Sang Penari

Sang Penari
#Diam#


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi pada pukul sepuluh, kini keduanya tengah berada di dalam mobil, mereka berdua sengaja ingin mengajak ketiga anak mereka jalan-jalan.


sementara itu yang pertama kali di jemput adalah Alana, putri mereka yang saat ini sudah berada di dalam mobil, sementara itu pengasuh nya pulang duluan dengan sopir sambil menjemput pengasuh NATO, dan NATO pun sebentar lagi keluar, setelah menunggu beberapa saat kemudian NATO pun keluar dan Anggita langsung memeluk dan mencium putra angkat nya itu, setelah itu mereka menuju sekolah nya Alvaro, mereka memang sengaja tidak sekolah di satu lingkungan, sejak di pindahkan ke kota tersebut.


sesampainya di gerbang sekolah Alvaro, Alvin melihat seseorang yang tengah bersandar di mobil nya di parkiran sekolah pria itu, terlihat sedang menatap pagar sekolah yang belum terbuka .


Alvin kenal siapa? pria yang berada tak jauh dari mobilnya itu, dia adalah suami almarhum Agnes, asisten Daddy nya yang masih bekerja hingga sekarang, tapi entah apa tujuan nya, saat kedua anak nya yang lain tengah di suapi camilan oleh Anggita, terlihat Alvaro, keluar dan langsung disambut oleh pria itu.


Alvin langsung mendekat ke arah mereka.


"Alvaro ayo ikut Daddy"ucap Alvin yang langsung menjauhkan putra nya dari Arman.


"Tuan muda, saya ayah nya saya berhak untuk dekat dengan nya"ucap Arman.


"Tapi dia adalah darah daging ku, aku Daddy nya"ucap Arman.


"Kau hanya ayah tirinya bukan?"ucap Alvin.


"Tapi almarhum Agnes, masih istri saya hingga saat dia meninggal"ucap Arman.


Anggita yang melihat perdebatan mereka langsung bergegas menghampiri nya.


"Ada apa?... kenapa? kalian ribut, tidak baik ribut di depan anak"ucap Anggita yang langsung membawa Alvaro dalam dekapan nya.


"Saya ayahnya saya berhak untuk menemui nya lagipula tuan besar tidak pernah melarang saya untuk bertemu dengan putra saya"ucap Arman.


"Tapi dia putra ku, darah daging ku"ucap Alvin yang tidak mau kalah.


"Mas kamu jangan egois, jika dia memang ayah nya tidak perlu ribut lebih baik kita pergi bersama siapa? tau Alvaro juga rindu ayah nya.


"Anggita kamu tidak boleh membela dia lagi pula dia yang sudah merebut wanita ku, dia juga yang mengakibatkan Agnes meninggal sebaiknya kamu diam"ucap Alvin sedikit menekankan kata-kata nya, tanpa Alvin sadari ucapan nya telah melukai hati sanubari Anggita wanita itu langsung pergi dari samping Alvin berjalan gontai menuju mobilnya.


Anggita lalu menggendong Alana dia keluar dengan membawa tas nya Anggita langsung bergegas mencegah taksi.


Alvin yang melihat itu langsung berlari sekuat tenaga hingga bisa meraih lengan Anggita yang menolak untuk mendengarkan permintaan Alvin.


"Honey kita bisa bicara baik-baik aku tadi tidak sadar dengan kata-kata ku, ayo kita pergi bersama"ucap Alvin tapi Anggita menolak dia tetep diam sambil menepis tangan Alvin yang kini menggenggam erat tangan Anggita Alvin tidak ingin Anggita pergi, Alvin benar-benar marah pada dirinya sendiri.


" Alvaro masuk mobil"ucap Alvin tegas.


"Sayang ayo"ucap Alvin yang merangkul pinggang Anggita wanita itu tetap terdiam hingga akhirnya Alvin merebut Alana dari gendongan Anggita.


