
sore itu Aku baru kembali dari jalan-jalan sore bersama dengan mbak Dinda dan Rosita juga Icha, tiba-tiba saja saat akan pulang ke rumah, perutku mengalami kontraksi.
mereka yang melihat ku kesakitan langsung menghubungi ambulans karena mereka melihat ada cairan bening yang mengalir dari paha ku kebawah kaki.
"AW... sakit!"teriak ku.
"Ariana, kamu sudah kontraksi,oh itu cairan pasti ah cepat panggil ambulans"ucap mba Rosita.
Aku tidak merespon karena terlalu sakit, tapi tiba-tiba ponsel ku berdering dan itu panggilan dari mas Marvin, Mba Icha, langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Pak Marvin buruan kemari, eh maksud saya ke rumah sakit terdekat Mba Ariana akan melahirkan"teriak nya, mas Marvin langsung menutup sambungan telepon tersebut.
Aku langsung dibawa masuk kedalam mobil ambulans yang membawa ku ke rumah sakit bersama dengan mereka bertiga di dalam nya , hingga tiba di rumah sakit aku langsung dibawa ke IGD, tapi kemudian langsung dibawa ke ruang bersalin karena Mba Dinda yang mengurus administrasi.
hingga mas Marvin, datang akhirnya mas Marvin datang dia langsung masuk ke dalam ruang bersalin saat aku tengah dipersiapkan untuk mengejan mas Marvin buru-buru mendekat ke arah ku dan mengecup kening ku, sedikit lebih lama lalu berkata "Yang kuat ya sayang ku, aku sangat mencintaimu dan berjuang lah untuk putra kita ada mas disini bersama mu bersama kalian"ucap nya lembut, sambil mengelus perut ku yang sedang kontraksi.
mas Marvin membacakan doa sambil mengelus perut ku, yang benar-benar sudah sangat sakit.
tidak lama kemudian dokter pun meminta ku untuk menarik nafas dan menghembuskan nya, terus begitu hingga rasa nya ingin buang air besar, tiba aku untuk mengejan, dokter langsung mengintruksikan ku untuk menarik nafas panjang dan tahan hingga terasa ada yang sakit di bagian kewanitaan ku, hingga berulang kali aku melakukan itu terakhir kali aku menjerit saat bayi ku benar-benar keluar lahir dengan selamat.
terdengar suara mas Marvin, mengucapkan syukur"Alhamdulillah, sayang bayi kita sudah lahir terimakasih atas perjuangan mu selama ini yang aku tau tidak mudah,aku sangat mencintaimu,I love you mom"ucap nya lembut.
"Selamat ya tuan dan nyonya Marvin,bayi nya laki-laki sungguh sangat tampan"ucap sang dokter hingga akhirnya, suara bayi itu menangis dengan sangat kencang.
bayi tampan itu di telungkup kan di dadaku,aku sangat terharu begitu juga dengan mas Marvin, dia menangis sesenggukan sambil menyentuh bayi tampan kamu.
"Alvin Alexander, selamat datang di dunia ini sayang Daddy sangat bahagia bisa memiliki mu"ucap mas Marvin yang langsung mengumumkan suara adzan di kuping Alvin.
suasana haru itu terasa kentara di dalam ruangan itu, pasalnya dokter yang menolong ku bersalin, dia baru saja kehilangan bayi nya, karena sakit, terlihat dari tetesan air bening dari pelupuk mata nya.
"Dokter, semoga dokter secepatnya mendapatkan momongan lagi"ucap sang asisten.
"Amiinn yrbl alamin" ujar kami semua, dokter itu kemudian tersenyum meski pun kesedihan itu sangat kentara.
setelah selesai di jahit dan di bersihkan aku pun dibawa ke ruang rawat inap, bersama dengan putra kami yang tampan itu, sementara ibu-ibu rempong yang tadi mengantar ku entah pergi kemana.
Mas Marvin pun kini terus menggenggam tangan ku, sambil sesekali mengelus pipi Alvin yang sungguh sangat menggemaskan.
"Mas, aku laper"ucap ku.
"Tunggu sayang mas tanya dokter dulu"ucap mas Marvin, tapi tiba-tiba suster datang membawa makanan untuk ku dengan obat dan vitamin, mas Marvin pun langsung mengambil alih lalu menyuapi aku yang begitu lahap saat ini entah kenapa? aku begitu lapar, mungkin karena sudah mengeluarkan banyak tenaga.
"Sayang pelan-pelan jika masih kurang mas akan minta restoran kita bawa semua makanan nya itu kemari"ucap mas Marvin.
"Mas aku sangat laper"ucap ku lagi.
"Iya sayang mas tau, ayo makan dan habis kan agar kamu cepat menyusui bayi kita"ucap nya.
"Daddy nya udah gak doyan nih"goda ku.
"Daddy akan mengalah demi jagoan Daddy"ucap mas Marvin,sambil tersenyum manis.
