RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Mendadak Tak Tenang


__ADS_3

" Rania?"


Kirania langsung mendongakkan kepalanya saat orang yang dia tabrak menyebut namanya. Dan dia langsung terkesiap saat mendapati sosok pria yang bersenggolan dengannya adalah orang yang dia kenal.


" Kak Gilang?"


" Kamu kok ada di sini? Sedang apa?" tanya Gilang menyelidik.


" A-aku menginap di sini, Kak." Kirania menyahuti jujur.


" Menginap di hotel? Aku dengar dari Karina kamu pindah di Jakarta. Memang selama ini kamu menginap di hotel? Siapa yang menanggung biaya penginapannya?" Gilang terlihat penasaran.


" Ah, emmm ... ini hanya untuk sementara kok, Kak. Aku baru tiga malam di hotel ini. Sebenarnya kemarin sudah diberikan tempat mess tapi kurang cocok, jadi mau cari tempat kost yang lebih dekat dengan kantor." Kirania beralasan.


" Kakak sendiri sedang apa di sini?" Kini giliran Kirania yang bertanya.


" Mulai Minggu depan aku pindah ke Jakarta. Aku dapat tugas memimpin kantor cabang Bank xxx di daerah sini."


" Oh, gitu ..." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Kirania.


Gilang tersenyum. " Aku nggak sangka jika akhirnya kita berjodoh bersua di sini, dan kita berkerja di kota yang sama, Ran." Ada rasa bahagia yang tersirat dari ucapan Gilang saat mengucapkan kalimat tadi.


Kirania hanya menyunggingkan sedikit senyum terpaksa. " Hmmm, kalau gitu aku duluan ya, Kak." Kirania berpamitan ingin segera kembali ke kamarnya. Dia ingin segera beristirahat, karena hari ini dia sangat penat. Bukan karena penat tenaga, tapi karena penat hati dan pikiran.


" Kamu di kamar berapa, Ran? Sampai kapan kamu menginap di sini?" tanya Gilang.


" Secepatnya jika aku sudah mendapatkan tempat kost, aku akan segera pindah, Kak." Kirania menyahuti.


" Di dekat rumah aku dinas nanti, ada tempat kost putri, kalau kamu mau, aku bisa bantu daftarkan kamu kost di sana." Gilang menawarkan bantuannya.


" Hmmm, nggak usah repot-repot, Kak. Nanti dari pihak kantor yang carikan aku tempat kost, kok." Kirania berusaha menolak tawaran Gilang. Karena sebenarnya dia tidak enak harus menerima bantuan dari seorang pria. Dia takut jika pria itu akan berharap lebih kepadanya, sedangkan dia tidak bisa membalas kebaikan pria itu.


" Okelah, tapi kamu kabari aku jika kamu sudah dapat kostnya ya, Ran. Nomer ponsel kamu masih sama? Aku susah sekali kalau hubungi kamu."


Sebenarnya Kirania memang sudah menganti nomer pribadinya, yang hanya dikhususkan untuk anggota keluarganya saja. Dia punya satu nomer lagi yang dia pakai untuk urusan pekerjaan dan umum lainnya, dan nomer itu tidak Gilang ketahui. Begitu juga saat kejadian dia mencoba kabur dari Dirga, Dirga pun tidak bisa menghubunginya, karena dia mematikan nomer ponsel yang umum dia pakai. Sedangkan Karina sang adik bisa menghubunginya karena adiknya itu menghubungi langsung ke nomer pribadinya.


" I-iya aku ganti nomer," sahut Kirania.


" Boleh aku minta nomer kamu?" pinta Gilang.


Akhirnya Kirania memberikan nomer ponsel yang berlaku untuk umum kepada Gilang. Gilang pun langsung menghubungi nomer Kirania, untuk memastikan jika nomer yang diberikan Kirania aktif


" Kamu masih simpan nomer aku?" Kirania langsung menggeleng karena dia memang tak pernah berniat menyimpan nomer telepon pria itu.


" Aku ganti nomer dan ponsel, Kak. Jadi semua nomernya hilang." Kirania beralasan.

__ADS_1


" Ya sudah, kalau gitu kamu simpan nomerku tadi."


" Iya, Kak."


" Aku antar kamu sampai depan kamar, ya?"


" Nggak usah, Kak. Biar aku sendiri saja."


" Hmmm, kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan dulu?"


" Aku sudah makan. Sekarang ini aku hanya ingin kembali ke kamar dan beristirahat. Hari ini aku benar-benar lelah," keluh Kirania.


" Baiklah, tapi aku boleh tahu nomer kamar kamu di sini, kan?"


" Nggak usahlah, Kak. Siapa tahu besok aku sudah keluar dari hotel ini." Kirania berusaha terus menghindar.


" Kamu kenapa tertutup banget sama aku, Ran? Kamu selalu saja menghindar, nggak pernah kasih aku kesempatan untuk mendekati kamu." Gilang sepertinya menyadari sikap Kirania yang terlihat seperti tak nyaman jika dia dekati.


Kirania menelan salivanya. Dia menyadari jika selama ini dia selalu bersikap dingin kepada pria itu. Berkali-kali Gilang berusaha mengambil hatinya, berkali-kali juga selalu dia tepis.


