RINDU TAK BERTUAN

RINDU TAK BERTUAN
Kencan Makan Siang


__ADS_3

Entah berapa kali Kirania menoleh ke arah pintu ruang kerja yang masih tertutup. Sudah setengah jam lebih Dirga dan wanita bernama Angela itu berada dalam satu ruangan, entah apa yang sedang mereka bicara dan lakukan di dalam sana.


" Mbak, apa Pak Dirga sering ketemuan sama tamunya ini?" tanya Kirania bertanya kepada Lisna di sebelahnya. Rasanya gatal sekali untuk tidak bertanya tentang Agela kepada Lisna, karena dia yakin sektetaris Dirga itu pasti hapal siapa-siapa saja relasi bisnis yang pernah dijumpai Dirga.


" Nona Angela?" Lisna menautkan kedua alisnya.


" Iya, tumben Pak Dirga bersikap humble banget sama klien wanita, biasanya 'kan nggak." Kirania masih kepikiran sikap Dirga yang terlihat hangat pada Angela.


" Oh gitu, ya?" Lisna tersenyum meledek.


" Apaan sih senyum-senyum gitu, Mbak?" Kirania merasa tak nyaman dengan sikap yang ditunjukkan Lisna yang terlihat menggodanya.


" Kamu cemburu, ya?"


" Idih ... ngapain aku mesti cemburu? Yang mestinya cemburu itu Bu Nadia dong, bukan aku " Kirania dengan cepat menyangkal, membuat Lisna tertawa.


" Mbak, apa ada wanita yang pernah dekat dengan Pak Dirga selama ini?" Kirania penasaran bertanya.


" Ciee kepo nih ceritanya?" ledek Lisna.


Kirania mengedikkan bahunya. " Nggak kepo sih, cuma sekedar ingin tahu saja." Kirania menyangkal.


Ddrrtt ddrrtt


Tiba-tiba ponsel Kirania bergetar, dengan cepat wanita cantik itu langsung meraih ponselnya dan melihat isi chat yang masuk ke dalam ponselnya.


" Assalamualaikum, Ran. Kamu sibuk nggak? Aku mau ajak kamu makan siang." Itu isi chat dari Gilang yang masuk ke WhatsApp nya.


" Waalaikumsalam, maaf aku nggak bisa, Kak." Kirania langsung membalas Gilang.


" Kenapa, Ran? Apa kamu ada acara pergi makan siang sama pria itu?"


" Aku nggak akan pergi dengan siapa-siapa kok, Kak."


" Ya sudah, kalau kamu nggak pergi sama siapa-siapa, kamu mending ikut makan siang saja denganku. Posisi kamu di mana? Aku jemput sekarang, oke?"


***


Lima belas menit setelah Kirania menerima pesan dari Gilang, tamu Dirga berpamitan keluar dari ruangan Dirga.


Dirga yang tak mendapati Kirania di dekat Lisna langsung berucap, " Lis, kalau Kirania kembali suruh masuk ke ruangan saya," perintah Dirga kepada sekretarisnya.

__ADS_1


" Baik, Pak." Lisna menyahuti.


Sepuluh menit berlalu, namun Kirania tak juga muncul di ruangan Dirga, membuat pria itu bangkit dan kembali berjalan keluar ruangan.


" Kirania mana? Masih belum selesai sholatnya?" tanya Dirga yang mengira jika Kirania sedang melaksanakan ibadah sholat Dzuhur.


" Hmmm, Kirania sedang istirahat makan siang, Pak." Lisna menyahuti.


" Makan siang? Ke mana? Kenapa dia nggak ijin dulu sama saya?" tanya Dirga kesal, karena semestinya jatah jam makan siang Kirania adalah bersamanya, menemaninya.


" Tadi Bapak 'kan sedang ada tamu, terus tadi ada teman sekota Kirania yang menghubunginya, mengajak dia makan bersama."


Rahang Dirga langsung mengeras saat mendengar penjelasan dari Lisna. Pikirannya langsung mengarah kepada pria yang beberapa hari lalu berjumpa dengannya dan Kirania di restoran. Pria yang dia tahu pernah menyukai Kirania.


" Teman sekota? Siapa? Pria atau wanita temannya itu?" tanya Dirga panasaran.


" Maaf, Pak. Saya tidak tahu siapa yang menjemput Kirania tadi." Lisna berdiri dengan menundukkan wajahnya


" Kenapa kamu nggak tanya dia pergi ke mana dan sama siapa? Kamu ini sama tidak bisa diandalkan!" geram Dirga kesal.


" Maaf, Pak. Saya pikir itu masalah privacy jadi saya tidak bertanya-tanya seperti itu." Lisna menjawab. " Tapi katanya sih teman yang baru pindah tugas di Jakarta ini."


" Ya sudah, lain waktu harus kamu tanya lebih mendetail jika Kirania pergi keluar tanpa saya " perintah Dirga sebelum akhirnya dia kembali ke ruangannya dengan hati terbakar cemburu, meninggalkan Lisna yang hanya bisa menggelengkan kepala, melihat bosnya yang menjadi senewen seperti itu karena seorang Kirania.


