
" Jadi pulang sama Kak Dirga?" tanya Sabilla saat jam mata kuliah terakhir selesai.
" Nggak usah meledek." Kirania mencebik membuat Sabilla tertawa.
" Lho, aku tanya baik-baik, kok. Masa dibilang meledek." Sabilla terkikik.
Kirania berdecak. " Lagipula kenapa tadi kalian tinggalin aku, sih?"
" Kita 'kan kasih kalian waktu buat berdamai, Ran." Hasna yang baru keluar dari toilet ikut menimpali.
" Dasar nggak konsisten kalian ini, bermuka dua!" sindir Kirania.
" Memang muka kita dua, satu punyaku satu lagi punya dia." Sabilla menunjuk ke wajah Hasna seraya tergelak.
" Kita bukannya bermuka dua, Ran. Cuma gimana, ya, kalau sudah di depan Kak Dirga itu rasanya ngeblank semuanya, benar nggak, Bil?" Hasna terkekeh.
" Dasar teman nggak ada akhlak kalian." Kirania melangkah meninggalkan kedua sahabatnya.
" Mau ke mana kamu, Ran?" tanya Sabilla sedikit berlari menyusul langkah Kirania.
" Aku nggak mau tiba-tiba Kak Dirga datang menyusul terus gendong aku, lebay banget." Kirania mengedikkan bahunya, dia tidak dapat membayangkan jika itu benar-benar terjadi, akan seperti apa malunya dia.
" Artinya kamu mau pulang sama Kak Dirga, dong?" Hasna yang juga berhasil menyusul Kirania pun turut bertanya.
" Mau gimana lagi? Daripada jadi tontonan umum."
" Pakde kamu gimana?" lanjut Hasna.
" Biarkan saja, biar Pakde aku tahu sekalian."
Sabilla tergelak, " Kalau kejadian begini di film-film, sih, Pakde kamu pasti suruh anak buahnya buat hajar Kak Dirga sampai babak belur."
" Nggak usah jauh-jauh film, Bil. Di dunia nyata juga pasti sering kejadian gitu, tapi masalahnya Pakde dia 'kan bukan konglomerat yang duitnya nggak ada nomer seri-nya." Hasna berpendapat sambil terkikik.
" Sebenarnya dengan kamu kasih kesempatan Kak Dirga antar kamu pulang, bisa sekalian pembuktian kalau Kak Dirga itu serius, lho. Dan kalau Kak Dirga bisa bikin Pakde kamu luluh, kayanya Kak Dirga benar-benar serius sama kamu, deh, Ran." Sabilla mengungkapkan pendapatnya namun dengan cepat disanggah Hasna.
" Tapi aku masih belum percaya, sih."
" Halaaaahh ... kalian ini bilang percaya nggak percaya, giliran ada di hadapan Kak Dirga sudah seperti kerbau dicucuk hidungnya," sindir Kirania karena masih merasa kesal sahabatnya itu meninggalkannya tadi.
***
Dirga menyodorkan helm ke arah Kirania. " Kita jalan keluar dulu, ya."
Kalimat ajakan yang lebih bersifat paksaan jika diucapkan oleh seorang Dirgantara, tanpa perduli Kirania akan setuju atau tidak dengan keinginannya.
" Aku nggak mau, kamu jangan macam-macam, ya! Kamu antar aku pulang saja sudah melanggar perintah Pakde, apalagi kalau kamu ajak aku jalan keluar."
__ADS_1
" Ya bikin salahnya jangan nanggung, dong. Biar dihukumnya sekalian." Dirga menyeringai.
" Pokoknya aku nggak mau! Kalau kamu paksa aku, aku pulang naik angkutan umum!" ancam Kirania.
" Silahkan saja, tapi nanti angkutan umum-nya aku hadang terus aku angkut kamu pakai tanganku, mau?" Dirga menyeringai.
" Dasar gila!"
" Memang, 'kan aku sudah bilang aku tergila-gila sama kamu."
Kirania memutar bola matanya mendengar kalimat yang diucapkan Dirga.
" Tapi aku mau langsung pulang, kalau kamu paksa bawa aku pergi, aku nggak mau kamu antar!" ancam Kirania.
" Iya-iya, bawel banget, sih." Dirga mencibir " Ayo cepat naik, atau kita ingin lama-lama berbincang di sini?"
" Aku pakai rok, kayanya nggak bisa deh naik motor ini."
" Bisa kok, duduknya miring saja kalau begitu, terus nanti peluk pinggang aku biar nggak jatuh." Dirga tersenyum lebar.
" Nggak, aku nggak mau, aku takut, aku naik angkot saja, deh." Kirania menolak.
" Eh, jangan-jangan, tunggu sebentar." Dirga kemudian turun dari motornya, dia mencari-cari orang yang dia kenal keluar dari gerbang kampus.
