
" Mbak ...."
Dari pantulan kaca rias Kirania bisa melihat adiknya yang muncul di pintu kamar dan kini berjalan ke arahnya.
" Ada apa, Dek?" Kirania menyahuti.
" Mbak serius ingin bertunangan dengan Kak Gilang?" tanya Karina yang kini duduk di tepi tempat tidur Kirania.
" Iya," jawab Kirania singkat.
" Tapi kenapa, Mbak? Bukankah kalau Mbak Rania itu pacaran sama Kak Dirga?" tanya Karina lagi merasa heran.
" Mbak itu nggak pacaran dengan Pak Dirga, kamu itu salah paham dengan kedekatan kami, Dek." Kirania berusaha mengelak.
" Salah paham gimana? Orang jelas-jelas Kak Dirga itu cinta sama Mbak Rania, kok! Nih ya, Mbak, dengerin ... kalau nggak cinta, nggak mungkin Kak Dirga sampai panik nyampe ke sini waktu Mbak Rania dikira kabur. Nggak mungkin juga Kak Dirga sampai boyong mama, bude sama aku buat kasih kejutan ke Mbak pas ultah kemarin. Mbak sadar, dong! Orang awam juga tahu kalau semua itu Kak Dirga lakukan karena Kak Dirga cinta sama Mbak Rania?" Dengan penuh semangat dan berapi-api Karina berusaha menasehati Kakaknya.
" Kamu nggak mengerti posisi Mbak, Dek," lirih Kirania. " Pak Dirga itu sudah berkeluarga, dia masih berstatus suami orang sampai sekarang. Kamu mau Mbak dicap orang sebagai pelakor?!"
Karina langsung terperanjat seraya membelalakkan matanya mendengar status dari Dirga. " Kak Dirga sudah menikah??"
Kirania menganggukkan kepalanya. " Itulah alasannya Mbak memutuskan bertunangan dengan Kak Gilang. Karena kalau tidak, Pak Dirga akan terus mengejar Mbak. Dia bahkan sedang mengajukan proses perceraian dengan istrinya. Kamu ngerti nggak, Dek. Mbak bingung, serba salah, Mbak benar-benar takut dianggap buruk oleh orang-orang, Dek."
" Tapi Mbak 'kan nggak suka sama Kak Gilang, nggak cinta sama Kak Gilang. Gimana Mbak memutuskan bertunangan dengannya?"
Kirania beranjak dari kursi rias mendekati adiknya. " Mbak nggak punya pilihan lain, Dek. Biarlah Mbak belum mencintai Kak Gilang, yang penting selama ini Kak Gilang mencintai Mbak. Mbak yakin suatu saat nanti rasa cinta itu akan tumbuh di hati Mbak," lirih Kirania kembali yang akhirnya mendapatkan pelukan dari sang adik.
" Hmmm, Dek ... hubungan kamu dengan Zidan gimana?" tanya Kirania, tiba-tiba dia teringat akan mimpinya.
" Aku putus sama Zidan, Mbak."
Kening Kirania berkerut. " Putus? Kenapa?"
" Zidan pindah kerja ke Bandung. Aku nggak mau LDR. Dia ngajakin aku merit tapi aku nggak mau, karena aku mau Mbak duluan yang menikah."
Deg
Seketika wajah Kirania menegang, mimpi dan kenyataan tentang hubungan asmara Karina dan kekasihnya ternyata sama. Lantas apakah insiden berdarah seperti dalam mimpinya itu juga akan terjadi di kehidupan nyata? Kirania menelan saliva sembari merasakan sesak di dadanya.
***
Seorang wanita cantik memasuki sebuah cafe, matanya mengedar pandangan mencari orang yang ingin bertemu dengannya. Tak lama pandangan matanya terhenti pada sosok pria yang sedang menyesap minuman. Nadia sang wanita itu pun bergegas menghampiri orang yang ditujunya.
" Ada apa kau menyuruhku kemari?" tanya wanita itu langsung mendudukkan tubuhnya ke kursi di hadapan pria tampan yang sejak tadi menunggunya.
Edward menatap wajah cantik wanita yang kini duduk di depannya.
__ADS_1
" Rencanaku ke Jepang awal Minggu depan aku cancel." ucap Edward.
" Memang apa hubungannya denganku rencanamu itu cancel atau tidak?!" Nadia memutar bola matanya.
" Tentu saja ada, bukankah aku pernah bilang ingin membawa Kayla berlibur ke Jepang."
" Oh ... itu, tidak masalah kau batal mengajaknya, aku bisa mengajaknya nanti ke sana," sahut Nadia.
" Tapi aku sudah berjanji dengan anakmu."
" Tak masalah, Kayla pasti mengerti." Nadia menjawab.
" Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku membatalkan rencana ke Jepang?"
" Untuk apa aku tanya? Itu bukan urusanku," Nadia menjawab ketus.
