Sang Penari

Sang Penari
#Agatha sudah tiada#


__ADS_3

Kini gadis itu sudah berada di dalam kamar, dia menatap ke sekeliling ruangan dimana semua masih sama seperti dulu, Agatha, duduk termenung di sana.


Agatha, seakan menjadi gadis yang pendiam.


Anggita memperhatikan putri nya sebelum dia masuk ke dalam kamar tersebut, dia merasa bahwa ada perubahan besar pada putrinya saat ini, Anggita merasa kehilangan putri nya yang begitu ceria dan bahagia, meskipun dalam keterbatasan daya ingat nya, tapi sekarang gadis itu tampak lebih dewasa dan terlihat seakan jauh dari kata cerai.


Anggita masuk kedalam kamar, dimana kini Agatha tengah duduk termenung.


"Sayang boleh Mommy masuk?"pertanyaan itu, terlihat membuat Agatha, terkejut, tapi kemudian dia menetralkan ekspresi wajah nya.


"Ehh, mom, masuk lah"ucap Agatha.


"Agatha, sayang mommy minta maaf, jika selama ini, mommy tidak mengunjungi mu, Opah, bilang mommy, harus membiarkan mu, mandiri"ucap Anggita.


"Tidak usah merasa bersalah mom, aku baik-baik saja kan mom"ucap Agatha terlihat lebih santai.


"Kamu benar sayang, mommy yang selalu mencemaskan mu, tapi ternyata putri mommy, baik-baik saja dan terlihat lebih dewasa"ucap Anggita, sambil menitikkan air mata, dulu disaat Agatha, bertingkah seperti bocah, dia ingin melihat Agatha, cepat tumbuh dewasa tapi saat ini, saat Agatha, tumbuh menjadi gadis dewasa, ada rasa sakit dihatinya, karena saat proses itu terjadi, Anggita bahkan tidak pernah bisa berada di sisi nya, padahal masa itu adalah masa-masa tersulit untuk nya.


"Sayang, apa? kamu ingin merubah suasana kamar nya mommy bisa minta ahlinya langsung"tanya Anggita.


"Tidak mom, biarkan saja tetap seperti ini, boleh? aku tidur bersama dengan mommy dan Daddy"tanya Agatha.


"Tentu saja Sayang ku, mommy sangat merindukan saat-saat itu, putri ku"ucap Agatha yang akhirnya Air mata nya tumpah juga, saat ini.


"Mom, aku sangat merindukan mu"ucap Agatha.


"Mommy lebih merindukan mu, sayang tapi mommy, tetap fokus pada kesebuah Daddy, hingga Daddy, cepat sembuh seperti saat ini"ucap Anggita.


"Mommy, memang Dokter terhebat Agatha ingin menjadi seperti mommy, tapi sepertinya Agatha, tidak akan berhasil untuk itu, Agatha tidak akan lanjutkan kuliah"ucap Agatha, perkataan nya menggantung.


"Mommy, tidak akan memaksa Agatha, untuk kuliah, yang penting kamu tetap baik-baik saja itu sudah cukup sayang"ucap Anggita tetap menyemangati putri nya, seperti dulu.


"Agatha, mau jadi dokter spesialis anak saja mom"ucap Agatha.


"Heumm, putri mommy, apapun itu, mommy akan tetap dukung"ucap Anggita.


"Ayo kita ke kamar mommy sayang"ucap Anggita.


"Baiklah mom, mommy duluan saja, Agatha mau nunggu kak, NATO dulu"ujar Agatha.


"Kakak tidak pulang, sekarang dia sedang ada jadwal operasi"ucap Agatha.


"Baiklah, Agatha, langsung kesana bareng mommy"ucap Agatha.


Gadis itu pun berjalan mengikuti langkah sang mommy, yang kini terlihat membawa air mineral, didalam botol kaca itu.


Sesampainya di depan pintu kamar, Agatha pun masuk, dia melihat ayahnya tengah sibuk dengan laptop nya.


"Apa? Daddy masih bekerja"tanya Agatha yang langsung membuat Alvin, menyimpan laptop nya itu.


