
"Honey... apa? kau marah"ucap Kristofer.
"Tidak Kris, hanya saja saat ini aku sedang ada problem"ucap Agatha.
"Tentang apa? itu honey"tanya Agatha.
"Tentang kelima sahabat ku yang hilang di gunung, tapi aku tidak tau itu tapi mereka hadir di dalam mimpi ku"ucap Agatha.
"Honey, pulang dari sini kita ke laboratorium "ucap Kristofer.
"Apa? kabar laboratorium mu itu"ucap Agatha.
"Masih seperti dulu"ucap Kris.
"Rasanya baru beberapa hari lalu aku kesana"ucap Agatha.
"Dalam mimpi"ucap Kristofer.
"Kamu tau itu?"tanya Agatha.
"Aku selalu melihat tempat itu di manapun aku berada"ucap Kristofer.
"Heumm, aku tidak tau itu"ucap Agatha.
"Sekarang sudah tau, jadi honey jika kamu rindu dengan ku, kamu bisa datang kapan pun"ucap Kristofer.
"Kris, aku baru sembuh bagaimana jika tempat mu rusak"ujar Agatha.
"Aku yakin tidak akan ada yang terjadi, selama kau nyaman di sana"ucap Kristofer.
Mereka sibuk mengobrol sementara seseorang sedari tadi terbakar cemburu.
Sampai saat rapat kembali dimulai semua orang diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya tentang rapat tahunan itu, dan semua orang begitu antusias, sementara Kristofer kembali membahas semua itu dengan Agatha, dan yang lainnya, hingga rapat tahunan pun selesai digelar.
Agatha berjalan lebih dulu keluar dari ballroom hotel tersebut sampai tiba di depan lobby Kristofer dan Alexander, memanggilnya secara bersamaan.
"Agatha"
"Honey"
Lalu kedua pria itu saling tatap dan kemudian melirik ke arah Agatha.
"Agatha, ada yang ingin aku bicarakan"ucap Alexander, dengan nada yang dingin tidak sehangat dulu terbukti dengan cara dia yang memanggil nya, dengan sebutan nama saja tanpa embel-embel sayang atau lainnya, Agatha berusaha menepis rasa kecewanya itu, lalu tersenyum ramah.
"Ada apa? tuan Alexander, apa? masih ada yang harus dibahas tentang rapat tadi saya rasa semua sudah diselesaikan tadi"ucap Agatha.
"Bukan itu...ini mengenai mobil"ucap Agatha.
"Owh silahkan ambil jika begitu aku belum punya waktu untuk mengembalikan nya"ucap Agatha, sambil memberikan kunci mobil tersebut.
"Agatha, bukan itu"ucap Alex.
"Honey, mobil ku disana jika kamu sudah selesai temui aku"ucap Kristofer.
Agatha pun menyingkir dari jalan karena orang lain akan lewat.
"Agatha tolong ganti plat mobil nya, jangan sampai istri ku tau jika itu adalah mobil pemberian ku"ucap Alex.
Deg....
Seakan tidak ada rasa yang pernah hadir dalam diri mereka masing-masing sakit yang kini agatha rasakan sungguh lebih sakit dari perpisahan mereka saat itu.
"Ambilah, terimakasih sudah meminjamkan nya padaku "ucap Agatha, sambil menyodorkan kunci mobil tersebut.
Gadis itu berusaha tersenyum, setelah itu dia berbalik tapi kemudian Alexander, meraih pergelangan tangan Agatha.
"Bukan ini yang aku inginkan, simpan ini sebagai kenang-kenangan aku hanya"
"Cukup tuan, aku mengerti, kamu tidak ingin istri tercinta mu tau bahwa kita pernah punya hubungan bukan, baiklah aku pun tidak punya niat untuk memberitahu dia, jika untuk mobil ambilah aku tidak mau menyimpan kenangan tentang orang yang bahkan tidak pernah mengenang ku terserah kamu mau di jual atau di bakar yang pasti aku tidak mau lagi menggunakan nya"ucap Agatha.
"Agatha... kamu salah paham"ucap Alex.
