Sang Penari

Sang Penari
#Pertemuan kedua$


__ADS_3

"Tante ayo kita temui Daddy"ucap Alana.


"Tidak nak, untuk saat ini biar kamu saja yang tau bahwa Tante masih hidup, nanti bila saat nya tiba, Tante akan menemui semuanya"ucap Agatha sambil memeluk Alana yang hendak pulang.


"Aku pulang dulu, hati-hati di sini"ucap Alana sambil tersenyum manis.


"Iya sayang tenang saja Tante akan selalu aman di sini"ucap Agatha.


"Pi tolong antar dia kembali"ucap Agatha.


"Baiklah"ucap Piter.


pria itu langsung merangkul pinggang Alana, sambil berjalan tanpa peduli dengan tatapan gadis itu yang mengisyaratkan untuk dia melepaskan rangkulannya.


"Piter"ucap Alana.


"Ya kenapa? sayang"jawab Piter.


"Sejak kapan? kamu mengenal Tante"tanya nya.


"Sejak saat Daddy ku membawa dirinya"ucap Piter.


"Tolong jaga dia, jangan biarkan orang-orang menindas nya lagi"ucap Alana.


"Tidak janji"ucap Piter.


"Maksud mu?"tanya Alana lagi.


"Tidak gratis sayang ku"ujar pria tampan itu.


"Berapa? harus aku membayar mu"ucap Alana.


"Aku punya banyak materi, jadi tidak butuh uang"ucap Agatha.


"Lalu apa?"tanya Alana.


"Bayar dengan tubuh mu"ucap Alana.


"Piter jangan main-main"ucap Alana.


"Tidak main-main justru aku serius, bagaimana mau tidak"ujar Piter.


"Turun kan aku"ucap Alana.


"Jangan begini Alana, apa? susahnya kamu katakan iya"ucap Piter yang menahan tangan Alana.


"Alana!"bentak Piter saat gadis itu melepaskan sabuk pengaman saat mobil dalam kecepatan tinggi Alhasil, bagian wajah nya terbentur ke dashboard mobil, saat Piter mengerem mendadak karena Alana mencoba merebut kemudi.


darah mengalir deras di bagian hidup dan kening Alana, saat ini membuat Piter kesal sekaligus khawatir, Piter tidak habis pikir gadis itu lebih memilih celaka daripada mengatakan ia, karena Piter, juga tidak serius dengan itu dia hanya ingin mengetes respon Alana.


saat mobil itu berhenti Alana langsung memencet tombol, untuk membuka pintu dan gadis itu berhasil keluar di jalanan yang lumayan padat itu, Piter langsung berlari mengejar Alana di bawah guyuran hujan lebat yang baru saja turun tersebut.


"Alana!!"teriak Piter tapi gadis itu langsung naik taksi dan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Piter.


gadis itu sempat menoleh kebelakang, setelah itu dia mengusap darah yang terus keluar dari hidung dan keningnya.


Sopir taksi sempat menawarkan dia untuk ke rumah sakit tapi Alana menolak dan mengatakan bahwa ia adalah anak seorang dokter.


Sementara itu Piter terus melaju kencang mengejar taksi yang membawa Alana, tapi sayang mobil itu tidak terkejar.


Alana tiba di rumah nya tepat saat semua orang tengah berkumpul, Anggita langsung menjerit kaget saat melihat putri nya berjalan sempoyongan dan akhirnya tumbuh di pelukan nya, dengan darah yang mulai mengering.


"Alana!!"teriak Anggita Alvin langsung menghampiri istrinya dan mengangkat tubuh sang putri jujur dia juga Panik, Alvin langsung membawa Alana ke kamar nya, dan Anggita langsung meminta Alvaro untuk mengambil peralatan nya.


"Al tolong Mommy ambilkan koper Mommy di ruang kerja Mommy sekarang!"teriak nya semua orang panik Alana tidak sadarkan diri dan hampir kehabisan darah saat hamil.


"Apa? yang terjadi sayang tolong bangun jangan buat Mommy panik"ujar Anggita.


