
Saat semua orang tengah berbahagia di Kanada dan di London, di Indonesia Kalas tengah dibuat salah faham oleh wanita idamannya.
Tiara yang kini baru sembuh dari sakit karena kecelakaan, dia malah mendekati Kalen sang kakak.
Kalas pikir, semua itu karena kakaknya memberikan perhatian kepada keluarga Tiara.
Namun ternyata Tiara lebih menyukai Kalen yang selalu terlihat cool tidak banyak bertingkah seperti Kalas.
Pemuda itu kini tengah termenung sendiri, dia sebenarnya tidak ingin larut dalam kesedihan tapi semua itu membuat dia harus memendam kekecewaan.
Kalas tidak tahu harus marah pada siapa? karena selama ini mereka memang belum memiliki ikatan apapun hanya sebatas perkenalan saja, dan jika gadis itu pun menyukai pria lain itu masih dalam batas wajar.
Namun Kalas kecewa atas semua kejadian itu, kenapa? harus sang kakak yang menjadi pilihan diantara pria, kenapa? tidak pria lain saja yang Tiara dekati dengan begitu pria itu tidak akan pernah merasakan sakit yang teramat dan kecewa terhadap keadaan.
Saat ini Tiara bahkan lebih akrab mengobrol dengan sang kakak yang biasanya jarang merespon wanita manapun yang mendekati dirinya.
Tapi pada Tiara Kalen, seolah tidak pernah terlihat jijik ataupun sebal.
Ada banyak senyuman yang dipancarkan oleh wajah yang selama ini terlihat dingin.
Kalas pun akhirnya pergi setelah dirinya tidak lagi tahan dengan pemandangan yang ada di hadapannya.
"Kamu mau kemana? ujar Kalen.
"Aku ada sedikit urusan, aku duluan."jawab Kalas sambil berlalu membawa tasnya.
"Kenapa? Tidak nanti saja, tanggung ini."ujar Kalen.
"Tidak aku buru-buru aku naik taksi kok, kakak bawa saja mobilnya."ujar pria tampan itu.
Kalas pun berlalu menuju ke arah luar kampus, dia sedang ingin menyendiri.
Sampai saat taksi berhenti di hadapannya karena sudah dia pesan sebelumnya, Kalas langsung meminta sopir taksi mengantar dia ke sebuah tempat yang sunyi.
Itu adalah Mension utama milik Kristofer yang sudah lama kosong dan hanya ada beberapa orang pelayan dan mereka pun hanya tinggal untuk bersih-bersih selebihnya mereka akan kembali ke rumah yang berada di belakang Mension tersebut rumah khusus pelayan.
Kalas tiba di tempat itu, dia langsung disambut bodyguard yang menjaga rumah besar itu.
"Selamat datang tuan muda, anda sendiri."ujar pria tegap itu.
Kalas hanya mengangguk setelah itu dia langsung pergi menuju kedalam rumah besar itu.
"Tolong minta bawakan aku makan siang ke kamar."ujar pria tampan itu.
"Baik tuan."ujar gadis itu.
Setelah 30 menit seseorang mengetuk pintu, dan Kalas pun langsung meminta dia masuk.
"Selamat siang menjelang sore tuan muda, maafkan saya terlambat ini makan siang Anda."ujar gadis itu sopan.
"Heumm,,,."jawab Kalas yang kini tengah memperhatikan gerak-gerik gadis cantik yang kini tengah menata makanan.
"Kau baru di sini,,,, kenapa? aku baru melihat mu."ujar pria tampan itu.
"Saya menggantikan bibi saya yang lagi sakit dia pulang kampung satu minggu yang lalu."ujar gadis berusia 17 tahun itu.
"Berapa? usia mu."tanya Kalas lagi.
"Tujuh belas tahun tuan muda."jawab nya.
"Apa? kau tidak sekolah."tanya Kalas.
"Saya baru lulus SMA tahun ini tuan."jawabannya.
"Kenapa? tidak dilanjutkan."tanya Kalas lagi.
