
Sampai selesai makan mereka, pun pergi meninggalkan area restaurant tersebut, Agatha, terus menatap jalanan, saat ini dia tengah berpikir, kenapa? disaat dia berdua dengan Kristofer, dunia seakan memberikan dia rasa aman dan nyaman, sementara saat berada di samping Alex, pria yang sangat ia cintai, rasanya terkadang menyesakkan dada, setiap kali dia teringat dengan penghianatan yang Alex, lakukan, lebih tepatnya di paksa oleh keadaan, tapi rasa sakit itu menjalar di dadanya.
"Kau duduk, bersama dengan ku, tapi kau terus memikirkan dia"ujar Kristofer, yang sontak membuat Agatha, menatap tak percaya, bagaimana mungkin kristofer, tau tentang semua itu.
"Aku hanya sedang berpikir, antara aku bersamamu dan saat aku bersama dengan nya, semuanya terasa aneh, bahkan kita yang tidak punya hubungan apapun, saat ini membuat hari ku, terasa nyaman, tapi saat bersamanya, rasanya sungguh "ucapan Agatha menggantung.
"Aku memang tidak pernah menjadikan wanita, spesial seperti pria lain, dan bahkan jujur, kalian seperti baju ganti untuk ku, tapi untuk mu adalah sebuah pengecualian, tapi tergantung pada kepatuhan mu, jika kamu patuh aku pun, akan membuat hari dan hatimu nyaman, tapi jika kau membangkang maka, demi apapun kau akan menyesali hidup yang kau jalani setiap hari nya"ujar Kristofer terus terang.
"Boleh aku tau, kenapa? aku jadi pengecualian, apa? kau sudah jatuh cinta pada ku"ucap Agatha, dengan sengaja sambil nyengir kuda.
Trak....
Sentilan di jidat mendarat dari jari telunjuk pria tampan itu.
"Ah... sakit tau, bagaimana jika jidatku benjol, aku nanti tidak cantik lagi, dan kau tidak suka lagi padaku dan jatuh cinta pada ku"omel Agatha, dan itu membuat Kristofer, tersenyum kecil, ternyata gadis polos itu, bisa membuat suasana nyaman.
"Kau terlalu percaya diri, tidak ada cinta dalam kamus ku, jika pun ada cinta itu hanya untuk ibuku dan adik perempuan ku, bahkan tipe wanita yang selalu menjadi teman malam ku pun, kau tidak masuk didalamnya, itulah kenapa? aku tidak pernah tertarik untuk menyentuh gadis bodoh seperti mu"ucap Kristofer, sambil tersenyum mencibir.
"Kau jahat, padahal keluarga ku bilang, aku paling cantik, dan mereka sayang padaku"ucap nya, sambil mencebikkan bibir nya.
"Hahaha, kau percaya itu, siapapun, keluarga kita yang sayang terhadap kita, akan bilang begitu meskipun wajah mu jelek, itu adalah rasa sayang, padahal faktanya kau itu tidak seberapa cantik dan bahkan cenderung jelek, hahaha"ujar Kristofer, sambil tertawa lepas.
Agatha, dan asisten pria itu, dibuat melongo tak percaya, asisten pribadi nya, dibuat tidak percaya dengan yang dia lihat bos besar nya, bisa tertawa lepas, bahkan beda dengan tawanya saat akan mengeksekusi lawan nya.
Sementara Agatha, melihat Kristofer, tertawa seperti itu, ketampanan pria dewasa itu semakin terpancar nyata, bahkan jika Alex yang dia cintai saja, sudah tampan ini berkali-kali lipat tampan, dan siapapun akan jatuh cinta pada pria yang kini duduk di samping dirinya.
"Sudah puas, mengejek ku, kau bahkan lebih jelek dari ku, dan kau tidak menarik"ucap Agatha, berbohong.
"Kau pikir aku percaya, bahkan tercantik dunia meraung-raung ingin menjadi bagian dari diriku"ucap Kristofer, sambil tersenyum manis.
Wek...