"Sayang nya Daddy, Daddy kira sudah bobo" ucap Alvin.


"Belum Daddy, aku kangen tidur bareng kalian"ucap Agatha.


Agatha, pun langsung naik ke atas ranjang nya dan berbaring di samping Alvin dan Anggita.


"Tidur yang nyenyak sayang mommy akan terus menjaga mu bersama dengan Daddy"ucap Anggita.


"Heumm, Agatha, sayang kalian"ucap gadis itu yang merangkul lengan keduanya.


Agatha, pun mulai memejamkan mata nya.


Keesokan paginya, mereka sudah terbangun secara bersama-sama, dan Agatha pun pamit pada kedua orang tua nya untuk melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


"Sayang jika ingin bobo lagi tidak usah pergi ke kamar mu, disini juga tidak akan ada yang menggangu, mommy tau kamu masih sangat lelah setelah perjalanan jauh"ucap Anggita.


"Tinggal sedikit lagi, mom"ucap Agatha.


"Baiklah Sayang, terserah kamu saja"ucap Anggita.


Agatha pun terus berjalan, menuju kamar nya, sesampainya di sana, dia kembali merebahkan diri di atas ranjang empuk.


Agatha masih duduk di kursi tunggu rumah sakit itu, sudah dua hari sejak kepulangan nya itu.


Agatha, ingin bertemu dengan sang kakak, NATO, karena pria itu tidak pulang, entah seberapa besar tanggung jawab atas pekerjaan yang dia lakoni hingga tidak sempat untuk pulang.


Dan saat Agatha, berbalik dia benar-benar kaget, karena Alexander, sudah berada di hadapan nya, pria itu hendak meraih Agatha.


"Yang, aku benar-benar minta maaf, aku sangat mencintaimu, sumpah yang, aku terpaksa menikah dengan dia"ucap Alex.


Agatha, pun berbalik hendak pergi, tapi kemudian Alexander, menarik pergelangan tangan Agatha, membawa nya kedalam dekapannya.


Tapi tanpa di duga oleh Alexander, Agatha, bisa melepaskan diri begitu saja.


Gadis, yang tidak berkata apa-apa itu pergi begitu saja, saat Alexander, tengah kesakitan.


Karena, Agatha telah memelintir jemari tangan nya.


"Yang.... jangan pergi, aku mohon aku janji akan tetap setia pada mu"ucap Alexander yang hendak mengejar nya, tapi Agatha, sudah menghilang lebih dulu.


NATO, yang keluar hendak menemui sang adik pun kini, hanya bengong karena Agatha sudah tidak ada di sana.


"Kemana? kamu sayang, maafkan kakak bila terlalu lama"ucap NATO, bicara sendiri.


Sementara itu, di kantin yang sudah dua hari ini tutup, seseorang memasukkan barang-barang, yang seharusnya diberikan kepada NATO, Rosella, tidak mau datang ke rumah sakit, setelah pertengkaran hebat antara dirinya dengan NATO, dan suster Nara.


Rosella, benar-benar tidak ingin bertemu dengan, NATO, baginya sudah cukup semua bukti yang menunjukkan bahwa mereka, punya main di belakang.


Rosella, selalu merasa terhibur, meskipun mereka begitu jauh berbeda, bahkan dari segi usia, dan ternyata dokter Randi, juga memperlakukan istrinya, layaknya seorang sahabat, karena mereka itu sama-sama humoris.


Rosella, kini tengah berada di rumah dinas milik dokter Randi, bisa dibilang rumah dinas, itu karena rumahnya mereka berada di luar kota dan mereka jarang tinggali, karena keduanya harus bekerja di rumah sakit yang sama meskipun di tempat yang berbeda.


Mereka selalu, dituntut untuk selalu ada di setiap saat.


Rosella pun pamit setelah ia mengantarkan pesanan, saat dia hendak keluar pagar rumah tersebut NATO, sudah berdiri di hadapan nya, pria itu menatap Rosella dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


"Maaf, anda menghalangi jalan saya dokter"ucap Rosella.