"Kami tidak punya biyaya tuan muda, jadi saya lanjut bekerja saja."ujar gadis itu sopan.
"Tapi taukah kamu peraturan disini bahwa yang bekerja di sini harus lulusan kuliah minimal S1 karena Daddy tidak mungkin mau bersusah payah mengajarkan kepada kalian bagaimana cara menyambut tamu asing yang datang berkunjung."ujar Kalas.
"Saya hanya menggantikan bibi saya sementara tuan setelah itu saya akan pulang kampung."ucapnya.
"Heumm,,, tolong ambilkan tas ku."ucap pria muda itu yang kini mulai menyendok makanan tersebut.
Gadis itu pun langsung bergegas mengambil tas yang Kalas tunjukkan.
"Tolong dibuka."ujar Kalas.
__ADS_1
"T tapi tuan muda."ucapnya ragu-ragu.
"Buka saja, karena saya yang meminta."ujar pria itu meyakinkan.
Gadis itupun membuka tas milik pria yang kini tengah sibuk makan.
"Sudah tuan muda."ujar gadis itu.
"Ambil dompet ku."ucap Kalas tanpa menoleh.
"T tapi t tuan."ucap gadis itu semakin Tremor .
"Kau itu kenapa? disuruh begitu saja sudah gemetaran seperti orang yang kepergok mencuri saja."ujar pria tampan yang tidak pernah tahu bahwa ada sebuah trauma besar yang dia alami karena masalah seperti saat ini.
"Aku tidak pernah mencuri, aku tidak pernah melakukan hal itu kenapa? semua orang menuduhku! dia yang memintaku untuk mengambil dompetnya dari tasnya tapi dia menuduhku sebagai pencuri!! aku bukan pencuri kalian jahat aku bukan pencuri."gadis itu terlihat bercucuran air mata dan juga keringat dari seluruh tubuh badannya gemetaran dan hal itu membuat Kalas langsung kaget dibuatnya dan pemuda itu langsung menghentikan makan siangnya.
"Kamu itu kenapa? aku tidak pernah menuduhmu mencuri, aku memintamu mengambil tas dan dompetku hanya ingin memberikan sesuatu kepadamu. bukan menuduhmu mencuri apa aku bilang kau mencuri." ujar Kalas yang kini memegang kedua bahu gadis itu.
Gadis itu masih menangis sesenggukan bahkan tubuhnya semakin terlihat gemetar, Kalas bingung harus berbuat apa?.
"Hi,,, tenanglah aku tidak pernah menuduhmu mencuri! lihat aku."ujar pria yang kini mengguncangkan bahu gadis itu.
"Tatap aku!."ucap Kalas dengan nada tinggi.
Gadis itu tiba-tiba tersadar.
"Ma maaf kan saya tuan saya permisi."ujar gadis itu yang hendak pergi, tapi Kalas tidak mengijinkan dia pergi.
"Kau itu kenapa? apa? ada sesuatu yang kau sembunyikan."ujar Kalas.
"T tidak tuan muda, maafkan saya sudah membuat anda tergganggu dan tidak nyaman, saya akan pulang kampung sekarang."ujar gadis itu.
"Apa? Aku mengusir mu, aku hanya bertanya lagipula bibi mu belum kembali jadi kau belum selesai bertugas."ujar Kalas.
"T tapi tuan, saya malu karena sudah membuat kekacauan.... karena trauma masalalu saya anda jadi tidak menyelesaikan makan siang anda."ucap gadis itu.
"Sudah jangan pedulikan hal itu, untuk saat ini kau ku maafkan tapi kau harus bercerita hingga selesai."ujar Kalas.
Namun gadis itu menggeleng pelan, dia tidak berani untuk menceritakan tentang semua itu.
"Tapi tuan muda, saya tidak tahu harus mulai dari mana?."kata gadis itu.
"Kenapa? tidak bicara tentang kejadian yang membuat mu trauma."ujar Kalas.
