
Marvin kembali duduk sambil menatap kearah ku, dia terlihat sangat kesal, aku langsung beranjak pergi menuju walk-in closed untuk mengganti pakaian.
"Ariana, besok kamu harus pindah ke apartemen, dan jangan sesekali berpikir untuk pergi tanpa aku"ucap nya.
"Tidak aku ingin tinggal di rumah ku,aku mohon biarkan aku tetap disini"ujar ku yang baru selesai mengganti pakaian ku.
"Kau jangan membantah lagi jika ingin selamat"ucap Marvin.
"Tapi aku harus kuliah Marvin, aku tidak mungkin keluar bersama mu setiap hari"ucap ku.
"Kau ingin membantahku lagi"ucap nya sambil menatap kearah ku.
"Apa? kau akan ada setiap hari untuk mengantar ku kuliah"tanyaku.
"Ada asisten ku, yang akan mengantar mu ke kampus"ucap Marvin.
"Kalau begitu, biarkan asisten mu yang tinggal di sini bersama ku"ucap ku.
"Ariana, aku tidak minta pendapat mu kau hanya harus menuruti perkataan ku"ucap Marvin.
"Aku tidak mau"ucap ku langsung pergi meninggalkan kamar ku, tapi kemudian Marvin menyusul ku.
"Kau tidak bisa membantah"ucap nya sambil menarik ku, membawa ku pergi menuju mobil nya.
"Masuk, atau aku hancurkan rumah ini"ucap nya.
"Aku tidak mau Marvin kamu ngerti gak sih"ucap ku.
Tapi kemudian rambut ku dijambak nya, sangat kuat dan aku meringis kesakitan, tapi dia tetap datar, sambil mendorong ku masuk kedalam mobil nya.
"Marvin mau sampai kapan kamu begini terus, kamu sudah miliknya, dan kamu tidak seharusnya berada di samping ku, bagaimana jika dia mengira bahwa aku adalah selingkuhan mu"ucap ku.
"Dia tau bahwa kau adalah ****** yang aku pungut dari tempat hina"ucap Marvin, tanpa perasaan.
"Aku bukan ****** Marvin ,aku bukan wanita seperti itu!"teriak ku.
pria itu pun hanya fokus pada laptop nya, tanpa menghiraukan ku, yang tengah marah padanya.
sepanjang perjalanan aku tidak bicara lagi hingga tiba di sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi, Marvin langsung merangkul pinggang ku, dan beberapa scurity memberikan hormat pada nya, tapi pria itu tetap datar hingga kami masuk ke dalam lift.
setibanya di unit apartemen tersebut, Marvin langsung menempel kan card akses masuk kedalam nya, Marvin kembali membawa ku masuk kedalam ruangan apartemen yang begitu luas dan sangat mewah.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini"ucap Marvin, sambil membawa ku keatas menuju kamar nya.
"Dimana kamar ku"ucap ku.
"Disini, ini kamar kita"ucap Marvin.
"kita bukan suami istri Marvin, jadi kita tidak boleh tidur bersama"ucap ku.
"Hanya formalitas untuk itu aku bisa memberikan mu status itu jika kamu mau"ucap nya.
"Bukan hanya formalitas, Marvin, kita berjanji di hadapan Allah"ucap ku.
"Apapun itu"ujar nya.
Aku hanya menarik nafas, setelah itu aku duduk di sofa, tidak tau apa? yang harus aku lakukan.
"Semua kebutuhan mu sudah ada di sini, kamu tidak perlu membawa handphone milik mu disini juga ada handphone baru"ucap nya.
"Terserah kamu saja"ucap ku yang sudah malas untuk berdebat.
"Masakan aku makanan aku laper"ucap nya.
"Baiklah"aku langsung turun kebawah mencari dapur yang ada di apartemen tersebut, dan saat sampai di sana,aku lihat sepertinya Marvin sudah lama beranda di sana karena semua kebutuhan makanan terdapat di sana.
Aku langsung membuat capcay kuah dengan telur dadar gulung isi daging cincang, setelah itu aku pun membuat hidangan penutup setelah semua siap aku langsung menatapnya di meja makan.
"Marvin! makanan nya sudah siap"ucap ku .
"jangan berteriak aku tidak tuli"ucap nya.
Marvin berjalan menuju meja makan, sampai akhirnya dia duduk dan menyantap makanan yang baru saja aku hidang kan.
"Pelan-pelan masih panas "ucap ku.
__ADS_1
"Aku tau kenapa? kau tidak menyuapi aku"ucap nya.
"Kau tidak sedang sakit"jawab ku.
"Apa? jika aku sakit kamu akan menyuapiku makan"tanya nya.
"Heummm, tergantung"ucap ku.
akhirnya kami pun segera menghabiskan makan siang kami yang hampir terlewat itu.
setelah selesai makan siang, aku duduk di ruang TV, aku pun menonton drama yang lagi booming tersebut, sementara dia yang ada di samping ku kembali sibuk dengan laptop nya.
