Sang Penari

Sang Penari
#Bukan muhrim#


__ADS_3

Galena hanya bersikap seperti awal saat dia sedang dibicarakan oleh kedua saudara Kala.


"Kala pulang lah ke rumah kakak kamu bisa bawa kekasihmu kesana."ujar Kaley.


"Kenapa? jika pulang ke Mension saja lagipula disana teramat sepi kalau hanya kami yang tinggal."ujar Kalan.


"Ajak saja mommy dan Daddy gampang bukan."ujar Kaley.


"Heumm,, kami punya rumah sendiri kalian para lelaki harus bisa tinggal mandiri rawatlah rumah kalian, semua mendapatkan satu rumah entah itu pemberian Daddy atau Mommy sama saja."ujar Agatha.


"Tidak mommy aku ingin apartemen saja biar bisa romantis terus jika tempatnya tidak selebar Mension."ujar Kala.


"Tidak sayang kamu justru akan menempati laboratorium."ujar Agatha.


"Tidak-tidak mommy dan Daddy, aku tidak ingin tinggal di sana, apa? mommy ingin putramu ini dijadikan robot percobaan oleh wanita itu."ujar Kala.


"Hahaha,,, kalian sama-sama suka ekperimen ."ujar Kalan.


"Kami pun bertemu karena robot kucing milik kami baku hantam saat bertemu di taman."ujar Kala.


"Sepertinya kalian benar-benar berjodoh."ujar Stefany.


"Sayang bukan kah jodoh itu kita."ujar Kalan sambil tersenyum manis.


"Love you."ujar Stefany.


"Love you more honey."ujar gadis itu.


"Lebay."ujar Kaley.


Tangis kelima bayi pun terdengar nyaring dan saat itu Agatha dibantu Kristofer dan Alex menyusui kelima bayi itu dengan susu formula.


Sementara kelima orang dewasa yang kini berada di ruangan tersebut tengah asik mengobrol.


Sementara Galena kini tengah asyik chatting dengan seseorang dan itu membuat Kala merebut Handphone Galena.


"Kamu apa-apaan sih kembalikan."ujar gadis itu.


"Kami sedang mengobrol setidaknya hargailah mereka."ujar Kala.


"Owh ya ampun tuan muda itu adalah hak ku mau ngapain."ujar gadis itu.


"Kamu bilang hak, apa? tadi kamu tidak dengar bahwa kita akan segera menikah."ujar Kala.


"What's Menikah."ujar gadis itu.


"Ya,,, menikah."ucap Kala.


"Tidak-tidak aku tidak akan pernah menikah dengan mu.


Kala hanya tersenyum miring. lalu berkata dengan jumawa."Aku tak akan memaksa, tapi kau tahu sendiri Daddyku siapa?."ujar pria tampan itu.


"Kau!." tekan gadis itu.


"Apa? kau sudah paham apa? yang aku maksud."ujar Kala.


"Kau pria licik."ujar Galena.


Wanita itu pun pergi pergi meninggalkan mereka ke luar ruangan namun Kala tidak membiarkan wanita itu pergi sendiri, karena bagaimanapun gadis itu akan dalam bahaya dan menjadi kelemahannya suatu hari nanti.


Kala awalnya tidak tertarik dengan Galena, tapi kebersamaan mereka menumbuhkan benih kenyamanan.


Gadis itu selalu menggemaskan saat dirinya menindas gadis jutek itu.


Sampai Galena duduk di lorong rumah sakit dan benar-benar duduk di lantai sambil menundukkan kepalanya.


Kala berjongkok di hadapan gadis itu.


"Kau kenapa? apa? tidak melihat disana ada kursi tunggu."ujar Kala.


Gadis itu tidak menjawab sama sekali, Galena bahkan terlihat tidak baik-baik saja saat ini bahkan air matanya mengalir deras namun dia menangis tanpa suara.


"Kau menangis."ujar Kala sambil membingkai wajah cantik dibalik ke tomboinya itu.


"Aku tidak ingin menikah untuk apa? pernikahan itu digelar jika hanya untuk diakhiri dengan rasa sakit."ujar Galen.


