
Anggita langsung beranjak membawa makanan itu ke kamar, dia akan makan malam bersama sang ibu yang kini tengah duduk di tepi ranjang sambil melamun.
"Bu makan malam dulu, ini Anggita juga membawa vitamin, pemberian tuan muda"ucap Anggita pada ibunya.
"Sayang kamu benar-benar sudah bulat mau pergi"ucap Bu Nora, bertanya.
"Bu, Anggita hanya ingin bisa membuat ibu bahagia,aku harap ibu bisa bertahan hidup di sini, karena Anggi sudah menitipkan ibu pada tuan muda"ucap Anggita.
"Ibu akan selalu menunggu mu sayang semoga kamu selalu dilindungi oleh Allah dan selalu dilancarkan setiap urusan"ucap sang ibu.
"Terimakasih Bu, ibu adalah bidadari ku, yang terindah yang Allah berikan kepada ku, dan aku sangat berterimakasih"ucap Anggita.
"Sayang itu karena ibu yang telah melahirkan mu"ucap Nora.
"Ya sudah lah jika kita terus bicara kapan? kita makannya "ujar Anggita.
mereka pun makan bersama di dalam kamar Nora.
Anggita pun kembali membereskan bekas makan malam tersebut dan membawa nya ke dapur untuk ia cuci bersama dengan bekas makan kedelapan orang tadi hingga selesai membereskan semua nya, Anggita hendak mematikan lampu ruangan tersebut tapi tiba-tiba seseorang memanggil dirinya.
"Anggita tolong buatkan aku mie instan, aku mau begadang bareng semuanya"ucap Yuna.
"Baiklah Nona muda"jawab Anggita sambil berlalu pergi masuk ke dalam dapur kembali, Anggita membuat mie instan untuk empat orang terlebih dahulu karena tidak mungkin tuan muda nya makan makanan seperti itu.
hingga akhirnya mie selesai dibuat dengan beberapa toping diatas nya, setelah itu dia pun pergi meninggalkan mereka yang ternyata tengah sibuk mengobrol karena benar dugaan Anggita yang mau makan mie instan hanya empat orang.
"Anggita, kamu langsung istirahat saja bukan kah besok akan sekolah"ucap Alvin.
"Ya tuan muda"jawab Anggita.
"Pergilah tidur biar saya yang bereskan bekas makan mereka" ucap Robi, asisten Alvin, mendengar kata-kata Robi ada sesuatu yang membuat Alvin tidak suka entah lah dia sendiri tidak tau.
sampai Anggita, menghilang dari pandangan nya, akhirnya Yaris pun kembali berkata" Cantik bagus juga untuk mainan sementara"ujarnya pelan hingga mendapatkan sentilan di jidat nya, yang dilakukan oleh Alvin.
"Berani Lo, lakuin itu Lo berhadapan sama gue, dia adalah gadis baik-baik yang sedang belajar menghadapi kehidupan yang sulit, perlu kalian ketahui dia anak orang berada hanya saja dia dan ibunya pergi dari rumah nya karena kehadiran orang ketiga"ucap Alvin.
"Alah mau bagaimana pun kehidupan nya dulu saat ini dia tetap pembantu"ucap Yona.
"Dia asisten pribadi ku di rumah, dan pembantu kalian besok akan datang suka-suka kalian mau minta apa? pada mereka tapi jangan pada Anggita"ucap Alvin tegas.
Anggita bangun pagi-pagi sekali, disaat ibunya belum bangun dia sudah menyiapkan bahan makanan untuk sarapan pagi mereka semua, sampai selesai.
Anggita menghidangkan makanan tersebut di meja makan, setelah selesai dia langsung bergegas menuju kamar Alvin, dan langsung menyiapkan stelan jas beserta aksesoris yang akan Alvin kenakan selain jam tangan juga dasi, setelah itu dia menyiapkan air untuk Alvin mandi, setelah selesai semua nya dia pun membangun kan Alvin.
