Sang Penari

Sang Penari
#Semaki tak tega#


__ADS_3

Dua Minggu sudah berlalu, kini Anggita sudah membaik dia bahkan sudah bekerja kembali di rumah Marvin kali ini dia yang lebih banyak bekerja setelah pulang sekolah ataupun sebelumnya.


Anggita juga banyak membantu ibunya jika waktu belajar nya tidak terlalu panjang.


kini dia sudah bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, karena dia tidak tega dengan ibunya, Anggita dengan cekatan membantu sang ibu mulai dari mengepel lantai membersihkan kamar dan perabot dapur juga mencuci, semua dia kerjakan sendiri, meskipun Alvin hanya meminta dia untuk melayani kebutuhan Alvin saja tapi beruntung Anggita, sudah menjadi gadis tangguh yang tidak gampang menyerah atauengeluh lagi dia lebih suka memendamnya dalam hati dan menunjukan yang baik-baik saja pada sang ibu, dia bahkan tidak pernah berbicara saat dia hampir menjadi korban pelecehan dari teman-teman jahat nya.


"Anggita, saya butuh bantuan ekstra dari kamu karena nanti sore teman dan sepupu saya akan datang kesini, jika kamu tidak sanggup kamu bisa rekomendasi kan orang lain untuk membantu mu beberapa hari kedepan, karena sepupu saya semua tidak ada yang bisa hidup mandiri, apa-apa harus dikerjakan asisten rumah tangga, tapi jika kamu keberatan tolong Carikan orang lain"ucap Alvin sambil sarapan pagi dengan Anggita, dengan nasi goreng siput.


"Tidak usah tuan muda saya masih sanggup mengurus semuanya mungkin untuk beberapa hari kedelapan saya bisa izin tidak masuk sekolah karena sudah selesai ujian Nasional dan tinggal menunggu kelulusan"ucap Anggita.


"Kamu butuh belajar Anggita, untuk masuk kuliah itu tidak semudah yang kamu bayangkan, karena butuh belajar lebih ekstra lagi, apalagi kalau kamu bilang kamu mau mengejar beasiswa, nilai kamu harus benar-benar bagus"ucap Alvin.


"Tidak tuan, saya tidak akan lanjut kuliah, apalagi jarak universitas yang saya mau itu sangat lah jauh, saya tidak mungkin meninggalkan ibu sendirian lebih baik saya tidak usah kuliah saja"ucap Anggita.


"Anggita, kenapa tidak pilih kampus yang dekat saja, disini juga banyak kampus yang bagus"ucap Alvin.


"Tidak ada yang menggunakan beasiswa tuan semua harus bayar, saya tidak punya uang, meskipun saya bekerja di berbagai cabang tidak akan bisa membayar itu"ucap Anggita pesimis.


"Kamu bisa ganti jurusan"ucap Alvin.


"Tidak tuan muda, saya tetap akan menjadi dokter, dan saya sudah melupakan semua cita-cita saya yang dulu karena saya tidak lagi menjadi nona besar saya bahkan saya sudah membuang nama yang diberikan oleh pria itu"ucap Anggita.


"Memang Anggita bukan nama aslimu"ucap Alvin.


"Asli hanya saja itu nama tengah saya, nama lengkap saya adalah,Terry Anggita Sari tuan"ucap Anggita.


"Nama yang bagus kenapa? tidak Terry yang kamu pilih"ucap Anggita.


"Tidak tuan menurut ku, tidak cocok untuk seorang pembantu seperti saya"ucap Anggita.


"Anggita kamu itu bukan pembantu tapi lebih tepatnya kamu itu asisten pribadi saya"ucap Alvin yang tidak ingin merendahkan wanita yang kini ada di hadapannya.


"Sama, saja tuan "ucap Anggita yang sudah lebih dulu membereskan piring bekas makan .


obrolan mereka pun berakhir hingga mereka berangkat bersama tidak ada obrolan lain lagi sampai Anggita hendak turun kini Alvin sudah terbiasa mengulurkan tangannya nya karena Anggita selalu melakukan salam pada orang yang lebih tua sebelum berangkat sekolah.


