Sang Penari

Sang Penari
#Seolah tak ada#


__ADS_3

Saat Anggita datang membawa Alercxa kebawah dan meminta peralatan mandi untuk cucunya itu, semua orang bertanya dimana Sari.


Sari membuka mata karena ternyata disana sudah tercium bau dari sarapan pagi yang lezat, entah siapa? yang membuat semua itu dan yang membawa makanan itu kedalam kamar nya.


Sari, langsung masuk kedalam kamar mandi dia tidak memperdulikan Alvaro, yang kini menetap ke arahnya setelah terjaga karena gerakan Sari tadi.


Sampai saat, gadis itu sudah selesai mandi dan berganti pakaian, dia langsung memoles bekas gambar tangan dari Alvaro dengan makeup tipis, setelah rapi dan wangi, dia pun berjalan mendekati Alvaro yang kini kembali memejamkan mata nya.


"Kak,, apa? tidak berangkat ke kantor, ini sudah siang"ucap Sari.


"Apa? uang yang aku berikan masih kurang hingga kau menyuruhku untuk bekerja"ucap Alvaro.


"Tidak kak, hanya saja biasanya kakak"


"Cukup! Indah Sari, kamu sudah keterlaluan tidak kah kau melihat semalam penuh aku tidak bisa tidur karena dirimu"ucap Alvaro dengan nada tinggi.


"Baiklah, setidaknya ka"


Prang....


Lampu temaram itu pecah berhambur di atas karpet.


Sari langsung pergi dengan Air mata nya, menuju kamar mandi dia mengurung diri dengan tangisnya yang kini pecah.


Rasanya sudah tidak kuat bila harus terus seperti saat ini, biar bagaimanapun dia tidak sekuat yang Anggita bilang bahkan detik ini juga dia sudah sangat menyerah.


"Apa? salah ku,, kenapa? mereka begitu tega padaku bukankah aku tidak pernah meminta untuk menikah dengan dia, bahkan aku sudah menolak pernikahan ini"ucap Sari.


Sampai saat gadis itu mendengar gedoran pintu, Sari buru-buru membasuh wajah nya meskipun tidak bisa menyembunyikan bekas tangisan itu karena wajahnya kini terlihat sembab dan matanya merah.


"Apa? masih belum puas"ucap Alvaro yang masuk begitu saja setelah dia melepas seluruh pakaiannya hanya tersiksa bokser yang ia kenakan saat ini pria itu langsung meminta Sari untuk mengisi bathtub-e dengan air hangat untuk dia mandi.


Pria itu bahkan kini berdiri di hadapan Sari, yang hendak berjalan kearah bathtub-e .


"Tunggu aku jangan turun duluan sebelum aku selesai bersiap, dan siapkan baju kerja ku"ucap pria itu dengan nada memerintah.


"Baik" jawab Sari sambil mengisi air kedalam bathtub-e.


Setelah selesai dengan semua aroma terapi yang disukai oleh Alvaro akhirnya Sari keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menyiapkan stelan jas untuk Alvaro bekerja nanti.


Setelah semua lengkap seperti jam tangan dan seperti juga kaus kaki dan lainnya Sari kembali menutupi wajahnya yang masih tampak gambar lima jari di pipi mulusnya itu, dengan peralatan makeup yang entah siapa? yang menyediakan itu di sana.


Tepatnya diatas meja rias yang ada di kamar Alvaro, mungkin meja itu bekas mending Irma , yang juga tidak bergeser sedikit pun dari tempat nya.


Setelah Alvaro keluar dari dalam kamar mandi, Sari menoleh.


"Aku meminjam alat makeup nya mbak Irma, semoga memaafkan ku, ini untuk menutupi bekas"ucapan Sari tidak dilanjutkan lagi, saat Alvaro menatap lekat wajah cantik yang ada di hadapannya.


