Sang Penari

Sang Penari
#Terdiam#


__ADS_3

Sampai, di villa yang di sebutkan oleh, Ariana keduanya langsung turun dibantu oleh pelayan yang berada di sana saat Sari hendak melangkah masuk Alvaro langsung menarik tangan Sari saat itu juga.


"Temani aku untuk berkeliling"ucap Alvaro.


"Tapi kak, Sari lelah bagaimana jika besok saja"ucap Sari.


"Sari aku tidak suka dibantah"ucap Alvaro yang menarik gadis itu lalu kembali kedalam mobil, Alvaro tidak memberikan kesempatan pada Sari untuk protes dia bahkan memasang sabuk pengaman pada Sari dan langsung pergi meninggalkan pekarangan villa yang lebih mirip Mension tersebut dengan begitu luasnya.


Sampai akhirnya tiba di sebuah danau buatan yang tidak jauh dari area villa sesuai informasi yang diberitahukan oleh Ariana.


Ariana, mengabulkan semua permintaan cucunya itu.


Sesampainya di sana Alvaro turun lebih dulu setelah itu ia pun membuka pintu mobil untuk Sari.


Sari, sendiri saat ini terlihat sangat malas dan tidak mau turun tapi Alvaro langsung melepaskan sabuk pengaman dan mengangkat tubuh ramping itu saat itu juga.


"Kak, lepas"ucap Sari.


"Diam atau aku lempar kau kedalam danau yang berhantu ini"ucap Alvaro yang kini terlihat sangat kesal.


Hingga tiba di tepi danau tersebut Alvaro berdiri di tepi dermaga dimana perahu kecil itu berada.


"Jangan banyak bergerak sekarang aku akan memindahkan mu keatas perahu"ucap Alvaro.


"Alvaro naik ke atas perahu sambil menggendong Sari duduk perahu dengan posisi di depan Alvaro seakan sedang di dekap oleh Alvaro.


Alvaro langsung mendayung perahu kecil itu


"Kak aku bisa sendiri"ucap Sari.


"Sari, jangan banyak bicara"ucap Alvaro.


Alvaro menghentikan gerakan tangan nya dia meminta Sari melirik ke arah dirinya.


"Apa? kau mau menikah dengan ku"

__ADS_1


Deg....


Deg...


Detak jantung gadis itu tiba-tiba menjadi begitu cepat.


Sari hanya terdiam hingga Alvaro langsung meraih tengkuk Sari dan membalikkan posisi wajah gadis itu sedikit lebih kasar.


"Aku tidak suka menunggu terlalu lama"ucap Alvaro.


"Mengapa? kakak selalu seperti ini, aku bukan barang yang bisa diperlakukan sesuka hati"ucap gadis itu.


"Sekarang kamu bisa memilih terima aku atau jika kamu menolak ku, kamu bisa lompat dari perahu ini dan berenang sendirian kesana tunjuk Alvaro.


pria itu menujuk ke arah tepi danau.


Sari langsung menceburkan diri ke danau yang entah dimana dasarnya itu bahkan tidak terlihat sama sekali saking dalam nya.


Alvaro langsung membuka jas nya dan menyusul sari yang kini timbul tenggelam.


"Sari! apa? kau sudah gila"ucap Alvaro yang langsung mengangkat tubuh lemah itu saat itu juga menuju mobilnya, sesampainya di sana Alvaro langsung membuka t-shirt yang digunakan Sari dan menutup nya dengan jaket miliknya, sementara dirinya sendiri tidak memperdulikan keadaan nya.


"Apa? aku begitu buruk hingga kamu tidak ingin menerima ku"tanya Alvaro.


"Aku tidak ingin menjadi pasangan dari orang yang tidak pernah bisa move on dari masalalu nya, aku Sari,,, bukan Irma, aku bukan dia kak, dan kamu tidak bisa merubah ku seperti dirinya"ucap Sari, yang kini masih menangis sesenggukan.


"Tapi itu bahaya Sari, bagaimana jika kamu mati konyol"ucap Alvaro.