"Paling kau yang mengemis cinta nya"ucap Agatha, setelah pura-pura ingin muntah.
"Kau perlu bukti heeuh, sebaiknya lihat ini"ujar nya sambil memperlihatkan isi chat dari seseorang model papan atas dunia, yang entah membicarakan apa? dengan Kristofer, dalam chat tersebut, karena dalam berbagai bahasa yang tidak Agatha, kuasai.
"Owh ya ampun, seorang Kristofer Alen, menyimpan bukti chat, hahaha apa? kata dunia"ucap Agatha.
"Kau, tidak melihat nya, ini pukul berapa"ucap pria itu, dan sontak Agatha membulatkan matanya, bukan karena jam dan tanggal chat, tapi panggilan video, dimana wanita itu, menghubungi Kristofer Alen saat itu juga.
..."Kenapa? apa... kau kaget dengan ini"ucap Kristofer, yang langsung melempar handphone itu ke jalanan seakan itu adalah Handpone mainan....
"Kau" ujar Agatha, menatap tak percaya, saat Handpone berharga milyaran itu, dibuang begitu saja.
"Jangan memikirkan handphone nya,aku bahkan punya pabrik nya, jika kamu mau"ujar Kristofer.
Tak terasa perjalanan menuju sebuah tempat yang sungguh tidak pernah Agatha, sangka di tengah kota ada sebuah tempat yang mirip sebuah gedung tempat para ilmuwan bekerja, dari mulai penelitian tentang mahluk hidup hewan dan tumbuhan beracun, dan berbagai jenis virus, dan lainnya, itu milik pria yang kini berada di hadapan nya.
Tapi tempat itu seolah tak pernah ada yang tau.
"Kamu ingin apa? ambilah untuk buah tangan"ucap Kristofer.
"Kau gila apa? ini bukan bukan untuk buah tangan, tapi untuk menggemparkan dunia"ucap Agatha.
"Heumm, mau pakai tatto lagi"ucap Kristofer.
Agatha hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah kehilangan masadepan ku, yang menjadi cita-cita ku, sejak kecil, gara-gara semua itu."ujar Agatha.
Kristofer pun, memberikan usapan lembut di kepala, Agatha.
"Aku punya tempat bersantai di atas kamu bisa melihat sekeliling kota"tawar Kristofer.
"Boleh"ucap Agatha.
Mereka pun mulai berjalan menuju pintu lift yang menghubungkan lantai bawah dan rooftops, sesampainya disana Agatha semakin dibuat takjub, seakan segala jenis pohon dan tumbuhan berada di sana, dan ada semacam gazebo, yang sungguh nyaman untuk tempat bersantai di sebuah kolam renang, yang samping kolam renang berbagai macam tumbuhan, seperti ilusi saja, dan ada sebuah tangga kecil yang menuju kesebuah panggung yang cukup luas disana ada berbagai teropong bintang dan seluruh kota terlihat dari sudut manapun termasuk gedung apartemen milik nya, yang begitu jelas terlihat dari sana, ternyata Kristofer, tidak bisa diajak main-main jika suatu saat ada seseorang yang membuat masalah dengan nya, maka akan habis meskipun hanya dengan hitungan detik.
Masih mau lihat yang lainnya"suara bariton itu terdengar dari belakang nya, membuat Agatha, kaget.
"Tidak perlu, aku tidak ingin mengira-ngira yang tidak seharusnya kulihat"ucap Agatha.
Mereka pun, duduk bersantai, di depan kolam renang, yang begitu sejuk serasa di kutub selatan.
Mungkin karena pepohonan yang rimbun dan yang ada di sana, Agatha juga berenang dengan Kristofer, seakan anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, disini bukan Agatha, yang terlihat sangat bahagia, tapi juga Kristofer, seperti menemukan teman masa kecil.
Sampai mereka beristirahat dan berjemur di sana sambil menikmati jus yang dibuat oleh pelayan
"Agatha, mulai sekarang kamu bebas datang dan pergi ke tempat ini, di sebelah ada hotel jika kamu ingin menginap"ucap Kristofer.
