RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Hari Bahagia


__ADS_3

" Kamu sudah siap, Ran? Penghulunya sudah datang." Suara Tante Erlin tak lama pun ikut terdengar.


" Iya, Tan ..." Kirania menyahuti.


" Hmmm, beda ya, kalau yang mau dihadapinya orang yang dicintai auranya kelihatan sumringah, beda waktu tunangan kemarin," bisik Tante Erlin menggoda.


" Tan ..." Kirania langsung merona.


" Ya sudah, ayo jangan membuat calon suamimu menunggu lama." Tante Erlin menuntun Kirania menuju ruang tamu.


Dengan jantung yang berdebar kencang Kirania berjalan menuju ruang tamu di mana akad akan segera dilangsungkan.


Banyak orang yang sudah berkumpul di sana, tapi bukan itu yang diperhatikan Kirania karena pandangannya saat ini sudah bertumpu pada sosok yang sudah duduk di hadapan Om Malik yang bertugas sebagai wali nikah. Sosok yang nampak gagah memakai baju akad putih dengan kopiah warna senada membuat pria itu nampak gagah.


Kirania berusaha membendung air mata bahagia saat mendapati Dirga yang kini pun sedang menatap ke arahnya dengan senyum manis di bibirnya. Kirania seakan membeku saat mata mereka saling menatap kuat seakan menyalurkan kerinduan yang membuncah.


" Ayo, Ran." Suara Tante Erlin yang memegang lengannya membuat Kirania terkesiap.


Kirania pun dengan dituntun Tante Erlin akhirnya melangkah mendekati Dirga dengan pandangan mata yang tetap terpaut pada mata elang Dirga.


Setelah duduk di samping Dirga, Kirania kembali menoleh ke arah Dirga seraya mengembangkan senyuman kepada sang pujaan hatinya itu yang dibalas senyuman oleh Dirga.


" Bagaimana, sudah bisa kita mulai?" tanya pak penghulu.


" Siap, Pak." Dirga berucap lantang.


" Wah, sudah nggak sabar nih rupanya Mas nya ini." Pak Penghulu menggoda membuat Kirania tertunduk.


" Sudah pasti, Pak." Dirga menyahuti dengan lugas.


Sementara Kirania merasakan nervous yang teramat sangat. Dia mencoba melirik ke arah Mama Saras yang duduk bersebelahan dengan Tante Erlin dan Bude Arum yang tersenyum ke arahnya. Kirania kembali menundukkan kepalanya.


Saat pembacaan ayat suci Alquran oleh ustadz dan khutbah nikah oleh penghulu dia hanya mampu tertunduk. Saat ini rasa di hatinya rasanya sulit diungkapkan lewat kata-kata. Hari ini akhirnya berakhir sudah penantian selama enam tahun akan rindunya. Melalui perjalanan yang tak mudah hari ini akhirnya dia bisa menikah dengan cinta pertamanya. Menikahi pria yang awal pertama kali dikenalnya selalu dia acuhkan karena dia tidak yakin jika pria itu benar-benar menyukainya. Pria yang tidak dia sangka akhirnya benar-benar menjadi jodohnya.


Perjalanan kisah cinta mereka yang bisa dibilang tak mudah, akhirnya berakhir di pelaminan. Sunguh bahagialah yang sangat dominan di hati wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu. Tak sia-sia dia menutup hati untuk pria lain, karena sesungguhnya Dirga lah yang akan meresmikannya menjadi istri pria itu.


Setelah khutbah dari penghulu selesai kini saatnya pengucapan ijab qobul. Debaran jantung Kirania semakin kencang, dia sampai meremas ujung kebayanya, sementara tangannya sudah mulai berkeringat.


" Ananda Dirgantara Poetra Laksmana bin Poetra Laksmana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kami Ananda Kirania Ambarwati binti Dimas Nugraha dengan maskawin berupa logam mulia seberat sebelas kilo tujuh ratus dua puluh satu gram dibayar tunai." Om Malik menjabat tangan Dirga membacakan kalimat ijab qobul.


