
Sepanjang perjalanan Anggita hanya terdiam karena wanita itu pun menatap kearah jalan tidak memperdulikan Alvin, yang sesekali melirik ke arah nya, sambil berbicara.
hingga tiba di basement apartemen, Anggita tetap diam membisu, hingga tetes air mata pun mengiringi kebisuan nya saat menatap gedung apartemen tersebut, tempat nya menjalani hidup beberapa tahun terakhir dengan bahagia dan penuh kasih sayang, tapi kemudian semua nya sudah hancur akibat penghianatan yang sudah lama di hindari tapi ternyata firasat Anggita benar-benar menjadi kenyataan.
"Sayang bicaralah, aku tidak mau seperti ini"ucap Alvin.
"Untuk apa tuan muda membawa saya kemari, saya sudah lama pergi dari sini"ucap Anggita.
"Aku membeli ini untuk mu Sayang, jadi sudah seharusnya kamu tinggal di sini"ucap Alvin.
"Alvin stop aku sudah lelah, aku lelah untuk terus berharap agar kamu bisa setia, aku sudah lelah.... pergilah hidup lah dengan bahagia disana karena ada dia yang akan selalu ada untuk mu"ucap Anggita, wanita itu hendak berbalik dan pergi tapi Alvin tetap menahan nya Alvin tidak melepaskan Anggita.
"Sayang please jangan seperti ini, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin yang lain selain kamu jika aku terus bersama dengan nya,itu karena aku ingin membuktikan bahwa saat itu, benar-benar jebakan bukan karena khilaf"ujar Alvin.
Alvin langsung memeluk Anggita dengan erat wanita itu bahkan hanya diam, membeku di dalam dekapan Alvin.
hingga Alvin mengangkat nya, membawa nya ala bridal style namun pandangan Anggita menunduk dia tidak berani menatap Alvin yang kini menatap kedepan.
hingga sampai saat mereka sudah berada di dalam apartemen tersebut, Anggita hanya diam.
"Aku minta maaf sayang, aku salah tapi aku mohon jangan seperti ini, aku tidak ingin semua ini berakhir"ucap Alvin.
"Tidak tuan muda semua sudah berakhir"ucap Anggita.
"Aku tidak mau Terry aku tidak akan terima "ucap Alvin yang langsung menarik Anggita mendorong dia keatas sofa, pria itu begitu Kalaf, hingga tidak mendengar suara jeritan Anggita yang minta dilepaskan, Alvin membawa Anggita ke dalam kamar dan membaringkan nya di atas ranjang empuk tersebut, Anggita berusaha untuk bangkit dan pergi tapi kemudian Alvin menahan tangan Anggita menahan nya diatas kepala nya.
Anggita terus menangis sesenggukan tapi Alvin tidak peduli, pria itu bahkan langsung membungkam bibir Anggita dengan bibir nya.
Alvin melepaskan kain yang menempel di tubuh Anggita, saat itu tanpa ampun Alvin tidak ingin lagi kehilangan Anggita.
hingga penyatuan itu terjadi, Anggita hanya bisa menyesali ego nya karena dia sempat menolak Alvin yang minta untuk tetap bersama dengan nya.
mereka tetap berada di atas ranjang di dalam satu selimut tapi tangis Anggita tidak pernah berakhir meskipun Alvin terdiam tanpa kata karena sudah kehabisan kata-kata untuk meminta maaf kepada Anggita karena dirinya sudah merenggut kesucian yang selama ini Anggita jaga, tapi Alvin juga sangat bahagia karena bagi Anggita dialah yang pertama.
"Sayang aku berharap kita akan segera memiliki anak kita yang akan tumbuh di sini"ucap Alvin.
"Tidak itu tidak akan mungkin, sekalipun aku hamil, aku tidak akan mempertahankan nya"ucap Anggita hingga Alvin mencengkeram rahang Anggita karena sangat murka mendengar ucapan Anggita.
hingga saat malam tiba mereka masih berada di apartemen tersebut karena Anggita tidak diijinkan untuk pergi dari apartemen itu, bahkan Robi datang membawa barang-barang milik Anggita.
"Robi jangan biarkan wanita itu kembali mendekati istri ku lagi, buat dia di keluarkan dari kampus dan dosen itu singkirkan dia"ucap Alvin di samping Anggita.
"Tidak Tuan aku mohon jangan lakukan itu, aku janji akan terus tinggal di sini, dan jangan buat apa-apa pada dia, dia tidak tau apapun"ucap Anggita.
"Dengarkan ucapan ku baik-baik honey jika kamu masih ingin kuliah di sini, kamu harus tetap mematuhi perkataan ku, dan coba-coba melanggar peraturan"ucap Alvin tegas.
percakapan mereka berakhir saat makan malam tiba, ketiganya tetap fokus dengan makanan favorit nya masing-masing, berbeda dengan Anggita yang hanya mengaduk-aduk makanan tersebut hingga Alvin meraih dan melempar piring tersebut.
Anggita menatap tak percaya pada pria yang kini tengah menatap tajam kearah nya, Alvin mampu berbuat kasar seperti itu.
