Sang Penari

Sang Penari
#Berpisah lebih baik#


__ADS_3

Piter pulang ke apartemen, pria itu hanya bisa melamun sambil sesekali menyesap wine yang dia pegang di gelas itu.


"Alana kenapa? kamu semakin mempersulit keadaan"gumam nya lirih.


Sementara Alana saat ini wanita itu kini baru selesai mandi, dia mengecek ponselnya tidak ada satupun panggilan dari Piter, bahkan sekedar pesan singkat pun tidak pernah Piter kirim sejak dia pergi dari rumah Ariana.


"Kamu pasti sangat bahagia karena aku tidak lagi ada di sana dan mengganggu kalian, mungkin berpisah lebih baik, agar aku tidak lagi terganggu"ujar Alana.


gadis itu pun menyelesaikan berpakaian, sampai setelah itu dia turun menuju lantai bawah dimana Oma dan opa nya kini tengah duduk menunggu di depan meja makan.


"Sayang kamu sudah siap ,ayo makan malam dulu"ucap Ariana.


"Iya Oma, maafkan Alana lama, sementara itu mommy dan Daddy nya juga Agatha, baru akan bergabung.


"Kalian dari mana saja"ujar Ariana.


"Tadi habis jalan-jalan Mom, si bungsu "ujar Anggita.


"Duduk lah sayang sini dekat opa"ujar Marvin.


"Agatha gak mau makan itu, Agatha makan eskrim saja"ujar nya sambil tersenyum manis.


"Tapi sayang kamu juga harus makan yang lain"ujar Ariana.


"Aku makan daging dan salad Oma, setiap hari iya kan Mommy"ujarnya minta persetujuan.


"Owh benarkah itu sayang ku"ujar Ariana.


"Tentu Oma"ucap Agatha yang terlampau manis itu.


"Iya Mommy selain itu Agatha juga suka cheese cake dengan toping durian."ucap Anggita.


"Nah,,, itu aku suka Oma"ujar Agatha lagi.


"Sayang apa? pengobatan untuk nya masih berlanjut"ujar Ariana.


"Masih Mom, tapi bukan obat melainkan vitamin"Jawab Anggita.


"Ya sudah ayo kita makan"ucap Marvin.


"Baiklah Sayang"jawab Ariana, semua sudah bersiap untuk makan, Alana pun sudah memulai nya, dalam suasana hening mereka pun menghabiskan makan malam nya.


Setelah semua selesai, akhirnya semuanya berkumpul di ruang keluarga, sambil mengobrol, sementara Alvin sibuk mengelus puncak kepala Agatha yang kini tengah bersandar di pundak Alvin, sementara Anggita tengah duduk sambil mengobrol dengan Ariana, dan Marvin.


"Aku ke kamar duluan"ujar Alana.


"Ya sayang"ujar semuanya.


"Daddy anak nya Daddy yang kecil itu ada dimana?"tanya Agatha, pertanyaan itu sontak membuat Alvin dan yang lain terkejut.


"Owh adik kecil, dia sedang berada di puncak untuk acara sekolah nya sayang"jawab Ariana.


"Siapa? namanya"ujar Agatha lagi.


"Alina sayang, apa? Agatha sayang pada adik kecil"ujar Marvin.


"Nanti aku pikirkan dulu ya opa,, tapi aku takut sakit kepala opa"ujar Agatha.


"Sebaiknya jangan di pikirkan sayang kamu tidak usah memaksakan diri"ujar Marvin lagi sambil tersenyum manis kearah cucunya itu.


semua orang sempat terdiam sesaat, karena khawatir dengan kondisi Agatha.


"Anggita, apa? kamu masih belum bisa menerima Alina, sebagai anak mu"tanya Ariana.


Ariana masih menunggu jawaban dari pertanyaan nya itu.


"Aku belum tau Mommy mungkin karena aku belum pernah bertemu dengan nya, tapi aku akan coba"ujar Anggita.

__ADS_1


"Tidak usah memaksakan,sayang biar lah dia tetap seperti itu" ujar Alvin.


