
"Cukup duduk tenang dan jangan lakukan apapun biar aku yang masak untuk makan malam kita lagi pula di sini tidak ada bahan makanan yang seenak di mention"ucap Sari
Wanita itu langsung pergi menuju dapur tidak menghiraukan tatapan mata Alvaro yang kini tengah menatap ke arah punggung wanita yang sudah resmi menjadi istrinya beberapa waktu lalu itu.
Alvaro melepas jas dan melepaskan dasi yang juga ia lepas dan ditaruh di samping tempat tidur tersebut.
Pria itu menggulung lengan kemeja lalu berjalan mengitari seluruh ruangan kamar tersebut yang terlihat sangat nyaman dan bersih mungkin sehari sudah membersihkan nya saat dia kembali ke villa tersebut.
Sementara, Sari kini tengah perkutut dengan dapur tungku kayu bakar yang biasa mereka gunakan untuk memasak dari hasil ayam tangkapan yang ia bawa dari hutan bersama dengan beberapa sisir pisang yang sudah hampir masak dia ingin membuat sesuatu cemilan makan setelah itu.
Setelah kayu bakar itu menyala Sari mencuci beras dan membersihkan sayuran yang ada yang ia ambil tadi di hutan sayuran yang selalu tumbuh subur itu bukan berarti tidak ditanam oleh manusia, tapi setiap mereka yang berburu atau mengambil hasil alam mereka wajib pula untuk menanam semua itu.
Jadi di sana tidak kekurangan bahan makanan seperti sayuran dan juga ternak liar yang sering mereka kasih makan tanpa harus bersusah payah yaitu dengan mengadakan tanaman yang mereka sukai ayam ayam itu juga hidup berkeliaran tanpa ada majikan yang mengurus hewan tersebut.
Semuanya saling berbagi makanan yang masih melimpah ruah dan juga pepohonan yang tumbuh subur tersebut tidak sedikit juga banyak binatang buas hanya saja Sari tahu tempat-tempat di mana mereka berada.
Jadi tidak membahayakan bagi dirinyasetelah selesai menanak nasi dengan alat seadanya dia juga menumis sayuran yang tadi ia cuci lalu ia membuat ayam bakar dengan bumbu yang biasa ia gunakan bersama kedua orang tuanya setelah semuanya matang ya hidangkan di meja kayu tempat mereka biasa makan bersama sambil duduk lesehan lalu sering memanggil Alvaro saat itu juga karena ini sudah waktunya makan malam.
Alvaro turun meniti anak tangga dia menatap ke arah sekeliling yang tadi tidak sempat ia lihat ternyata rumah itu benar-benar nyaman dilihatnya sama istri tengah duduk lesehan di atas karpet menghadap ke atas meja yang terbuat dari kayu jati yang benar-benar diukir entah siapa arsitek yang membuat semua itu Alvaro duduk di hadapan Sari mereka saling berhadap-hadapan.
"Maaf karena hanya ada ini, jika kamu tidak suka lebih baik tidak usah dimakan"ucap Sari lirih.
"Kamu minta aku untuk tidak makan ini lalu kamu sendiri apa bisa menghabiskan makanan sebanyak ini"kata Alvaro dengan nada kesal.
Ternyata Sari meremehkan selera makannya padahal Alvaro bisa makan apa saja yang penting itu tidak beracun untuk dirinya
"Bukan begitu Aku hanya takut kamu tidak suka kalau suka sih syukur,,, ya sudah makan saja apa yang ada lagi pula di sini jauh untuk pergi ke pasar cukup butuh waktu seharian! Kakak makan saja aku mau mengambil air minum dulu."ucap Sari gadis itu berlalu pergi menuju dapur tempatnya memasak tadi.
Tidak sampai beberapa menit Gadis itu kembali dengan membawa teko air berukuran kecil yang berisi air putih.
Sari menuangkan air kedalam gelas milik Alvaro dan dirinya, pria itu sedang menatap lekat wajah cantik alami milik istrinya itu.