" Shit !!" umpat Dirga kesal saat panggilan teleponnya pada Kirania tak juga diangkat.


Seandainya dia tahu di mana Kirania saat ini, saat ini juga rasanya dia ingin menyusulnya dan membawanya pergi menjauh dari pria yang bernama Gilang itu.


" Aaarrgghh !!" Geram Dirga melempar ponselnya ke sofa lalu mengusap kasar wajahnya.


" Awas saja jika kau pulang nanti. Berani sekali kau pergi bersama pria lain di belakangku, Rania!" Dengan dada turun naik karena rasa cemburu yang meletup-letup, Dirga bergumam.


Sementara itu, di sebuah kedai baso yang berada tepat di depan kantor Dirga, Kirania saat ini berada bersama dengan Sheril dan April, rekannya waktu dia masih menjadi staff di bagian marketing.


Ya, Kirania memang tak menerima ajakan Gilang untuk makan siang bersama. Karena jika dia menerimanya itu akan menjadi masalah kalau sampai Dirga tahu. Walaupun dia merasa jengkel dan cemburu tapi dia tak ingin melakukan hal yang akan membatasi ruang geraknya nanti. Bisa dia bayangkan jika Dirga tahu dirinya pergi bersama Gilang, yang pasti pria itu akan marah besar atau bisa jadi Dirga akan membuat wajah Gilang babak belur karena merasa Gilang telah lancang mengambil miliknya. Miliknya? Ah mengucapkan kata itu saja Kirania langsung mengedikkan bahunya. Dia yang masih belum berstatus resmi milik Dirga saja, pria itu sudah sangat posesif, apalagi jika nanti benar-benar menikah. Wajah Kirania seketika bersemu saat membayangkan kata menikah.


" Minum, Ran. Kamu kepedesan, ya? Muka kamu sampai merah begitu." Suara Sheril membuyarkan lamunan Kirania.


" Ah, iya ..." Kirania langsung meneguk air mineral di depannya.


" Ran, gosip yang beredar benar nggak, sih? Aku penasaran banget, deh." tanya April yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


" Gosip apa?"


" Kalau kamu sama pak bos ada main?"


Pertanyaan April sontak membuat kedua alis Kirania bertautan. " Main?"


" Affair maksudnya." April memperjelas pertanyaannya. " Sorry, Ran. Aku jadi kepikiran yang pernah Winda bilang ke kamu waktu kita ngobrol di lift dulu."


Kirania mendengus halus menanggapi ucapan April.


" Ya sebenarnya aku juga nggak percaya dengan gosip-gosip itu, Ran. Makanya untuk pastiin lagi aku tanya langsung sama kamu." ujar April.


" Ya kalian doakan saja aku selalu dijalan yang lurus, ya." Kirania berkelakar, dia ingin lebih santai menanggapi setiap pergunjingan yang dialamatkan kepadanya.


" Kata-kata kamu mencurigakan deh, Ran." Sheril menanggapi.


Kirania tertawa kecil. " Nggak usah menebak-nebak, deh. Percayalah, aku tidak seburuk seperti yang mereka pikirkan," tegasnya kemudian. " Kita balik ke kantor, yuk." Kirania melirik arlojinya. " Aku takut bos mencari, soalnya tadi nggak sempat ijin bos pergi makan siang, karena beliau sedang ada tamu." Kirania pun akhirnya bangkit dan membayar semua makanan dan minuman yang mereka makan. Karena saat hendak keluar kantor tadi, di lift dia berjumpa dengan April dan Sheril yang juga ingin makan siang. Dia ditodong mantan partnernya itu untuk mentraktir karena dianggap naik jabatan. Karena itulah Kirania yang membayar semua makanan itu.


Kirania kembali ke lantai delapan di mana ruangan Dirga berada.


" Ran, Mantanmu sepertinya marah besar tuh, kamu pergi sama temanmu itu," ledek Lisna. " Aku istirahat makan siang dulu deh, daripada lihat kalian bertengkar." Lisna langsung bangkit. " Aku tinggal ya, Ran." Tak lama Lisna pun beranjak pergi meninggalkan Kirania.


Kirania menghela nafas dalam-dalam sebelum melangkah ke arah pintu masuk ruang kerja Dirga. Setelah mengetuk pintu, Kirania pun membuka handle pintu dan memasuki ruangan Dirga.


" Sudah selesai kencan makan siangnya??"


Kalimat bernada dingin dan ketus langsung menyambut Kirania saat dia masuk ke dalam ruang kerja Bosnya itu.


.


.


.


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentar.


Oh ya yg mau gabung di GC silahkan gabung aja, ga aku lock kok, tapi itu khusus untuk readers yang mendukung karyaku, yg kasih kontribusi baik berupa like atau komentar, gift juga vote. Silahkan gabung, kita bebas ngobrol apa saja kok di sana.


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2