matang-matang permintaanku tadi. Usia kita sudah sama-sama dewasa, sudah saatnya kita sama-sama memikirkan soal pernikahan. Tidak mungkin kita selamanya akan sendiri terus seperti ini, kan?"


Kirania menarik nafas, matanya masih tertuju pada tangannya yang masih ada dalam genggaman Gilang. Sepertinya pria itu memang tak rela untuk melepaskannya.


***


Sementara itu seorang pria memasuki sebuah bangunan rumah mewah yang memang jarang sekali dikunjunginya, jika tidak ada keperluan, atau ada panggilan mendadak seperti ini dari mamanya.


" Dirga, kamu sudah datang?" tanya Mama Dirga saat Dirga membuka pintu kamar mamanya.


" Ada apa mama memanggil aku kemari?" Dirga membalas pertanyaan mamanya dengan sebuah pertanyaan.


" Kemarilah ..." Mama Dirga meminta Dirga duduk di sofa berukuran besar yang ada di kamar tidurnya.


" Ada apa, Ma?"


" Dirga, kamu adalah tumpuan Mama satu-satunya, Mama tak ingin kamu salah jalan, Nak." Mama Dirga mengusap lengan kekar Dirga.


" Salah jalan? Apa maksud Mama dengan salah jalan?" Dirga memicingkan matanya.


" Kenapa kamu masih saja bersikukuh ingin bercerai dengan Nadia? Bukankah Mama sudah memintamu untuk menikahi dan belajar kembali mencintai Nadia?"


" Ma, bukankah dari awal Mama tahu jika aku memang sudah tak bisa mencintai Nadia? Kenapa Mama selalu membahas masalah ini lagi?" Dirga merasa kesal ternyata masalah yang sama yang selalu menjadi perdebatan dia dan mamanya.


" Apa karena kehadiran mantanmu itu jadi keinginanmu untuk menceraikan Nadia semakin kuat?"


Dirga mengerutkan keningnya. " Apa Nadia yang menceritakan hal itu kepada Mama?"


Mama Dirga menganggukkan kepalanya." Lalu apa kamu ingin kembali pada wanita masa lalu kamu itu? Apa kamu lupa jika dia yang sudah meninggalkan kamu walaupun kamu mencintai dia?"


Dirga memicingkan matanya mendengar perkataan mamanya. Dia teringat Nadia pun pernah mengucapkan kalimat yang sama dengan mamanya ini.


" Aku tidak pernah memberi tahu siapapun alasan aku putus dengan Kirania. Lalu kenapa Mama dan Nadia tahu jika kami putus karena Kirania yang meninggalkanku? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan dan kalian sembunyikan selama ini?" Dirga menatap curiga kepada wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2