RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Keakraban Rania Dan Nadia


__ADS_3

Kirania hendak memasuki pantry untuk membuatkan kopi untuk Dirga dan Edward, namun langkahnya terhenti saat mendengar dua orang karyawan sedang bergosip tentangnya di pantry dapur.


" Lu lihat nggak tadi ada Ibu boss kemari sama sepupunya boss?"


" Iya, makanya gue penasaran soalnya 'kan pelakor juga ada di sini."


" Benar, gue mau tahu bakal ada perang nggak?"


" Biar tahu rasa tuh pelakor, belagu banget, sih. Mentang-mentang Aspri ujung-ujungnya jadi pelakor juga."


" Gue ingin lihat Bu boss benjek-benjek tuh muka pelakor biar kaya geprek sekalian."


Kirania menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya dia memberanikan diri melangkah.


" Sabar, Ran. Kamu sekarang Ibu boss nya. Jangan biarkan mereka meremehkanmu." batin Kirania menyemangati dirinya sendiri.


" Ehemm ..." Kirania berdehem memecah konsentrasi dua karyawan yang sedang bergosip itu.


" Iiisshh orangnya datang," bisik salah seorang karyawan ke rekannya yang lain.


" Ini bukan jam istirahat kenapa kalian pada ngumpul di sini?" tanya Kirania santai seolah tak terjadi apa-apa, seraya mengambil gelas yang khusus digunakan untuk Dirga.


" Memangnya kenapa? Mau adukan kita ke pak boss?" tantang karyawan itu.


Kirania tersenyum seraya menakar kopi untuk suaminya ke dalam mug dan menyeduh air panas dari dispenser tanpa menjawab sindiran karyawan tadi.


" Cih, ujung-ujungnya sih disuruh bikin kopi. Ya-iyalah namanya asisten mestinya sadar diri." Terdengar lagi kalimat-kalimat yang mencubit hati Kirania tapi dia tetap berusaha untuk tenang.


" Kirania ..." Tiba-tiba Nadia sudah muncul di dalam pantry


" Si-siang, Bu Nadia." Dua karyawan itu langsung berdiri dan menyapa Nadia.


" Siang ..." Dengan cepat Nadia membalas." Ran, kopi untuk Edo biar aku saja yang buatkan, tapi aku tidak pernah membuat kopi. Kau bisa ajari aku?" tanya Nadia saat beberapa karyawan itu berpamitan dan meninggalkan pantry.


Pertanyaan Nadia membuat Kirania mengerjap tapi dengan cepat dia bisa mengendalikan diri.


" Pak Edo sukanya kopi apa, Bu?" tanya Kirania kemudian.


" Aku nggak tahu." Nadia mengedikkan bahunya. " Aku nggak tahu seleranya Edo. Aku juga nggak tahu cara membuat kopi." Nadia tersenyum malu, karena sejak kecil dia selalu dilayani oleh para ART-nya


" Hmmm, ya sudah disamakan saja seleranya sama Abang, ya?"


" Abang? Abang siapa?"


Kirania langsung merona karena menyebut Dirga dengan sebutan Abang di depan Nadia.

__ADS_1


" Kamu memanggil Dirga dengan sebutan Abang?"


Kirania tersenyum malu-malu seraya menganggukkan kepala.


" Aku pikir kamu memanggil Abang ke Edo, karena adikku juga memanggil Edo dengan sebutan Bang Edo." Nadia terkekeh. " Berapa sendok, Ran?"


" Dua sendok teh saja, gulanya juga sama. Airnya tiga perempat gelas saja. Biasa aku buatkan untuk abang segitu."


" Aku malah nggak tahu selera kopi kesukaan Dirga, karena biasa Bi Mus yang buatkan." Nadia kembali terkekeh.


" Kalau begitu mulai sekarang Ibu mulai biasakan membuatkan kopi untuk Pak Edo. Ibu bisa tanyakan Pak Edo senangnya kopi apa." Kirania memberikan saran.


" Iya deh, nanti aku tanya ke dia," sahut Nadia seraya menyeduh air panas dari dispenser.


" Oh ya, tadi para karyawan gosipin apa?" tanya Nadia kemudian.


Kirania menelan salivanya mendengar pertanyaan Nadia.


" Ya biasalah, kadang orang itu nggak enak kalau nggak membicarakan orang lain." Kirania tersenyum saat mengatakan kalimat itu.


" Kamu yang sabar saja." Nadia mengusap lengan Kirania.


" Saya sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini, Bu. Apalagi saat masih kuliah dulu."


" Pasti karena kamu dekat dengan Dirga, kan?"


" Aku minta maaf ya, Ran. Karena sikapku yang dulu sudah membuat kamu dan Dirga terpisah." Nadia menyampaikan penyesalannya.


" Lupakan saja, Bu. Saya sudah memaafkan Ibu dari dulu." Kirania membalas.


" Jangan panggil aku Ibu. Kau istri Dirga sekarang, dan menjadi mama kedua untuk Kayla. Panggil saja Nadia."


" Maaf, saya tidak enak jika hanya memanggil nama saja."


" Ya sudah panggil apa saja asal jangan pakai embel-embel ibu."


" Baiklah, saya panggil Kak Nadia saja, gimana?" tanya Kirania.