"Galena tidak semua pernikahan itu seperti itu, mungkin masalah akan selalu ada dalam rumah tangga itu tergantung kita dan bagaimana? kita bisa mengatasi masalah itu jangankan orang yang sudah menikah kita saja yang diawal tidak saling mengenal mengalami hal yang sama, apalagi yang menikah tapi aku janji kita akan selalu baik-baik saja."ujar Kala lembut.


"Aku tidak tahu tentang hal itu, yang jelas saat ini aku belum siap untuk menikah."ujar gadis itu.


"Heumm,,, kau bisa beradaptasi pelan-pelan aku yakin kau bisa."ujar Kalan.


"Tapi mommy ku di London."ujar Galena.


"Kita bisa kesana, tenanglah."ujar Kala yang membawa gadis itu kedalam dekapannya.


Sampai Galena tenang Kala pun meminta dia untuk menunggu di luar, dan dia akan mengambil barang-barang mereka karena saat ini Kala akan pulang terlebih dahulu ke Mension Kalan.

__ADS_1


Sampai saat Kala keluar dengan membawa dua koper berukuran sedang milik mereka, akhirnya mereka pun pergi diikuti oleh asisten pribadi Kala menuju Mension dengan menggunakan mobil milik Jalan, yang nantinya akan dikembalikan oleh asisten pribadi Kalan ke rumah sakit.


Sesampainya di Mension, Galena kembali di buat takjub dengan penyambutan yang dilakukan oleh puluhan pelayan itu.


Sampai gadis itu dilayani seperti seorang putri raja, gadis itu duduk di samping Kala.


mereka kini tengah menikmati makan malam bersama.


"Setelah ini kamu bisa istirahat pilih saja kamar yang manapun bebas tapi beritahu aku agar aku tidak kesulitan mencari mu ."ujar Kala.


"Suruh siapa rumahnya terlalu besar begini nanti tersesat baru tahu rasa."ujar Galena.


"Kau pikir itu akan terjadi."ujar Kala.


"Heummm,, ya aku yang pemula pasti akan tersesat."ujar Galena.


"Paling tersesat di hatiku."ujar Kala.


"Kau!."ujar Galena yang kini melempar potongan buah apel pada Kala.


Gadis itu masih suka bertindak arogan seperti pertama kali bertemu.


"Heeuh masih gampang ngambek jadi cewek itu jangan galak-galak nanti tidak laku."ujar Kala.


"Ya,, bagus tidak perlu jadi istri yang bakal di selingkuhi gak ribet juga jadi cewek."ujar gadis itu.


"Terserah saja."ucap Kala yang tidak ingin membuat mood Galen rusak.


Sampai saat mereka berpisah untuk pergi ke kamar masing-masing, keduanya langsung bersiap untuk mandi karena sudah hampir seharian belum mandi meskipun tanpa mandi satu hari pun tidak akan bau seperti tukang pekerja keras yang bercucuran keringat, keseharian mereka selalu berada di ruangan full AC .


Sementara itu di kediaman Alvaro, pria paruh baya itu kini tengah menemani istrinya Sari yang tengah dirawat karena akhir-akhir ini kesehatannya menurun.


Farrel putra semata wayangnya saat ini tengah sibuk mengikuti kegiatan di kampus.


Pria berusia 19 tahun itu, sebentar lagi akan wisuda dan lulus S1.


Alvaro, sebenarnya merasa sedih karena mungkin sari tidak akan bisa datang pada saat putranya wisuda yang tinggal dua hari lagi melihat kondisi kesehatan istrinya itu dalam dua hari ini.


"Sayang cepat sembuh, kasihan putra kita satu hari lagi persiapan wisuda."ujar Alvaro.


"Aku sudah jauh lebih baik mas, kita bisa berangkat besok."ujar Sari yang kini terlihat lebih semangat.


"Semoga saja sayangku,,,, aku merasa putus asa jika kamu tidak baik-baik saja."ujar Alvaro.


Di kampus, kedua bersaudara kembar Kalas dan Kalen, kini tengah bersama dengan kedua orang gadis yang selalu mengejar-ngejar mereka secara mereka itu tampan maksimal dan tidak bisa di abaikan.