"Terserah kamu mau ikut atau tidak aku tidak bisa lagi bersabar saat ini"ucap Alvin.


"Kembalikan putri ku"ucap Anggita.


"Dia bukan hanya putri mu, tapi juga putri ku"ucap Alvin.


"Kamu keterlaluan Alvin"ucap Anggita yang langsung pergi meninggalkan mereka semua.


hingga Alvin langsung mengacak rambut nya frustasi dalam keadaan menggendong Alana, bahkan pria itu juga menendang ban mobilnya, sambil menatap tajam kearah Arman, dia marah terhadap Arman karena pria itu bahkan membuat dia dan istrinya ribut.

__ADS_1


sementara Anggita yang masih dalam perjalanan menuju apartemen nya wanita itu masih menangis tanpa merasa tak enak dengan sopir taksi yang sedari tadi bergantian menarik taksi.


"Nona, sudah sampai"ucap sopir taksi tersebut.


Anggita langsung turun setelah membayar ongkos taksi, tersebut.


"Aku tau aku tidak pernah ada dalam hati mu, tapi kenapa? kau ngotot ingin bersama ku mas"ucap nya lirih sambil berjalan menuju pintu lift.


sesampainya di unit nya wanita itu langsung masuk kedalam dan berjalan menuju kamar nya.


sementara itu Alvin tengah di buat repot karena ketiga anak nya bahkan ikut menangis karena ibu mereka pergi.


hingga malam tiba Anggita tidak pulang ke rumah, Alvin pun mencari wanita itu hingga ke apartemen nya, tapi nihil wanita itu tidak ada di sana, setelah itu Alvin pun mencari Anggita ke rumah sakit tempat dia bekerja dan ternyata wanita itu tengah sibuk bekerja hingga tidak bisa ia temui sebagai dokter spesialis bedah syaraf, dia juga merangkap sebagai dokter dalam, akhirnya kesibukan itu selalu ada, jika tidak ada jadwal operasi dia akan menggantikan posisi teman nya yang butuh bantuan nya, seperti saat ini.


Anggita memang wanita cerdas dia bahkan bisa menyelesaikan kuliah kedokteran nya, meskipun dalam keadaan sulit sekalipun, wanita itu juga tidak pernah lepas dari tanggung jawab nya sebagai seorang ibu.


tapi saat ini wanita itu tengah malas untuk berdiam diri karena selalu terbayang putri nya yang mungkin tengah menangis karena dia tidak pulang sejak tadi siang bahkan tidak menghubungi nya.


sampai pukul sebelas malam, wanita itu masih berada di ruang operasi karena ada kecelakaan masal yang melibatkan banyak orang terluka parah karena kurang nya tenaga medis akhirnya Anggita pun membantu rekan nya.


hingga pukul empat pagi Anggita kembali menangani korban yang luka-luka hingga wanita baru berhenti Anggita pun langsung menyandarkan kepalanya di meja hingga dia tertidur dengan balutan jubah kebesaran nya rasa lelahnya bisa membuat dia lupa dengan rasa sakit nya.


Anggita masih tertidur sampai suara ketukan pintu terdengar nyaring, wanita itu pun mengangkat kepalanya yang terasa berat itu.


"Dokter, saya ingin mengantarkan sarapan pagi untuk anda"ucap seorang pegawai yang baru Anggita lihat mungkin karena baru di sana.


hingga Anggita bangkit dari duduknya dia melakukan peregangan setelah itu dia langsung bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan tubuh yang super kotor tersebut terlihat ada banyak noda darah di beberapa bagian karena saking sibuknya dan berdesakan Anggita tidak melihat sekitar nya mungkin karena ciptakan darah dari orang yang memuntahkan cairan berwarna merah itu, karena ada beberapa orang dengan cedera yang sama.


Anggita pun selesai mandi dia langsung berganti pakaian dengan yang ia bawa seperti biasanya, setelah merapihkan penampilan nya dia keluar dari kamar pribadi nya yang tersedia di ruangan tersebut.