" It's Oke ..." Nadia menyetujui.


" Ya sudah, kita kembali ke ruangan Abang saja, Kak Nadia." Akhirnya mereka kembali ke tempat Dirga.


Kirania tidak menyangka dia dengan cepat bisa akrab dengan Nadia, walaupun awalnya agak canggung. Tapi dia melihat sepertinya Nadia sudah bisa legowo menerima perpisahan dengan Dirga. Bahkan Kirania bisa melihat pancaran bahagia dari wajah Nadia setiap kali menyembut nama Edward. Kirania tentu saja turut merasa senang karena akhirnya Nadia pun bisa meraih kebagiaannya. Karena dia merasa, bukan dia saja yang tersiksa selama ini, tapi Nadia pun sama.


Keakraban mereka pun tanpa mereka sadari dilihat secara diam-diam oleh dua karyawan tadi yang sengaja menguping pembicaraan mereka di toilet dekat pantry. Tentu saja dua karyawan itu kaget saat Nadia menyebut Kirania adalah istri Dirga. Mereka tidak sampai pingsan saja sudah bagus mengetahui kenyataan bahwa wanita yang mereka bully tadi ternyata istri Dirga sekarang.

__ADS_1


Bahkan beberapa karyawan pun dibuat tak percaya pada pemandangan yang disuguhkan di depan mereka saat melihat Dirga dan yang lainnya pergi keluar untuk makan siang.


Saat itu Dirga berjalan di depan beriringan dengan Edward seraya berbincang santai. Sedangkan di belakangannya, Kayla diapit dan tangannya digenggam oleh Nadia dan Kirania. Aura kebahagiaan terpancar dari mereka berlima saat melewati beberapa karyawan. Apalagi saat mereka pergi secara terpisah dengan Dirga yang membukakan pintu mobil untuk Kirania. Dan Edward yang membukakan pintu mobil untuk Nadia dan Kayla. Membuat karyawan yang mereka lewati tercengang, apalagi sudah ada yang sempat mendengar gosip jika Kirania ternyata istri Dirga dan Nadia menjalin hubungan dengan Edward.


***


Di kamar fitting room, Karina mencoba dua buah gaun yang akan dia pakai untuk menemui Gilang nanti malam. Saat dia tahu Gilang menyuruhnya datang, dia memutuskan untuk membeli gaun. Dan karena Gilang memintanya berhias secantik mungkin, setelah ini dia berniat untuk ke salon melakukan treatment agar terlihat lebih fresh.


" Mbak, aku ambil yang maroon size M saja ya." Karina menyerahkan kembali dua gaun itu kepada SPG brand tersebut setelah dia mencoba dan memilih mana yang cocok untuknya.


" Baik, Mbak." SPG itu menjawab dan segera menotakan gaun yang dipilih Karina.


Sambil menunggu nota Karina kemudian mengambil ponselnya. Dia berniat mengabari Kirania, karena sejak dia mengetahui kakaknya itu mengejarnya, dia belum sempat menghubungi kakaknya itu.


" Assalamualaikum, Mbak ..." sapa Karina saat sambungan teleponnya terhubung.


" Waalaikumsalam, kamu ada di mana, Dek? Kenapa susah sekali dihubungi teleponnya? Mbak khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Mama bilang kamu ada di Cikarang, kemarin itu Mbak sempat lihat orang mirip sama kamu di restoran seafood, lho. Itu kamu bukan?" Kirania langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.


" Aku baik-baik saja kok, Mbak. Iya memang aku ada tugas dari kantor di daerah Bekasi. Mbak Rania nggak perlu khawatir, deh." Karina menutupi tujuan utamanya ke Jakarta ini karena menemui Gilang.


" Lantas kenapa kamu nggak hubungi Mbak? Kamu menginap di mana? Kenapa nggak menginap di tempat Mbak saja?"


" Aku nggak enak dong, mengganggu pengantin baru." Karina terkekeh. " Tapi Mbak Rania nggak perlu khawatir, pihak perusahaan sudah sediain kamar hotel untuk aku menginap, kok. Besok pagi juga aku sudah balik ke Cirebon kok, Kak."


" Besok pagi? Kamu menginap di hotel mana? Nanti malam kita ketemu, ya! Mbak nanti nyusul ke tempat kamu."


" Nanti malam? Hmmm, kayanya nggak bisa deh, Mbak. Soalnya malam ini mau ada gathering dari pihak kantor pusat di sini." Karina kembali berbohong.


" Ya sudah kalau begitu, yang penting kamu baik-baik saja, kan? Nggak ada kesulitan?"


" Nggak ada kok, Mbak. Mbak tenang saja." Karina mencoba meyakinkan. " Mbak, sudah dulu, ya. Aku mau lanjut kerja lagi. Assalamualaikum ..." pamit Karina saat SPG tadi selesai menuliskan nota.


" Waalaikumsalam ..." balasan Kirania sempat terdengar sebelum Karina menutup teleponnya.


*


*


*


Bersambung ...


Buat Readers kesayangan Abang jangan lupa berkunjung ke novel aku yang lain ya. Kisahnya ga kalah seru dari RTB ini.


__ADS_1



Happy Reading❤️


__ADS_2