Sari berpikir bahwa Alvaro akan kembali meledak marah tapi ternyata dia salah Alvaro kembali berkata"Aku tak pernah mengijinkan siapapun menggunakan barang peninggalan istriku"ucap Alvaro yang langsung membuat wanita manapun akan mengalami sakit yang teramat dalam.


Sari mematung di tempatnya, dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun, gadis itu benar-benar terluka sangat dalam.


"Aku benar-benar minta maaf"ucap nya yang kini bangkit dari duduknya gadis itu berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


Alvaro tidak mencegahnya samasekali.


Sesampainya di bawah, Sari langsung masuk kedalam kamar lamanya dia mengambil tas miliknya yang berisi pakaian lama miliknya dia tidak membawa uang pemberian Alvaro sedikitpun, saat ini dia langsung pergi meninggalkan kamar tersebut melewati ruang keluarga yang ada di sana dimana Ariana berada di sana.


"Sari,, ada apa? ini kamu mau kemana,,"ucap Ariana.


"Maafkan Sari Omah,,sari sudah tidak kuat lagi, terimakasih atas kebaikan Omah selama ini dan keluarga Sari pamit"ucap Sari yang langsung pergi.


"Sari tunggu!"panggil Agatha yang kini baru saja datang dari luar negeri, sejak kabar kepergian Xena, yang ternyata terjadi kesalahpahaman Alexa masih hidup meskipun saat ini dalam keadaan koma setelah melahirkan lebih awal karena dia terjatuh dari tangga.


"Aku harus pergi kak, aku tidak dibutuhkan di rumah ini"ucap Sari yang berlalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Sampai saat Ariana berteriak kepada Alvaro dan pria itu buru-buru menghampiri sang omah tercinta.


"Sudah bosan hidup kau rupanya Alvaro, siapa? yang mengajarkan mu untuk bersikap kurang ajar heuuhh siapa? yang meminta kamu untuk menikah dengan Sari jika ternyata kau hanya bisa hidup dengan masalalu mu kau sudah menyakiti putri angkat ku, Xena sekarang kau juga menyakiti Sari cucu angkat ku dan cucu menantu di keluarga ini, pergi cari dia jangan pernah kembali sebelum kau menemukan dia atau selamanya jangan pernah kembali lagi kehadapan ku!"ucap Ariana dengan suara bergetar penuh amarah sekarang jika saja Agatha tidak memeluk lansia itu mungkin sudah terjatuh karena serangan jantung.


"Sudah omah tenang sudah ya,,kak cepat kejar Sari sebelum dia benar-benar pergi jauh"ucap Agatha.


Alvaro langsung bergegas pergi meninggalkan mereka yang kini menatap kepergian nya, setelah sampai di depan garasi tersebut, dia langsung menghidupkan mobil, sementara Sari saat ini sudah berada di dalam bus menuju ke tempat asalnya.


Alvaro sudah mengitari jalan, itu berulang kali namun nihil gadis itu tidak pernah ia temukan, Alvaro sudah berusaha menghubungi nomor ponsel Sari namun ponsel itu mati.


Alvaro mulai frustasi, dia berulang kali mengacak rambut nya dan bahkan membenturkan kepala nya ke atas kemudi saking frustasi nya dia merutukki kebodohan nya itu.


Sampai akhirnya Alvaro memutuskan untuk kembali, karena dia tidak mungkin terus berada di luar tanpa melakukan apapun.


Kini Sari, sendiri masih berada di dalam perjalanan pulang yang cukup panjang dan melelahkan, hingga saat petang gadis itu baru turun dari bus yang membawa dia kembali ke desa.


Sari, masih harus berjalan melewati hutan yang cukup jauh dan juga cukup terjal untuk menuju ke tempat dimana dulu Agatha tinggal.


Beruntung ada warga lainnya dengan tujuan desa pelosok tersebut, meskipun berbeda tempat nantinya beberapa orang warga yang terdiri dari empat orang keluarga dan beberapa anak kecil yang hendak menuju ke sana mereka mendirikan tenda di sebuah tempat yang biasa warga lain tempati untuk bermalam karena keesokan harinya mereka akan melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing yang berada di tengah hutan tersebut.