"Cukup! jangan katakan apapun lagi, tuan jika kamu ingin ganti rugi dengan mobil yang baru saya akan ganti sekarang juga"ucap Agatha yang meraih ponsel.
"Kirimkan mobil Ferrari tipe xx yang terbaru ke alamat yang saya kirimkan"ucap Agatha.
"Agatha!"bentak Alexander.
"Aku sudah memesan nya tuan silahkan anda bakar atau buang saja mobil nya, ucap Agatha yang langsung berbalik dan pergi tapi lagi-lagi Alexander meraih tangan Agatha, dan menahan nya.
"Lepas"ucap seseorang dari arah samping.
__ADS_1
"Kris, maaf membuat mu menunggu"ucap Agatha.
Alex melepaskan tangan Agatha perlahan.
Agatha langsung memeluk kristofer tangis tanpa suara itu membuat Kristofer mengeratkan pelukannya perlahan dia membawa Agatha, melangkah pergi.
"Agatha, maafkan aku sayang, aku bersalah tapi jika ini yang terbaik untuk mu aku ikhlas melepas mu bersama dengan nya"lirih Alexander.
Tanpa Alex sadari seorang ibu kini tengah menatap penuh kekecewaan pada dirinya.
Dia adalah Anggita yang datang untuk membawakan vitamin dan obat anti depresi bagi Agatha, meskipun Agatha, dinyatakan sembuh tapi ada baiknya Anggita, berjaga-jaga.
"Aunty." sapa Alexander.
"Cukup Alex, mulai sekarang jangan pernah lagi menampakkan diri di depan kami, aku tidak ingin lagi putri ku menderita dan bahkan hampir mati bunuh diri karena mu, sekarang aku tidak ingin itu terulang lagi, sudah cukup penderitaan selama dua tahun ini, dia harus mengkonsumsi obat anti depresi, setiap hari jangan lagi, sudah cukup saya mohon" ucap Anggita, sambil mengatupkan kedua tangannya.
Sementara Kristofer sudah membawa Agatha, kedalam laboratorium milik nya, sampai ketika semua orang menyambut mereka berdua, Agatha kaget bukan main sekaligus bahagia, ternyata mereka yang dinyatakan hilang di pegunungan ada di sana dalam keadaan sehat segar bugar.
"Kalian!"teriak Agatha hingga mereka semua melirik ke arah Agatha.
"Agatha, Don "ucap mereka terhenti saat melihat Kristofer.
"Bisa kamu jelaskan Kris"ucap Agatha.
"Honey, kamu masih belum minum vitamin"ucap Kris, mengalihkan pembicaraan.
"Kris"
" Nanti kita bicara"ucap Kristofer sambil memberikan isyarat pada semua untuk melanjutkan aktifitas masing-masing, sementara Agatha, dibawa Kristofer kedalam ruang istirahat pribadinya.
"Istirahat lah"ucap Kristofer.
"Kris... please jangan buat aku bingung"ujar Agatha.
"Sayang menurut lah jangan buat dirimu lelah aku akan menjelaskan itu setelah kamu istirahat ok" ucap Kris.
"Baiklah"jawab Agatha.
Dia duduk di tepi ranjang, Kris berjongkok di hadapan Agatha lalu meraih kaki Agatha, melepaskan high heels yang dikenakan oleh Agatha.
"Kris" lirih Agatha.
"Sudah sekarang ganti dengan ini dan segera cuci kaki dan tangan juga bersihkan wajah mu, setelah itu istirahat"ucap Kris, sambil menggeser high heels.
"Jangan khawatir, dia aman bersama ku"ucap Kristofer.
Sementara itu di kediaman wanita tua itu, menyimpan ponsel nya, sesuai amanat almarhum suaminya, Ariana, meminta Kristofer, untuk melindungi Agatha, dan satu hal yang Agatha tidak tahu bahwa Marvin meninggal karena sakit yang diakibatkan oleh racun yang tidak dapat terdeteksi, yang akan disuntikkan pada ibu dari Kristofer, saat di pusat perbelanjaan saat itu Marvin, yang melihat gerak-gerik mencurigakan yang akan menimpa wanita paruh baya itu langsung menghadang penjahat itu, alhasil penjahat itu tumbang dan wanita itu selamat tapi jarum suntik itu menancap di leher Marvin.