"Sayang tolong tenang ingat kamu masih seorang dokter"ucap Alvin.


"Aku tidak mau putri ku, berakhir menyedihkan seperti Agatha"ucap Anggita.


"Tidak akan sayang "ucap Alvin.


"Mommy ini"ujar Alvaro yang berlari membawa koper tersebut.


"NATO, tolong ambilkan handphone Mommy, Mommy harus segera menelpon pegawai apotek untuk membawa kan obat Daddy minta pelayan bawakan air hangat di baskom dua baskom yang terpisah juga handuk kecil atau saputangan.


sementara Anggita memeriksa kondisi sang putri mereka pun berhamburan melakukan perintah Anggita, saat itu Agatha datang dengan eskrim ditangan nya.


"Mommy kakak Alana kenapa?"ucap nya, Anggita kaget dia langsung meminta Alana pergi sambil membentak nya, tidak peduli dia menangis daripada putri nya, harus kembali trauma karena melihat darah, beruntung NATO dan Alvaro sudah kembali, jadi dia langsung membantu Mommy nya, dengan membawa adik bungsunya yang polos itu.


"Agatha, kakak Alana hanya sedang demam jadi Agatha dilarang untuk mengganggu kerja Mommy Ok"ujar Alvaro dengan sabar sambil merangkul bahu sang adik.


"Tapi Mommy bentak Agatha, kenapa? Mommy jahat"ucap nya.


"Mommy tidak jahat sayang hanya saja Mommy sedang panik tolong mengertilah"ucap Alvaro.

__ADS_1


"Kakak kak, Alana baik-baik saja kan?"ucap Agatha lagi dan Alvaro hanya mengangguk sebagai jawaban.


Alvaro pun berhasil memenangkan Agatha, saat itu juga sementara NATO, kini masih berada di kamar Alana, dia membantu sang Mommy untuk mengurus Alana yang kini terlihat jauh lebih baik setelah darah nya dibersihkan dan Anggita memasang perban di kening nya tidak hanya itu Anggita juga sudah memberikan obat yang sesuai dengan yang dialami oleh Alana.


"Putri kita akan siuman sebentar lagi"ujar Anggita sambil menoleh pada Alvin.


Wanita itu dengan setia setia menemani Alana .


"Sayang sebaiknya kamu makan dulu"ucap Alvin.


"Tidak mas aku nanti saja, setelah putri kita siuman, sekarang sebaiknya mas makan terlebih dahulu dan temani anak kita makan bilang pada Agatha, Mommy minta maaf, tadi tidak sengaja membentak nya"ucap Anggita.


"Aku disini Mom"ucap nya yang langsung berlari memeluk sang Mommy.


"Maafkan Mommy nak, Mommy hanya tidak ingin kamu sakit kepala saat melihat keadaan kakak tadi"ucap Anggita.


"Agatha tidak marah Mommy, kak Al bilang Mommy hanya sedang panik tadi jadi harus nya Alana yang minta maaf"ucap Agatha.


"Kamu memang baik dan sangat pintar sayang Mommy"ucap Anggita.


"Kalau sudah besar Agatha mau jadi apa?" ucap Anggita yang kini masih mendekap putri nya.


"Agatha gak mau jadi apa-apa Mom, Agatha mau jadi Agatha aja biar tidak repot seperti cat woman, ribet Mommy"ucap Agatha, sontak semua orang tertawa termasuk Alvin, hanya Anggita yang terdiam, karena begitu sedih melihat putri nya yang begitu polos padahal usia nya sudah empat belas tahun.


"Baiklah, jadi Agatha itu jauh lebih baik"ucap Alvin sambil memeluk putri bungsu nya itu.


Alvaro pun menghampiri adiknya itu.


"Sayang ayo ikut kakak kita makan dulu"ucap Alvaro.


"Ada eskrim tidak kak"ucap nya.


"Ada sayang tapi jangan sekarang karena ini sudah malam jadi makan nya besok siang saja"ucap Alvaro.


"Baiklah Agata makan steak Wagyu saja"ucap gadis itu.


