
keesokan paginya, aku sudah berada di dapur setelah aku menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslim.
Aku memasak untuk sarapan pagi bersama yang terakhir kali nya sebelum Marvin kembali ke sisiku.
pagi ini aku ingin membuat makanan yang spesial buat Marvin, itungitung sebagai balas Budi karena selama ini pria itu sudah sangat menjaga ku dari dunia yang tidak seharusnya aku berada di sana di usia ku yang baru sembilan belas tahun.
"Sayang kamu sedang apa?"aku terkejut saat tiba-tiba Marvin, memeluk ku dari belakang pelukan hangat yang baru kali ini aku rasakan, jika kemarin ada yang memelukku mungkin karena pelukan penuh nafsu, yang ingin menjamah tubuh nya.
tapi kali ini Marvin, bahkan memeluk ku dengan pelukan penuh kelembutan dan terlihat ada rasa yang tersembunyi dari sorot mata nya.yang biasanya pria itu akan kehilangan kesabaran nya, jika aku menolak atau berbicara yang tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Kamu ko diam sayang"ucap Marvin padaku.
"Aku sedang membuat sarapan pagi untuk kita, apa? ingin aku buatkan kopi"ucap ku lembut.
"Aku ingin sarapan ini terlebih dahulu"ujarnya sambil meraih bibir ku ,aku pun berbalik dan membalas ciuman itu, tanpa menghiraukan Jika ada asisten Marvin di sana.
ciuman itu, terasa sangat berbeda dan penuh rasa cinta, hingga tangan itu bergerilya di bagian punggung dan pinggang ku, tapi kemudian aku menghentikan itu.
"Vin aku janji aku akan memberikan itu, saat kamu kembali nanti, saat itu usia ku,dua puluh tahun lebih"ucap ku lembut memberikan pengertian.
"Tentu saja sayang aku akan menunggu hari itu tiba, jangan nakal sayang saat aku tidak ada nanti"ucap Marvin sambil kembali mencium bibir ku.
"Aku janji hanya ada Tuan Marvin, yang ada di sini dan tidak akan ada pria lain"ucap ku sambil tersenyum.
Marvin pun mengecup puncak kepala ku, serasa ada ikatan di antara kita meskipun diantara kita tidak pernah ada hubungan resmi atas sebuah pernyataan aku hanya boneka bagi Marvin, dan selamanya aku harus terima itu.
akupun sudah membuat kopi, yang sesuai dengan selera Marvin ,aku melihat pria itu duduk di sofa dekat TV, tidak biasanya dia menyalakan TV tersebut dan sekilas aku melihat berita tentang seorang pengusaha sukses dan seorang model cantik akan segera menikah dan rencana pernikahan mereka akan diadakan di Paris, penguasa sekaligus pengusaha sukses itu, akan melangsungkan , pernikahan nya dengan tunangan nya.
Marvin langsung mematikan TV, seketika itu juga saat menyadari kehadiran ku, tapi aku berpura-pura tidak melihat itu.
"Sayang jika aku tidak ada disini, ingat jangan melihat berita yang tidak-tidak dan jangan pernah membuka sosial media"ujarnya.
"Iya"jawab ku lirih.
Aku kembali ke dapur, untuk meneruskan membuat sarapan pagi kali ini aku membuat sup jamur dan juga sandwich isi tuna setelah selesai aku menghidangkan sup tersebut dengan roti yang sudah aku siapkan begitu juga dengan sandwich isi tuna tadi.
akhirnya semua sudah terhidang di meja.
"Liliana, turun de sarapan pagi nya sudah siap"ucap ku sedikit berteriak.
"Yang biarkan dia nanti sekolah nya juga tidak sepagi ini juga kan"ucap Marvin, dan aku hanya mengangguk.
"Baiklah silahkan di nikmati sarapan pagi nya"ucap ku yang mengambil sup jamur dan roti kering tersebut.
"Eum... masakan mu, selalu enak ya, bukan hanya pintar menghibur orang, tapi juga bisa membuat pria yang ada di hadapanmu ini benar-benar tergila-gila dengan masakan mu"ucap Marvin.
"Aku terdiam, mendengar kata menghibur itu seakan ada benda keras yang menghimpit jantung ku, yang kini terasa sangat sesak,aku hanya bisa menahan air mata, saat ini karena aku tidak ingin Marvin berpikir bahwa aku, saat ini tengah membantah dirinya.
"Sayang kamu kenapa?"tanya nya.
Aku hanya tersenyum di paksakan saat ini agar dia tidak terus bertanya-tanya, dan aku pun langsung menjawab pertanyaan nya.
"Aku hanya sedang rindu Mami ini adalah masakan yang selalu dia siapkan untuk ku"jawab ku singkat.
"Heummm, berdoalah, biasanya juga begitu"ucap nya.
"Sudah semoga aku dan Mami bisa segera kembali berkumpul di surga"ucap ku.
Dia langsung menatap tajam kearah ku, seketika itu, tiba-tiba saja Marvin berdiri, tapi kemudian dia kembali duduk karena aku meraih tangan nya dengan lembut.