"Tuan muda, bangun sudah pagi, sarapan pagi juga sudah siap, saya harus berangkat pagi-pagi, karena harus mengurus pendaftaran kuliah dari sekolah"ucap Anggita.
"Tunggu saja aku sampai selesai kita akan pergi bersama siapkan bekal sarapan untuk ku, agar kamu tidak terlambat" ucap Alvin.
"Tidak usah tuan, tuan santai saja saya sudah memesan ojek online, untuk mengantar saya ke sekolah"ucap Anggita.
"Anggita jangan membantah sekarang kamu siap-siap saja setelah itu kita pergi"ucap Alvin, sambil berjalan pergi.
"Jangan lupa bekal untuk sarapan pagi mu di sekolah"ucap Alvin.
"Baiklah tuan muda"ucap Anggita yang benar-benar tidak bisa menolak, dia langsung menyiapkan bekal untuk Alvin sarapan pagi di kantor nya, setelah itu dia juga menyiapkan untuk dirinya sendiri, setelah itu dia masukkan ke dalam mobil milik Alvin, sementara milik nya dia masukkan ke dalam tas, sekolah nya.
Alvin pun langsung bersiap setelah selesai mandi, dia bahkan lebih dulu pergi dan meninggalkan Robi, asistennya yang belum siap untuk berangkat.
__ADS_1
tepat pukul enam pagi, Alvin dan Anggita Sudah berada di dalam mobil mereka menuju ke sekolah, tapi saat di depan gerbang Alvin menahan tangan Anggita.
"Anggita, aku sudah mendaftar kan mu kuliah beberapa hari yang lalu di kampus pilihan mu, saat ini yang harus kamu lakukan adalah bersiap untuk semua itu, karena kamu sudah diterima di kampus itu, sekarang ikut aku pergi"ucap Alvin.
"Kemana? tuan muda"tanya Anggita kaget.
"Temani aku sarapan pagi"ucap Alvin.
"Heummm baik'lah tapi hanya sebentar ya tuan karena aku harus masuk sekolah masih ada waktu satu jam lagi"pinta Anggita.
"Baiklah hanya sebentar kok, setelah sarapan kita balik lagi ke sini"ujar Alvin, sambil kembali melajukan mobilnya.
hingga tiba di sebuah tempat yang tenang dan tidak ada satu orang pun disana, Alvin berhenti di sebuah taman kota yang tenang karena ini adalah hari yang sibuk jadi tidak ada yang datang ke situ, Alvin mengajak Anggita keluar dari mobil sambil menenteng paper bag berisi kotak makan.
sampai di bangku taman Alvin duduk dan mempersilahkan Anggita untuk duduk di samping nya.
"Tolong buka kotak nya ucap Alvin yang menyiapkan sendok dan tisu di pangkuan nya dia duduk di berhadapan dengan Anggita keduanya sudah membuka kotak bekal dan Alvin bertanya ini dan itu mengenai makanan yang tengah ia nikmati dan juga yang lainnya.
hingga akhirnya Alvin selesai makan begitu juga dengan Anggita.
"Anggita, apa? kamu sudah siap untuk tinggal di negeri orang sendirian, jika belum siap kamu bisa batalkan dan mendaftar di kampus yang ada di kota ini, aku yang akan membayar biaya kuliah mu"ucap Alvin.
"Tidak apa-apa tuan, saya tidak boleh mengeluh apapun yang terjadi aku akan tetap pergi, dan aku mohon tolong biarkan ibuku tetap berada di rumah tuan, dan kabari aku jika sesuatu terjadi pada nya"ucap Anggita yang terlihat sangat memohon.
"Anggita , ibu mu akan tetap berada di rumah ku, tapi masalah nya kamu mampu tidak untuk berada jauh dari ibumu"ucap Alvin yang entah kenapa? dia merasa berat untuk melepaskan Anggita pergi.
"Aku akan sanggup tuan"jawab Anggita.
" Baiklah empat tahun, aku janji untuk selalu menjaga ibumu, tapi lebih dari itu aku tidak tau"ucap Alvin.