"Hati-hati jika aku tidak sempat pulang maka kembali dengan taksi"ucap Alvin.


"Baik tuan muda"jawab Anggita yang langsung pergi menuju gerbang sekolah.


Alvin pun melanjutkan perjalanan menuju kantor, setelah berhari-hari mengurus para pekerja dan memindahkan yang bermasalah ke kantor pusat, agar lebih cepat ditangani oleh Daddy nya, dan Alvin kini mulai dengan para pekerja dari kantor cabang yang benar-benar sudah siap untuk mengurus perusahaan dan memulihkan nya.


sementara itu untuk pekerja yang lebih bermasalah Alvin pecat kini dia sudah bersama asisten pribadi nya yang lama, yang selalu mendampingi nya di kantor.


Alvin berjalan menuju ruang nya, dan sesampainya di sana dia langsung meminta asisten pribadi nya untuk menyiapkan berkas,untuk bertemu dengan klien nanti.


sementara itu keenam sepupunya sedang berada di perjalanan menuju rumah Alvin.


tiga Y, tiga A... mereka semua adalah keluarga yang sangat kompak, setibanya di rumah saat sebelum Alvin pulang mereka sudah buat kegaduhan di dalam rumah tersebut karena mereka semua ingin cepat dilayani oleh BI Nora, karena saat ini bi Nora, saja yang ada di rumah tersebut, hingga Anggita datang dengan seragam sekolah nya yang masih lengkap bukan nya mempersilahkan Anggita masuk eh malah ditanya-tanya seperti satpam kompleks perumahan saja, hingga setengah Yaris menelpon Alvin, menanyakan benarkah gadis SMA yang datang kerumahnya adalah pembantu rumah nya, ataukah dia penyusup.


mendengar kan hal itu membuat Alvin pulang cepat dia tidak ingin Anggita berakhir mengenaskan di rumah nya.


dan benar saja saat dia datang keenam nya sudah membuat bi Nora, dan Anggita, seperti di jaman penjajahan.


gadis itu sudah seperti setrikaan selain sibuk merapihkan sana sini, dia juga mengambil alih pekerjaan memasak karena ibunya sudah terlalu lelah.


"Anggita, buatkan kopi"


"Anggita, aku mau salad"


"Anggita, bereskan barang-barang ku"ucap nya tanpa mereka sadari Alvin sudah berdiri sejak tadi melihat Anggita kesana kemari bahkan sudah seperti pelayan restoran.


"Kenapa? kalian tidak membawa asisten pribadi kalian saja kesini, jangan merusak asisten ku"ucap Alvin yang berjalan di ikuti oleh asisten pribadi nya.

__ADS_1


"Ah kak Alvin gak asik nih, kita kan disini sedang berlibur" ucap Yona.


"Ya aku tau kalian berlibur tapi kalian lihat mereka punya berapa tangan mereka juga bukan robot, harusnya kalian siapkan sendiri kebutuhan kalian"ucap Alvin.


"Sudah lah Vin jangan marah begitu baru juga pulang kamu cape kan"ucap Agata.


wanita itu langsung mendorong Alvin untuk duduk bersantai dengan mereka semua, sementara Anggita yang sudah mencatat semua yang mereka butuhkan mulai membuat semua hingga tangan terampil nya mampu mengerjakan tugas nya dengan cepat dan tepat, jika seperti ini terus dia sudah bisa membuka cafe sendiri.


setelah selesai dia juga membawa minuman kesukaan Alvin saat itu juga, karena Alvin, sudah bergabung bersama dengan mereka tidak hanya yang mereka pesan Anggita juga membawakan camilan kesukaan Alvin.


"Ini Tuan dan nona muda semua sudah siap selamat menikmati"ucap Anggita meskipun sudah sangat lelah dia masih mencoba untuk tersenyum, sementara itu di dapur BI Nora, sedang menangis dalam diam, dia semakin tak tega melihat putri semata wayangnya harus bekerja menjadi babu bagi mereka semua.