Gadis itu pun mengangguk, dia pun bercerita tentang masalalu beberapa tahun terakhir, saat dia hendak masuk sekolah.
seorang teman memfitnah dirinya hingga dia di arak keliling lapangan sekolah dalam keadaan berantakan setelah mereka beramai-ramai menindas dirinya, dia berjalan sambil di lempari sendal dan sepatu mereka yang hadir disana setelah itu ia pun masih harus memungut itu dan memakaikan sepatu tersebut sambil duduk di bawah layaknya pelayan yang tengah bertekuk lutut pada majikannya.
Tangan pria tampan itu terkepal erat, mendengar cerita itu, dia merasa begitu miris.
Ternyata di sekolah masih ada bullying seperti itu.
...🌸...........🌸...
"Kau, tidak usah khawatir setelah ini kita akan membalas semua perbuatan mereka kepadamu dan kau cukup diam tanpa melakukan apapun tinggal sebutkan siapa saja dan mama orang mana saja yang telah menindas mu." ucapkan geram.
"Terimakasih tuan muda, saya tidak ingin balas dendam, saya sudah merasa sedikit lega karena sudah bisa menceritakan semuanya pada tuan muda yang mungkin tidak seharusnya saya bercerita tentang semua itu pada Anda."ujar gadis itu.
"Tidak masalah, lagipula aku tidak bisa melihat orang lain menderita. apalagi kau adalah orang ku... begini tadi aku ingin memberikan mu sesuatu."ujar Kalas yang meraih sesuatu dari dalam dompetnya.
"Apa? kau ingin kuliah, dan mengejar cita-cita mu. aku bisa membantu mu."ucap Kalas.
"Saya memang pernah bermimpi untuk hal itu tuan muda, tapi saya tidak berani untuk melanjutkan mimpi itu karena saya tidak mampu untuk itu."ujar gadis itu.
"Kau bisa mengejarnya, kau bisa kuliah, dan memilih jurusan yang kau inginkan, tapi ada satu syarat."ucap Kalas terhenti.
"Apa? Itu tuan muda."ujar gadis itu.
"Kau masih harus bekerja untuk ku, menjadi asisten pribadi ku di rumah menyediakan semua kebutuhan ku sebelum berangkat kuliah. dan satu lagi kau harus berpura-pura menjadi kekasih ku."ujar pria tampan itu.
Gadis itu terdiam, lalu setelah itu dia langsung mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Saya setuju dengan semua itu karena saya mau membayar dengan bekerja, bukan karena gratisan."ujar gadis itu.
"Tentu kau bisa mendaftar besok di kampus yang kau inginkan, tapi ingat saat aku butuh kau harus selalu siap."ujar pria itu.
"Baik tuan."ujar gadis itu.
__ADS_1
"Sekarang kau perkenalkan nama mu, karena mulai saat ini aku akan memanggil mu dengan sebutan nama saja."ujar Kalas.
"Saya Tania Tuan muda."ujar gadis itu.
"Itu saja namamu."ujar Kalas.
"Ya tuan."ujar gadis itu.
Baiklah Tania, ini ambilah mulai besok kamu bisa mendaftar di kampus yang kau inginkan dan belilah semua perlengkapan untukmu, dan satu lagi kita tinggal di apartemen milikku tidak disini jadi kau harus bersiap untuk pergi ke sana."ucap pria tampan itu.
"Baiklah tuan terimakasih, apa? Anda masih butuh sesuatu."tanya gadis itu.
"Tidak ada, hanya satu berpenampilan rapih setiap kali keluar dengan ku, kau harus belajar menjadi seorang wanita sejati dan kau bisa mempelajari itu mulai besok."ucap Kalas.
Gadis itu terlihat berat untuk menjawab karena jujur dia tidak bisa berdandan seperti yang pria itu inginkan.
"Apa? ada masalah dengan itu Tania."ucap Kalas.
"Tidak tuan baik'lah saya akan mempelajari semuanya."ucap gadis itu.
Sekarang kau bisa pergi untuk berbelanja, ingat gunakan kartu itu sebaik mungkin kau beli pakaian yang sopan dan jangan yang ketinggalan zaman."ucap pria itu.
