
Pagi ini Agatha, bangun lebih awal dia terus bertanya-tanya, apa? arti dari mimpi itu, dia menelpon semua orang, seluruh keluarga nya, bahkan Piter, yang kini terlihat seperti biasa nya, dia mengejek Agatha Big baby.
"Apa? ada yang terjadi sayang kenapa? kamu terlihat seperti itu, mommy, sedang menunggui kakak mu, yang sekarang akan melahirkan"ucap Anggita.
"Mom, bukankah anak Alana, sudah lahir dan sudah berusia delapan bulan"ujar Agatha.
"Sayang, kamu bangun tidur"ujar Anggita.
"Iya mom, dan sudah bersiap mau pergi ke kampus, tapi mobil aku sudah diantar ke rumah kak, Alex"ujar Agatha.
"Sayang, kapan? kamu mengantarkan mobil, tapi pagi sekali mommy, datang ke apartemen mu, semua masih sama, hanya ada tambahan mobil yang Piter kasih"ujar Anggita.
"Tidak-tidak mommy, aku menolak kado dari dia, aku minta tolong singkirkan kado itu"teriak Agatha.
"Dasar Big baby, orang udah ngasih mobil mahal ditolak, ya sudah aku ambil kembali, buat putri ku yang cantik yang sebentar lagi akan lahir"ucap Piter.
"Ambilah aku tidak butuh, lagipula kak Alex, sudah memberikan segalanya yang terbaik"ujar Agatha.
"Kau!"teriak Piter, yang kini terlihat sangat kesal.
"Terserah aku,dong terima atau tidak, lagipula aku yang berulang tahun, kenapa? situ yang sewot" ujar Agatha.
"Dasar Big baby!"teriak Piter.
"Mom, sepertinya, ada yang tidak beres, dengan otak ku"ujar Agatha.
"Sayang jangan bicara sembarangan"ucap Anggita.
"Tidak mom, semua terasa ada yang tidak biasa, aku seakan melihat masa depan tapi, semua yang kulihat terasa nyata"ucap Agatha.
"Sudah, nanti kita bicara lagi, sekarang makan dulu sarapan pagi nya, sebelum terlambat"ucap Anggita.
Wanita berusia empat puluh tahun itu, selalu mengantar sarapan pagi makan siang dan malam, padahal jarak antara Mension, dan juga apartemen tersebut, sangat jauh, tapi dengan kasih sayang nya, terhadap sang putri , Anggita rela bangun lebih pagi, untuk mengurus suami serta putri tercinta nya itu.
Agatha, pun langsung mengecek apakah benar ada sarapan pagi, lebih menyenangkan saat sarapan pagi di temani Alex, tiba-tiba dia kepikiran pria itu, apa? benar dirinya benar-benar putus dengan Alex, dan apa? Alex benar-benar sudah menikah, Agatha mencoba menghubungi Alex.
Tapi sampai, panggilan keempat, pria itu juga tidak menjawab nya, Agatha menghela nafas panjang, bagaimana bisa pria itu benar-benar mengabaikan nya.
Tanpa, Agatha, sadari sebuah cincin terjatuh dari atas nakas.
"Cincin"ucap Agata, yang akhirnya, mengambil cincin itu.
"Semua, ini benar-benar terjadi, lalu kenapa? Alana, baru saja akan melahirkan"ucap Agatha bermonolog, dia bingung sendiri, gadis itu buru-buru menghasilkan sarapan pagi nya, setelah itu langsung berangkat ke kampus, sesampainya di sana, dia juga tidak menemui, teman yang hadir dalam mimpi nya, tapi saat dia mampir ke perpustakaan, dia menemukan jurnal tentang, mahasiswa yang hilang di pegunungan, dan foto-foto mereka terpanggang nyata di sana, dengan tatto yang Agatha buat, dalam mimpi tersebut, bulu kuduk Agatha merinding, seakan semua jadi horor, tapi dia bahkan menyematkan logo khusus di tatto tersebut, dan itu nyata ada disana.