"Sayang,, apa? kamu tidak takut tinggal sendiri di sini"ucap Alvaro.
"Tidak kenapa? harus takut, disini jauh dari para penjahat tidak seperti dikota, dan jika ada yang berani kemari maka mereka hanya akan mati sia-sia karena binatang buas yang ada di hutan ini selalu mencium orang asing seperti kamu"ucap Sari sambil tersenyum.
"Aku yang akan makan kamu yang siap-siap saja, suasana disini sungguh sangat menyenangkan"ucap Alvaro tersenyum licik.
"Kau tahu aku bisa mengalahkan kakak meskipun kakak jago bela diri karena di sini tidak ada orang yang bisa mengalahkan pribumi" ucap Sari. yang mengira jika Alvaro benar-benar ingin menghabisi dia padahal yang Alvaro maksud adalah malam pertama mereka.
"Hahaha,, aku mau makan ini dulu setelah itu makan kamu, tau bagaimana rasanya perawan dari lembah Kematian ini"ucap Alvaro.pria itu tersenyum jahil.
"Kaya judul film lawas saja"ucap Sari sambil terkekeh geli.
Alvaro pun meraih potongan ayam yang terlihat menggugah selera itu.
"Sayurnya mau "tawar Sari.
"Boleh Yank,, sepertinya itu enak kamu sendiri mau makan apa? jika semua diberikan padaku"ucap Alvaro sambil bercanda.
"Ya,, sebagian lah mana ada makan semuanya sendiri rakus amat, Ayo makan nanti keburu dingin di sini tidak ada microwave untuk memanaskan makanan"ucap Sari.
"Iya iya tahu Ayo makan."ucap Alvaro.
Mereka pun makan dan Alvaro saat itu berinisiatif untuk menyuapi gadis itu Alvaro merasa jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan mereka yang sempat rusak gara-gara kabar tidak baik dari Xena saat itu.
Sampai mereka selesai makan Sari langsung membereskan semuanya dia juga mencuci bekas makan mereka sementara Alvaro menunggu dia di meja tersebut sambil menikmati kopi yang baru saja Sari seduh.
Air panas yang yang Sari simpan di termos air tersebut bisa digunakan untuk menyeduh kopi yang kini di tengah dinikmati oleh Alvaro.
meskipun rasanya aneh setelah makan baru disuguhi kopi oleh sekarang tapi di tempat itunya keramat dingin ternyata cocok untuk minum kopi.
Sari kembali setelah selesai mencuci piring dia mengambil sesuatu dari dalam lemari kayu, ternyata sebuah buku harian.
"Sudah selesai?"tanya Alvaro.
"Sudah, sekarang aku mau keatas, terserah kakak mau tetap disini atau istirahat kamar nya sudah tahu bukan"ucap gadis itu.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain diatas"ucap Alvaro.
"Aku mau istirahat sambil menyelesaikan pekerjaan"ucap gadis itu.
"Kamu punya pekerjaan"tanya Alvaro.
"Heumm,, aku sedang membuat tas"ucap Sari.
"Apa? disini anda mesin jahit"tanya Alvaro.
"Tidak hanya hanya kerajinan tangan"ucap Sari.
Alvaro bangkit lalu mengikuti Sari, hingga ke lantai tiga yang tidak kalah nyaman, disana juga ada beberapa lukisan, dia kaget saat melihat itu dia mengira jika Sari bisa melukis seperti mending Irma.
"Ini buatan kamu Yank?"ucap Alvaro.
"Itu buatan kak Agatha, aku tidak berbakat untuk itu"ucap Sari.
Alvaro tidak percaya jika ternyata adik bungsu nya itu benar-benar pernah singgah di sana.
"Tiga bulan lamanya dia tinggal di sini, dia tau tempat ini dari sepupu ku yang menjadi seorang perawat di rumah sakit kota, dia sendiri tidak pernah kembali setelah ayah ku meninggal dunia, entahlah yang aku tau dia adalah keponakan ayah"ucap Sari.