...🌸..................🌸...


"Apa? kau kurang kerjaan setiap hari berada di samping kami."ujar Kalen.


"Justru kami tengah bekerja untuk mengejar cinta kalian."ujar gadis-gadis itu tanpa ragu.


Meskipun mereka cantik tapi keduanya merasa belum siap untuk berpacaran apalagi kedua orang tuanya memberikan tantangan siapa? yang bisa memegang perusahaan milik sang mommy dan bisa membawa perubahan itu berkembang pesat. maka mommy nya itu akan membagi dua perusahaan besar milik Agatha peninggalan Marvin dan Alvin.


Perusahaan itu terus semakin besar hingga saat ini mereka tahu bahwa perusahaan itu sebagian besar sudah dibagikan oleh sang Opah, sejak mereka masih ada tapi kini perusahaan itu semakin besar lagi.


Kalen dan Kalas yang akan menjadi pewaris kerajaan bisnis milik Agatha sementara ketiga putra pertamanya mewarisi milik sang daddy.


Sesuai perjanjian Agatha dan Kristofer yang tetap ngotot bahwa kelima anaknya itu akan mewarisi kerajaan bisnisnya.


Namun itu ditentang oleh Agatha karena wanita itu merasa peraturan itu tidak adil baginya yang memiliki hak yang sama atas dirinya.


Sampai akhirnya mereka menemui keputusan yang menurut mereka adil.


Kedua bungsu itu akan mewarisi perusahaan milik Agatha.


Dan kini keduanya tengah sibuk meningkatkan prestasi belajar mereka berdua jadi Kalen kesal jika ada yang dianggap dia sebagai pengganggu .


Sementara itu tatapan mata kalas saat ini tengah memindai wanita cantik yang menggunakan hijab dan balutan pakaian yang sopan dibandingkan yang lain.


Gadis itu selalu menyendiri entah itu di kantin atau pun di area kampus lainnya.


Meskipun disana juga ada seperempat cewek berhijab.


Tapi wanita itu terlihat sangat cantik dan sederhana sekali, bahkan dia akan datang dengan menggunakan kendaraan umum dan tak jarang datang hanya dengan menggunakan sepeda motor yang mungkin tidak se-berharga ratusan mobil sport mewah yang terparkir dengan berbagai jenis di parkiran kampus tersebut.


Gadis itu masih sangat percaya diri dan tidak pernah pamer kemewahan seperti kedua wanita cantik yang ada di hadapannya.


Gadis itu dari fakultas kedokteran yang bersebelahan dengan jurusan bisnis manajemen tersebut.


"Kalen aku pergi dulu kamu asuh saja mereka berdua."ujar kalas sambil tersenyum.


"Dipikir aku baby sitter apa."ujarnya.


"Terserah kamu suruh bersih-bersih mereka pasti mau apartemen kita sudah lama tidak dibersihkan."ujar kalas yang nyelonong pergi begitu saja.


Sementara Kalas sudah berada di hadapan gadis yang kini tengah sibuk dengan laptop nya di pangkuannya.

__ADS_1


"Maaf boleh gabung."ujar Kalas.


"Duduk saja masih banyak bangku kosong ."ujar gadis itu.


"Kalau aku ingin duduk di pangkuan mu bagaimana?"ujar Kalas.


"Kau bisa duduk di pangkuan, tapi bukan pangkuan ku melainkan pangkuan ilahi."ujar gadis itu datar.


"Waduh, mati dong calon suamimu ini."ujar Kalas.


"Kau pintar."ujar gadis itu.


"Tentu saja." balas Kalas.


"Tapi sayang kurang waras."ujar gadis itu yang kini bangkit hendak pergi namun Kalas menahan tangan gadis itu yang langsung di hentakan oleh gadis itu.


"Jaga batasan mu, kita bukan muhrim jadi jangan sembarangan pegang orang."ujar wanita itu terlihat sangat marah.


"Maafkan aku, aku tidak tahu itu tapi disana wanita mengantri ingin aku sentuh."ujar Kalas dengan sengaja.