NATO langsung menarik tangan Rosella, dia membawa gadis itu kedalam mobil sport nya.


...🌸...................🌸...


NATO, melaju kan mobil nya dengan kecepatan tinggi, dia tidak peduli dengan Rosella yang berteriak menjerit-jerit, dan kini ingin menghentikan mobilnya dengan menggenggam tangan NATO.


NATO, menghentikan mobilnya di basement apartemen, dia pun langsung melepaskan seat belt, NATO, turun lebih dulu,lalu membuka pintu mobil yang anda di sebelah gadis, yang terlihat gemetaran, hingga tidak mampu untuk bergerak.


NATO langsung mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style.


NATO, berjalan menuju lobby apartemen, dan langsung masuk kedalam lift, menuju lantai lima belas, gedung apartemen tersebut dimana unit nya berada.


Sesampainya di sana dia langsung menempel kan sidik jari nya dan pintu pun terbuka dengan sendirinya.


"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini, ini rumah kita dan beberapa hari lagi, kita akan segera menikah."ujar NATO tegas.


"Dokter, tidak bisa mengatur hidup ku, seenaknya, aku tidak mau terjebak dalam rumah tangga yang seperti neraka, karena suaminya, memiliki wanita lain."kata Rosella.


"Aku tidak punya wanita lain yang, kamu harus nya, mikir jika aku, memiliki hubungan dengan dia, aku tidak akan terus mengejar cinta mu yang"ucap NATO, yang kini berjongkok di hadapan Rosella.

__ADS_1


"Itu hanya belas kasihan, bukan cinta, kamu, hanya merasa iba padaku benar bukan?"ujar Rosella.


"Yang, aku, tidak tau lagi harus berkata, apa tapi yang jelas saat ini, kita akan tinggal di sini.


Sementara itu di lain tempat, Agatha tengah berada di, sebuah cafe bersama dengan Alexander, yang terus mengejar nya, Agatha sudah lelah menghindari nya.


"Apa? mau mu, tuan muda Alexander"tanya Agatha.


"Yang, jangan panggil aku seperti itu, please Agatha, aku lebih suka kamu yang seperti dulu selalu bersikap manja padaku"ucap Alex.


"Agatha, Sudah tiada, tuan Alex, bersamaan dengan, hari dimana kau menghianati nya"ucap Agatha.


"Yang please, jangan berkata seperti itu lagi, semua itu keinginan kedua orang tua ku, bukan aku, aku sangat mencintaimu, jika saja saat itu dia tidak menipu kami, dengan mendonorkan jantung milik orang lain"ucap Alexander.


Agatha, termenung sejenak, kemudian dia menatap Alexander, mencari kebenaran dari sementara tidak ia temukan kebohongan di sana.


"Kau sudah menikah dengan nya, maka lanjutkan saja, tidak ada salahnya suatu hari nanti kamu, akan jatuh cinta padanya, aku sudah tidak lagi berharap punya pasangan"ucap Agatha.


"Sayang.... kamu, tau saat itu juga aku sudah menceraikan nya, dan hingga sekarang aku tetap sendiri"ucap Alex.


Agatha, hanya tersenyum kecil, dia tidak perduli pria itu, sudah sendiri atau belum, karena rasa sakit itu masih membekas di hati Agatha, gadis itu ingin melupakan semua kenangan buruk itu.


Agatha, pun beranjak dari duduknya, dia hendak pergi setelah menyelipkan uang di bawah gelas, untuk membayar minuman nya.


"Yang, mau kemana? kita belum selesai bicara, please jangan pergi, yang!"ujar Alex sedikit berteriak, beruntung itu adalah cafe, Yunho, yang dulu sering mereka kunjungi.


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan tuan Alex, jadi saya permisi undur diri"ucap nya sambil beranjak pergi.


Alexander, langsung menghalangi jalan yang akan Agatha lalui, dia langsung memeluk Agatha, yang hanya berdiri, dan tak membalas, pelukan itu.