"Yang jangan marah ayo lanjutkan sarapan nya oke"ucap ku.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi"ucap Marvin sambil menatap ku.
akupun tersenyum manis sambil mengangguk.
Marvin meneruskan sarapan nya, hingga selesai, setelah itu aku langsung menyiapkan jas miliknya dan Air, hangat untuk dia mandi.
setelah selesai aku pun langsung memberitahu itu padanya.
__ADS_1
"Yang Air nya sudah siap"ucap ku sambil pergi hendak ke kamar adikku.
kulihat Liliana, masih berbaring, gadis kecil itu, ternyata tengah tidak enak badan, dan aku langsung menelpon gurunya untuk meminta ijin, sakit untuk Liliana.
"Yang kamu sedang apa? "ucap Marvin yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Liliana.
"Adikku sakit, aku akan bawa dia ke dokter setelah kamu pergi nanti"ucap ku.
Marvin langsung mendekat lalu kemudian meraba kening Liliana.
"Dia benar-benar demam tinggi, aku akan memanggil dokter"ucap Marvin.
"Terimakasih"ucap ku sambil berjalan memberikan Liliana minum.
"Kamu tunggu dulu ya ,kakak ngurus kak Marvin dulu, setelah itu kakak buat kan kamu bubur"ucap ku.
"Sayang ada pembantu di rumah ini, kamu hanya harus fokus dengan urusan mu"ucap Marvin yang terlihat kesal akhirnya, aku pun memanggil asisten rumah tangga ku yang baru datang selama dua hari lalu, yang saat ini aku tugaskan untuk membersihkan rumah.
"BI tolong buatkan bubur, untuk Liliana ya"ucap ku.
"Baik non"ujar nya sambil pergi, sementara itu aku pergi mengikuti Marvin, sementara waktu Liliana ,di jaga oleh asisten pribadi Marvin.
"Yang aku ingin mandi bareng"ucap pria itu tanpa dosa.
"Aku sudah mandi, begini saja aku bantuin menggosok punggung mu ya"tawar ku lembut.
Marvin langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi,aku mengikuti nya, setelah memastikan pria itu masuk kedalam bathtub.
"Ariana" mau sampai kapan kamu terus disitu"ucap Marvin.
"Baiklah"jawab ku yang langsung menghampiri nya dan meraih sampo dan juga sabun, aku menyimpan keduanya di samping bathtub.
hingga ku bubuhkan sampo itu di telapak tangan ku aku pun mulai membantu Marvin, sampo yang sudah berbusa banyak di kepala Marvin itu, aku pun memberikan pijatan lembut di kepalanya, hingga dia menikmati itu setelah itu aku langsung memberikan sabun dan langsung menggosok punggung Marvin yang mulus itu, tidak ada tato apapun di tubuhnya itu, hingga membuat aku heran benarkah dia adalah seorang penguasa seperti yang ada di novel-novel seperti yang aku baca setiap waktu.
🌸 ................................... 🌸
"Hati-hati di perjalanan, ini semua sudah selesai"ucap ku sambil memberikan tas selempang khusus pria itu.
"Ariana"ucap Marvin sambil menatap kearah ku.
"Apa..."jawab ku lembut.
"Aku merindukan mu"ucap nya.
"Kenapa? seperti itu, bukan nya kamu ada di sini saat ini"ucap ku.
"Hanya saat ini saja, setelah aku pergi jangan menghubungi ku, jika kamu mendapatkan masalah segera hubungi asisten pribadi ku, karena aku akan sangat sibuk dan tidak punya waktu"ucap nya, sambil terus menatap wajah ku.
"Aku mengerti tidak masalah, terimakasih atas semua nya, semoga Allah membalas semua nya"ucap ku sambil menatap lekat kearah wajah nya.
"Membalas nya cukup patuh pada ucapan ku"ucap Marvin, dan aku hanya mengangguk.
pria itu langsung memeluk dan mencium ku, dengan sangat lembut penuh makna, entah apa? yang sebenarnya dia rasakan saat ini, antara cinta atau hanya pelampiasan, aku bahkan tidak tau tapi yang aku tau, saat ini adalah aku merasakan sakit, seakan tak ingin ditinggal pergi, apalagi kepergian nya, untuk menikah dengan tunangan nya itu.
hingga dia melepaskan ciuman itu, dia kembali memeluk ku, dan mengecup puncak kepala ku, dia pergi dengan langkah seakan tak ingin pergi meninggalkan ku.
hingga dia benar-benar menghilang dari hadapan ku, tepat satu minggu setelah kepergian nya, kecelakaan itu terjadi, adikku yang malang harus meregang nyawa, setelah sebuah mobil menabrak nya hidup ku benar-benar hancur aku bahkan tidak bisa menjaga satu-satunya amanat mami untuk menjaga adikku itu, tepat di pangkuan ku, adikku menghembuskan nafas terakhir nya.
"Liliana!"teriak ku sambil memeluk adikku yang berlumuran darah.
semuanya kini seakan runtuh, aku tidak lagi memiliki pegangan hidup, tidak ada siapapun lagi tempat aku berbagi selain pada sang pencipta.