"Daddy!.... Daddy disini" ujar anak berusia delapan tahun itu, yang baru datang bersama dengan pengasuh nya.


"Owh, putri Daddy sudah besar rupanya ayo kemari Daddy kangen"ujar Alvin yang merentangkan sebelah tangan nya lagi.


"Tidak boleh itu Daddy aku"ujar Agatha sontak membuat semua orang tercengang.


"Tapi dia Daddy aku iya kan Daddy"ucap Alina.


"Sayang dia Daddy kalian semua"ujar Anggita.


"Tidak dia Daddy aku Mommy,, ahhh sakit"ujar Agatha memegang kepalanya, sontak semua orang kaget terutama Anggita yang menjerit karena semua itu cukup berbahaya.


"Alina tolong masuk kamar dulu kakak mu dalam bahaya"ujar Alvin.


"Sakit ahhhhhh tolong sakit"teriak Agatha.


"Agatha sayang kamu dengar Mommy kan nak sayang ini Mommy sayang"ujar Anggita yang langsung berlari menuju kamar nya mengambil sebuah kotak tidak peduli kakinya tersandung di ujung tangga hingga akhirnya berdarah dia tetap berlari sementara Alvin kini masih memeluk putri nya Ariana berlari mengambil air, dan Marvin meminta pelayan menyiapkan mobil.


"Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit"ujar Marvin.


"Tidak Daddy, jangan bawa dia ke rumah semua akan memperparah keadaan nya"teriak Anggita sementara Agatha sudah pingsan.


"Agatha,,, bangun nak bangun ini Mommy sayang bangun"ujar Anggita.


wanita itu langsung memasang infus lalu menyuntikkan obat keatas nya setelah itu Anggita meminta Alvin membawa Agatha keatas dengan bantuan Marvin pria itu menggendong cucunya keatas karena Alvin bahkan terlihat sangat kacau saat ini, antara rasa cemas dan rasa bersalah atas semua dosa yang ia lakukan.


"Agatha,, "ujar Alvin.


Pria itupun langsung berlari ke atas, sementara Alina dengan pengasuh nya hanya bisa bengong terlihat wajah sendu karena saat ini, seolah dia yang menjadi penyebab semua yang terjadi.


"Sayang sini sama Oma"ucap Ariana yang kini memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang.


"Alina, kita semua sayang pada Alina, tapi keadaan yang memaksa Daddy untuk tinggal jauh dari kita, kamu lihat, kakak Agatha, dia memiliki masalah dengan ingatan nya, dan tidak bisa berpikir terlalu keras, bahkan tidak boleh ada tekanan, yang akan membahayakan keselamatan nya, hingga kita harus ekstra hati-hati, jika Daddy mu terus berada di sisi kak Agatha itu bukan berarti dia tidak sayang pada mu, tapi kak Agatha butuh perhatian khusus"ujar Ariana memberikan nasihat dia masih duduk di sofa dan memeluk cucunya itu.


"Siapa? bilang Mommy tidak menerima mu, dia selalu menanyakan semua tentang mu, setiap waktu, hanya saja dia belum ada waktu, wajar saja dia seorang dokter yang sangat sibuk dengan pekerjaan nya pasien nya banyak dan sekarang kak Agatha sakit dan sakit nya sudah sejak lama"ujar Ariana.


Sementara itu, Alana yang hendak turun karena kegaduhan dia sempat terhenti di tangga, saat mendengar perkataan keduanya membuat hati nya terenyuh, di satu sisi dia benci karena Alina, lahir dari kesalahan Daddy nya hingga melukai psikis Agatha, dan sempat membuat keluarga nya tercerai berai, tapi di sisi lain Alina, tidak pernah mau terlahir dari sebuah kesalahan, gadis itu pun melanjutkan langkahnya hingga sampai di bawah dia berjalan menghampiri keduanya dan Alana langsung menarik Alina kedalam pelukan nya.


"Alina jangan sedih kami semua sangat mencintaimu dan menyayangi mu, hanya saja kami baru punya waktu"ujar Alana.