"Aduh yang sedang bahagia hingga lupa dengan kami disini"Ucap. ketiga pasangan yang baru datang sambil membawa beberapa kado, sementara suami mba Icha seakan ketakutan saat melihat kami mungkin takut di laporkan sama mba Icha tentang kelakuan nya.
__ADS_1
tapi tiba-tiba dokter tadi masuk ke yang tadi menolong persalinan ku masuk dia begitu kaget, saat melihat pria yang ternyata adalah suaminya, bersama dengan wanita lain, yang ternyata adalah suami mba Dinda juga.
sebagai seorang wanita apalagi sebagai seorang istri mungkin dia merasa sangat kecewa, tapi balik lagi disini dia harus bersikap profesional, akhirnya mba Dinda menggendong putra kami untuk menepis kecanggungan diantara kami.
Dokter Dinda, pun memeriksa ku, sambil sesekali melirik ke arah suaminya yang terlihat salah tingkah itu.
setelah selesai memeriksa kondisi ku, dokter pun berlalu sambil berkata "Mas temui aku di ruangan ku"ucap Dokter Dinda .
ternyata dokter Dinda, tidak pernah menginginkan kehadiran mba Dinda di muka umum bersama dengan suaminya, itu, mas Aryan pria tampan itu,entah apa? yang kurang dari Dokter Dinda, hingga dia itu akhirnya menikah dengan mba Dinda, dua wanita yang berbeda dengan nama yang sama, mengisi kehidupan satu orang pria.
Mas, Aryan pun mengecup puncak kepala mba Dinda yang terpaksa harus dia tinggal kan karena harus mengikuti ratu pertama di hati nya, dan mba Dinda terlihat menahan rasa sedih dan rasa malunya saat ini.
"Mba, bagaimana putra ku tampan bukan"ucap ku memecah keheningan, dan akhirnya Ema ber daster itu kembali heboh begitu juga dua orang lain nya.
mereka bergantian menggendong bayi kami sementara mas Marvin, terus mengecup seluruh wajah ku dan mengecup tangan ku dan memeluk ku hingga mereka merasa iri melihat kami.
akhirnya mereka pun pamit dan mas Marvin pun merebahkan diri di samping ku tepat di samping bayi kami yang ada di dalam boks bayi hingga pagi hari tidur kami begitu nyenyak karena bayi kami juga anteng hanya sesekali terbangun untuk mengganti popok bayi kami.
hingga keesokan harinya aku sudah diperbolehkan pulang karena kondisi ku sudah membaik dan mas Marvin juga sudah menyiapkan semua nya, di rumah juga sudah ada baby sitter yang akan membantu mengurus putra ku hingga aku benar-benar sudah membaik dan bisa beraktivitas seperti biasanya.
mas Marvin seperti biasa menjadi suami siaga untuk ku dan juga putra kami.
🌹💖💖💖🌹
Setiap hari setiap kali pulang kerja mas Marvin selalu membawa oleh-oleh untuk ku dan juga putra kami, berbagai macam jenis mainan , mulai dari robot limited edition dan juga berbagai mainan lain nya, dia ingin sekali putra kami segera bisa memainkan semua mainan tersebut, tapi apa boleh buat putra kami bahkan baru berusia satu bulan.
Aku tidak pernah melarang mas Marvin membeli apapun untuk anak kami karena itu adalah bentuk kasih sayang nya untuk putra nya.
"Mas, aku sudah baik kan bagaimana jika baby sitter nya diberhentikan saja, dan beri upah yang lebih, karena aku juga sudah sanggup mengurus putra kita sendiri"ucap ku pada mas Marvin.
cukup BI Ijah saja pembantu setia kami yang akan membantu kami sesekali menjaga putra kami saat kami sedang ada urusan mendadak, lagi pula wanita itu sudah seperti ibu sambung bagiku selama ini.
dia selalu setia menjaga ku dalam keadaan sehat maupun sakit, seperti dulu berkali-kali aku pernah lupa dengan semua nya, wanita paruh baya itu pun selalu setia menemani ku.
akhirnya mas Marvin pun memberhentikan baby sitter kami dan memberi nya upah yang banyak hingga tidak ada yang keberatan dengan pemberhentian tersebut.
"Mas, Alvin sudah lumayan berat gerak nya juga semakin lincah"ucap ku sambil menimang putra ku yang semakin menggemaskan itu, dia juga sudah tersenyum seakan sudah mengerti saat kami berbicara tentang dia.
"Sayang Daddy memang jagoan, tubuh lah dengan sehat dan kuat sayang ku, Daddy berharap suatu saat nanti kamu bisa menjadi anak yang berguna dan sayang keluarga"ucap Marvin.
"Tubuh lah sehat dan gagah seperti Daddy, dan tetap lah menjadi pria sejati yang begitu setia seperti Daddy mu yang sangat mencintai dan sangat setia pada mommy"ucap ku, sambil sesekali melirik mas Marvin.