__ADS_1
"Apa? aku juga sudah mati"ujar Agatha, sambil menatap dirinya di cermin.
"Apa? aku"ucapan Agatha, terhenti saat dering ponsel terdengar begitu nyaring.
"Mom, tolong periksa otak ku, dengan baik, apa? aku sudah mati atau belum"ujar Agatha, sambil terisak, gadis itu tidak jadi masuk kuliah, dia bahkan membawa buku jurnal tersebut.
Saat agatha menuju rumah sakit dimana Alana, sudah melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
"Mom, tolong jawab aku, apa? aku sudah gila atau aku sudah meninggal saat ini"ucap Agatha.
Agatha, duduk di sofa dia, bahkan tidak menghiraukan keponakan yang pertama.
"Sayang apa? maksudnya ini"ujar Anggita.
"Mom, apa? aku sudah gila, atau memang ada yang terjadi yang aku tidak tau, tadi malam aku mimpi panjang, dan mimpi buruk itu, seakan memberikan petunjuk, aku memiliki lima sahabat, mereka sering aku ajak ke apartemen, dan aku bahkan buatkan tatto untuk nya, tapi kemudian saat aku bangun aku baru sadar bahwa itu semua adalah mimpi buruk, tidak hanya itu aku juga bermimpi telah menikah dengan Kris, dan ada yang lain nya juga yang muncul dalam hidupku di mimpi itu, selain Alana, sudah melahirkan seorang putra delapan bulan yang lalu, ini mom, lihat tatto ini aku buat dalam mimpi itu, tapi mereka sudah hilang dua tahun lalu,di pegunungan dan lihat mom, mereka sama persis seperti yang ada di dalam mimpi ku dan ini lihat tatto dan kode yang aku pasang setiap karya ku, apa? ada yang terjadi yang aku tidak tahu, apa? otak ku bermasalah lagi"rentetan pertanyaan itu lolos dari bibir Agatha.
"Sementara Anggita, tanpa sadar sudah menjatuhkan buku, itu air mata nya berlinang, saat mendengar pertanyaan apa? otak nya bermasalah lagi, jawaban apa? yang harus Agatha, katakan, jika memang benar bahwa putri nya, sempat mengalami depresi, setelah ditinggal oleh Alexander, dan foto itu semua nyata, mereka adalah teman Agatha yang dinyatakan hilang saat di pegunungan, saat mereka merayakan kelulusan.
Dan ini, sudah dua tahun berlalu, Agatha, selalu hidup dalam masa lalu, dan Alana, memang melahirkan anak kedua nya, saat ini dan tetang pernikahan itu adalah khayalan, meskipun Kristofer memang ada, tapi setelah dia tau Agatha kembali mengalami masalah dalam otak nya, dia sudah tidak pernah menemui, Agatha, entah karena sibuk atau apa? yang jelas sudah dua tahun terlewat, masa- terberat dalam diri Anggita, kembali terjadi, untuk membantu putri nya pulih.
Ada yang Agatha tidak tau bahwa saat ini Marvin, sudah tiada, dia wafat di usia nya, yang ke tujuh puluh dua tahun, dan sekarang Ariana sudah duduk di kursi roda, Anggita, benar-benar harus ekstra menjadi wanita terkuat, untuk mereka semua, dan ada kabar gembira NATO, sudah memiliki seorang putra, yang diberi nama, Natan Alexander, nama itu diberikan oleh Almarhum sang Opah, sebelum Marvin meninggal dunia, dan wajah nya, benar-benar mirip dengan Marvin dan Rosella, kini tengah hamil lagi.
Sementara itu Alvaro, hingga saat ini setelah Irma meninggal dunia saat kecelakaan lalulintas itu, dia tidak ingin menikah lagi, sampai sekarang dia masih menduda.
Dan Alvin, kini sudah bisa berjalan normal lagi, bahkan sudah kembali mengurus perusahaan milik Daddy nya, pria berusia lima empat puluh tujuh tahun itu,kini masih terlihat awet muda, bersama dengan sang istri.