"Bagus itu adik kakak yang paling cantik"ucap Alvaro, NATO mengikuti mereka dari belakang di susul oleh Alvin keempat nya berjalan menuju meja makan, sementara Anggita menemani Alana, yang belum sadar, mungkin sebentar lagi.


...🌸..........................🌸...


setelah dua jam menunggu akhirnya Alana sadar gadis itu pun hanya terdiam, sambil menatap sang Mommy.


"Sayang kamu bisa melihat Mommy kan"ucap Anggita.


Alana hanya mengangguk dan begitu seterusnya hingga Anggita melepaskan infus yang menancap di tangan Alana karena gadis itu sudah mulai membaik.


"Tidak mom sakit"ucap nya pelan, dia masih merasa ngilu dan sangat sakit karena benturan keras itu.


beruntung Alana tidak mengalami gegar otak.


sementara itu, Piter sedari tadi terus mencoba untuk menghubungi nya namun nihil tidak bisa di hubungi bahkan kontak nya sudah di blokir.


"Ahhhhhh....sial kamu kenapa? lakuin itu sih Alana, aku hanya bercanda"ucap Piter.


pria itu pun kini tengah minum segelas wine, tepat di sebuah club malam, ditemani oleh wanita malam yang selalu menawarkan jasa, tapi Piter tidak pernah memanfaatkan hal itu segila apapun, Piter tidak akan pernah mau tidur dengan wanita bekas orang lain.


pria itu, semakin tidak karuan hingga dia melampiaskan semua rasa kesal nya lewat minuman.


Dua hari telah berlalu hingga saat ini Alana, belum siap untuk pergi sekolah karena bekas memar itu masih kentara di bagian hidup dan keningnya, meskipun Anggita, sudah mengoleskan salep untuk obat memarnya.


"Sayang kamu sudah bisa sekolah hari ini"ujar Anggita.


"Tidak Mom, aku malu bekas memar ini masih belum hilang"ucap Alana.


"Heumm baiklah-baiklah Mommy dan Daddy harus ke kantor dan kakak akan kuliah, kak NATO juga"ujar Anggita.


"Kak NATO, kuliah hari ini"ucap nya.


"Iya donk masa tahun depan, kamu saja sudah kelas dua SMA"ucap NATO.


"Heumm, seperti baru kemarin"ucap Anggita.


"Iya Mommy"ucap nya, serentak.


sementara itu di depan gerbang Piter terus menunggu Alana datang tapi hingga jam sekolah berakhir pun gadis itu tidak ia temukan juga.


setelah itu akhirnya ia kembali pergi ke sekolah untuk menjemput Alana dia pun melihat gadis itu, turun dari mobil sendiri.


"Alana!" teriak Piter


hingga saat jam pulang sekolah, Alana yang hendak pergi, tangan kekar itu meraih Alana yang kini tengah shock, karena melihat pria itu.


"Lepas"ucap Alana tegas.


"Aku sudah satu Minggu , terus menunggu mu " ujar Piter.


"Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan mu"ujar Alana tapi pria itu tidak mau mendengar nya.

__ADS_1


Alana terus meronta minta di lepas tapi tidak bisa.


Piter bahkan langsung membuat Alana pingsan.


pria itu benar-benar tidak peduli dengan keadaan sekitar yang dia pedulikan saat ini adalah rasa rindunya pada gadis cantik itu.


sampai di sebuah apartemen mewah, mobil sudah tiba di basement apartemen nya dan terparkir cantik di sana.


tidak lama setelah itu Piter, langsung mengangkat tubuh Alana yang kini tak sadarkan diri menuju ke arah lift.


"Sayang kamu ternyata terlihat semakin cantik dan seksi aku sudah tidak tahan untuk menjadikan mu, milik ku seutuhnya"lirih Piter.


sementara itu di rumah Anggita yang sudah pulang lebih awal dia heran karena Alana tidak kunjung pulang ke rumah.


Anggita pun berbicara pada Alvin, yang masih berada di kantor tersebut .