" Saya terima nikah dan kawinnya Kirania Ambarwati binti Dimas Nugraha dengan maskawin tersebut, tunai." Dirga menjawab dengan nada tegas dan lugas.


" Bagaimana? Sah?" tanya Penghulu.


" Sah ...!" seru saksi-saksi.


" Alhamdulillah," ucap beberapa orang termasuk Dirga juga Om Malik.


Sementara Kirania langsung memejamkan matanya sehingga lelehan air mata langsung meluncur di pipinya. Sedang suara riuh terdengar dari tamu yang hadir saat mendengar maskawin yang diberikan oleh mempelai pria, ada juga yang langsung membuka Goo*gle mencari tahu harga logam mulia terbaru lalu menghitungnya dengan kalkulator yang ada di ponselnya hingga membuat mereka tercegang mengetahui nominal rupiah dari senilai maskawin yang diterima Kirania.


Setelah itu acara langsung dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa yang dipimpin oleh ustadz yang tadi membacakan ayat suci Alquran. Kemudian disambung dengan penandatanganan dokumen-dokumen pernikahan. Yang kemudian dilanjutkan serah terima mahar dan pemasangan cincin kawin.

__ADS_1


" Maharnya cukup berat ya, Mas. Mbak nya pasti nggak kuat nih terimanya." Pak Penghulu beseloroh. " Silahkan dibantu." Pak Penghulu menyarankan anggota keluarga Kirania untuk menerima mahar yang diserahkan Dirga. Lalu kini saatnya sang mempelai memasangkan cincin pengikat pernikahan mereka.


Dirga meraih jemari Kirania, seraya tersenyum dia menyematkan cincin pernikahan di jari manis tangan kiri Kirania. Kirania pun bergantian menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Dirga.


" Alhamdulillah, Silahkan Mempelai wanita mencium tangan suami, sekarang sudah halal ya," ujar pak penghulu.


Kirania melakukan apa yang diarahkan oleh pak penghulu. Dia menoleh ke arah Dirga dan meraih tangan Dirga lalu mencium punggung tangan suaminya itu, yang dibalas Dirga dengan kecupan di kening Kirania.


Setelah itu acara dilanjutkan dengan sungkeman, yang diawali sungkeman ke Mama Saras.


" Ma, mohon doa restunya. Doakan rumah tangga Rania menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Terima kasih untuk semua yang Mama berikan untuk Rania hingga kini," seraya terisak Kirania mengucapkan kalimat itu.


" Mama selalu doakan yang terbaik untukmu, Nak." Mama Saras yang merasa terharu pun tak sanggup untuk tidak meneteskan air mata seraya mengelus punggung Kirania.


Setelah Kirania kini saatnya Dirga yang sungkem ke Mama Saras.


" Ma, restui kami ya, Dirga janji akan selalu membahagiakan anak Mama. Terima kasih Mama sudah menjaga Kirania selama ini untuk Dirga."


" Ya, Dirga. Mama titip Rania ya,"


" Iya, Ma."


Saat Dirga sungkeman dengan Mama Saras, Kirania kini sungkeman dengan Tante Utami, Mama Dirga. Kirania nampak canggung berhadapan dengan Mama Dirga.


" Ma, mohon restui pernikahan kami. Rania minta maaf jika Rania mengecewakan Mama." Dengan nada bergetar Kirania meminta restu pada ibu mertuanya.


" Iya, Mama merestui kalian," ucap Mama Dirga.


" Mama juga minta maaf ya, karena Mama lah yang memisahkan kalian selama ini." Mama Dirga mengusap punggung Kirania.


" Aku sudah memaafkan itu sejak lama, Ma."


" Kini saatnya kalian berbahagia, Mama doakan kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah."


" Terima kasih, Ma."


Setelah sungkem dengan Mama Dirga, dilanjut dengan sungkeman dengan Om Malik, Tante Erlin juga Bude Arum. Kedua mempelai pun nampak sumringah di hari bahagia mereka.


Akhirnya acara akad pun selesai, setelah pak penghulu ijin pulang setelah menyantap hidangan. Tamu-tamu yang hadir pun masih saja ramai membicarakan soal maskawin yang bernilai fantastis.