"Baiklah tuan."ucap gadis itu.
Kalas pun kembali istirahat, setelah rencana untuk membuat Tiara menyesal karena tidak memilih dirinya akan dimulai, dan Tania tidak kalah cantik dari gadis yang merupakan calon dokter itu.
Sementara itu Tania kini sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan, di antar oleh bodyguard Kristofer, sesuai permintaan Kalas.
Pria itu meminta bodyguardnya membantu Tania membawakan barang-barang belanjaannya.
Tania pun berkonsultasi dengan pemilik butik tersebut yang merupakan seorang designer, meskipun tidak terlalu terkenal tapi karyanya cukup menarik.
Tania bahkan diajarkan untuk memadupadankan setiap outfit yang akan ia kenakan.
Dan satu lagi dia juga diajarkan untuk memilih busana yang tepat untuk setiap acara, sesuai cerita yang diucapkan oleh Tania.
Gadis itu pun sudah membeli semua kebutuhannya mulai dari pakaian untuk kuliah dan juga untuk berpergian bersama tuan mudanya itu.
Kini mobil sudah dipenuhi dengan semua barang belanjaan Tania, meskipun tidak sampai menghabiskan seratus juta tapi semua barang yang dia dapatkan sesuai dengan perannya nanti.
Malah Kalas yang khawatir saat melihat laporan keuangan yang ditunjukkan secara otomatis di Handphone miliknya itu.
"Dia beli perlengkapan macam apa? dengan jumlah segini, bahkan harga satu sepatuku saja masih jauh lebih mahal."ucap pria itu.
Sampai saat Tania tiba di Mension tersebut, Kalas meminta dia untuk menunjukkan apa-apa saja yang telah gadis itu beli.
Pria itu sempat terkejut dengan apa yang dia lihat, karena tumpukan belanjaan itu begitu banyak memenuhi sopa panjang itu.
"Kau merampok ini darimana? kenapa? sebanyak ini belanjaan mu tapi jumlah pengeluarannya lebih sedikit mungkin hanya seperempat dari harga sepatu yang aku kenakan ini. apa? yakin baju-baju itu tidak akan sobek saat kau pake."ujar Kalas.
"Apa? Yang tuan muda maksud saya tidak mengerti, uang yang saya gunakan justru sudah jauh lebih banyak."ucap gadis itu.
"Ah sudahlah, yang penting semua itu nyaman untukmu dan mulai sekarang kau harus belajar merias diri, karena tanggal mainnya tinggal sebentar lagi."ucap Kalas.
Kalas pun meminta Tania untuk segera bersiap untuk pergi menuju apartemen pribadinya itu.
Setelah selesai berkemas barang-barang milik Tania dibawa lebih dulu oleh asisten rumah itu menuju apartemen.
Sementara Tania berangkat bersama dengan kalas menggunakan mobil sport milik Kalas.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan apapun mereka anteng dengan lamunan mereka masing-masing.
Sampai tiba di basement apartemen milik Kalas, pria itu hanya meminta Tania membawakan laptop miliknya itu.
Gadis itu mengekor di belakang pria yang gagah dan tampan itu, sampai tiba di depan pintu masuk.
"Tempelkan akses card nya di sana, mulai sekarang kau bisa masuk ke dalam dengan menggunakan itu."ujar pria tampan itu.
"Baik tuan muda."ujar gadis itu yang langsung melakukan apa? Yang diperintahkan oleh pria itu.
Sampai saat mereka tiba di dalam hunian tersebut, Kalas menunjukkan sebuah kamar tamu yang akan gadis itu tempati letaknya tidak jauh dari area dapur di dalam apartemen luas itu.
"Kau bisa mulai membereskan barang-barang mu, setelah itu kau bisa masak makan malam untuk kita."ucap pria itu.
"Saya tidak mungkin makan makanan yang sama dengan anda tuan muda itu tidak sopan."ucap Tiana.
"Disini saya yang menentukan."ujar kalas tegas.
__ADS_1