...🌸.............🌸...
Kristofer langsung menemui lima orang teman Agatha, yang merupakan anak buahnya yang ia kirim untuk melindungi Agatha,satu tahun berlalu.
"Jangan biarkan Agatha tau jika kalian adalah anak buah ku"ucap Kristofer.
"Baik Don"ucap kelimanya.
Kristofer pun kembali ke kamar pribadinya, sesampainya di sana dia melihat Agatha, sudah terlelap menggunakan kimono tidur nya yang tersedia di sana.
Kristofer pun pergi menuju kamar sebelah nya setelah memastikan Agatha, tertidur pulas.
Sementara itu di kediaman Alexander, pria itu baru selesai mandi dan langsung menemui istri dan putraya.
"Apa? dia rewel"tanya Alex.
"Tidak, dia anteng seharian ini"ucap Mita.
"Syukurlah, aku duluan ke kamar"ujarnya.
Mita pun langsung mengangguk pasrah
Alex, duduk di kursi yang ada di balkon kamar nya dia menatap langit tanpa bintang, perkataan Anggita dan sikap Agatha, membuat dia merasa sangat sakit yang teramat sangat dibenaknya .
"Dia teramat mencintai Agatha, tapi dia tidak bisa melawan orang tuanya, dan tidak mungkin menyakiti ibu dari putra nya.
Mita adalah wanita yang baik dan lembut juga penuh perhatian dan pengertian, hingga Alex tidak tega untuk menolak kenyamanan yang wanita itu berikan meskipun rasa cinta itu, benar-benar hanya untuk Agatha.
"Maafkan aku yang, aku tidak bisa berbuat apa-apa"ucap Alexander lirih.
Satu Minggu berlalu sejak hari itu, mereka tidak pernah bertemu lagi, Agatha bahkan enggan mampir ke cafe milik Yunho, dia tidak ingin bertemu dengan pasangan itu, dia tidak ingin dianggap sebagai pengganggu.
Saat ini Agatha, duduk di atas kap mobil sport yang Piter berikan dua tahun lalu.
__ADS_1
Dia memegang kotak eskrim berukuran besar, sambil menatap dengan antengnya dia memakan eskrim tersebut sambil menatap kosong, entah apa? yang dia pikirkan saat ini hingga mobil seseorang berhenti di hadapan nya.
"Hi... big baby sedang apa? kau disini, apa? tidak takut jika ada yang merebut es krim mu ini"Ucap Piter, yang menarik eskrim tersebut dari tangan Agatha.
"Kak, kembalikan"ucap Agatha.
"Jawab dulu pertanyaan ku"ucap Piter.
"Aku hanya sedang menikmati es krim ku"jawab Agatha.
"Aku minta sedikit"ucap Piter yang kini ikut duduk di samping Agatha.
"Kak...apa? menikah bisa buat orang bahagia meskipun diawal Pernikahan tidak ada cinta" ucap Agatha.
"Pertanyaan macam apa? itu tentu saja tidak, karena jika tidak ada cinta hanya akan ada pertengkaran"ucap Piter.
"Berarti kakak , benar-benar mencintai ok Alana" kata Agatha.
"Apa? kau pernah melihat aku, tidak harmonis dengan mereka"ucap Piter.
"Tidak pernah, aku percaya bahwa dirimu begitu mencintai nya"ucap Agatha
"Agatha, kau terlalu banyak pikiran, apa ada yang menggangu mu saat ini"ucap Piter.
"Aku hanya mendengar seseorang mengatakan jika seseorang harus menghapus jejak kebersamaan dengan mantan kekasih agar istri nya tidak tau"ujar Agatha.
"Apa? dia Alexander"tanya Piter.
"Alex... yang benar saja aku bahkan baru mendengar nama itu" ucap Agatha.
"Heumm kamu tidak bisa bohong "ucap piter.
Sementara Agatha, hanya menatap lekat wajah tampan yang ada di hadapannya.
"Kak jika otak ini kembali bermasalah, tolong titip keluarga kita" ucap Agatha.