Anggita pun menatap sebuah memo yang ada di ada di dalam boks tersebut, Anggita langsung sadar bahwa itu bukan sarapan pagi yang disediakan oleh pihak rumah sakit, untuk nya melainkan seseorang dari luar yang mengirim itu.


"Sayang aku minta maaf, aku salah karena telah membahas masalalu yang tidak seharusnya aku ungkit lagi kamu boleh marah padaku tapi tidak boleh mengabaikan perut mu dan satu lagi pulang lah selain aku anak-anak juga merindukan mu,I love you"Alvin.


"Apa kamu pikir, hatiku ini adalah mainan, yang bisa kamu permainkan sesuka hati mu"ucap nya dalam hati.


Anggita pun mulai menyuapkan makanan tersebut selain lapar dia juga tidak boleh menyia-nyiakan rejeki yang ada, hingga semuanya tandas Anggita langsung meneguk air mineral dalam botol.


wanita itu pun langsung membuang bekas makanan tersebut. dan duduk sebentar melihat notifikasi pesan dari putri nya yang mengirimkan foto dirinya sedang berada di sofa.


"Mommy sayang kamu nak, kamu harus kuat Mommy ingin Daddy mu mengerti jika hati Mommy tidak bisa dia mainkan"ucap Anggita lirih.


kemudian dia mengirim foto nya dengan tulisan "Mommy, sedang bekerja sayang minta asisten pribadi mu mengantar mu ke sini"ucap Anggita.


Anggita pun kembali membaringkan tubuhnya sejenak di tempat istirahat yang tersedia di ruangan nya, Anggita berencana untuk membuka usaha sampingan, yang nantinya akan dijalankan oleh asisten pribadi nya dia hanya akan mengecek nya sesekali, dia akan membuka apoteker.


Anggita pun terlelap hingga sore hari tidak ada yang berani mengganggu tidur nya karena nanti malam dia kembali ada jadwal kerja, meskipun tidak ada jadwal operasi tapi ada pasien lain yang sudah buat janji dengan nya.


hingga pukul enam sore, Anggita bangkit dengan tubuh yang sudah lumayan bertenaga dia kembali membersihkan diri dan bersiap, untuk kembali bekerja.


saat akan mengambil jas dokter berwarna putih tersebut tiba-tiba pintu ruangan nya terbuka tampak seseorang yang sedang tidak ingin ia temui berdiri di pintu masuk, perlahan tapi pasti dia mendekat sambil membawa kotak makanan dan beberapa paper bag.

__ADS_1


"Sayang kamu masih akan bekerja"ucap Alvin yang bersikap seolah tidak berdosa.


"Aku memang akan bekerja, untuk apa? kamu kemari, apa? ada yang bisa di bantu"ucap Anggita datar.


"Ya, anda benar nyonya Alvin saya sedang butuh bantuan"ucap Alvin.


"Tidak ada nyonya Alvin di sini dia sudah keluar dari rumah sakit"ucap Anggita sambil tersenyum kecut.


"Yang please, setidaknya akui aku sebagai suamimu"ucap Alvin.


"Tidak ada suami, yang pernah mengungkit masa lalu, didepan wanita lain yang mengakui bahwa perasaan itu masih utuh untuk mantan kekasih nya"ucap Anggita.


"Sayang aku tak sengaja aku hanya terbawa suasana"ucap Alvin jujur.


"Tapi itu adalah sebuah kejujuran, maka dari itu sekarang lebih baik kita berpisah saja, kamu bisa tetap bersama dia dan juga kenangan mu itu, aku memang tidak pernah pantas untuk berada di sisi mu"ucap Anggita yang tidak melirik kearah Alvin yang tengah menggenggam gelas di tangan nya hingga hancur saking emosi nya saat ini mendengar kata-kata Anggita yang lagi-lagi mengatakan kata yang sama yang membuat dia benar-benar tersulut emosi.