__ADS_1
Anggita pun beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja dari ruang makan.
"Terry apa? mau mu, aku sudah berbaik hati memberikan mu kebebasan selama dua tahun ini tapi kali ini aku sudah tidak bisa lagi membiarkan mu berbuat sesuka hati, sudah cukup Anggita cukup mulai saat ini aku akan memantau setiap gerak-gerik mu"ucap Alvin.
"Terserah kamu saja, lakukan saja karena seorang bawahan selamanya akan menjadi bawahan tidak akan pernah menjadi istri, aku anak seorang pembantu, dan kau tuan muda ku, aku tidak bisa melanggar peraturan dari mu, dan untuk menjadi istri mu itu adalah hal yang mustahil"ucap Anggita.
"Terry, aku tidak meminta pendapat mu, apapun yang aku katakan, kamu hanya harus mematuhi ku"ucap Alvin.
Anggita kembali diam membisu, dia duduk di sofa tanpa menoleh kearah Alvin yang menatap kearah nya.
satu minggu berlalu kini Alvin sudah berada di bandara dan untuk pulang ke negaranya, pria itu kembali meninggalkan Anggita, setelah dia puas dengan keputusan Anggita yang akan tetap patuh dengan peraturan yang dia buat.
hingga lima tahun berlalu, sejak saat itu Anggita dan Alvin hilang kontak, Anggita ternyata melanjutkan pendidikan di negara lain, hingga dia berhasil menjadi dokter bedah syaraf terhebat saat ini, tapi setiap kali Anggita akan bekerja dia harus benar-benar bisa mengambil hati putri nya yang sangat cantik yang selalu ingin ikut sang Bunda, pergi bekerja tidak hanya itu dia juga menggunakan fashion yang sama dengan sang bunda.
Alana nama gadis cantik yang memiliki rambut ikal yang terawat dan sangat hitam legam, dengan bulu mata lentik dan bulu alis hitam nya yang semakin mempercantik wajah nya.
gadis kecil itu selalu menjadi pusat perhatian para rekan sejawat Anggita.
kini sudah tujuh tahun lebih dia meninggalkan tanah air nya, wanita itu memutuskan untuk kembali, karena lamaran pekerjaan nya sudah di terima.
sesampainya di tanah air, tepat nya di bandara dia berjalan sambil menuntun putri cantik nya ,di ikuti oleh asisten pribadi nya yang membawa tumpukan koper di troli hingga beberapa orang wartawan menghadang dokter cantik itu.
"Dokter Terry Anggita Sari, mohon beri kami kesempatan untuk bertanya kepada anda tentang kembali nya anda ke tanah air, bukan nya,di negara itu sudah bisa membuat anda jauh lebih sukses, dan tiba-tiba anda kembali dengan membawa seorang gadis kecil yang imut ini, apa? dia putri anda dari hasil pernikahan anda dengan seorang yang selalu anda sembunyikan" ucap para wartawan.
"Pertanyaan itu tidak mewakili profesi saya, jadi maaf jika kalian tidak mendapatkan jawaban nya, bukan kah sudah saya tegaskan silahkan jika anda ingin bertanya tentang apapun yang berkaitan dengan profesi saya tapi tidak dengan kehidupan pribadi saya, tolong hargai itu"ucap Anggita yang terus berjalan bersama putrinya menuju mobilnya nya, sementara itu seseorang yang sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan dia melihat tayangan hasil wawancara yang di lakukan secara langsung, hingga membuat pria yang selama ini menunggu kemunculan nya langsung meminta anak buah untuk mencari keberadaan Anggita.
🌸...........................🌸
"Bunda, rumah Alana begitu nyaman, Alana betah disini"ucap Alana.
"Kamu benar sayang Bunda senang mendengar nya, jika Alana suka, Alana harus berjanji untuk tidak mengikuti Bunda bekerja, kamu permata nya Bunda, Bunda tidak ingin kamu kenapa-napa , di rumah sakit itu terlalu banyak virus dan sangat tidak dianjurkan untuk anak kecil berada di sana"ucap Anggita dengan lembut.
wanita itu terus mencoba untuk memberikan sebuah pengertian pada putrinya itu, agar dia tidak ikut lagi, setiap kali dia bekerja, dan Anggita juga berencana untuk memasukkan, gadis kecil nya sekolah, meskipun putri nya baru berusia empat tahun lebih.
tiba-tiba saja ada panggilan masuk, dari rekan nya di rumah sakit, untuk segera kesana karena ada pasien gawat darurat yang harus segera ditangani, saat ini.
Anggita pun langsung berlari mengambil jas kebesaran nya saat ini, dengan tas kerja nya.
setelah masuk kedalam mobil dia langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat dia bekerja, wanita itu harus siap kapan pun dia dibutuhkan meskipun seperti saat ini dia baru saja tiba di apartemen nya, dan sekarang dia harus langsung bekerja.