" Mbak, selamat ya, semoga kalian menjadi keluarga yang samawa," ucap Karina memeluk kakaknya.


" Terima kasih ya, Dek. Semoga kamu bisa segera menyusul Mbak."


Karina tersenyum. " Doakan saja, Mbak. Segera aku akan menyusul Mbak."


" Kamu sudah punya calon?"


" Insya Allah." Karina tersenyum.


" Mbak doakan semoga dipercepat dan dipermudah jalan kamu, Dek."

__ADS_1


" Aamiin, makasih, Mbak."


***


Hari sudah menjelang malam, Dirga membawa Kirania ke hotel yang sudah dia pesan untuk malam pertama mereka.


Sementara Kirania sibuk membalas pesan-pesan yang dikirim oleh teman-temannya karena postingan di story' whatsapp nya yang dia bagikan foto dia dan Dirga selepas ijab qobul.


" Oh my God, Ran. Aku nggak mimpi, kan? Itu Kak Dirga, kan? Kamu seriusan menikah dengan Kak Dirga?" Itu pesan yang dikirim oleh Sabilla.


" Raniaaaaaaa, kamu nikah sama Kak Dirga? Kok nggak kasih tahu aku sih? Nggak undang-undang juga." Kali ini pesan dari Hasna yang dia baca.


Tak lama ponselnya berbunyi dan kini Natasha lah yang meneleponnya.


" Assalamualaikum, Nat ..." sapanya menjawab panggilan telepon istri dari Yoga itu.


" Waalaikumsalam, Rania benar itu kamu nikah dengan Pak Dirga? Kok nggak undang aku sama Mas Yoga, sih?" tanya Natasha.


" Iya, ini baru akad kok, Nat. Nanti kalau resepsi aku undang kalian, ya." Kirania menjawab.


" Berarti benar 'kan dugaanku, kalau di antara kalian itu terjadi sesuatu walaupun kamu bilang kalian nggak ada hubungan apa-apa."


Kirania tersenyum menanggapi ucapan Natasha.


" Telepon sama siapa, sih?" Kirania terkesiap saat tangan Dirga melingkar di pinggang memeluknya dari belakang, sementara bibirnya sibuk menciumi pundak dan tengkuk Kirania.


" I-ini Natasha yang telepon," sahut Kirania sementara darahnya serasa berdesir oleh aksi Dirga yang menciuminya.


" Natasha?" Dirga langsung merebut ponsel istrinya. " Halo, ini malam pertama kami, jadi kau jangan ganggu, kau uruslah suamimu sendiri." Dirga kemudian mematikan ponsel Kirania dan melemparnya ke arah sofa.


" Kak ...." Kirania langsung mencebikkan bibirnya karena Dirga dengan tidak sopannya memutuskan telepon sepihak.


" Kenapa? Memang benar 'kan ini malam pertama kita? Kalau kamu ladeni wanita itu mengobrol entah akan sampai kapan selesainya? Itu akan mengganggu malam pertama kita."


Dirga kemudian memutar tubuh Kirania hingga kini mereka saling berhadapan. Dia kemudian mengecup dan melu*mat bibir Kirania. Luma*tan yang awalnya terasa lembut makin lama semakin berhasrat dan menuntut, apalagi saat Kirania pun membalas ciuman Dirga hingga suara decapan pun terdengar.


Dirga lalu mengangkat tubuh Kirania ala bridal style dan merebahkan tubuh Kirania di atas tempat tidur lalu tubuh tegap Dirga menin*dih tubuh Kirania seraya membuka kancing baju yang dikenakan Kirania sehingga membuat Kirania menegang.


*


*


*


Bersambung ...


Sabar menunggu unboxing ya..😂


Kita berada di dunia halu, jadi maskawin nya aku buat halu juga. Tapi untuk seorang Dirgantara yang tajir melintir, jumlah itu tidak sebanding dengan kebahagiannya bisa memperistri seorang Kirania, wanita yang sangat dicintainya.


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2