Anggita pun kembali ke dapur, setelah itu menyimpan nampan dan piring kotor bekas sebelum nya, dia langsung menghampiri sang ibu yang sedang menghapus air mata nya.


🌹💖💖💖🌹


"Ibu kenapa?...ibu lelah istirahat lah bu sudah ada Anggita disini, Anggita antar ke kamar ya bu, yang sabar ya, Anggita janji setelah Anggita, lulus nanti, Anggita akan bekerja lebih giat lagi, agar kita kembali punya kehidupan layak, setidaknya kita tidak perlu bergabung pada orang"ucap Anggita.


"Maaf kan ibu nak, andaikan saja ibu bertahan hidup dengan ayah mu, mungkin kamu tidak harus seperti ini"ucap nya sambil memeluk erat putri semata wayangnya itu.


"Tidak Bu, lebih baik seperti ini daripada melihat itu tersiksa batin percayalah Bu, Anggita kuat dan mampu menjalani semua ini, demi ibu, Anggita tidak akan lagi pernah mengeluh"ucap Anggita.


sementara itu kedua orang pria, tengah berdiri menatap dan mendengarkan obrolan mereka.


"Bos apa perlu kita cari pelayan lain untuk sementara waktu"untuk mengurus mereka berenam"ucap Robi, asisten pribadi Alvin.


"Kau benar segera cari tiga asisten baru untuk membantu mereka"ucap Alvin yang langsung berbalik arah dan pergi menuju kamar nya.


Alvin tidak menunggu Anggita menyiapkan keperluan nya, hingga akhirnya ia selesai mandi dan bersiap, sementara Anggita datang setelah Alvin duduk di sofa sambil membuka ponselnya.


"Tuan maafkan saya, saya terlambat"ucap Anggita yang kini tengah berdiri sambil meremas tangan nya karena merasa bersalah.


"Kemarilah dan duduk di sini" ucap Alvin.


setelah Anggita duduk Alvin pun bertanya"Apa? uang yang aku berikan waktu itu masih ada"ucap nya.


"Ada tuan maafkan saya tuan muda uang nya saya pakai buat bayar uang sekolah saya sepuluh juta, dan sisanya empat puluh juta masih utuh jika tuan berkenan memberikan saya waktu untuk untuk membayar semua hutang saya pada anda"ucap Anggita, sopan.


Alvin tertawa terbahak-bahak sambil mengelus puncak kepala wanita itu.


sementara yang diperlukan seperti itu dia hanya mematung menatap Alvin yang menghentikan tawanya.


"Aku tidak akan meminta apapun yang sudah aku berikan justru aku ingin memberikan mu ini, segeralah daftar kuliah mu dari sekarang, ingat jangan pikirkan ibumu, dia disini akan baik-baik saja, segera cari tempat tinggal yang dekat dengan kampus, yang akan kamu tempati nanti adalah sebuah apartemen, jangan tempat lainnya, setiap bulan aku akan transfer uang jajan mu"ucap Alvin.


"Tidak tuan, saya tidak ingin bergantung pada siapapun dan saya tidak akan pernah sanggup membayar hutang-hutang saya, pada anda"ucap Alvin.


"Aku tidak minta bayaran apapun, jadilah dokter terbaik ,itu sudah membuat ku merasa bangga dan dengan itu hutang mu lunas"ucap Alvin.


"Tapi tuan, sudah banyak hutang Budi yang tidak bisa kami bayar pada anda dan nyonya Ariana"ucap gadis itu.


"Kamu bisa membayar nya setelah kau sukses nanti"ucap Alvin tulus.


"Terimakasih banyak tuan"ucap Anggita yang tersenyum tulus pada Alvin.


sementara pria yang ada di hadapannya kini menatap Anggita, dengan tatapan mata yang berbeda, dan entah apa? artinya.


"Tolong siapkan aku makan malam karena aku sudah sangat laper"ucap Alvin.


"Baiklah tuan"ucap gadis itu sambil bangkit dari duduk nya.


