
Sudah satu minggu lebih saat Marvin pergi,aku hanya bisa berdiam diri di rumah setelah pulang kuliah, hanya adikku Liliana yang Marvin, ijinkan ke luar rumah.
Aku bahkan tidak bisa menemui Doni, yang akan memberikan pekerjaan baru untuk ku.
hingga aku merasa benar-benar sangat bosan,aku mencoba menghubungi Marvin memohon agar mengijinkan aku untuk pergi mencari buku, tapi akhirnya bukan mendapatkan izin malah Marvin murka, aku begitu frustasi.
aku duduk di balkon kamar ku, aku tidak ingin semua rasa kesal ku membuat aku sangat tertekan hingga tanpa sadar aku tertidur pulas di atas meja, di balkon kamar ku, bahkan hari sudah hampir gelap, saat aku membuka mataku.
Aku mencoba bangkit, dan beranjak menuju ranjang ku karena rasanya sangat lelah dan aku kembali memejamkan mata ku.
hingga aku merasakan ada seseorang yang hampir mendekat ke arah ku ,aku langsung membuka mata, dan bisa kulihat tatapan tajam dari pria, yang tadi aku telpon.
Ya dia adalah Marvin, pria itu langsung datang saat aku telpon, karena saat aku telpon dia tengah berada di luar kota, mungkin sedang banyak pekerjaan.
"Apa? peringatan ku tak bisa kamu mengerti, heuhhhhh"ucap Marvin sambil menunduk lalu meraih lengan ku rasanya sangat menyakitkan, saat Marvin mencengkeram erat tangan ku, Marvin menarik ku kedalam dekapannya, tapi bukan untuk di pelukan melainkan ingin mencengkeram rahang ku.
"Marvin, aku hanya meminta izin, untuk bisa beraktifitas dengan bebas, apa?? itu sulit untuk bisa kamu kabulkan heuhhhhh, jika aku tau semua akan berakhir seperti ini, lebih baik aku tetap menjadi penari di dunia malam, daripada harus terkurung di dalam rumah ku sendiri"teriak ku, tapi pria itu hanya terdiam sesaat kemudian dia langsung mendorong tubuh ku ke samping tepat di meja nakas.
"Dengarkan kata-kata ku baik-baik kau adalah wanita yang sudah menghabiskan banyak uang ku, dan baru saja kau membuat ku rugi puluhan milyar, apa? kau pikir,aku akan melepaskan mu begitu saja kau pikir dengan akal sehat mu, dimana ada pria yang rela melakukan semua itu, hanya untuk wanita penghibur seperti dirimu, coba katakan pada ku dimana?!!"teriak Marvin tepat di hadapan wajah ku, yang sudah bercucuran air mata.
"Aku bukan penghibur....aku bukan wanita seperti itu, kamu tega sekali bagaimana pun ,aku terpaksa melakukan itu, lagipula aku tidak pernah meminta mu, untuk menghabiskan uang itu untuk ku, aku tidak pernah meminta itu"ucap ku lirih tubuh ku merosot dilantai, bagaimana bisa setelah itu dia masih menyalahkan aku, atas bantuan itu.
bagaikan dunia yang sudah runtuh aku bahkan tidak punya kebebasan untuk bernafas.
pria itu langsung terduduk di atas ranjang,Sabil bersandar di headbord, pria itu memijat pangkal hidung nya, seperti tengah merasakan benar-benar pening.
"Aku, tidak ingin mendengar tangisan, segera siapkan air hangat untuk ku, aku ingin mandi setelah itu ambilkan koper ku di bawah"ucap pria itu.
Aku langsung berdiri dan berjalan tanpa menoleh ke arah nya, sesampainya di dalam kamar mandi aku langsung menyiapkan semua nya, tidak peduli dengan rasa sakit pisik dan batin ku, setelah selesai mengisi bathtub, aku mencuci wajah ku sendiri, setelah itu aku pun pergi keluar untuk memberitahu nya.
"Airnya sudah siap, aku akan mengambil koper mu dulu"ucap ku sambil berjalan tanpa menoleh ke arah nya.
pria itu terus menatap ku, tidak lama aku sampai di lantai bawah, tepat di garasi ,mobil nya langsung terbuka, aku tidak tau mungkin mobil itu memiliki, fitur canggih yang tersambung ke ponsel nya.
tidak banyak berpikir aku mengambil dua buah koper milik nya, dan setelah itu aku meninggalkan mobilnya begitu saja, karena aku yakin dia sudah menutup nya.
setelah beberapa menit aku berjalan sambil menyeret koper besar milik nya hingga ke atas, aku berhasil membawa hingga kedalam kamar.
kulihat pria itu baru selesai membuka kemeja dan juga celana panjang nya, dan hanya nampak bokser yang masih ia kenakan, dengan tubuh yang sangat perfeksionis, dan siapapun mungkin akan tergoda melihat itu, tapi tidak dengan ku, aku bersikap biasa saja.
terlihat sebuah kalung yang memiliki liontin dua buah cincin polos yang saling menempel.