Alina langsung menangis sambil memeluk Alana,"Kakak"ujar gadis kecil itu.


"Ya aku kakak mu dan kakak nya Agatha, kita semua saudara satu Ayah , mulai sekarang jangan pernah merasa sendiri, tapi jika kak Agatha menolak mu, kamu jangan sedih karena dia sedang sakit, tapi yakinlah jika suatu saat nanti kakak mu itu sembuh dia akan sangat mencintaimu"ujar Alana.


...🌹💖💖💖🌹...


Anggita masih menangis sesenggukan sambil menggenggam tangan putri nya yang masih belum juga sadarkan diri, saat ini, mereka sudah berada di rumah sakit, semua orang sedang menunggunya di luar, Anggita dibantu dokter Randi, melakukan pengobatan pada Agatha saat ini.


"Sayang aku minta maaf, semua gara-gara aku"ujar Alvin.


"Sudah kubilang kan, jauhkan putri ku dari rasa sakit yang kamu torehkan untuk nya, aku curiga hingga saat ini penculikan terhadap putri ku tak pernah terungkap jangan-jangan pelakunya adalah selingkuhan mu itu, apa? itu benar?,, jawab!"teriak Anggita pada Alvin yang kini tertunduk.


"Aku minta maaf sayang"ucap Alvin lagi.


"Pergi!"teriak Anggita histeris, begitu terasa teramat sangat sakit, bahkan wanita itu kini tengah duduk terduduk, terbayang betapa sangat menderita putri bungsunya itu, saat ini.


Anggita pun memeluk putri nya itu sangat erat, betapa terlukanya hati Anggita tidak hanya perselingkuhan mereka yang Alvin berusaha tutupi, tapi juga perbuatan keji yang hingga saat ini menyakiti putri nya tidak kunjung berakhir.


Alana yang melihat Daddy nya keluar dengan linangan air mata, dia langsung masuk kedalam kamar rawat inap.


"Mom...apa? yang terjadi"ujar Alana.


Tapi wanita itu hanya bisa menangis sesenggukan, karena tidak mampu menjawab, semua itu, Anggita tau akibat nya jika dia membeberkan bahwa mantan selingkuhan Daddy nya itu yang sudah membuat Agatha jadi seperti itu.


"Agatha"ujar Anggita lirih.

__ADS_1


"Agatha kenapa, Mommy"tanya Alana.


"Agatha"ujar Anggita tidak juga melanjutkan kata-katanya.


Alana pun memeluk sang Mommy, dia tau Mommy nya sangat butuh pelukan.


Sampai akhirnya Agatha tersadar mereka kembali dibuat menangis kali ini bukan karena sakit Agatha tapi karena wanita gadis itu tiba-tiba berubah lebih dewasa dari biasanya.


"Mommy dan kakak ada apa?, dan ini kenapa? aku dirumah sakit"ujar Agatha.


"Sayang kamu pingsan Mommy dan kakak sungguh sangat khawatir"ujar Anggita .


wanita itu pun langsung memeluk nya mereka bertiga berpelukan, Agatha pun dinyatakan sembuh total, oleh dokter Randi, setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Agatha, tidak lagi ditemukan ada gangguan syaraf.


Sementara itu Alvin, saat ini tengah berada di sebuah club malam, pria itu, tidak bisa melupakan rasa sakit saat dihakimi oleh wanita yang sangat ia cintai, kebencian Anggita terhadap dirinya terlihat begitu dalam.


Alvin tidak mengatakan semua itu, Karena tau semua akan seperti ini, Agatha sakit semua karena dia sudah menolak wanita itu untuk kembali bersama dengan nya, dan setelah kejadian penculikan itu, dengan bodoh nya Alvin masih mempekerjakan dia, meskipun dengan satu alasan, data milik perusahaan ada di tangan nya, dan sewaktu-waktu dia bisa membicarakan nya pada pihak lawan.


Anggita masih bisa memaafkan nya, karena anak nya, tapi saat ini Alvin tidak tau lagi akan bagaimana.