"Terry"


"Ya tuan"jawab Anggita.

__ADS_1


"Setelah kamu berada di negri orang jangan lupa untuk menghubungi aku atau pun ibu mu, untuk memberikan kabar" ujar Alvin.


"Tentu tuan terimakasih untuk semua nya.


Anggita pun kembali ke dapur, dan langsung berkutat dengan bahan makanan yang sedang dia olah untuk makan malam mereka yang berjumlah delapan orang dengan tamu Alvin.


satu jam sudah berlalu kini semua masakan sudah terhidang di meja makan yang panjang , setelah selesai Alvin yang sedang bermain game bersama ketujuh nya langsung Anggita panggil.


"Tuan makan malam anda sudah siap"ucap Anggita yang langsung membuat mereka semua menoleh.


"Baiklah, terimakasih ayo semuanya makan bukan kah kalian laper"ucap Alvin.


"Tapi Vin, ini masih pukul lima sore Vin, makan malam apa? yang ada nanti gue laper lagi"ucap Yaris.


"Tidak masalah kalian bisa hangatkan makanan sendiri-sendiri"ujar Alvin sambil bergegas pergi menuju meja makan.


akhirnya mereka pun ikut makan malam di jam lima sore bersama dengan Alvin.


sementara Anggita, duduk di kursi yang ada di dapur,menunggu perintah dari mereka, sementara itu BI Nori sedari tadi sedang beristirahat.


Alvin datang sendiri ke dapur tanpa memanggil nya dia langsung berkata"Anggita aku mau minuman yang kemarin sore kamu buat, aku sudah selesai makan"ucap Alvin.


"Baiklah tuan tolong tunggu saya buatkan dulu"ujar Anggita.


"Ya Baiklah Anggita aku tunggu di sini"ucap Alvin.


Alvin pun duduk di pantry sambil melihat aktifitas Anggita yang tengah membuat kan minuman, es teh puding coklat.


"Ini Tuan muda"ucap Anggita.


"Heummm terimakasih"ucap Alvin.


Alvin masih duduk di pantry, dan itu membuat Anggita bertanya.


"Apa? masih ada lagi tuan"ucap Anggita.


"Tidak ada, apa? aku tidak boleh duduk di sini, sambil menemani mu"ucap Alvin, sambil menatap lekat wajah cantik itu, Alvin baru sadar jika Anggita yang saat ini tengah berdiri di hadapan ternyata sangat cantik.


"Apa? kamu tidak mau makan"ucap Alvin.


"Nanti saja tuan bareng sama ibu di kamar"ucap Anggita lagi.


"Setelah kamu di luar negeri nanti pasti aku akan kangen kamu"ucap Alvin.


"Mungkin tuan hanya kangen dengan semua yang saya siapkan untuk tuan, tapi tidak usah khawatir, akan ibu gantikan posisi saya nanti, saya titip ibuku tuan muda, jika dia kenapa-kenapa, tolong kabari saya"ucap Anggita.


"Baiklah Terry, tapi kalau saya nanti yang kenapa-napa, jika kamu gak ada bagaimana?"canda Alvin.


"Owh ya ampun tuan tinggal minta ibu untuk menghubungi nyonya Ariana"ucap Anggita.


"Heumm saya kira harus menghubungi mu"ucap Alvin.


"Nanti jika saya benar-benar sudah jadi dokter baru tuan bisa memanggil saya"ucap Anggita.


"Baiklah"ucap Alvin.


Anggita pun memasak sesuatu yang terlihat sangat menggugah selera, meskipun itu hanya sayuran yang di tumis dan ayam goreng, untuk makan malam mereka berdua.


"Kamu masak apa? seperti nya itu lezat aku jadi ingin icip-icip makanan itu"ucap Alvin.


"Sayuran tumis dan ayam goreng tuan"ucap Anggita.


"Kamu setiap kali masak pasti enak, ngomong-ngomong belajar di mana"tanya Alvin.

__ADS_1


"Vin masih belum selesai interogasi"ucap Yaris.


__ADS_2