"Sayang aku tak sebaik itu, bahkan disaat kau menjauhi ku, aku pernah menyentuh wanita lain meskipun wanita nakal"ucap mas Marvin yang membuat ku, mematung untuk sejenak tapi sedetik kemudian,aku tersenyum kecil, aku harus terima kejujuran mas, Marvin meskipun rasanya sangat sakit, tapi dia begitu juga karena aku, dan jika aku tidak lupa dengan suamiku pun mungkin saat itu dia tidak akan pernah menghianati ku.
"Tidak apa-apa mas, aku maafkan, kamu laki-laki normal, aku maklum dan jika kedepannya aku ada masalah pun aku tidak akan melarang mas, untuk menikah lagi, setidaknya kamu bicara dulu baik-baik dan ceraikan aku"ucap ku.
"Ariana! jangan pernah katakan itu, aku tidak ingin mendengar nya, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukan itu"ucap mas Marvin tegas.
Aku kembali terdiam sambil menyusui putra ku, dia begitu lahap, meminum ASI eksklusif dan tidak lama usapan lembut itu aku rasakan dari tangan mas Marvin, pria itu bahkan meminta maaf pada ku.
"maafkan mas Sayang, mas tidak sengaja"ucap nya.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk aku tau kesetiaan mas Marvin di atas segala nya, jika pun itu terjadi dia hanya sedang khilaf, dan satu hal yang pasti mas Marvin, akan menepati janji nya untuk tetap setia.
__ADS_1
kami pun makan siang bersama di meja makan, sementara Alvin di jaga oleh BI Ijah, kami akan bergantian makan nanti.
"Sayang mau nambah"ucap mas Marvin.
"Tidak mas sudah kenyang"ujar ku.
"Tumben ibu-ibu rempong itu tidak kemari" tanya mas Marvin.
"Mereka sedang ada masalah mas, apa lagi mba Dinda, yang saat ini tengah terancam diceraikan hanya karena waktu kita di rumah sakit waktu itu"ucap ku.
"Bilang saja,sama si Dinda ceraikan saja, nanti mas kenalkan sama temen bisnis mas yang baru saja ditinggal istri nya"ucap mas Marvin, entah sejak kapan suamiku peduli dengan orang lain.
"Mas, gak lagi bercanda bukan?"tanyaku meyakinkan.
"Tidak malah jika si Icha sama si Rosita mau teman mas yang tajir melintir masih banyak, ya meskipun mas tetap paling kaya diantara mereka"ucap nya sambil tersenyum.
"ih... sombong"ucap ku sambil mengusap pipi suamiku yang semakin tampan itu.
"Fakta sayang ku"ucap nya.
"Iya diaminkan saja, semoga berkah"ucap ku.
"Tentu dong sayang"ucap nya sambil mengecup ku.
"Mas, masih makan"ucap ku .
"Iya tau Sayang, tidak apa-apa, lezat ko"ujarnya.
hingga kami selesai makan obrolan kami terputus karena suara tangis Alvin yang begitu nyaring dan mas Marvin langsung menggendong putra kami, dan Alvin langsung diam seakan dia memang merindukan Daddy nya itu.
hingga kedatangan mba Dinda, yang tengah menangis di pelukan mba Icha yang juga sama-sama menangis.
"Kalian kenapa?mba"tanya ku.
"Mba Dinda sudah ditalak dan dia juga di usir dari rumah nya, sementara aku Ariana hiks hiks hiks, aku diselingkuhi hiks hiks hiks" ucap mba Icha sementara mba Dinda hanya menangis dalam diam.
Aku meminta waktu sama mas Marvin, saat ini dan dia mengerti dia membawa Alvin masuk ke dalam kamar kami.
sementara bi Ijah aku minta untuk buatkan minum untuk mereka berdua, saat ini posisi ku berada di antara mereka, menenangkan keduanya.
"Mba Dinda, tidak usah menangis bersyukur lah jika mba benar-benar diceraikan oleh dia dan sebagainya Mba tinggal di sini untuk sementara waktu, dan untuk mba Icha sebaiknya mba Icha gugat cerai suami mba karena aku dan mas Marvin juga sudah pernah melihat dia bergandengan mesra dengan wanita itu, itulah kenapa? suami mba Icha tidak terlalu suka saat bertemu dengan kami"ucap ku menjelaskan.
"Ariana, mba akan pulang ke panti saja, soalnya mba tidak ingin merepotkan mu"ucap mba Dinda.
"Din, boleh aku kasih saran"ucap mas Marvin yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan kami.
"Apa pak Marvin"tanya nya.
"Kamu ceraikan dia dan tetap disini, aku punya rekan bisnis yang tajir jika kamu mau dia sendiri duda anak satu istrinya baru saja meninggal dan aku akan mengenalkan kalian berdua"ucap mas Marvin.
"Tapi mas, apa tidak terlalu cepat"ucap ku.
"Tidak sayang dia juga sedang mencari ibu untuk putri nya yang baru berusia lima tahun"ucap mas Marvin.
__ADS_1
"Aku pasrah saja Ari, lagipula aku juga sudah tidak punya siapa-siapa"ucap mba Dinda.
"Heummm"