"Saya akan mengunjungi ibu saya sesekali saat saya punya uang untuk membeli tiket pesawat"ucap Anggita.
🌸...................🌸
setelah kembali dari sekolah Anggita memberitahu bahwa dia sudah diterima oleh kampus yang menjadi impian nya selama ini, tapi kini ia memilih untuk menjadi dokter.
Bu Nora begitu bahagia dan saat ini Anggita sudah bersiap dengan semua barang-barang yang akan dia bawa nanti kedalam koper nya, selain pakaian yang baru yang selama ini tersimpan rapi di dalam koper besar milik nya, dia juga menyimpan laptop nya yang sudah lama ia simpan, setelah semua siap dia langsung memeluk ibunya tangis haru pun pecah, karena hanya tinggal dua Minggu lagi putri nya akan tetap berada di sana.
saat ini dirumah itu ada tiga pembantu baru yang sengaja di awasi oleh Robi untuk melayani para tuan muda dan dan nona muda yang tengah berlibur di rumah Marvin.
jam pulang kantor pun tiba, Anggita baru selesai merapihkan kamar Alvin, saat ini dia melihat tuan nya masuk terlihat tidak bersemangat mungkin lelah bekerja, Anggita pun menghampiri nya dan meraih tas kerja milik Alvin.
"Anggita jika kamu pergi, siapa yang akan menyiapkan semua ini untuk ku"ucap nya lirih.
"Tuan bisa cari asisten baru tuan"ucap Anggita sambil tersenyum.
"Aku tidak ingin orang lain menggantikan tugas mu"ucap Alvin.
"Ada ibu yang akan menggantikan tugas saya"ucap Anggita lagi.
"Tetap saja beda dia tidak akan se cekatan kamu"ucap nya sambil duduk di sofa melepas sepatu nya.
Anggita langsung meraih sepatu tersebut dan menyimpan nya di rak sepatu bekas pakai, sebelum nanti di bersihkan dari debu yang menempel.
"Saya sudah catat semua tugas untuk mengurus tuan muda, jadi biarpun asisten pribadi baru, tidak akan susah untuk beradaptasi, sebelum tuan menikah nanti"ucap Anggita.
"Kamu mau menjadi istri ku"ucap Alvin menatap lekat wajah cantik itu.
__ADS_1
"Tuan jangan bercanda, kita terlalu jauh berbeda, kau adalah langit dan saya adalah bumi jadi sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bersatu, lagian tuan bercanda nya keterlaluan mana ada pembantu menikah dengan tuan nya, kalaupun ada itu hanya di cerita novel saja"ucap Anggita sambil terkekeh pelan.
dia mungkin mengira Alvin hanya bercanda saat ini.
hingga setelah selesai menyiapkan semuanya, akhirnya Anggita pamit pergi, tapi Alvin menghentikan langkahnya.
"Anggita aku serius"ucap Alvin.
Anggita mematung untuk sesaat setelah itu dia berbalik menatap Alvin sambil tersenyum kecil"Tuan untung saja saya bukan orang yang baper jadi tuan candaan tuan tidak saya anggap serius, lagi pula untuk pantas bersanding dengan anda butuh waktu bertahun-tahun agar bisa memenuhi syarat itu, dan saya tidak mungkin bisa"ucap Anggita.
gadis itu langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Alvin dia sedang bersiap untuk membuat makan malam untuk bos nya itu.
di dapur ternyata sedang terjadi salah paham yang menyudutkan ibunya.
"Saya tau ni Nora lebih dulu bekerja di sini tapi bi Nora tidak bisa seenaknya menyuru-nyuruh saya karena saya sudah ditugaskan untuk mengurus para Nona dan tuan muda"ucap asisten baru itu.
"Saya tidak menyuruh hanya minta tolong karena saya sedang tanggung untuk mengerjakan tugas saya"ucap Bu Nora membela diri.
"Sudah-sudah, kenapa? kalian jadi ribut begini"ucap Anggita.
