
" Mas, aku belum bisa hubungi Karina. Teleponnya juga belum bisa dihubungi, lho," keluh Kirania saat mereka dalam perjalanan menuju kantor dengan Pak Seno yang mengendarai mobil Dirga.
" Jadi gimana ini, Mas?" cemas Kirania
Tak ada respon dari Dirga sehingga membuatnya menoleh ke arah suaminya itu yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan sulit dimengerti.
" Kenapa, Mas?" Kirania sampai melirik ke arah bajunya, karena takut ada yang aneh sehingga suaminya menatap seperti itu.
" Panggilan sudah lupa lagi?" tanya Dirga ketus.
Kirania langsung tertawa kecil seraya menutup mulutnya dan melirik ke arah Pak Seno.
" Ada Pak Seno, aku malu ... nanti saja ya, aku panggil Abang sayang nya kalau sedang berduaan saja nggak ada orang." bisik Kirania di telingga Dirga.
" Memangnya kenapa kalau ada Pak Seno?" tanya Dirga membuat Pak Seno melirik ke arah spion karena namanya disebut dan Kirania sendiri membulatkan matanya.
" Kenapa pakai bilang segala, sih?" Kirania mencubit pinggang sang suami hingga Dirga tergelak.
" Kamu bandel, sih." Dirga menarik cuping hidung istrinya itu. " Mau di mana pun berada panggilannya harus sama. Abang sayang ..." permintaan yang lebih tepat disebut perintah jika keluar dari mulut Dirga itu membuat Kirania mendesah.
" Oh ya, kamu sudah minta bantuan Pak Ricky, kan?" tanya Kirania kemudian.
" Kenapa harus meminta bantuan Ricky? Ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan oleh Ricky."
" Jadi menurutmu mencari adikku itu nggak penting gitu?" Kirania melipat tangannya di dada.
" Bukannya nggak penting, Sayang." Dirga langsung merangkul istrinya karena dia tadi salah memilih kalimat.
" Aku khawatir dengan Karina, ini 'kan Jakarta. Aku takut terjadi sesuatu dengan adikku," lirih Kirania.
" Iya, Sayang. Aku nanti suruh orang untuk mencari Karina tapi bukan Ricky. Ricky akan sibuk mengurus perusahaan, karena sebentar lagi mau kita tinggal untuk berbulan madu. Kamu tenang saja nggak perlu khawatir, ya." Dirga mengecup lembut kening Kirania yang berada dalam rengkuhan tangan kokoh Dirga.
Sikap Dirga yang terlihat manis dan terkesan menurut pada Kirania tak luput dari perhatian Pak Seno. Dia sempat melirik dari spion. Pria yang sudah beberapa tahun ini menjadi majikannya itu nampak berbeda jika di depan istrinya. Tak ada lagi sikap tegas, garang dan sok perintah Dirga yang ditakuti setiap karyawannya.
***
Karina segera berlari menghampiri Gilang saat dilihatnya pria itu keluar dari dalam rumahnya.
" Kak Gilang ...!" teriak Karina membuat Gilang menoleh ke asal suara Karina.
" Apa yang saya katakan semalam kurang cukup kamu mengerti? Mau apa lagi kamu temui saya?" Gilang terlihat kesal dengan sikap bebal Karina yang masih saja menemuinya.
" Aku nggak akan berhenti sebelum Kak Gilang memaafkan Mbak Rania," ujar Karina.
Gilang mendengus kesal. " Sebaiknya kamu pulang saja."
" Kak Gilang mau maafin Mbak Rania, kan?"
" Pulanglah!"
" Setelah Kakak memberikan kata maaf."
" Tidak semudah itu."
__ADS_1
" Aku bersedia menerima hukuman atas apa apa yang Mbak Rania buat terhadap Kak Gilang."
Gilang menatap tajam Karina ...
Flashback on
Setelah meninggalkan Karina, Gilang bergegas masuk menuju kamarnya dengan langkah lebar. Emosinya seolah berkobar jika harus mengingat kembali pertunangan dia yang gagal karena Kirania lebih memilih kembali ke mantan kekasihnya daripada tetap bertahan dengannya. Dan kini Karina, adik dari wanita yang telah membuat hatinya terluka itu kini datang seolah menguak kembali sakit di hatinya. Dan apa tadi yang adik dari Kirania itu ucapkan? Karina menyukainya? Lalu apa maksudnya mengucapkan hal itu? Apa wanita itu benar-benar berharap dia akan menggantikan posisi kakaknya untuk menjadi tunangannya? Benar-benar gila, pikir Gilang
Gilang kemudian meraih ponselnya, dia segera menghubungi mamanya, karena dia tahu jika mamanya itu sangat akrab dengan Karina.
" Assalamualaikum, Lang. Apa kabar, Nak? Kamu baik-baik saja?" Sejak memberi kabar jika Kirania memutuskan tali pertunagan mereka, Gilang memang tidak pernah banyak berkomunikasi dengan keluarganya. Dia sesungguhnya merasa malu, karena dia merasa telah mengecewakan kedua orang tuanya itu.
" Waalaikumsalam, apa Mama yang memberitahukan alamatku pada Karina?" tuding Gilang langsung tanpa berbasa-basi.
" Apa Karina ke sana?"