Pria itu pun pulang ke rumah, diantar oleh sang asisten pribadi, yang memapah nya kedalam rumah, tapi langkah nya dihentikan oleh Ariana yang kini tengah duduk bersama dengan Anggita dan juga Marvin.


"Stop disitu! jangan bawa putra tidak berguna itu masuk, biarkan dia tidur diluar, entah apa? yang salah dengan ku tuhan, kenapa? aku punya anak sebodoh ini"ujar Ariana yang kini tengah menangis sesenggukan melihat putra semata wayangnya melakukan semua itu.


"Sayang percuma bicara dengan manusia tak berguna seperti di, bawa dia ke kamar tamu, biarkan jangan ada yang mengurusi dia"ujar Marvin.


mereka pun membawa Alvin masuk kedalam kamar tamu.


Anggita yang melihat itu kini terlihat lebih terluka dia mengikuti mereka menuju kamar tamu.


"Baringkan dia"ujar Anggita .


"Baiklah nona"ujar mereka berdua.


Setelah Alvin berbaring Anggita langsung melepaskan sepatu kaos kaki dan juga jas yang dia kenakan dengan susah payah, Alvin hanya menatap lekat wajah cantik itu, dengan usia empat puluh tahun itu, Anggit terlihat sangat cantik.


Tiba-tiba saja Alvin menarik tengkuk Anggita dan mencium nya secara brutal, dia bahkan membalikkan posisi nya, kini Anggita yang berada di bawah.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sayang ku, aku sangat mencintaimu aku sangat mencintaimu tidak peduli jika kamu membenci ku, yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu tidak akan pernah" gumam Alvin penuh penekanan hingga dia tertidur di atas tubuh Anggita yang kini berusaha untuk melepaskan diri karena tubuh Alvin sungguh berat.


Setelah berhasil melepaskan diri, akhirnya Anggita pun menyelimuti tubuh suaminya itu dia langsung bergegas keluar membawa jas sepatu sabuk dan juga dasi nya.


Ariana yang melihat itu pun, benar-benar kagum melihat pengabdian menantunya itu terhadap suaminya yang tidak lain adalah putra nya satu-satunya.


"Aku memang tidak salah menjadikan dia sebagai menantuku, karena Anggita adalah, wanita yang sangat baik dan juga pengertian" ujarnya lirih.


"Tepat untuk putra kita, tapi lihat lah dia begitu menderita, mungkin berpisah adalah jalan terbaik untuk mereka berdua"ujar Marvin.


"Tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua Daddy, karena cinta mereka berdua begitu besar"ujar Ariana.


Sementara Anggita kini tengah berdiri di balkon kamar nya, wanita itu menatap langit, untuk menahan air mata yang akan jatuh, apa? dia akan benar-benar mampu untuk berpisah dengan Alvin dihari tua nya itu.


Usia Anggita sudah tidak lagi muda saat ini usianya sudah hampir menginjak empat puluh tahun, Anggita dan Alvin hanya beda tujuh tahun, dan kini usia Alvin empat puluh tujuh tahun, tapi pria itu masih awet muda, bahkan seperti baru tiga puluh lima tahun.


"Mungkin berpisah akan lebih baik untuk kita"ujar Anggita.


"Mom...., Mommy"ucap Agatha yang terbangun dari tidurnya, gadis itu saat ini sudah kembali normal seperti gadis seusia enam belas tahun, dan kini akan masuk kelas satu SMA.


Gadis cantik yang terlihat begitu ceria itu, kini tengah mencari ibunya yang tadi berbaring di samping nya.


Anggita pun kembali masuk kedalam kamar.


"Ada apa? sayang Mommy sedang mencari udara segar"ujar Anggita.


"Mommy aku mimpi buruk, aku mimpi Daddy, dan mommy berpisah, jangan ya mommy jangan berpisah, Agatha tidak mau Daddy dan mommy pisah Agatha takut"ujar Agatha.


"Kamu hanya mimpi buruk sayang ku"

__ADS_1


__ADS_2