"Ibu kamu tuh yang mulai, jadi pembantu saja belagu"ucap Yona, yang sedari tadi ada di tempat itu.
"Maaf kan ibu saya Nona, sini biar saya yang menggantikan tugas nya"ucap Anggita, yang menahan rasa perih di hati nya karena hinaan Yona.
"Ambil kan itu untuk ku dan satu lagi kamu harus membersihkan kamar ku"ucap Yona.
"Baik Nona muda"ucap Anggita sambil membawa ibunya ke kamar nya wanita itu tengah menangis sesenggukan karena baru kali ini ada orang yang berani menghinanya.
"Ibu maafkan Anggita, jika saja Anggita sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang, Anggita tidak akan membiarkan ibu seperti ini"ucap Anggita, sambil memeluk erat ibunya.
sementara itu di luar kamar sedang terjadi keributan yang disebabkan oleh Robi yang membela kubu Anggita.
"Hey Robi kamu hanya asisten kakak Alvin jadi jangan sok berkuasa, karena kamu juga hanya pekerja di sini"ucap Yona.
"Tapi Nona muda, apa? yang kalian lakukan itu tidak lah pantas, kami mungkin hanya seorang asisten tapi tidak seharusnya anda berbuat demikian"ucap Robi.
kegaduhan itu membuat semua orang berkumpul saat ini kecuali Alvin, di dapur banyak sekali argumentasi dari ke sembilan orang tersebut memojokkan tiga orang dan yang paling utama adalah Anggita.
"Anggita disini kamu hanya pembantu jadi kamu tidak usah menyombongkan diri hanya karena Alvin selalu ada untuk mu"ucap Agata, yang sedari kemarin dia menyimpan kebencian nya terhadap Anggita yang selalu lebih diperhatikan oleh Alvin, Anggita terus saja melakukan aktifitas nya memasak makan malam untuk Alvin hingga sebuah tangan menarik kaos yang ia gunakan.
hingga tangan Anggita tiba-tiba terkena goresan pisau.
"Ahhhhhh, ucap Anggita yang terlihat jari tangan nya mengeluarkan darah, seperti nya lukanya cukup dalam.
"Ada apa! ini kenapa? kalian berteriak-teriak seperti di hutan heuuhh, dan ini lagi apa? kalian kurang kerjaan, kenapa? bukan nya bekerja malah menindas Anggita secara bergerombol, apa? kalian tidak malu"ucap Alvin yang marah besar hingga menendang kursi yang ada di hadapannya, seketika semuanya terdiam senyap mereka tau konsekwensinya jika Alvin sampai marah besar seperti ini.
"Dan kamu juga Yaris kamu sudah lebih dewasa dari mereka kenapa? harus bersikap kekanak-kanakan seperti ini heuuh, apa? Anggita membuat kesalahan yang tidak termaafkan kenapa? harus main keroyokan apa? kalian sudah bosan di sini "ucap Alvin.
"Gue gak ikut campur Vin, gue hanya"
"Hanya apa? heeuh hanya apa! jawab"ucap Alvin yang benar-benar marah.
semua tidak ada yang menjawab.
"Maaf kan saya tuan ini semua kesalahan saya, biar saya dan ibu pergi dari sini"ucap Anggita, mengakui hal yang tidak pernah dia perbuat Anggita langsung pergi menuju kamar dia dan ibunya dengan tetesan darah yang sedari tadi keluar dari jari nya, Alvin yang melihat itu semakin murka dia meminta semua nya pergi dari hadapan nya, dan tidak ada penolakan untuk itu, mereka pun langsung pergi meninggalkan Alvin yang langsung berjalan menuju kamar Anggita.
"Bu, apa? semuanya sudah siap" ucap Anggita yang terlihat mengenakan Hoodie sementara jari tangan nya masih meneteskan darah dan itu tidak ia hiraukan.
__ADS_1
"Tidak ada yang boleh pergi dari sini"seseorang berdiri di hadapan mereka.