Ada dengusan kecil yang terdengar dari Gilang saat mendengar jawaban mamanya itu.
" Berarti benar Mama yang beritahu? Kenapa, Ma? Gilang sudah tak ingin berurusan dengan keluarga mereka lagi." Gilang menyatakan keberatannya karena mamanya itu sudah memberikan informasi tentang keberadaan dirinya.
" Ya Mama tidak bisa nolak, soalnya Karina memaksa meminta alamat kamu dinas dan tempat tinggal kamu. Apa dia membuat keributan?" tanya Tante Dini cemas.
" Mama tahu apa yang dia inginkan? Dia ingin menggantikan posisi Rania, Ma. Apa itu tidak gila namanya?! Dia pikir bisa seenaknya tukar posisi seperti itu?" geram Gilang.
" Lang, apa kamu tidak ingin mencoba membuka hatimu untuk Karina? Dia juga tak kalah cantik dengan Rania, anaknya juga baik."
" Ma, tolong jangan berpikiran aneh seperti itu. Gilang hanya mencintai Rania, Ma. Gilang hanya ingin Rania, bukan wanita lain termasuk Karina!" tegas Gilang.
" Tapi sekarang Rania sudah menjadi milik orang lain, Lang. Kamu tidak bisa terus menerus seperti ini, Nak. Mama tahu kamu sangat kecewa, tapi kamu mesti bisa tunjukan pada Rania jika kamu baik-baik saja dan bisa menemukan kebahagiaan dengan wanita lain."
" Lang, Mama mohon, apapun yang sudah Rania lakukan terhadapmu jangan lampiaskan kemarahanmu pada orang lain, termasuk Karina. Dia melakukan hal itu karena dia tidak tega melihat kamu dikecewakan."
Flashback off
" Kak, Kak Gilang mau memaafkan Mbak Rania, kan?" Karina melambaikan tangan ke dekat wajah Gilang karena sedari tadi Gilang hanya menatapnya tak bersuara.
" Apa kamu yakin akan sanggup menerima hukuman karena perbuatan kakakmu?"
" Iya, Kak. Aku sanggup." Karina menjawab mantap.
Seringai licik langsung mengembang di sudut bibir Gilang.
" Baiklah, nanti malam datanglah kembali kemari."
" Nanti malam?"
" Kenapa? Keberatan?"
Karina menggeleng cepat seraya menjawab, " Tidak, Kak. Baiklah nanti malam aku akan kemari."
Gilang berjalan mendekat ke arah Karina hingga jarak mereka sangat menipis dan itu sukses membuat jantung Karina berdegup sangat kencang, apalagi saat tangan Gilang terulur menyampirkan rambut ke belakang telinga Karina dan membisikkan kalimat ...
" Berhiaslah secantik mungkin ..."
__ADS_1
Darah Karina dibuat berdesir saat hembusan nafas Gilang terasa hangat di dekat pipinya.
" Sekarang pulanglah, saya mesti ke kantor." Gilang segera melangkah ke mobilnya meninggalkan Karina yang masih tertegun dengan tindakan yang baru saja dilakukan Gilang terhadapnya.
***
" Apa aku harus setiap hari ikut ke kantor?" tanya Kirania seraya menyandarkan bo kong nya di tepi meja kerja Dirga.
" Tentu saja, karena aku tiap hari berangkat ke kantor kecuali weekend."
" Tapi aku bosan kalau tiap hari ikut ke kantor," keluh Kirania.
" Apa kamu bilang? Bosan menemani suamimu ini?" Dirga langsung menarik pinggang Kirania.
" Masalahnya tak ada yang aku kerjakan, makanya aku bosan jika tiap hari harus ikut."
" Lantas apa bedanya jika kamu di apartemen sendirian?"
Kirania terdiam sejenak, memikirkan apa yang baru saja diucapkan suaminya itu memang benar. Di apartemen pun dia tidak mungkin punya kesibukan lain.
" Iya juga, ya ..." Kirania terkekeh. " Kamu sudah atur orang untuk mencari Karina, Mas?"
" Ck, susah sekali menyuruh kamu menyebut kata Abang sayang." Dirga berdecak. " Tadi alasannya ada orang, sekarang hanya berdua pun tetap saja nggak menggunakan kata Abang." Dirga pura-pura merajuk membuat Kirania tersenyum seraya mengulurkan tangannya membelai wajah suaminya.
" Maaf, Abang sayang ... aku belum terbiasa, suka lupa."
" Makanya biasakan dari sekarang." Dirga mengeratkan pelukannya hingga membuat Kirania terduduk di pangkuannya.
" Abang, ini kantor ... nanti ada yang lihat aku malu." Kirania mencoba melepaskan diri dari rengkuhan tangan kokoh sang suami.
" Biarkan saja, kita ini 'kan sudah menikah, sudah resmi menjadi suami istri." Dirga mendekatkan wajahnya ke ceruk leher istrinya, mencium aroma feminim dari tubuh istrinya itu seakan menenangkan pikirannya.
" Jadi seperti ini kelakuan kalian berdua di kantor?"
Kirania dan Dirga langsung terperanjat saat tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu ruangan Dirga.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Karina
Visual Gilang
Visual Ricky
__ADS_1
Happy Reading❤️