"Al... kamu itu apa-apaan"ucap Anggita yang hendak meraih tangan Alvin yang bercucuran darah tapi pria itu malah menjauhkan tangannya dan berbalik pergi hingga Anggita mengikuti langkah lebar nya berusaha untuk meraih lengan Alvin hingga di depan ruangan.


"Baiklah pergi itu jauh lebih baik, dengan begitu kamu bebas dan tidak ada lagi gangguan dari ku aku akan menjemput putri ku setelah pulang dari sini"ucap Anggita.


sontak Alvin berbalik dia menunjukkan tangan nya yang terluka ke arah Anggita tetap nya di samping pipi Anggita dengan sengaja.


"Berani kamu menjemput dia, aku akan menjebloskan mu ke dalam ruang bawah tanah"ucap Alvin tegas.


"Kamu keterlaluan!"teriak Anggita, beruntung di sana tidak ada orang.


"Aku,,, keterlaluan Anggita tanya pada dirimu yang keterlaluan itu aku atau kamu, hanya karena kesalahan yang tidak ku sengaja kau bahkan minta bercerai dari ku, apa? itu tidak keterlaluan"ucap Alvin.


Alvin langsung bergegas pergi, tanpa menghiraukan luka nya yang bertambah parah.


Anggita pun langsung merogoh ponsel nya yang sedari tadi berdering di dalam saku jas nya.


"Ya halo"ucap Anggita pelan.


panggil itu berlanjut beberapa detik hingga akhirnya Anggita melepaskan jas nya dan langsung bergegas menuju meja nya membereskan barang-barang nya dan langsung pergi meninggalkan ruangan nya, dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut, terlihat Alvin baru saja pergi dengan tangan yang sudah di balut perban.


Anggita tidak memanggil nya dia langsung keluar dari lobi rumah sakit setelah mengurus beberapa hal seperti biasanya.


sampai di parkiran tatapan mereka bertemu Anggita masuk kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan Alvin yang masih mematung, di samping mobil nya, dia benar-benar kecewa pada Anggita yang bahkan tidak peduli saat melihat tangan nya sudah dibalut dengan perban.


wanita itu pun kembali pulang ke apartemen nya, meskipun hatinya begitu merindukan putri nya dan kedua anak sambung nya tapi wanita itu kembali berfikir, Alvin akan menjaga mereka semua dengan baik.


sesampainya di apartemen dia langsung berjalan menuju kamar nya menyimpan barang-barang nya, dan kembali ke dapur dia ingin mengisi perut nya, meskipun hanya ada makanan ringan karena belum sempat belanja kebutuhan nya untuk di apartemen.


setelah terisi sedikit dia meneguk air putih yang hanya diisi seperempat gelas tersebut.


Anggita langsung bergegas mengambil dompet nya dan berjalan menuju lobi apartemen nya lalu dia kembali ke dalam mobil nya yang terparkir di basement apartemen tersebut.


Anggita melajukan mobilnya menuju super market untuk membeli semua kebutuhan nya, beruntung wanita itu memiliki penghasilan yang tinggi, jadi tidak perlu mengemis pada Alvin untuk sekedar uang belanja, bahkan black card, milik Alvin masih tersimpan rapi di dompet nya, dia akan mengembalikan itu pada Alvin setelah mereka bertemu nanti tapi tidak sekarang.


hingga saat selesai berbelanja semua bahan pokok dan keperluan nya sehari-hari di apartemen wanita cantik yang terlihat seperti gadis belia itu pergi membawa belanjaan nya dengan troli menuju kasir hampir satu troli penuh berisi kebutuhan bulanan nya.

__ADS_1


Anggita pun selesai membayar, wanita itu langsung keluar membawa semua belanjaan nya dibantu pegawai super market tersebut.


hingga berlalu pergi meninggalkan super market itu, hatinya terasa hampa.


__ADS_2