Aku dibantu oleh orang-orang yang ada tidak jauh dari gerbang sekolah adikku itu membawa nya kerumah sakit, tapi Liliana benar-benar sudah tidak ada lagi, bahkan ibu tiri ku pun seakan tak peduli saat aku mengabarkan kematian Liliana, wanita itu bahkan tidak datang ke pemakaman tersebut.
Aku, berusaha berdiri, setelah hampir dua jam lebih menangis di pemakaman Liliana yang masih basah dengan tanah berwarna merah, tidak ada siapapun di sana aku benar-benar sendirian.
"Liliana, sayang maafkan kakak, saat ini kakak juga tidak tau harus apa? semoga Allah membuat mu bisa bersama dengan papi dan mami, bilang pada mereka,kakak minta maaf karena tidak bisa menjaga mu dengan baik,lili kakak pulang dulu, besok kakak kesini lagi"ucap ku sambil berjalan gontai.
"Tuhan tolong hukum manusia itu dengan seberat-berat nya, aku tidak bisa terima adikku meninggal dengan tragis seperti itu,aku mohon"tangis ku tak berhenti hingga aku tiba di rumah, aku berhenti di depan pintu kamar ku, aku melirik ke arah kamar Liliana, saat ini terlihat tidak ada cahaya sedikitpun, aku memanggil si Bibi untuk membereskan semua barang Liliana merapihkan semua nya, tangis ku pecah saat Liliana, sempat menulis sepucuk surat untuk ku.
__ADS_1
"Teruntuk kakak"
terimakasih telah menjadi kakak yang sangat
baik dan sangat menyayangi ku, kak aku
mungkin belum bisa mengerti sepenuhnya
kenapa? hidup kita bisa seperti ini, aku hanya
bisa berharap semoga kita bisa terus hidup
bersama selama nya, karena ibu yang aku
harapkan akan menjadi pelindung ku, disaat
aku butuh semua itu, dia bahkan tidak pernah
mau menerima ku, aku bahkan dianggap anak pembawa sial.
hanya mami yang mau menerima ku,sepenuh
hati nya, meskipun aku terlahir dari luka hati
nya yang terdalam tapi wanita itu begitu mulia
dan seperti bidadari surga yang turun ke bumi
untuk memberikan ku sebuah arti dari kasih sayang ibu yang begitu tulus.
Aku sayang kalian bertiga, Papi ,Mami dan
juga Kakak tidak ada kata terindah untuk
mengungkap semua rasa bahagia ini selain aku cinta kalian semua.
Semoga kakak, tak lagi disakiti oleh kak Marvin.
dan jika suatu hari nanti kak, Marvin mengancam akan membunuh ku, jika Kakak tidak menuruti nya, sebaiknya jangan dengarkan ancaman itu, ada atau tidak ada aku, aku hanya ingin kakak bahagia.
terimakasih telah menjadi kakak terbaik ,kakak yang selalu mendahulukan kepentingan adikmu ini, meskipun aku pernah merebut perhatian Papi, dari kakak aku pernah merampas kebahagiaan kakak karena kehadiran ku, tapi Kakak tidak pernah dendam kepada ku, justru kakak teramat menyayangiku I love you so much, kak, semoga tuhan selalu melindungi mu.
"Liliana"
"Lili..! hiks hiks hiks hiks lili, maafkan kakak, kakak aku tidak bisa melindungi mu hiks hiks hiks"Aku tidak menyangka ternyata adik ku yang baru berusia sepuluh tahun saat ini sudah berpikiran dewasa, mungkin karena keadaan yang membuat dia harus dewasa sebelum waktunya.
Aku, masuk ke dalam kamar ku, sudah tidak lagi ingat apapun lagi, hingga saat aku sadar aku sudah berada di ruang rawat inap entah siapa yang membawa ku kesana.
hingga seseorang datang membuka pintu, dan ternyata itu adalah Tora, yang berjalan membawa seikat bunga, dan menyimpan itu di atas nakas.
"Bagaimana kabar mu hari ini"ucap Tora.
"Aku baik-baik saja"jawab ku.
"Maaf, aku membawa mu kesini, tanpa izin"ucap nya lagi.
"Tidak masalah" ucap ku.
"Bisa minta tolong, tolong pinjamkan aku ponsel mu"tanyaku lagi.
"Baiklah"jawab nya sambil memberikan aku ponsel miliknya, aku langsung mengambil ponsel tersebut dan melakukan pencarian pada sosial media, tentang Marvin, tapi tidak ada satupun informasi pribadi nya yang keluar, hingga dia langsung menghubungi, Doni meminta nya membawa ku pergi jauh.
setelah selesai aku memberikan ponsel tersebut, padanya.
"Kau mencari informasi tentang nya, tapi kau sendiri tidak pernah tau berhadapan dengan siapa"ucap Tora.
"Aku hanya ingin tau benarkah saat ini"ucapan ku terhenti.
"Sudah menikah itu bukan"Tora
__ADS_1