Anggita langsung berjalan cepat setelah memarkirkan mobilnya di area parkir gedung rumah sakit tersebut.
sesampainya di sana dia langsung disambut oleh rekannya dan dia memberikan kartu tanda pengenal dan juga jubah kebesaran nya setiap kali berada di ruang operasi, dan saat wanita itu hendak masuk ke dalam ruangan nya dia sempat melihat seseorang yang dia kenal sedang berlarian Panik.
sementara itu Anggita tengah bersiap untuk pergi memasuki ruang operasi, Anggita melepaskan asesorisnya memasukkan semua nya kedalam tas, dan setelah itu dia menggunakan seragam khusus saat berada di dalam ruangan bedah nanti.
Anggita berjalan diikuti oleh para dokter dan asisten lainnya yang tengah terburu-buru memasuki ruang operasi hingga tanpa Alvin sadari bahwa Anggita melewati tempat dia berdiri saat ini, hingga Anggita langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
hingga beberapa jam kemudian, akhirnya operasi pun selesai dilakukan, dan keberhasilan nya hingga seratus persen, karena jika Anggita, terlambat datang mungkin saat ini wanita itu tidak akan pernah selamat.
__ADS_1
Anggita pun berjalan keluar terlebih dahulu diikuti oleh asisten pribadi nya bersama dokter dan perawat lainnya, hingga akhirnya seorang gadis cantik berlari sambil memanggil nya dan menyambut nya.
"Bunda, aku datang"ucap Alana .
"Sayang Bunda baru keluar jangan mendekat"ucap Anggita.
tanpa mereka sadari seseorang tengah berdiri menatap tak percaya pada keduanya.
gadis cantik itu terlihat seperti gambaran dirinya, Alvin tiba-tiba mematung.
"Sayang kamu ikut Om, saja oke nanti Om traktir makan ice"perkataan dokter bedah itu terhenti saat Anggita memotong pembicaraan nya.
"No, minuman dingin"ucap Anggita sambil berjalan diikuti oleh asisten pribadi nya dan juga putri nya.
sampai saat istrinya Alvin keluar dari ruang operasi, Alvin mengikuti istrinya yang kini bawa oleh dokter dan perawat yang lainnya menuju ruang rawat inap.
setelah memastikan semua baik-baik saja Alvin meminta Robi, untuk menunggu istrinya itu.
sementara Anggita,kini tengah berada di dalam ruangan nya, setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, dia langsung bergegas menemui putri nya yang kini berada di kantin rumah sakit, baru saja keluar dari ruangan tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya.
"Terry.... kau kah itu, aku mencari mu kemana-mana, kenapa? kau tega menghilang begitu saja dari ku"ucap Alvin.
pria itu langsung memeluk Anggita begitu saja, sementara Anggita sudah berusaha untuk melepaskan pelukannya.
"Terry sayang aku mohon jangan pernah pergi lagi dari ku, aku hampir mati karena kehilangan mu"ucap Alvin sendu.
"Bunda, apa? dia Ayah"ucap Alana.
"No Alana, dia bukan siapa-siapa"ucap Anggita yang langsung melepaskan Alvin dari pelukan nya.
"Aku kira dia ayah"ucap Alana.
tapi Alvin langsung mengangkat dan memeluk erat Alana.
"Ini Daddy Sayang, Daddy sudah sangat menantikan kehadiran mu selama ini"ucap Alvin.
"Alana jangan percaya dia bukan Daddy mu, dia itu Daddy orang lain, Alana hanya punya Bunda ok"ucap Anggita yang berusaha merebut Alana, dari tangan Alvin.
tapi bukan nya dilepaskan Alvin malah berjalan menuju kamar pasien tempat istrinya di rawat.
"Sayang lihat lah, aku benar bukan jika kita, sudah punya anak tanpa kamu harus mengandung nya pun"ucap Alvin.
"Tuan anda sudah keterlaluan dia putri ku, dan jika kamu ingin memiliki anak kalian bisa produk sendiri"ucap Anggita setengah berteriak, namun Alvin langsung membungkam bibir Anggita saat itu juga dengan bibir Alvin.
"Kamu tidak bisa membohongi ku, Terry, tanpa adanya tes DNA pun semua sudah jauh lebih jelas lihat lah wajah putri ku, lebih mirip dengan ku, dan kamu tidak akan pernah bisa membohongi ku"ucap Alvin tegas.
"Tapi aku tidak akan pernah memberikan putri ku pada kalian, aku yang mengandung dan melahirkan nya, hingga bertaruh nyawa, apa? kau pikir aku akan dengan mudahnya memberikan dia padamu"ucap Anggita.
"Terry, Sayang aku tidak akan mengambil putri kita, jangan takut, karena kami sudah memiliki dua putra, aku hanya ingin dia cepat sadar, agar proses perceraian ku dengan nya bisa segera di proses"ucap Alvin.
__ADS_1
"Tidak ada kata cerai kau bahkan terlihat sangat mencemaskan dia tadi, maka dari itu aku berusaha keras untuk menyelamatkan istri mu hingga wanita yang sudah menyerah untuk bertahan hidup, kembali bisa terselamatkan, semua karena dirimu aku tidak bisa melihat mu menangis jika kamu kehilangan dia"ucap Anggita yang langsung merebut Alana, dari pelukan Gavin.