
Menghilangnya Kirania tidak hanya membuat Mama Saras dan keluarga Kirania saja yang cemas, tapi juga membuat Gilang juga keluarganya merasakan kegelisahan yang sama. Begitu juga dengan sosok pria yang saat ini aura kemarahan yang mememenuhi pikiran dan hatinya saat mengetahui wanita yang dicintainya itu menghilang dari rumahnya. Pria itu adalah Dirgantara. Dirga mencoba menghubungi Karina, tapi panggilannya tak juga diangkat. Dia kemudian mencoba menghubungi nomer Mama Saras.
" Assalamualaikum, ini Dirga, Ma ..." sapa Dirga saat panggilan teleponnya diangkat.
" Waalaikumsalam." Suara Mama Saras terdengar lemah.
" Ma, apa benar Rania menghilang?"
" Dirga, apa kamu tahu di mana Rania sekarang? Kalau kamu memang kamu tahu, tolong bawa pulang kemari."
Deg
Jantung Dirga berdegup lebih kencang saat mendengar suara Mama Saras. Apa maksud perkataan mama dari Kirania itu adalah tuduhan yang ditujukan kepadanya. Tuduhan jika dia adalah dalang dari hilangnya Kirania.
" Ma, Dirga nggak tahu Rania di mana. Dirga baru dapat kabar dari ... Gilang." Sebenarnya malas sekali Dirga harus menyebut nama pria itu. " Dia tadi ke kantor Dirga menanyakan keberadaan Kirania. Ma, demi Allah ... Dirga nggak tahu apa-apa soal menghilangnya Rania. Jika mungkin Mama berpikir Dirga yang melakukannya, itu nggak benar, Ma. Dirga memang kecewa Rania memilih pria lain, tapi Dirga nggak sepicik itu melakukan hal seperti yang Mama duga. Dirga sudah berjanji pada Bude Arum, kalau Dirga akan menghargai keputusan Rania, walaupun itu sangat menyakitkan buat Dirga. Karena Dirga sangat mencintai Rania, Ma." Dengan suara bergetar dan dada bergemuruh Dirga mengucapkan semua yang dirasanya.
Hembusan nafas Mama Saras dan Isak tangis yang kini terdengar di telinga Dirga.
" Ma, percaya sama aku. Aku nggak terlibat dalam masalah ini. Tapi Dirga janji, Ma. Dirga akan cari Rania, dan akan mengembalikan Rania ke Mama. Mama percaya sama Dirga 'kan, Ma?" Masih dengar suara bergetar Dirga berucap, membuat suara Isak tangis Mama Saras terdengar semakin kencang.
" Ma, Mama jangan khawatir. Dirga yakin Rania pasti akan baik-baik saja. Mama percaya 'kan sama Dirga?"
" Iya, Mama percaya sama kamu ..." Dengan suara parau Mama Saras menyahuti Dirga.
" Mama harus tenang ya, doakan saja Rania baik-baik saja. Aku akan kerahkan kawan aku untuk membantu mencari Rania."
" Iya, terima kasih, Dirga."
" Jangan merasa sungkan sama aku ya, Ma."
" Iya."
" Ya sudah, Mama istirahat tenangkan pikiran. Aku mau coba hubungi temanku sekarang."
" Iya."
" Assalamualaikum, Ma."
" Waalaikumsalam ...."
Selepas menutup panggilan teleponnya dengan Mama Saras, Dirga mencoba menelepon beberapa teman Kirania tapi tak ada jawaban memuaskan yang didapatnya. Akhirnya dia memutuskan menelepon seseorang.
__ADS_1
" Halo, Bos ... gimana kabar, Bos?" sapa orang dari dalam ponsel Dirga.
.
" Zal, gue butuh bantuan, Lu!"
" Bantuan apa nih, Bos?" sahut pria bernama Rizal.
" Mencari orang hilang, tapi posisinya dia saat menghilang di Cirebon bukan di Jakarta. Bisa lu bantu gue, kan?"
" Apa sih yang nggak bisa gue lakuin buat seorang Dirgantara Poetra Laksmana?" Rizal terkekeh. " Gue banyak teman polisi di sana, kok. Gue bisa minta bantuan mereka. Lu kirim saja data orang yang hilang itu."
" Oke, nanti gue kirim data lengkapnya. Tapi ... "
" Tapi apa, Bro?"
" Jangan lu apa-apain kalau lu temuin dia."
Rizal tergelak mendengar ucapan Dirga, " Who is she?" Jiwa intelnya langsung keluar demi mendengar perkataan Dirga. Bahkan bisa menebak dengan benar jika orang yang hendak dicarinya adalah seorang wanita.
" Ck, lakukan saja tugas yang gue kasih dengan baik. Gue kasih bonus seratus juta kalau lu berhasil temui dia dengan selamat."
" Wow ... wow ... wow ... gue pasti temui wanita itu secepatnya." Rizal terdengar antusias.