Edward terkekeh melihat wanita yang di hadapannya itu bersikap acuh. " Kalau kau tak ingin tahu, biar aku yang memberitahukan saja kalau begitu. Dirga lah yang memintaku untuk menunda kepergianku ke Jepang, karena ada hal yang mesti aku urus di sini."
Nadia menatap ke arah Edward seraya mengerutkan keningnya saat nama Dirga disebut. " Dirga suruh kamu mengurus apa?" selidiknya.
Edward kembali terkekeh menanggapi Nadia yang kini justru penasaran akan perihal yang diminta Dirga untuk dia lakukan. " Katanya kamu tidak perduli, kenapa sekarang kamu sepertinya yang penasaran?" ledek Edward kemudian.
" Ck, kalau kau tidak mau memberitahukan tidak masalah. Urusan kita sudah selesai, kan? Aku pergi sekarang." Nadia bangkit tapi tangan Edward lebih dulu menghentikan.
" Aku mau pergi, lepaskan tangamu, Edo!" Nadia mencoba melepaskan cengkraman tangan Edward dari lengannya.
" Kamu baru juga datang, belum sempat minum atau makan."
" Aku tak berminat," ketus Nadia.
" Okelah, kalau kau mau pergi aku akan mengikutimu."
Nadia memicingkan matanya hingga kedua alisnya saling bertaut. " Untuk apa kamu mengikutiku?"
" Karena itu tugas yang Dirga berikan kepadaku."
" What??" Nadia terperanjat.
***
Dirga sedang memimpin rapat para direksi saat ponselnya sedari tadi bergetar. Dia kemudian mengintip ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.
" Pak Hans, tolong lanjutkan pimpin rapat ini. Saya ada keperluan sebentar," perintah Dirga saat terlihat nama Karina di ponselnya. Dia pun kemudian melangkah keluar ruang rapat untuk menelepon balik adik dari Kirania itu.
" Halo, ada apa, Karina? Apa kau sudah mendapatkan kabar dari kakakmu?" Dirga langsung menodong pertanyaan.
__ADS_1
" Kak Dirga kenapa nggak jujur sama aku?" Bukannya jawaban yang didapat Dirga tapi sebuah pertanyaan bernada ketus dari Karina.
" Maksud kamu?"
" Kak Dirga nggak bilang ke aku kalau Kak Dirga sudah punya istri, jelas saja Mbak Rania menolak Kak Dirga dan memilih Kak Gilang. Aku juga nggak setuju jika Mbak Rania dituding pelakor!" geram Karina.
" Kakakmu sudah ada di rumah sekarang?"
" Mau apa tanya Mbak Rania? Kalau Kak Dirga ingin menggagalkan acara pertunangan Mbak Rania sama Kak Gilang, aku nggak akan tinggal diam. Aku pasti akan menghalangi Kak Dirga melakukan itu!" ancam Karina.
" Tapi Kakakmu itu hanya mencintai aku, Rin."
" Tapi aku nggak rela Mbak Rania menjadi pelakor. Mbakku itu wanita baik-baik, aku rasa Kak Gilang lah yang pantas mendapatkan Mbak Rania, walaupun Kak Gilang nggak setajir Kak Dirga. Tapi aku rasa Kak Gilang bisa memberikan kebahagian dan ketenangan hidup untuk Mbak Rania," tegas Kirania.
" Kamu mesti tahu permasalahannya, Karina."
" Apapun permasalahannya, aku rasa akan tetap menjadi masalah jika Kak Dirga terus ada di samping Mbak Rania. Jadi aku mohon kepada Kak Dirga, untuk tidak mengusik hidup Mbak Rania lagi mulai sekarang. Mbakku itu layak untuk bahagia, dan kebahagiannya itu mungkin bukan bersama Kak Dirga! Assalamuaikum! Tut Tut Tut ..." Karina langsung mematikan ponselnya tanpa memberikan kesempatan kepada Dirga untuk menjelaskan.
Dirga mengusap kasar wajahnya. " Shit!!!" Tangannya yang mengepal langsung menghantam dinding, rasa sakit yang dirasa fisiknya, tak sebanding dengan rasa sakit yang akan dia rasa jika Kirania benar-benar bertunangan dengan Gilang.
*
*
*
Bersambung ...
R : Kemarin ga up kenapa, Thor?"
A : Iya nih, lagi hilang mood nulis
R : Trus gimana caranya agar mood nulisnya bisa balik lagi lalu kasih double up?
A : Kasih like n komentar yg banyak, dong😜
R : Idiih ngelunjak
A : Iiihh itu 'kan kata NT/MT nya, ga percaya? coba liat tulisan dibawah, aku kan ga pernah boong.😎🤭
Btw ikuti Novel Kisah Cinta Azzahra juga dong, masukin favorit jgn lupa ya, ya, ya ... aku yakin readers di sini kan baik hati semua☺️☺️🙏🙏
Happy Reading ❤️
__ADS_1