Setelah, melakukan beberapa pengujian akhirnya, sudah bisa dipastikan bahwa Agatha, sudah sembuh dari semua trauma berat itu, dia sudah mengingat semua yang terjadi yang sudah seperti kaset film yang muncul di pikiran nya itu, dan semua kejadian yang muncul di mimpi Agatha, tidak semua nyata, dia belum menikah, dan tentang Piter, hanya ilusi belaka, dari kebencian yang ada dalam dirinya, karena Piter, pernah bercanda jika benci bisa jadi cinta.
Dan, soal kampus, Alvin, meminta pihak kampus untuk tetap menerima kehadiran Agatha, sesuai yang Agatha ingat, padahal mereka sudah lulus kuliah dua tahun yang lalu.
Dan, soal kelima, sahabat nya yang masih hilang tanpa jejak, Alvin menutup rapat semua itu, meskipun akhirnya, Agatha, tetap menemukan buku itu, adalah buku tahunan tentang para mahasiswa yang mengalami peristiwa buruk, saat masih terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut.
Agatha, kini mengalami perubahan, dirinya, bahkan sudah jauh lebih dewasa, dari sebelumnya, gadis itu sudah tidak lagi terpuruk dalam kekecewaan saat menerima kenyataan jika Alexander, sudah menikah, dan punya anak, meskipun cinta Alexander tetap untuk Agatha hingga saat ini.
Kini Agatha, mendatangi cafe, milik Yunho, suasana nya, masih tetap sama, Agatha pun naik ke atas tempat dimana favorit nya dulu, bersama dengan Alexander, tapi tanpa di duga, ternyata disana ada Alexander, bersama dengan sang istri dan juga putra mereka yang baru berusia beberapa bulan, dan Yunho, beserta istri nya, karena dia juga sudah menikah beberapa bulan lalu dan kini tengah hamil ada juga , dan anda teman Alex yang lainnya.
Agatha, sempat ingin kembali turun, tapi Yunho, keburu menahan nya, setelah dua tahun lamanya, Agatha, tidak hadir di sana, kini dia datang kembali, tapi penampilan nya semakin berbeda dia begitu cantik dan elegan, wanita berusia 24 tahun itu, kini berpakaian formal, dengan rok prisket berwarna hitam, dipadukan dengan blazer berwarna abu muda, dan rambut tertata rapi, dia membawa tas wanita yang kini masih berada di lengan nya, warna tas itu senada dengan high heels, yang ia kenakan.
Dengan makeup natural yang semakin memperlihatkan kecantikan nya.
"Maaf, jika kehadiran saya, mengganggu anda semua, saya cari tempat lain saja"ucap Agatha.
"Tidak Agatha, kamu tidak menggangu kok, silahkan duduk dan bergabung bersama kami" ujar Yunho, yang mencegah langkah Agatha.
__ADS_1
Terpaksa, Agatha, pun menurut dan duduk di di depan meja seperti biasa dia duduk lesehan seperti dulu, karena memang dirancang khusus untuk seperti itu.
Agatha, tidak melirik ke arah Alex, tapi dia melihat ponsel nya.
"Tuan, Yunho, saya pesan ini dan ini, ini juga"ujar Agatha, dia memilih makanan yang tidak pernah Yunho berikan pada Agatha, cafetaria itu, menyajikan berbagai macam jenis cake dan hidangan lain nya yang Agatha pesan.
"Agatha, tidak usah bicara formal, kita adalah teman"ucap Yunho.
"Saya, hanya bicara seperti seharusnya tuan"ujar Agatha.
Yunho, mengetik sesuatu di dalam ponsel nya, setelah itu tidak lama seseorang datang membawa menu yang Agatha, pesan.
Agatha pun, menyantap makanan tersebut, tanpa menghiraukan obrolan para istri dari mereka dan para suami yang ada di sana, tapi Alex, sedari tadi hanya terdiam dan sesekali menyahut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka, sementara Agatha, tetap fokus pada makanan nya, dimeja sebelah mereka.