" Beres, Bos. Gue meluncur sekarang. Data-datanya jangan lupa kirim segera."
" Oke, ingat ya, jangan sampai lecet sedikit pun!"
" Beres, Bos ..." Rizal kembali tergelak mendengar peringatan dari Dirga.
***
Mata Kirania mengerjap, desiran suara ombak terdengar jelas di telinganya bahkan hawa dingin menerpa kulit wajahnya. Kirania melebarkan bola matanya, dia mendapati jika dia sedang berada di sebuah kamar bercat warna putih, kamar yang sangatlah asing untuknya.
Kirania memijat pelipisnya karena merasakan kepalanya sedikit pusing, tapi matanya terus mengitari setiap sudut kamar yang terlihat sangat rapih dengan perabotan yang terlihat mahal dan berkualitas. Kirania mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana dia bisa ada di sini.
" Astaghfirullahal adzim, aku ada di mana?" gumamnya setelah mengingat kejadian terakhir, ada sebuah mobil yang menghadangnya dan dua orang yang menghampiri lalu membekapnya.
Kirania lalu bangkit dari tempat tidur menuju arah pintu dari kaca yang dia duga adalah pintu menuju balkon. Dia menyibak gordyn putih yang menutupi pintu itu, lalu membukanya perlahan. Hawa dingin langsung menyambut saat pintu itu di buka. Gelap yang dia lihat, hanya beberapa lampu yang terlihat jauh dari tempat dia berada. Tapi yang kembali terdengar sangat jelas adalah suara deburan ombak, artinya dia berada tak jauh dari pinggir pantai.
Kirania bergegas kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu seraya memeluk tubuhnya sendiri yang merasa kedinginan. Dia melirik ke arah jam dinding di kamar itu yang sudah menunjukkan jam delapan malam. Kirania lalu meraih sling bag nya, berniat mengambil ponselnya. Setidaknya dia ingin mengetahui di mana posisi dia sekarang, tapi sayang benda yang dia cari tak ditemukannya.
__ADS_1
Ceklek
" Neng, sudah bangun?"
Kirania terkesiap saat mendengar suara pintu dibuka dibarengi seorang wanita masuk ke dalam kamar yang dia tempati dengan membawa nampan berisi botol air mineral, makanan dan buah-buahan.
" Makan dulu, Neng. Neng sedari datang tadi tertidur pasti belum makan." ujar wanita yang Kirania duga seusia dengan mamanya.
" Bu, ini di mana, ya?" tanya Kirania pada wanita itu.
" Ini di villa, Neng." jawaban wanita tak menangkap maksud pertanyaan Kirania.
" Maksud saya ini daerah mana? Di sini dekat pantai, kan? Apa ini masih daerah di Citebon, Bu?" tanya Kirania kembali, karena kotanya juga merupakan kota yang dekat dengan laut.
" Bukan, Neng." Wanita itu menjawab singkat.
" Lalu ini di mana, Bu?" Kirania semakin penasaran, jika dia bukan di kotanya, lalu dia di mana sekarang ini.
" Maaf, Neng. Saya dilarang memberikan informasi apa-apa, permisi ..." Wanita itu kembali berjalan ke arah pintu kamar tapi Kirania berusaha menyusul dan menghalangi wanita paruh baya itu untuk keluar kamarnya.
" Bu, siapa yang melarang Ibu? Tolong kasih tahu saya Bu. Saya ini diculik, saya ingin tahu siapa yang membawa saya ke sini." Kirania sampai memegang lengan wanita itu untuk menuntut suatu jawaban.
" Maaf, Neng. Ibu nggak bisa kasih tahu. Permisi." Wanita itu kemudian kembali melangkah namun kali ini tak dihalangi Kirania, karena Kirania menyadari pasti Ibu itu takut mendapatkan hukuman jika memberikan informasi kepadanya.
'
Kirania kembali menuju tempat tidur. Dia memandangi makanan yang dibawa oleh wanita tadi di atas nakas. Dia memang lapar karena sedari siang tidak sempat makan, tapi kegusarannya karena dia tak tahu berada di mana membuat selera makannya menguap seketika.
Kirania menghempaskan tubuhnya ke atas spring bed, dengan kaki menjuntai di lantai, sementara tangannya terus saja memijat pelipisnya.
" Ya Allah, di mana aku ini?"
Kirania hanya bisa berharap di mana pun dia berada sekarang, dia berada di tangan orang baik walaupun orang itu menculiknya.
***
Bersambung ...
R : Thor, kita tuh udah pusing mikirin masalah di RL kenapa masih ditambah pusing mikirin siapa penculik Rania, sih?
A : Tenang, obat sakit kepala banyak beredar di warung² dengan harga terjangkau, kok 😂😂😂
__ADS_1
R : Dasar Othor gendeng😡😡
Happy Reading❤️