...🌸.......🌸...
Alvaro duduk menemani Sari yang kini tengah merajut sebuah Ciput bayi dan sweater juga seperti bayi.
"Itu untuk siapa?"tanya Alvaro.
"Untuk putra ku"ucap Sari.
"Kapan kamu melahirkan, malam pertama saja belum"ucap Alvaro.
"Nyatanya tanpa melahirkan dia anak itu sudah lahir ke dunia ini"ucap Sari.
"Dia putra ku, dan Xena"ucap Alvaro.
"Aku tau bahkan tanpa kamu beritahu pun aku sudah tau"ucap Sari.
"Aku tau ini tidak pantas untuk putra seorang milyarder seperti dia, baik'lah aku akan memberikan itu pada anak-anak yang kurang beruntung"ucap Sari.
"Aku belum selesai bicara"ucap Alvaro.
"Sudah tidak perlu dibahas lagi lebih baik tuan muda tidur saja, karena sekarang sudah larut malam"ucap Sari yang kini meletakkan semua itu di atas meja berbentuk bulat itu.
"Sayang,, aku belum selesai bicara"ucap Alvaro.
Sari langsung masuk kesebuah ruangan yang ternyata sebuah kamar.
"Yank,, kamu marah?"tanya Alvaro.
"Tidak untuk apa? aku marah kamu benar ko, bahkan apapun yang berasal dari ku tak pentas untuk kamu dan anak mu, terimakasih sudah mengingatkan"ucap Sari yang kini berbaring di ranjang tersebut.
"Yang bukan itu maksud ku, dan ini kenapa? kita tidur terpisah"ucap Alvaro.
"Bukan nya kita memang tidur terpisah bahkan sejak malam pertama juga"ucap Sari.
Deg....
Bagai tertimpa batu besar dada Alvaro terasa sangat sakit, dia telah diingatkan akan semua kesalahan yang telah ia perbuat pada Sari.
"Yank,, aku sudah melakukan kesalahan maaf kan aku, tapi saat ini kamu tengah salah faham"ucap Alvaro.
"Tidak ada salah faham, karena itu adalah kamar tamu, dan sudah seharusnya tamu diperlukan dengan istimewa"ucap Sari.
"Yank,, jadi kamu menganggap ku sebagai tamu"ucap Alvaro.
"Sudah lah,, tidak perlu dibahas lagi, ini adalah kamar ku dan tuan muda tidak akan tahan tidur di sini kasur ini keras tidak se-empuk kasur yang ada di sana jadi sebaiknya tuan muda tidur di kamar itu"ucap Sari.
__ADS_1
"Aku tau aku sudah melakukan kesalahan tapi tidak bisakah kamu memaafkan ku, aku khilaf Sari"ucap Alvaro
"Khilaf yang terus berulang itu, bukan khilaf tuan tapi sebuah kesengajaan, aku sadar diriku bahkan tidak pantas untuk bersanding denganmu dan aku tidak pernah meminta mu atau siapapun menikahi ku."ucap Sari.
"Sari! aku menikahi mu karena aku jatuh cinta padamu"ucap Alvaro.
"Heuuhh,, rasanya terdengar begitu menyedihkan bahkan saking cintanya aku bahkan tidak bisa singgah di hatimu"ucap Sari.
"Kamu boleh marah bahkan jika belum puas kamu bisa memukul ku, tapi ingat jangan pernah mengatakan itu lagi, aku benar-benar serius dengan ucapan ku"ucap Alvaro tegas.
Sudah larut malam, silahkan pergi untuk beristirahat, jangan takut aku sudah mengunci pintu dan jendela"ucap Sari sambil mengganti lampu minyak itu dengan yang lebih kecil.
"Sayang kita akan tinggal bersama dan berdua itu akan jauh lebih baik"ucap Alvaro.
"Kamu tidak akan nyaman disini"ucap Sari.
"Aku meminta mu untuk tidur bersama ku dibawah"kata Alvaro.