"Apa yang kamu katakan"ucap Piter.
"Aku takut jika suatu hari nanti otak ku tak baik-baik saja dan aku tidak bisa melewati semua itu"ujar Agatha.
"Jangan bicara sembarangan Agatha...kau adalah satu-satunya harapan opah selama ini berjuang lah, aku yakin kamu bisa"ujar Piter.
"Tapi aku tidak sekuat itu kak... aku rapuh nyatanya semua itu tidak segampang yang dibayangkan"ucap Agatha.
"Agatha... kuatkan tekad mu masadepan mu jauh lebih panjang dan untuk itu kamu akan mendapatkan ujian lebih besar lagi dan kamu harus bisa melewati itu semua, kamu lihat aku bahkan sudah diuji sejak kecil, saat usia ku bahkan mungkin masih dalam kandungan Daddy ku meninggal, dan saat aku berusia sembilan tahun mommy ku juga meninggal dunia belum lagi yang lebih beratnya dijadikan alat untuk balas dendam tapi aku masih bertahan hingga sekarang"ucap Piter.
Agatha tersenyum lalu berkata"Apa? mimpi buruk yang ku alami dua tahun ini benar-benar hanya mimpi buruk tapi kenapa? tentang lima sahabat ku itu nyata dan tentang"perkataan Agatha menggantung begitu saja hingga.
"Tentang kita itu yang kamu maksud Agatha"ucap Piter.
"Kakak benar"ucap Agatha.
"Aku memang mencintai mu, tapi aku tidak akan memaksakan kehendak ku padamu, karena aku tidak ingin menyakiti kalian berdua"ucap Piter.
Piter tersenyum pada Agatha lalu kembali berkata"Jika aku akan bisa memiliki mu seutuhnya, maka lebih baik aku menjaga mu sebaik-baiknya setulus rasa cinta ku padamu"ucap Piter.
Agatha, terdiam untuk beberapa saat.
"Turun lah...ini sudah larut ayo pulang ke Mension, jangan buat Oma dan mommy cemas"ucap Piter.
"Baiklah"ucap Agatha, lirih keduanya turun dari dalam mobil.
"Agatha, jangan pikirkan yang aku katakan tadi anggap saja seperti angin lalu"ucap Piter.
Agatha lagi-lagi terdiam.
"Aku pulang ke apartemen"ucap Agatha.
"Tidak agatha pikirkan tentang kekhawatiran Oma, dia sudah sendirian sejak Opah pergi kasihan jika harus terus dibebani dengan terus mengkhawatirkan mu"ucap Piter.
"Aku ingin memiliki suami yang setia dengan cinta yang begitu besar terhadap Oma, bahkan hingga kematian menjemput nya, dia selalu berada di samping Oma, memeluk Oma hingga hembusan nafas terakhirnya"ucap Agatha sambil menitikkan air mata nya.
"Suatu hari nanti kamu akan dapatkan apa? yang kamu inginkan, berdoalah"ucap Piter, sambil mengelus puncak kepala agatha dan tersenyum manis.
"Terimakasih kak, terimakasih atas kasih sayang nya maafkan aku tidak bisa membalas rasa itu! mungkin jika kakak bukan kakak ipar ku... aku akan pertimbangkan tapi saat ini kakak ku lebih membutuhkan mu, cintai dia setulus hati maka bahagia akan kakak dapatkan atas balasan cinta yang kakak berikan, aku percaya itu"ucap Agatha.
Piter pun mengangguk.
Mereka pun pergi dengan tujuan yang sama karena saat ini Piter juga tinggal di sana seperti permintaan Ariana, agar rumah besar itu tidak sepi meskipun Mension milik nya, harus dia tinggalkan.
Sampai akhirnya Agatha tiba di sana kini ada NATO, Alvin dan Rosella yang tengah hamil besar, sementara Alvaro, sejak kepergian Irma dia belum pernah pulang ke Indonesia, pria itu masih menetap di Singapura.
__ADS_1
Agatha, tau luka kehilangan orang yang sangat ia cintai itu begitu menyakitkan dan mungkin tidak akan pernah sirna selamanya.