...🌸..........🌸...


Dua hari setelah kepergian Sari, semua orang di Mension, sibuk mencari keberadaan gadis itu, tapi filing Agatha mengatakan jika Sari saat ini tengah berada di rumah itu tempat dia dulu menghindari Kristofer.


Agatha pun meminta Kristofer, untuk mengantar Alvaro menuju tempat itu.


Dan awalnya Alvaro sempat menolak karena baginya semua itu cukup sia-sia saja tapi saat mendengar bahwa Ariana masuk rumah sakit, saat ini.


Alvaro langsung bergegas pergi langsung dari kantor.


Setibanya di tempat tersebut dengan menggunakan helikopter, Alvaro benar-benar dibuat kaget betapa jauhnya perjalanan mereka dan melewati hutan yang cukup lebat bahkan orang-orang tidak akan pernah bisa mengira jika Sari berasal dari sebuah desa terpencil di luar kota.


Saat turun dari helikopter, pemandangan yang sangat membuat hati miris, saat melihat seorang gadis baru kembali dari dalam hutan dengan membawa kayu bakar dan sebuah keranjang kecil di atas kayu bakar yang berada di tangan nya itu.


Gadis itu buru-buru masuk dalam menutup pintu yang cukup kokoh dari kayu tersebut.


"Sari, buka pintu nya, kita harus bicara, aku sudah dua hari mencari mu, Omah masuk rumah sakit, dan Alercxa juga rewel saat kau pergi"ucap pria itu.


Sari, yang mendengar hal itu, dia mematung di tempatnya namun dia kembali berpikir untuk apa? Alvaro mencari dirinya jika bukan untuk dirinya sendiri . Sari tidak akan pernah kembali jika Alvaro tidak membutuhkan dirinya kecuali jika dia menceraikan Sari, mungkin Sari akan kembali sebagai cucu angkat Omah Ariana dan sebagai pengasuh Alercxa.


"Pergilah tuan Alvaro aku tidak akan pernah kembali"ucap Sari.


"Sari!"teriak Alvaro pria itu masih bersikap arogan.


"Tuan,, jika saya boleh mengingatkan kata nyonya Ariana harus segera membawa nona Sari saat ini juga, jika tidak anda tau sendiri akibatnya"ucap anak buah Kristofer.


"Aku tau dan kau tidak perlu mengingatkan aku"ucap Alvaro.


"Sari,, ayolah buka pintunya kita harus bicara baik-baik"ucap Alvaro.


"Baiklah, silahkan masuk"ucap Sari.


Alvaro masuk kedalam tempat tersebut yang terlihat begitu nyaman dan sangat dia melihat berbagai ukiran di setiap dinding yang terbuat dari papan kayu yang tidak sembarang pemasangan nya.


"Apa? orang tua mu seorang arsitek"ucap pria itu.


Sari hanya menggeleng pelan.


"Siapa? yang membangun rumah ini"ucap Alvaro lagi.


"Ayah"tunjuk Sari pada sebuah foto.


"Dia ayah mu"ucap Alvaro pada foto seorang laki-laki yang terlihat masih sangat muda.


"Ya, dia ayah ku, tapi dia sudah meninggal sejak aku masih kecil, dan selama ini yang yang dikenal sebagai ayahku oleh nona Agatha adalah ayah tiri ku"ucap Sari.

__ADS_1


Sari yang kini duduk di kursi kayu dengan berbagai ukiran unik di sandaran kursi tersebut, membuat Alvaro menatap ke arah nya.


"Silahkan duduk tuan mau bicara apa?"ucap Sari.


"Aku hanya ingin meminta mu untuk kembali"ucap Alvaro.


"Sebagai apa?"tanya Sari.


"Apa? maksud mu"tanya balik Alvaro.


"Aku kembali sebagai apa? sebagai cucu omah atau pengasuh Alercxa karena tidak mungkin untuk menjadi istri mu karena istri tuan hanya nona nyonya Irma"ucap Sari.