Sampai saat makanan itu habis Agatha, meneguk jus strawberry itu hingga habis.
Semua, yang dia pesan ludes tak bersisa.
Hanya, ada piring, garpu dan pisau juga sendok dan gelas tentunya.
Agatha, pun berdiri "Terimakasih tuan Yunho, saya permisi, bayaran nya sudah saya transfer, saya undur diri dulu"ucap Agatha, yang kini berjalan meninggalkan tempat tersebut, meskipun Yunho, sudah berusaha untuk menahan dia sedikit lebih lama.
Agatha, tidak sedikit pun melirik ke arah pria yang saat ini tengah menatap kepergian nya, perih, itulah yang Alex, rasakan saat ini, melihat orang yang ia cintai, menyaksikan bagian dari kehidupan nya saat ini, yaitu anak dan istri nya.
Sementara Agatha, terlihat buru-buru masuk kedalam mobil nya, dari atas sana semua terlihat jelas.
Hingga mobil menghilang, barulah Alexander, kembali fokus, pada semua nya.
Sementara Agatha, sepanjang perjalanan, wanita itu sesekali mengusap air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya, seberapa kuat pun, dirinya menahan rasa sakit, air mata itu tetap lolos, itu artinya, air mata mewakili kejujuran dalam jiwa nya, bahwa rasa sakit itu masih terasa hingga saat ini.
Hari demi hari, Agatha, lalui dengan menyibukkan diri di kantor, saat ini ia memegang jabatan sebagai wakil CEO, membantu Alvin, mengurus perusahaan raksasa milik almarhum Marvin,sang Opah, yang akhirnya menyerahkan semua pada sang putra, karena saat Marvin, tutup usia, Agatha, masih dalam keadaan depresi berat, itu juga yang menjadi pemicu Marvin, meninggal, dia selalu kepikiran cucu kesayangan nya yang tengah dilanda depresi, sejak kepergian Alexander.
Agatha, kini tengah ada meeting penting, mewakili sang Daddy, karena Alvin, memiliki kesibukan lain.
Sesampainya di ballroom hotel yang disediakan oleh panitia penyelenggara perhimpunan pengusaha, yang bergerak di bidang yang sama, ini ternyata bukan meeting, seperti perkiraan nya, karena disana Agatha, di tuntut untuk mewakili Alvin, sebagai ketua perhimpunan, dan membahas kontrak kerja sama bersama dengan mereka semua, termasuk perusahaan milik Alexander, yang kini hadir di sana, Agatha, yang dipersilahkan duduk di kursi utama yang sudah disediakan, gadis itu pun akhirnya di persilahkan untuk memberikan sambutan dan juga memulai pembahasan dalam meeting tersebut.
Semua mata tertuju pada nya, gadis itu begitu smart cantik dan elegan, sudah pasti nilai plus, hingga kedatangan Kristofer, sebagai ketua perhimpunan yang utama.
Agatha, mengangguk hormat pada pria itu, disusul oleh yang lain nya.
"Terimakasih honey, maafkan aku datang terlambat"ujar Kristofer yang kini duduk di samping Agatha, mereka begitu tampak serasi, bahkan Kris, terlihat begitu luwes dalam berinteraksi dengan Agatha, yang sesekali tersenyum manis pada pria itu, membuat seseorang meradang.
Hingga saat acara makan siang bersama Kristofer, tidak pernah jauh dari Agatha.
__ADS_1
"Honey, kamu begitu sempurna saat ini, sudah hampir dua tahun lamanya aku tidak kembali ke sini, maafkan aku tidak ada di sisimu saat kau dalam kesulitan, aku menangani beberapa proyek dan projek yang menguras waktu dan tenaga, termasuk materi"ujar Kristofer, diakhiri dengan seyum manis, yang bahkan nyaris tak pernah ia lakukan selama ini.
"Tidak apa-apa Kris, aku baik-baik saja aku sembuh, meskipun kau tidak ada di hadapanku"