"Yang, aku janji, kita akan segera menikah, aku akan menebus semua kesalahanku, please, jangan tinggalkan aku"Alex, terus memohon, Air mata nya menetes membasahi punggung Agatha, ada penyesalan yang begitu besar yang Alexander tunjukkan, dan itu membuat Agatha, dilema.


Jika boleh jujur, Agatha pun merasakan rindu yang teramat sangat, tapi dia selalu berusaha menepis nya, karena rasa bencinya lebih dominan ketimbang rasa rindu.


"Penyesalan, memang selalu datang belakangan, tapi maaf kak, aku sudah memutuskan untuk tetap sendiri, aku tidak punya kekuatan untuk menahan luka, yang ditimbulkan oleh rasa cinta aku, bukan wonder girls, aku bahkan sudah berjuang untuk melupakan rasa sakit itu, sebaiknya kakak, cari wanita yang tepat untuk mendampingi kakak, aku yakin ada jodoh terbaik untuk mu, suatu hari nanti."ucap Agatha.


Gadis itu pun berusaha melepaskan pelukan Alex, yang begitu erat, Agatha pun pergi tanpa menoleh ke arah pria yang kini menatap kepergian nya.


"Agatha, sayang... aku berjanji akan kembali membuat mu, jatuh cinta pada ku lagi, dan sampai saat itu, terjadi aku akan langsung menikahi mu"ucap Alexander, yang sempat membuat Agatha, menghentikan langkahnya saat itu juga.


Agatha, pun pergi meninggalkan cafe, tersebut, gadis itu pergi menggunakan taksi, tetes air mata, dari sudut mata nya membasahi pipinya, menandakan bahwa rasa sakit itu begitu besar, jika mengingat, luka itu bahkan hampir saja, membuat dia kehilangan nyawa nya, dan juga teman nya, dan tato yang menempel di perut bagian bawah nya, adalah, bukti dari semua luka, yang Alexander torehkan.


Sesampainya di Mension, Agatha langsung masuk kedalam kamar nya, dia tidak melihat kanan kiri, ada keluarga yang kini menatap kepergian nya.


Entah apa? yang akan mereka katakan tentang dirinya jika saja mereka tau bahwa Agatha, juga memiliki tato di tubuh nya.


Sesampainya di dalam kamar, Air mata Agatha kembali pecah, tapi jika dulu dia, akan meraung-raung saat menangis, kini dia menangis tanpa suara.


Hanya Air mata, yang mewakili tangis kepedihan nya.


Agatha, pun menatap kearah jendela kamar nya, bayangan tentang kebersamaan antara dirinya, dan Alex, terus bermunculan,satu persatu kenangan terindah itu muncul saat, dimana Alexander, selalu memanjakan dirinya, hingga dia meminta Yunho, menyiapkan es krim, tidak hanya itu, dia selalu melindungi Agatha, yang polos, sekuat tenaga, saat Agatha sedih dan terluka,maka Alexander, akan ada bersamanya.


Tapi kini Agatha, yang lugu dan ceria itu sudah pergi gone, ditelan penghianatan.


Agatha, mengusap air mata nya, bersama dengan kedatangan Alvin, yang kini menggunakan kursi roda, pria tampan, yang merupakan cinta pertama Agatha, itu sudah ada di belakang, anak gadis nya.


"Sayang, darimana saja, Daddy sudah mencari mu, sedari pagi"ujar Agatha.


"Daddy, aku tadi pagi pergi jalan-jalan, hingga hampir tersesat"ucap Agatha yang berbalik dan tersenyum.


"Sayang, kamu habis menangis, ceritakan pada Daddy, siapa? yang sudah menyakiti putri Daddy yang cantik ini, putri kesayangan Daddy, tidak boleh disakiti oleh siapapun"ucap Alvin, yang memeluk putri nya yang kini berjongkok di hadapan nya.


"Tidak ada, Daddy, Agatha hanya teringat masa lalu, yang bahagia bersama mommy dan Daddy, Agatha, hanya rindu masa itu"ucap Agatha lembut.

__ADS_1


"Maaf kan Daddy"


__ADS_2