"Hebat sekali, tapi tidak dengan saya,,, permisi."ujar gadis itu.


"Heumm,,, bagaimana jika setelah lamaran."ujar Kalas serius.


"Wanita dan pria yang bukan muhrim akan halal bersentuhan setelah ijab kabul karena dengan begitu pria itu sudah menghalalkan wanita itu baginya dihadapan maha pencipta."ujar gadis itu.


Gadis itu langsung bergegas pergi meninggalkan Kalas yang tersenyum manis.


Ada rasa yang tak bisa diungkapkan oleh Kalas saat ini mendengar penjelasan dari gadis yang sampai saat ini masih terasa kelembutan tangan yang halus lembut itu.


Kalas pun langsung bergegas pergi menuju kakaknya itu.


"Apa? berhasil."ujar Kalen.


"Lumayan."ujar sang adik.


Sementara Kalen menahan tawa, karena dia tahu bahwa adiknya mendapatkan penolakan, pemuda itu lupa jika saat ini earphone mereka terhubung, jadi Kalen bisa mendengar percakapan mereka.


Hingga wanita itu bilang bahwa dia menolak sentuhan.


"Kau kenapa? ujar Kalas yang kini kembali fokus pada laptop nya mereka sedaritadi tengah sibuk melihat grafik saham perusahaan milik Agatha.


"Kemana? kedua lalat itu pergi."tanya Kalas.


"Mereka sudah pergi ke alam baka."Kalen tanpa ekspresi.


"Benarkah."ujar Kalas sambil tersenyum.


"Tentu, aku tidak sulit untuk mengusir mereka, karena mereka akan langsung pergi setelah melihat barang bawaan milik kita."ujar pria tampan itu.


"Kak Farrel kemana? sedari tadi tidak bergabung dengan kita."tanya Kalas.


"Mungkin sibuk."jawab Kalen.


Sampai saat mereka masuk kedalam kelas, kedua kakak beradik itu sibuk dengan laptop dan mata kuliah yang dosen berikan.


Mereka sibuk hingga pulang ke Keduanya hanya istirahat makan mandi dan bersantai sebentar selanjutnya mereka akan bersiap kembali untuk bekerja di ruang kerja milik Daddynya itu.


"Apa kau berencana menikah lebih muda dari ketiga kakak kita."ujar Kalen.


"Heumm,,."ujar Kalas.


"Tugas kita belum selesai,kau juga belum siap untuk memimpin perusahaan kita, lalu darimana? kau akan menghidupi istri dan anak mu kelak."kata Kalen.


"Minta mommy dan Daddy, toh kita juga masih hidup berkecukupan tanpa bekerja."jawab Kalas enteng.


"Kau gila, apa? kau pikir mommy dan Daddy mau menampung mu dan anak cucunya."ujar Kalen.


"Tentu saja bisa karena keluarga kita bukan orang susah gitu aja kok repot. kalau kamu juga mau kamu bisa menikah lebih cepat."ujar Kalas.


"Aku tidak bisa hidup secara instan aku takut jatuh miskin saat kita menikah nanti aku tidak ingin menyengsarakan anak orang."ucap kalen tegas.


"Hahaha, kau terlalu pemikir" ujar sang adik.


"Sudah kerjakan semuanya sebelsebelum mommy kembali dari Kanada."ujar pria itu.


"Heumm,,"jawab Kalas lirih.


Sementara itu di kediaman Kalan seluruh keluarga besar tengah berkumpul termasuk Alexander dan keenam anggota keluarga nya yang memutuskan untuk tinggal di Mension hingga dia benar-benar bisa mengurus kelima anaknya itu.


Agatha sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di sana sampai putri semata wayangnya itu benar-benar sudah pulih dan sehat.


Agatha juga tidak ingin ketinggalan kembangan tubuh kelima cucunya itu.


Sementara Galena dan Kala, mereka memutuskan untuk terbang ke London karena ingin menemui ibu dari Galena.


Sepanjang perjalanan menuju London Inggris didalam jet pribadi gadis itu berulang kali tidur dia hanya bangun untuk makan dan mandi juga menonton selebihnya tidur.

__ADS_1


__ADS_2