"Tidak"tolak Sari.
"Tentunya kamu tau jika kamu menolak permintaan suami itu adalah dosa besar"ucap Sari.
Sari langsung bangkit dan berjalan meraih lampu tersebut.
Alvaro menyunggingkan senyuman nya.
"Yank,, boleh aku mengambil hak ku disini"ucap Alvaro.
"Tapi Omah meminta kita untuk segera pergi berbulan madu"ujar Alvaro lagi.
Gadis itu mematung di tempatnya, saat tiba di dalam kamar yang akan mereka tempati Sari menyimpan lampu minyak itu di dinding tempat biasa ia menyimpan nya.
"Tidur lah ini sudah larut"ucap Sari lagi, tapi Alvaro malah memeluk nya dari belakang, mencium tengkuk Sari yang putih mulus itu.
Gadis itu ingin berontak tapi tubuhnya berkata lain hingga dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan suaminya itu.
Sampai akhirnya mereka pun melakukan ritual malam pertama, dimalam yang gelap gulita itu dan hanya ada cahaya temaram dari lampu minyak tersebut.
Sari dan Alvaro kini sudah menjadi pasangan seutuhnya, bahkan Alvaro berharap setelah itu rumah tangga mereka akan langgeng Alvaro menyudahi kegiatan setelah nya merasa puas.
Keduanya tertidur pulas di atas ranjang empuk tersebut, kamar yang kini menjadi saksi bisu bersatunya dua sejoli yang beberapa hari ini mengalami konflik rumah tangga, meskipun baru pengantin baru.
Pagi yang cerah matahari bahkan sudah bersinar terang, Sari mengerjakan matanya, dia sedikit kaget saat melihat seseorang berada di samping nya tengah menatap kearah nya.
"Morning kiss sayang"ucap Alvaro yang kini mengecup bibir Sari sedikit lebih lama.
"Aku belum gosok Gigi kak"ucap Sari sambil membekap mulutnya.
"Tidak masalah tidak bau juga"ucap Alvaro.
"Mau mandi, aku siapkan air hangat dulu"ucap Sari.
"Tidak perlu Air dingin seperti nya akan sangat menyegarkan badan"ucap pria itu.
"Heumm baik'lah, mau mandi duluan atau nanti setelah aku"ucap Sari.
"Sepertinya mandi bersama itu jauh lebih baik "ujar Alvaro
"Tidak,, Kakak duluan saja atau aku yang duluan balas Sari.
"Sayang,,, kenapa harus malu kita sudah sama-sama tau lagipula halal juga"ucap Alvaro.
"Begini saja,, kak Alvaro duluan aku menyiapkan baju untuk kakak dan setelah itu baru aku aku akan langsung memasak setelah selesai mandi untuk sarapan kita tapi sebelum itu aku akan pergi ke hutan dulu ucap Sari.
"Tidak jangan ke hutan untuk apa pergi ke hutan coba lihat di koper itu pasti ada makanan, Oma sudah menyiapkan semua jebakan ini anggap saja kita sedang berbulan madu biarkan mereka yang menyiapkan semuanya untuk kita"ucap Alvaro.
"Kenapa? mesti seperti itu, Omah tidak mungkin melakukan itu, sudahlah kakak mandi saja dulu nanti kita pikirkan lagi jika Aku harus pergi ke hutan kakak tunggu saja di rumah agar aman"ucap Sari.
__ADS_1
"Yank jangan nekat! aku yakin diri koper itu pasti ada makanan untuk kita jadi tidak perlu repot pergi ke hutan bahaya tahu semua pasti sudah diatur"ucap Alvaro.
"Baiklah, kakak bangun duluan lalu mandi aku akan memeriksa koper itu kakak ambil handuknya dari lemari itu setelah itu turun ke bawah di sebelah dapur ada kamar mandi mungkin tidak akan sama dengan yang di Mension tapi setidaknya itu cukup untuk membersihkan diri airnya alami dari pegunungan"ucap Sari.