"Apa? masih belum puas kau melihat nya"ucap Marvin, yang langsung membuat ku menoleh kearah lain karena malu mendengar kata-kata yang benar-benar nyeleneh.
"Ambilkan bathrobe ku, dan siapkan bajuku setelah itu ikut aku kedalam kamar mandi untuk memijat pundak ku"ucap nya lagi padaku.
aku tidak ingin menjawab semua perkataan nya,aku tau semua nya, serba salah ,aku jawab dia marah tidak dijawab juga salah, aku sudah cukup lelah.
hingga saat suara pria itu, memanggil nama ku, aku buru-buru pergi meninggalkan baju yang baru selesai aku siap kan.
aku langsung masuk ke dalam kamar mandi kulihat Marvin sudah berada di dalam bathtub, pria itu sudah bertelanjang bulat, bisa dipastikan seperti itu, karena aku melihat ada CD, (****** *****) di samping bathtub.
"Cepat gosok punggung ku, dan bantu aku keramas"ucap Marvin, padaku dengan ekspresi datar.
aku langsung mengambil benda untuk menggosok tubuh yang langsung aku beri sabun cair di atas nya, kuremas-remas hingga teguran kembali terdengar mengesalkan dari nya.
__ADS_1
"Kau ingin meremasnya sampai kapan, jika kamu mau kamu bisa meremas milikku, saja"ucap Marvin, yang membuat ku langsung membulatkan mataku.
"Aku mulai sekarang"ucap ku sambil menggosok punggung Marvin hingga ke bagian dada, tapi tidak untuk bagian lainnya yang sedari tadi sudah terendam busa yang melimpah.
Aku meraih sampo setelah menggosok punggung pria itu, dan ku usap-usap di rambut nya yang sangat indah hitam legam dan terlihat sangat terawat.
Marvin, bahkan terlihat menikmati pijatan lembut yang aku lakukan di kepala nya hingga hampir tertidur, tapi beberapa detik kemudian aku langsung membilas rambut nya, dengan sangat hati-hati.
"Bang boleh aku keluar, tugas ku sudah selesai"ucap ku.
"Siapa? yang mengijinkan mu, memanggil ku, seperti itu"ucap Marvin yang langsung berdiri tanpa rasa malu dihadapan ku, yang langsung membuang pandangan ku, tanpa sempat menoleh.
"Kau tidak mendengar apa? yang aku ucapkan"ucap Marvin.
"Iya tuan ,aku dengar kok, maafkan aku aku salah"ucap ku sambil.
"Sejak kapan?,aku menjadi majikan mu"ucap Marvin dingin.
"Aku tidak tau harus memanggil mu apa? ucap ku, sambil berjalan hendak membuka pintu kamar mandi.
"Ariana, panggil aku Marvin, saja"ucap Marvin.
🌹💖💖💖🌹
Marvin sudah duduk di sofa setelah aku juga membantu mengeringkan rambut.
"Kau tidak lihat sudah jam berapa, saat ini"tanya nya padaku, dan aku sempat mengerutkan keningku karena bingung.
"Kau tidak beribadah"ucap nya lagi.
"Siapa yang menghalangi mu, untuk melakukan ibadah"ucap Marvin.
"Tidak ada hanya, saja aku sedang datang bulan, jika kamu tidak tau itu"ucapku.
"Heummm kalau begitu nanti kau tidur terpisah dengan ku, aku tidak suka melihat noda darah di atas ranjang"ucap Marvin.
"Aku tidur di bawah dikamar orang tua ku"jawab ku.
"Siapa? yang mengijinkan mu untuk pergi dari kamar ini"ucap nya sangat membingungkan ku, jangan sampai dia meminta ku untuk tidur di lantai, pikir ku.
"Kamu tidur di lantai, malam ini, hingga acara mu selesai"ucap nya, menstruasi dibilang acara, dia pikir acara apa? tapi aku hanya mengangguk.
biarlah aku tidur di lantai toh masih ada karpet dan selimut, setidaknya aku masih bisa tidur, anggap saja, aku sedang menjalani hukuman penjara, seperti cerita sahabat lama ku, yang pernah merasakan itu.
Aku mengambil selimut dari tempat nya, dan aku juga menggelar itu di atas lantai yang dilapisi karpet bulu tebal, aku menyimpan bantal dan ku baringkan tubuh ku di sana, sementara Marvin hanya menoleh, sesekali karena dirinya tengah sibuk memangku laptop nya, hingga akhirnya aku terlelap saat itu juga.
setelah itu aku samasekali tidak tahu apa? yang sudah terjadi, karena aku bangun tepat di pagi hari, dan saat aku terjaga aku tau-tau sudah berada di atas ranjang empuk ku.
sementara pria itu, entah dimana, tapi yang pasti aku melihat laptop itu masih menyala, aku bahkan tidak berani mengintip apa yang sebenarnya dia kerjakan hingga tak pernah tidur semalaman.
aku bangun dan langsung membersihkan tubuh ku, tidak lupa aku mengunci pintu tersebut, karena se liar nya, aku saat berada di atas panggung, aku tetap takut jika tiba-tiba tubuhku di jamah oleh pria manapun.
aku selesai mandi dengan bodohnya aku masih menggunakan bathrobe, dengan rambut yang masih di lilit handuk, membuat seseorang yang tengah menatap kearah ku menelan ludah, pria itu tiba-tiba, mendekat dan langsung ******* bibir ku, aku yang langsung membalas ciuman tersebut, karena aku masih sayang nyawaku, dan kalian pasti tahu apa? yang aku lakukan.
hingga beberapa saat ciuman itu selesai di kembali mendorong ku, meminta ku untuk menjauh dari nya, sebelum dia benar-benar Kalaf dan aku langsung bergegas, pergi menuju walk-in closed.