Alvin bilang untuk tidak panik karena dia tau putri nya Alana, akan bisa jaga diri dengan baik.


sementara waktu untuk dua jam kedepan Anggita masih bisa berpikir jernih, karena tidak lama setelah itu,ada pesan masuk yang mengatakan bahwa Alana, saat ini tengah kerja kelompok bersama dengan sahabat nya.


sementara itu di apartemen setelah selesai mengirim pesan, Piter langsung duduk di samping ranjang membelai wajah cantik yang masih tertidur dengan bius, yang tadi ia berikan.


Alana tersadar saat seseorang tengah berada di hadapan nya saat ini.


"Apa? yang kamu lakukan Piter!"teriak Alana.


"Aku sedang memandangi calon istri ku"ucap Piter.


"Piter, kamu tidak bisa berbuat seenaknya aku ini bukan siapa-siapa kamu"ucap Alana.


"Terserah yang jelas, kamu akan tetap menjadi istri ku"ujar Piter cuek.


Piter pun langsung mencium bibir Alana dengan rakusnya, pria itu bahkan menggenggam tangan gadis itu tanpa peduli dengan teriakan nya.


Alana pun menangis sesenggukan karena Piter masih tetap tidak perduli dengan Alana.


Piter berhenti saat bunyi panggilan dari ponsel Alana.


"Daddy Alvin"ujarnya lirih.


"Angkat"ucap Piter.


Alana pun langsung pergi ke kamar mandi dia mencuci muka nya, yang sembab karena menangis, saat Piter mencium bibir nya.


setelah jauh lebih baik akhirnya dia menelpon balik sang Daddy, yang kini terdengar cemas.


Alana pun mencoba menetralkan suaranya.


📱"Halo Daddy maafkan Alana, tadi Alana sedang kerja kelompok"ucap Alana .


📱"Baiklah Sayang cepat pulang dan hati-hati atau mau Daddy jemput"ucap Alvin.


📱"Tidak Daddy, aku akan pulang sendiri"ujarnya.


📱"Baiklah Sayang, ingat jika ada apa-apa, kamu langsung telpon Daddy"ucap Alvin.


📱"Baik Daddy"ucap Alana.


setelah selesai menelpon, tiba-tiba tangan kekar itu melingkar di pinggang Alana, sontak mendongak lalu berkata"lepas kak aku mohon" ucap nya lirih.


"Ijinkan aku memeluk mu, aku janji tidak akan pernah melakukan hal lebih, sampai saat kita menikah nanti"ucap Piter.


Ada sedikit rasa lega,di hati Alana saat Piter berkata seperti itu, bukan dia mengijinkan Piter untuk melakukan itu, tapi jika Alana tidak mengijinkan nya mungkin Piter, akan benar-benar melakukan apa yang menjadi ketakutan Alana.


"Aku harus segera pulang"ucap Alana.


"Alana, sebentar lagi, lagipula dari sini kerumah mu tidak terlalu jauh"ucap pria dewasa itu.


"Heumm"ujar Alana.


Alana pun terpaksa menahan diri, sampai akhir Piter melepaskan pelukannya itu, Piter mengusap puncak kepala Alana.


"Jangan tegang begitu, aku bukan pria gila yang akan berbuat seenaknya, aku masih memiliki akal sehat, meskipun sebagai laki-laki normal aku tidak munafik, aku menginginkan semua itu.


"Aku tidak ingin semua itu terjadi, sebelum aku menikah, Mommy dan Daddy pasti akan kecewa dengan ku, jika itu terjadi"ujar Alana.


"Ayo makan dulu, nanti setelah itu aku antar kamu pulang, sekaligus aku ingin bertemu dengan Daddy dan juga Mommy mu"ucap Piter.


"Baiklah"ujar Alana.


mereka pun makan malam, bersama dengan Piter, dengan menu makanan yang berasal dari restaurant, yang Piter pesan, sebelum nya.


"Aku sudah kenyang"ucap Alana.


"Alana, apa? setiap hari makan mu hanya sedikit, atau kamu tidak suka dengan makanan nya"tanya Piter.


"Aku sudah biasa seperti ini kak"ucap Alana

__ADS_1


__ADS_2