" Wil, Willy ...!" Dirga terteriak memanggil salah satu temannya yang terlihat keluar.
" Apaan, Ga?" tanya Willy ketika menghampiri.
" Bisa, Ga." Willy terlihat antusias.
" Ini kuncinya," Dirga memberikan kunci motornya ke Willy. " Besok saja sekalian dikembalikannya."
" Oke, Ga." Willy pun turun dari motornya kemudian menyerahkan kunci motor moticnya ke Dirga. " Bahan bakarnya habis, sekalian isi full, dong, Ga." Willy terlihat cengegesan.
" Beres." Dirga menyahuti. " Ayo, Yank." Dirga menyuruh Kirania segera naik ke kursi belakang dengan posisi duduk miring.
" Hati-hati ya, Ga. Jangan sampai lecet."
" Sial, lu! Mestinya gue yang ngomong gitu. Jangan sampai lu bikin lecet motor gue."
" Bukan motor yang gue khawatir lu bikin lecet."
" Lalu?"
" Cewek lu yang gue khawatir lu bikin lecet." Willy tergelak menyindir.
" Gendeng, lu!" Dirga menyeringai membalas sindiran Willy. " Gue cabut dulu, ya!"
__ADS_1
" Memang sudah lu masukin, Ga? Sudah main cabut-cabut saja, wkwkwkwkwkk ..." Willy terbahak.
" Sialan, lu! Sudah ah, gue jalan dulu, parah kalau terus-terusan ladenin, lu!" Dirga kemudian melajukan motor matic Willy mengakhiri obrolan absurb dengan temannya itu.
***
Kirania memperhatikan jalan yang diambil bukan jalan ke rumah Budenya, dia langsung merasa geram, karena Dirga selalu saja seenaknya
" Kak, aku bilang 'kan langsung pulang, ini mau ke mana lagi, coba?" tanya Kirania bernada kesal.
" Tenang saja, nanti juga aku antar kamu pulang ke rumah."
" Kamu mau bawa aku ke mana? Aku nggak mau kamu bawa mampir-mampir!"
" Suka-suka aku, dong, mau bawa kamu ke mana pun juga. Kalau kamu nggak suka turun saja, loncat gih sana," sahut Dirga enteng.
Kirania yang bisa mendengar dengan jelas ucapan Dirga langsung mendengus kesal. Dia mencerna baik-baik ucapan Dirga itu, kemudian matanya mengarah ke bahu jalan yang dilaluinya. banyak rumput yang tertanam. Sekelebat hal nekat mampir dipikirannya. Kirania melihat ke arah belakang, tidak ada kendaraan yang kemungkinan akan menyalip Dirga yang saat itu mengendarai motor agak ke tepi. Kirania menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata dan tidak lupa berdoa, Kirania nekat melompat dari motor yang dikendarai Dirga.
Buugggghh
" Awwwww...!"
" Mas, penumpangnya jatuh, tuh!" teriak seseorang yang melihat Kirania terjatuh.
Dirga yang memang sempat merasa tadi motor yang dikendarainya agak sedikit ringan, ditambah terdengar suara benda jatuh juga orang meringis, dan orang di depannya berteriak kepadanya sambil menunjuk ke belakang, membuatnya spontan menolehkan wajahnya ke arah belakang.
Dirga membelalakkan matanya saat dilihatnya Kirania sudah terduduk di bahu jalan sambil meringis kesakitan. Dengan cepat Dirga memutar motornya yang sudah berjarak sekitar enam meter dari arah Kirania terjatuh. Dirga langsung turun dan menghampiri Kirania.
" Kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit? Kamu sengaja melompat, ya? Kamu tuh nekat banget, sih! Ini tuh bahaya tahu nggak, sih! Kamu bisa celaka tahu!" Ada rasa khawatir dan kesal jadi satu dalam ucapan yang dilontarkan Dirga atas perbuatan nekat yang baru saja dilakukan oleh Kirania.
Sementara Kirania terus meringis merasakan bagian punggung kaki dekat mata kakinya terkilir karena dia salah mendarat saat melompat tadi.
" Mana yang sakit?" Dirga menyentuh bagian dekat mata kaki Kirania membuat Kirania memekik.
" Ah, sakit - sakit ... sakit banget itu." Kirania menepis tangan Dirga yang menyentuh bagian yang sakit tadi.
" Makanya kamu jangan nekat, kenapa mesti loncat segala? Cari mati? Kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku yang disalahkan oleh keluarga kamu," umpat Dirga kesal.
" Mas, Mbaknya kesakitan gitu jangan dimarahin, dong!" seru orang yang memberitahukan tadi.
Sementara Kirania sudah tidak tahan untuk mengeluarkan air matanya, antara menahan rasa sakit yang dia rasa dan kalimat-kalimat bernada pedas yang baru saja Dirga ucapkan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...
Happy Readingš