"Apa? kau tidak ada kegiatan lain, selain bekerja terus menerus"tanyaku yang sedari tadi kesal mendengar suara keyboard laptop nya.
"Kenapa? apa? kau sudah siap aku sentuh"tanya nya dengan pandangan tetap fokus pada laptop.
"Bukan begitu,kau sangat berisik mengganggu konsentrasi ku, film nya lagi seru"ucap ku.
"Kita bisa buat film, setiap hari karena di apartemen ku dikelilingi banyak Cctv, jadi kamu bisa seperti yang di tv itu"ucap Marvin.
"Ahhhhhh...aku malas berdebat dengan mu"ucap ku sambil beranjak dari sofa, aku benar-benar kesal tapi dia hanya tersenyum, melihat tingkah ku.
"Sudah siap?" tanya nya lagi.
"Aku ingin belajar"ucap ku sambil terus melangkah pergi, aku masuk ke ruang baca yang tersedia di sana, dan Marvin mengikuti ku, dari belakang.
"Semua sudah lengkap, dan tidak perlu mencari materi di luar,aku sudah meminta mereka menyediakan nya disini"ujar Marvin.
"Makasih"ucap ku singkat.
"Berterimakasih lah dengan benar"ucap Marvin, sambil membalikkan badan ku.
aku tau yang dia inginkan, aku langsung mencium bibir nya, hingga Marvin menahan tengkuk leher ku, dan ciuman itu terjadi sedikit lebih lama.
"Ariana, aku suka kamu yang patuh"ucap nya.
"Terserah kamu saja"jawab ku sambil mencari buku yang sedang aku cari beberapa hari ini, dan ternyata semua seri ada disana.
sementara Marvin merebahkan kepalanya di atas pangkuan ku tepat di atas sofa yang lebar dan empuk, saat aku tengah membaca beberapa poin penting yang ada dalam buku itu, aku heran kenapa? Marvin tak bersuara sedikit pun, saat aku melihat ternyata pria itu sudah terbang ke alam mimpi nya.
aku pun mengelus puncak kepala nya perlahan, dan tiba-tiba dia bergerak berbalik membenamkan wajahnya di perut ku yang ramping.
ada perasaan aneh yang kini aku rasakan, entah apa? itu yang jelas aku merasa takut jika suatu hari kami tidak lagi bertemu, meskipun dia selalu berbuat seenaknya untuk memberikan ku pelajaran.
hingga aku pun tertidur sambil bersandar di sofa tersebut, entah kapan? Marvin merubah posisi kami yang jelas aku saat aku membuka mata aku berada dalam pelukan nya, dan dia tengah menatap ku.
🌸.........................🌸
pagi hari nya, setelah aku selesai sholat,aku langsung pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi untuk kami berdua, karena Marvin, mungkin akan pergi bekerja, kulihat dia masih tertidur pulas saat aku beranjak dari tempat tidur.
Aku memasak makaroni schotel, untuk sarapan pagi kami berdua dengan segelas kopi tanpa gula, dan juga susu tawar milikku.
"Marvin, bangun waktu nya sarapan pagi"ucap ku sambil meletakkan gelas di atas meja nakas, Marvin hanya menggeliat, tanpa membuka mata, morning kiss Ariana"ucap nya sambil menarik lengan ku yang setengah membungkuk di hadapan nya.
Aku langsung mencium bibir Marvin sekilas, sebelum pria itu menahan ku lagi.
sudah "Ayo bangun setelah itu kita sarapan pagi itu kopi mu, aku akan bersiap" ucap ku sambil berjalan menuju walk-in closed untuk menyiapkan stelan jas nya dan juga sekaligus aku berganti pakaian.
setelah aku siap aku lihat Marvin keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggang dan rambut yang masih basah.
"Kemarilah aku akan mengeringkan rambut mu"kataku sambil mengambil pengering rambut di atas meja rias.
Marvin duduk dan menatap ku di cermin.
"Apa? kau pernah melakukan ini untuk pria lain"ucap Marvin.
"Mana pernah, selain Papi, dan Doni kau orang ketiga yang ada dalam hidup ku,aku tidak pernah peduli dengan yang lain"jawab ku.
"Apa? diantara kita bertiga ada yang pernah kamu perlakukan seperti ini"ucap nya lagi.
"Hanya kamu puas, sekarang sudah selesai"ucap ku yang langsung mematikan alat tersebut.
Aku merapihkan rambut nya, dengan gaya yang biasanya seorang Marvin gunakan, setelah itu aku duduk di sofa menunggu dia selesai berpakaian.
setelah dia siap,kami berdua pun turun ke bawah, sampai di meja makan aku langsung mengeluarkan potongan makaroni schotel yang tadi aku buat ke piring nya, setelah itu dia langsung menyantap nya.
__ADS_1
"Kau benar-benar pintar memasak, aku kira kamu hanya pandai menari, ternyata aku salah"ucap nya.
"Bakat ku masih banyak"ucap ku sambil menatap kearah lain.