Kirania sampai memijat pelipisnya, urusan Dirga dan Kayla saja sudah membuatnya pusing, kini ditambah lagi dengan Gilang. Rasanya ingin sekali dia bersembunyi sejauh mungkin di tempat yang tak bisa diketahui orang lain.


***


" Ran, aku pergi dulu. Ada hal penting yang harus aku bahas dengan klien." Dirga berjalan ke arah Kirania dan Kayla yang sedang menyusun puzzle di ruang isrirahat Dirga yang ada di kantor.


" Papa mau pelgi ( pergi )?" tanya Kayla.


" Iya, sayang. Papa ada urusan dulu. Kayla di sini sama Tante Rania, ya. Jangan nakal, jagan bikin Tante Rania susah." Dirga menasehati Kayla agar bersikap baik terhadap Kirania.


" Oke, Pa." Kayla mengacungkan kedua jempolnya, membuat Dirga tersenyum sambil mengacak rambut bocah kecil itu.


" Oh ya, nanti Sus Wati dan Sus Isah akan jemput Kayla kemari." Dirga kembali berkata pada Kirania. " Tolong katakan pada mereka agar hati-hati kalau menjaga Kayla, jangan teledor seperti kemarin."


" Baik, Pak."


" Kalau nggak ada karyawan lain kamu jangan memanggil dengan sebutan itu."


" Maaf, Pak. Ini lingkungan kantor," sanggah Kirania. Dia merasa tak nyaman dengan sikap Dirga yang menganggap dirinya masih kekasih pria itu.


" Kamu mau makan apa? Nanti aku pesankan." Dirga menepuk pundak Kirania membuat wanita itu agak sedikit tersentak.


" Ng-nggak usah, Pak. Nanti saya cari di kantin saja," sahut Kirania.


" Jangan makan di kantin, di sini saja. Nanti aku yang pesankan." Dirga melarang.

__ADS_1


" Pak, tolong jangan perlakukan saya seperti ini. Saya ini karyawan Bapak, perlakukan saja saya sama seperti mereka," pinta Kirania semakin jengah dengan sikap Dirga.


" Kamu itu adalah wanita yang aku cintai, Rania. Aku tak mungkin memperlakukanmu sama seperti karyawan yang lain." Dirga menolak permintaan Kirania. " Ya sudah, aku pergi dulu, ya. Nanti kalau mau makan hubungi aku." Dirga kemudian membelai kepala Kirania dengan penuh kasih sayang, membuat jantung Kirania berdegup sangat kencang. Lalu Dirga melakukan hal yang sama Kayla dan mengecup pucuk kepala bocah kecil itu.


" Papa pergi dulu, ya, sayang."


" Iya, Papa."


Dirga pun kemudian beranjak meninggalkan Kirania dan Kayla. Kirania memandang punggung kekar Dirga hingga menghilang di balik pintu, kemudian dia menghela nafas panjang.


" Seandainya Kayla adalah buat cintanya dengan Dirga," batinnya


" Astaghfirullahal adzim, Ya Allah ampuni hamba, yang telah bepikiran seperti tadi," gumam Kirania seraya menggelengkan kepala. Dia sangat merutuki dirinya sendiri, karena bisa-bisanya menghayal menjadi istri dari suami wanita lain.


Setengah jam kemudian, Kirania dan Kayla telah selesai menyelesaikan puzzle nya.


" Hole, Kela dah celcai ( Hore, Kayla sudah selesai)" Kayla bersorak sambil mengepal kedua tangannya ke atas.


" Yeay, kita berhasil." Kirania bertepuk tangan. " Kayla lapar, nggak? Kayla mau makan apa?" tanya Kirania kemudian.


Kayla menggelengkan kepala. " Kayla tunggu Papa aja, Ateu."


" Papa lama, lho. Kayla mau makan apa, nanti Tante Rania pesankan?"


" Ke ep ci, Ateu."


" Lho, kemarin bukannya Kayla sudah makan fried chicken, ya? Nanti Papa marah kalau Kayla makan itu lagi." Kirania tak setuju Kayla memakan menu yang sama dua hari berturut-turut.


" Tapi Kela mau ke ep ci." Kayla mulai merajuk dengan mencebikkan bibirnya.


" Ya sudah nanti Tante pesankan." Kirania mengambil ponselnya dan membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan yang diinginkan Kayla.


" Kayla, Kayla sayang ...."


Tiba-tiba terdengar suara wanita dari ruangan kerja Dirga memanggil nama Kayla.


" Mama ..." Kayla yang hapal siapa suara yang memanggilnya pun langsung berlari keluar kamar istirahat Dirga.


Sementara Kirania langsung membulatkan mata lalu menggigit bibirnya saat mengetahui jika istri Dirga lah yang kini datang ke sana. Seketika hatinya langsung diselimuti rasa gundah. Bagaimana dia harus menghadapi istri dari bosnya itu sendiri. Dan apa yang akan dilakukan istri bosnya itu kepadanya nanti, mengingat wanita itu bersama Mama Dirga dulu pernah memintanya untuk menjauhi Dirga. Dan kini saat mereka kembali bertemu tanpa Dirga, apakah Nadia akan memintanya melakukan hal yang sama? Hati Kirania mendadak tak tenang.


Bersambung ...


Mohon maaf, aku baru bisa up bab aja, belum bisa ikut ngobrol di grup chat ama balas komen² ya🙏


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2