"Aku tidak mungkin datang kesini, saat tidak bersama dengan mu"ujar Agatha.
"Aku akan memberikan kartu akses keluar masuk untuk mu, sesekali kamu bisa bersantai di sini, disaat aku tidak ada, tapi aku tidak mengijinkan mu membawa siapapun kesini, hanya kamu"ucap Kristofer tegas.
...🌸.........🌸...
Agatha pun diantar pulang oleh Kristofer, hingga sampai di unit nya Kristofer, pamit setelah beberapa menit ada di dalam apartemen tersebut.
"Baiklah, selamat jalan, hati-hati di jalan, jangan lupa bahagia"ucap Agatha, yang sempat membuat Kristofer, mematung untuk beberapa saat.
"Bahagia, ya bahagia, aku bahkan lupa dengan semua itu"ucap Kristofer.
"Maka, aku mengingatkan mu, untuk itu"ucap Agatha.
"Heumm, tidak buruk juga, ini simpan untuk mu, selamat ulang tahun di bulan depan, aku tidak akan bisa memberikan ini nanti, jadi aku berikan sekarang"ucap Kristofer, memberikan kotak kecil persegi panjang yang diberikan tali 🎀 diatasnya, mungkin bukan gaya nya, tapi bagi Agatha, sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin bagi pria itu.
Agatha, pun tersenyum,lalu berucap"Terimakasih, aku berharap jika suatu hari nanti kita bertemu, kamu akan tetap seperti saat ini."ucap Agatha.
"Satu lagi pesan ku, jangan memaksakan diri untuk jadi dewasa, karena untuk mencapai dewasa yang sebenarnya, butuh waktu yang panjang, dan harus banyak belajar dari pengalaman, jalani hidup mu apa adanya, jangan berubah menjadi orang lain untuk sebuah kata, tak berguna"ucap Kristofer, sambil mengelus puncak kepala Agatha.
"Terimakasih Kris, semoga kamu berumur panjang, dan selalu dilindungi tuhan"ucap Agatha.
Pria itu pun, mengangguk lalu pergi begitu saja, sementara Agatha, menitikkan air mata, serasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup nya, pria itu, mampu membuat dunia nya kembali berwarna, meskipun hanya sebuah perkenalan tanpa ikatan, Agatha, duduk termenung di balkon kamar nya.
"Agatha, sayang kamu dimana nak, mommy bawakan makanan kesukaan mu"ucap Anggita, yang malam-malam datang ke apartemen putri nya, tempat iya, dulu bersama dengan Alana, kecil.
"Aku disini Mom"jawab nya yang kini berdiri dan berjalan menghampiri Anggita di ruang makan.
Agatha, memeluk sang mommy tercinta, yang kini terlihat sangat lelah, mungkin baru kembali dari rumah sakit, meskipun, Anggita tidak tidak pernah turun tangan untuk menangani pasien, hanya memberikan arahan jika mereka mengalami kesulitan dalam menangani pasien, dan selebihnya, dia hanya mengelola rumah sakit itu.
"Mom, jika lelah, mommy sebaiknya berhenti bekerja, Agatha, bisa gantikan mommy di sana meskipun tidak jadi dokter, tapi sepertinya jadi wakil direktur bisa"ucap nya serius.
"Kau jauh lebih mampu sayang, mommy hanya ingin kau menikmati hidup, sebelum terjun ke dunia bisnis, yang menguras tenaga dan pikiran"ucap Anggita.
"Aku bisa menikmati itu, sambil bekerja mom, lagipula aku tidak ada kegiatan selain kuliah"ucap Agatha.
__ADS_1
"Kamu tidak bekerja di kantor Daddy"tanya Anggita heran.
"Sudah di pecat mom, karena tidak datang tepat waktu, dan berkali-kali bolos maklum masih sering ngurus klien,mana ada perusahaan mempekerjakan karyawan seenaknya seperti ku, hehehe"ucap Agatha.