"Aku tidak sabar ingin merasakan bakat mu saat di atas ranjang"ucap nya tanpa rasa malu.
"Kau gila, aku bahkan tidak pernah melakukan semua itu, dan jangan bahas itu lagi"ucap ku lantang setiap kali aku membahas tentang itu,aku benar-benar tidak suka.
Marvin malah tertawa, setelah itu dia langsung mengakhiri sarapan nya.
"Hari ini akan ada yang bersih-bersih di sini jadi tidak perlu mencuci itu"ucap pria itu yang langsung bergegas pergi menuju kamar dia mengambil ponsel dan dompet nya juga membawa kan laptop ku yang baru dan memberikan itu pada ku.
sesampainya di lobi gedung tersebut, sudah ada asisten pribadi nya yang entah kapan? dia datang ke sana di pagi ini, mungkin saja dia menginap di mobil atau dekat sini tapi itu tidak mungkin.
"Sepagi ini kau sudah berada di sini"ucap ku pada asisten Marvin, yang hanya dijawab dengan anggukan tanpa menoleh ke arah ku.
kamipun masuk ke dalam mobil aku duduk di belakang dengan Marvin, sementara asisten pribadi nya mengemudi kan mobil nya.
"Aku akan pulang sore, karena hari ini aku ujian praktek"ucap ku.
"Hubungi aku setelah selesai"ucap nya.
"Baik"jawab ku singkat, hingga akhirnya aku tiba di parkiran kampus, Marvin langsung mencium bibir ku, tanpa rasa malu, sementara ada asisten yang sedari tadi salah tingkah dan memandang ke arah lain.
hingga beberapa detik kemudian.
"Belajar yang rajin, setelah kau lulus kita akan segera menikah"ucap nya.
Aku sempat mematung, benarkah yang ia katakan apa? kata-kata nya bisa dipegang, hingga, dia kembali menyadarkan ku dengan menyentil keningku.
"AW... sakit tau"ucap ku.
"Untuk apa? melamun apa? kau merasa tersanjung"ucap nya yang langsung membuat ku ingin mentah saat itu juga.
"Aku pergi dulu, sampai jumpa"ucap ku setelah mencium punggung tangan Marvin.
"Jangan berbuat macam-macam"ucap nya sambil meminta asisten nya tancap gas.
aku berjalan menuju tangga yang setiap hari aku pijak untuk masuk ke dalam kelas, hingga suara Tora, mengagetkan ku.
"Kau dari mana saja apa? kau tidak membaca pesan ku"ucap nya.
"Ponsel lama ku hilang"jawab ku singkat.
"Benarkah tapi ada seseorang yang menelpon ku, meminta ku agar tidak lagi menghubungi mu"ucap nya serius.
"Aku tidak tau tapi aku tidak pernah melihat ponsel ku, sejak aku hadir di club milik mu"jawab ku berbohong.
"Ah baiklah-baiklah, apa? kau akan memenuhi undangan ku, untuk menari di club ku, sejak kepergian mu, para tamu yang hadir ingin kamu menjadi penari di club ku"ucap nya.
"Aku hanya menggeleng, cukup sudah tidak ada lagi Ariana rose yang dulu, karena gara-gara itu,aku bahkan di pandang rendah oleh pria yang membebaskan ku dari tempat hina itu.
Aku lanjut berjalan tidak menghiraukan dia yang sedari tadi membujukku, aku lebih baik menolak meskipun tawaran nya sangat menggiurkan dan aku tidak perlu menggunakan baju yang seperti kain saringan tersebut.
"Ariana, please aku janji privasi mu akan terjaga karena kamu juga akan menggunakan topeng"ucap Tora.
"Tidak Tora, kakak ku melarang nya"ucap ku berbohong.
hingga akhirnya aku tiba di dalam kelas, tidak ada lagi percakapan diantara kami.
aku mulai membuka laptop ku, mengecek semua data yang aku simpan hingga seseorang tiba-tiba muncul di layar laptop ku.
"Jangan coba-coba melakukan sesuatu dibelakang ku"ucap nya yang langsung terhenti karena aku menutup laptop ku dengan cepat.
"Apa? pria itu kakak mu, atau sugar Daddy mu, karena setahuku Marvin sudah menikah dan dia sering berkunjung ke club malam ku"ucap nya.
"Yang jelas dia bukan siapa-siapa ku, tapi sejak aku berhenti dari pekerjaan ku, dia selalu mengatur kehidupan ku, hingga adikku tewas, aku masih mencari tahu siapa? yang melakukan tabrak lari itu"ucap ku.
tanpa sadar aku sudah membuka semua rahasia yang selama ini aku tutupi.
"Aku bisa membebaskan mu dari nya, jika kamu mau"ucap nya tanpa terlihat takut.
"Bagaimana? cara nya"tanya ku.
"Kau cukup melakukan sesuatu yang sangat Marvin benci, dan aku jamin semua akan baik-baik saja"ucap nya.
__ADS_1
"Baik-baik saja, karena saat itu aku mati"ucap ku datar.