__ADS_1
"kakak"ucap Liliana yang tiba-tiba masuk ,aku sudah benar-benar syok bukan karena takut, Liliana melihat ciuman kami tadi, tapi yang aku takutkan singa itu kembali mengamuk aku langsung keluar setelah memakai dress selutut berwarna kuning, dengan motif bunga-bunga dan pita di bagian pinggang.
"De tolong tunggu kakak dibawah ok kita sarapan bersama"ucap ku sambil memberikan isyarat agar adikku cepat pergi dari kamar ku, karena Marvin, kembali fokus dengan laptop nya.
"Aku hanya ingin memberitahu kakak, bahwa hari ini adalah rapat orang tua siswa, dan kakak harus hadir di sana"ucap nya lantang.
"Sopir yang akan, menghadiri rapat itu, Ariana sedang sibuk"ucap Marvin datar.
Aku langsung mengepalkan tangan ku, aku benar-benar sangat kecewa dan marah, bagaimana tidak, aku melihat raut wajah kecewa dari gadis itu.
"Marvin, sekali ini saja tolong biarkan aku menghadiri rapat tersebut, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa di sini hanya aku saudara nya"ucap ku lirih.
"Apa? kau tidak dengar apa? yang aku ucapkan barusan"ucap nya sambil menatap tajam kearah ku.
"Maaf ucap ku, sambil berjalan melewati nya dan hendak pergi keluar kamar, tapi lagi-lagi pria itu langsung menghentikan ku.
"Siapa? yang mengijinkan mu pergi tanpa aku"ucap Marvin.
"Maaf ucap ku yang langsung duduk di samping Marvin, aku hanya bisa menunduk sambil menahan air mata ku, siapapun pasti akan merasakan sakit yang aku rasakan saat ini.
"Selesaikan kegiatan mu, dan rapihkan wajah kusut mu itu, aku tidak akan mengampuni mu jika dalam sepuluh menit belum juga selesai"ujarnya sambil terus menyibukkan diri dengan pekerjaan nya itu.
aku langsung pergi dan kembali menuju meja rias, aku menyelesaikan riasan ku, yang hanya cuma pelembab wajah dan bibir, setelah itu aku menyisir rambut ku, dan menyemprotkan parfum ke bagian tertentu dari tubuh ku.
setelah selesai aku menyiapkan tas dan juga barang ku untuk keperluan kuliah dan juga handphone ku.
"Berikan ponsel lama mu, dan kemarilah"ucap Marvin.
"Tolong jangan apa-apa kan ponsel itu, teramat berharga bagi ku, karena itu adalah milik Papi"ucap ku.
"Ariana!"ucap nya tegas.
Aku tidak bisa membantah dan langsung aku berikan barang yang menurut ku adalah barang terpenting untuk ku, karena disana, aku menyimpan video juga foto kebersamaan kami, selama ini, selain foto yang dipajang di dinding rumah.
"Ambil paper bag kecil itu"ucap Marvin.
"Baiklah"ucap ku, aku jalan kearah, nakas benda itu yang tadi aku simpan, aku hendak memberikan itu pada nya tapi dia mengatakan"Itu handphone baru milikmu yang ini aku sita"ucap nya.
"Marvin aku mohon jangan apa-apa kan ponsel itu, please"ucap ku, tapi pria itu bukan nya mendengarkan ku, malah membuat ponsel ku hancur berkeping-keping.
"Ariana, aku tidak suka wanita cengeng"ucap nya.
Aku langsung berbalik dan pergi tidak peduli, dia akan membunuhku, hingga akhirnya Marvin benar-benar menyusul turun kebawah, menuju meja makan, tersebut.
"Ariana! apa? kamu tidak mendengar apa?yang aku katakan!"seketika itu semua orang yang ada di sana terhentak.
termasuk Liliana, yang saat itu, sedang menikmati sarapan nya, mereka semua pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku sudah tidak perduli ,aku muak terserah k
jika kau ingin membunuhku saat ini juga, jika itu yang kamu mau, bunuh saja bunuh!"teriak ku, hingga laki-laki itu tiba-tiba menjambak ku, menyeret ku hingga langkah teratas, dan sampai di atas atap pria itu menarik ku, kearah tepi atap.
"Kau ingin mati, ayo loncat, loncat!"teriaknya seketika itu juga aku melompat aku tidak perduli dengan kehidupan ku yang berlumuran dosa ini semoga tuhan mau mengampuni segala dosa ku.
tapi aku langsung merasa ada seseorang yang menangkap tubuh ku saat itu juga.
__ADS_1