"Sayang,, please aku minta maaf jika aku telah menyakiti hati mu, tapi saat itu aku sedang berduka.kau sendiri pasti tahu bagaimana rasanya menjadi diriku, aku sudah membuat seseorang meninggal dunia karena harus melahirkan putra ku."ujar Alvaro.


"Jadi kau kira aku pantas untuk kau sakiti atas duka yang kau alami"ucap Sari.


"Apa aku pantas untuk itu semua"ucap Sari lagi sambil menggeleng pelan.


"Yank,, aku khilaf please maafkan aku, dan kembalilah, setidaknya jika bukan karena aku ingatlah Omah sangat menyayangi mu, bahkan Alercxa terbiasa bersama mu"ujar Alvaro.


"Jika kamu tidak benar-benar mengharapkan aku setidaknya ceraikan aku terlebih dahulu"ucap gadis itu.


Alvaro langsung menatap tajam kearah gadis itu.


"Sudah aku katakan bahwa aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai kapan pun, apa? kau mengerti."ucap Alvaro tegas.


Seseorang mengirimkan koper berukuran sedang milik Alvaro, dengan alasan Kristofer meminta mereka untuk segera kembali karena ada tugas yang harus dia kerjakan saat itu juga.


Alvaro, tidak bisa bernegosiasi, dia tau seperti apa? Kristofer.


Alvaro pun hanya bisa pasrah dia tenang karena Sari ada jika dirinya akan kembali.


Seolah tak terjadi apa-apa Gadis itu hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Dimana kamar kita, aku sudah lelah ingin segera istirahat"ucap Alvaro.


"Anda tidak akan betah tinggal di sini karena disini tidak ada fasilitas seperti di tempat Anda"ucap Sari.


"Sari! Aku sudah memberikan mu peringatan"ucap Alvaro.


Pria itu langsung menarik Sari, sampai dia terjerembab di pangkuan Alvaro.


Alvaro, langsung menyambar bibir tipis milik Sari yang terlihat ranum merah alami.


Ciuman itu terjadi sampai beberapa detik lamanya hingga Sari hampir kehabisan nafas, karena itu adalah kali kedua Alvaro mencium bibir istrinya itu.


"Sekarang tujukan dimana kamar utama untuk kita"ucap nya lagi.


Sari menunjuk lantai atas.


Alvaro tidak menunda lagi, dia langsung membawa gadis itu dalam gendongan nya, berjalan meniti tangga.


Sampai di atas Sari menunjukkan sebuah kamar tempat dimana Agatha dulu tinggal di sana, ada kasur berukuran king size, yang sempat dibeli oleh Agatha dan dibawa oleh warga secara bergotong royong.


"Bagaimana caranya belanja barang seperti ini jika ternyata disini tidak ada jalan yang bagus"ucap Alvaro.


"Asal ada uang banyak semua tidak ada yang tidak mungkin."ucap Sari.


"Bersih-bersih lah dulu setelah itu kita akan tidur"ucap Alvaro.


"Kak Al saja yang istirahat, aku akan menyiapkan sarapan pagi yang sudah terlewat"ucap Sari.


"Sari,, apa? disini tidak ada perabotan dapur yang cukup bagus seperti kompor, aku melihat mu membawa ranting pohon untuk apa? setahuku itu untuk membuat api unggun"ucap Alvaro.


"Itu untuk bahan bakar memasak, tunggulah di sini sebentar lagi waktu makan siang akan tiba, aku harus menyiapkan semua itu, tapi maaf mungkin hanya seadanya, karena setelah lama meninggalkan rumah ini bahkan hewan ternak pun hampir semua aku bebaskan untuk hidup di hutan, dan aku tadi sempat menangkap ikan di sungai itu lauk untuk makan siang kita"ucap Sari.

__ADS_1


"Ada yang bisa aku bantu"ucap Alvaro.


__ADS_2