"Lagian kamu itu, ada-ada saja sayang mau jadi karyawan biasa, sedangkan untuk jadi CEO, pun kamu mampu"ucap Anggita, sambil terkekeh kecil, seakan menemukan berlian di tumpukan jerami, karena kecerobohan putri nya yang dulu, masih bisa ditemukan dalam diri Agatha, yang yang bahkan terlihat begitu sempurna itu.
"Kan belajar Mom, tidak ada salahnya juga lagian, tuan Alvin, juga sepertinya tidak tau"ucap wanita itu sambil terkekeh kecil.
"Bagaimana bisa"tanya Anggita.
Sampai akhirnya, mereka pun makan bersama, kedua wanita beda generasi itu kini terlihat, seperti teman.
"Mom, aku antar mommy pulang"ucap Agatha.
"Tidak perlu sayang mommy, bawa mobil sendiri"ucap Anggita.
"Tidak masalah Agatha, sudah kangen rumah, mungkin malam ini Agatha mau bobo dengan mommy dan Daddy"ucap Agatha.
"Baiklah sayang ku, mommy bahkan lebih rindu masa-masa itu"ucap Anggita.
Sampai saat mereka pulang bersama ke Mension, Agatha berpapasan dengan pria yang selama ini menjadi musuh bebuyutan nya, yang sedang berada di area dapur.
"Owh ya ampun, ada orang stress rupanya, kenapa? mommy tidak usir saja dia sih mom"ujar Agatha dengan serius.
"Eh... ternyata Big baby, pulang"ucap Piter.
"Kau!"teriak Agatha.
"Sudah-sudah jangan ribut sudah malam"ucap Ariana, yang menyambut cucunya itu.
"Oma, kangen"ucap Agatha yang langsung menghambur memeluk sang Oma, tercinta dan begitu juga Ariana, yang menghujani cucunya itu dengan kecupan di seluruh wajah Agatha.
"Oma, mau saja di pelupuk, Big baby"ucap Piter, sambil berlalu membawa makanan yang dipesan sang istri, yang kini sedang menunggu di dalam kamar, wanita itu tengah hamil besar, saat ini.
"Dasar jelangkung"ucap Agatha, kesal.
"Sudah-sudah sayang sekarang mau bobo dengan Oma, atau dengan mommy"tanya Ariana.
"Mommy, dulu Oma, besoknya sama Oma"ucap Agatha, sambil tersenyum manis.
"Baiklah sayang, segera istirahat, karena ini sudah sangat larut"ujar Ariana.
Wanita tua itu sangat bersyukur, cucunya ternyata benar-benar baik-baik saja, Agatha, bahkan terlihat seakan kembali ceria seperti dulu, dan itu membuat hati kecil Ariana, berterima kasih kepada Kristofer, meskipun diawal dia begitu ketakutan pria itu akan menyakiti cucunya.
"Aku harap, kamu tidak akan pernah berubah, dan tetap bersikap baik pada cucu ku, meskipun diluar sana kau terkenal kejam dan tidak punya hati"ucap Ariana lirih.
Hingga pagi menjelang, kehangatan di rumah itu, seakan tak pernah pudar sejak kehadiran Agatha, tadi malam, gadis itu tengah merecoki Oma, dan mommy nya yang tengah membuat sarapan pagi, untuk suami mereka, sementara pelayan sedang mengurus makanan untuk anak cucu Ariana yang lain.
Termasuk Agatha, itu adalah wajib.
"Mom, sepertinya ada yang kurang Daddy, tidak diberikan bayam agar kuat seperti popeye the sailor man, hahaha"tawa Agatha pecah bersama dengan Ariana.
"Daddy mu tidak cocok, untuk itu sayang yang cocok diibaratkan Popeye the sailor man itu adalah Opah"ujar Ariana.
"Heumm, berarti Oma, adalah Oliv hahaha"tawa Agatha semakin pecah, dan ada butiran air mata yang lolos dari sudut mata Anggita, saat melihat putri nya bisa tertawa lepas, seperti dulu.
"Mommy, bahagia sayang kamu bisa kembali seperti dulu"Gumam Anggita.
__ADS_1