"Itu jauh lebih baik dari pada disamakan dengan orang yang sudah tiada"ucap Sari.


Alvaro terdiam dia langsung mengambil sebuah keputusan"Aku tak mau tau yang jelas malam ini juga kita akan segera menikah"ucap Alvaro.


"Itu tidak mungkin, kita tidak akan pernah bahagia dengan pernikahan itu, karena kamu tidak mencintai ku, yang kakak cintai adalah istri kakak"ucap Sari.


Alvaro tidak membalas ucapan Sari, dia langsung melajukan mobilnya menuju villa.

__ADS_1


Sesampainya di sana tidak ada satu orang pun yang berada di ruangan manapun karena ternyata semua orang sudah tiba di dalam kamar mereka masingmasing termasuk kamar Alvaro yang sudah memiliki nama tersendiri seperti nama anggota keluarga lainnya.


Alvaro langsung bergegas menuju kamar nya, tapi sebelum itu dia sempat melirik ke arah belakang nya ternyata tidak ada gadis itu di belakang nya.


Ariana menempatkan Sari di kamar yang ia pilih sendiri Gadis itu milih kamar di rumah belakang tempat para pelayan berada meskipun hal itu membuat Ariana sempat protes karena bagi Ariana, Sari bukan lah pelayan dan kini dia sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan yang ia bawa tadi.


"Ah,,, segarnya"ucap Sari.


Sementara itu di kamar lain, Agatha dan Kristofer baru saja selesai menyusui ketiga anak nya, meskipun dibantu oleh Alvin dan Anggita.


Keduanya terus tersenyum bahagia hampir sepanjang hari karena cucunya begitu menggemaskan apalagi Kaley yang sangat cantik, bayi perempuan itu adalah kesayangan sang daddy Kristofer yang tidak pernah mau jauh dari Kaley.


"Kaley, bayi cantik dengan pipinya yang gembul membuat siapapun akan langsung jatuh cinta padanya.


"Kaley sayang apa? masih laper"ucap Anggita.


"Dia adalah yang paling kuat minum asi nya sama sekali Kala mom..."ucap Agatha.


"Heumm pantas saja mereka berdua begitu gemuk, sementara Kalan tubuhnya biasa saja meskipun sama-sama gemuk tapi tidak se-gemuk keduanya.


Sekarang kedua orang tua Agatha membawa ketiga cucunya mereka menuju kamar mereka bersama dengan satu orang pengasuh yang mengantar mereka pergi, sambil menggendong baby Kalan.


Baby, Kalan yang begitu terlihat kalem dia tidak pernah rewel dan bahkan kadang dia tertidur pulas di sofa tersebut.


Agatha dan Kristofer kini tengah beristirahat sebelum menunggu makan malam.


Sementara Alvaro kini tengah marah karena gadis itu kini tidak membalas pesan atau mengangkat telepon darinya.


Hingga pria itu langsung pergi menuju kamar yang ia cari saat ini namun tidak ada nama Sari tertulis di pintu itu, sampai pria itu berkeliling mencari keberadaan Sari dan ternyata gadis itu tidak berada di villa. setelah dicari dan dia bertanya kepada sang Oma, pria itu pun pergi menuju kamar gadis itu.


Sesampainya di sana, pria itu terlihat sangat merasa marah karena gadis itu lebih milih berbaur bersama dengan para pelayan dibandingkan dengan orang tuanya.


Gadis itu sudah selesai makan malam bersama dengan para pelayan dia ternyata makan malam lebih awal setelah itu ia akan memasak untuk para majikan.


Alvaro langsung meraih tangan Sari lalu dia dibawa menuju kamar gadis itu, yang ternyata jauh lebih sederhana dibandingkan kamar yang Sari pilih di Mension.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti kenapa? kamu seperti ini kamu lebih suka bersama dengan mereka dibandingkan dengan keluarga mu sendiri"ucap Alvaro yang kini melirik tajam kearah nya.


__ADS_2