
Mba Dinda setuju untuk tinggal sementara di rumah yang mas Marvin sewa masih di komplek itu, dan mba Icha yang juga menggugat cerai pada suaminya bukan karena dia diselingkuhi saja, tapi Mba Icha adalah istri kedua dari suaminya karena sebelum menikah resmi dengan suaminya ternyata suaminya sudah menikah secara resmi dengan wanita pilihan ibunya yang saat itu ketahuan oleh ku dan mas Marvin.
setelah mengurus kepindahan mba Dinda, kami berempat pun akhirnya makan bareng, sementara Alvin dipegang oleh BI Ijah.
Aku dan mereka pun mengobrol panjang sampai mas Marvin pulang dengan cepat bersama dua orang laki-laki yang sedikit lebih tua dari mas Marvin, nama nya Mas Angga Pratama dan Yudha Saputra kedua nya adalah partner bisnis mas Marvin, aku langsung menyuguhkan minuman untuk mereka bertiga.
"Ini yang kamu maksud Vin"ucap Mas Angga.
"Enak saja itu istri ku, cantik kan"ucap mas Marvin bangga.
"Sangat"ucap Yudha.
"Sayang ko kamu yang buat minum BI Ijah kemana"ucap mas Marvin.
"BI Ijah sedang menidurkan Alvin mas tanggung, aku sedang ngobrol dengan tiga teman ku"jawab ku.
"Owh, duduk sini kenalkan ini teman ku dia Angga dan dia Yudha"ucap mas Marvin padaku.
"Ariana"ucap ku ramah.
"Sayang kamu ajak mereka gabung di sini mas mau kenalan mereka"ucap mas Marvin.
"Vin bukan nya wanita itu lagi hamil dua-duanya"ucap Yudha.
"Ya, tenang saja jika kalian serius masalah anak bisa di atur"ucap mas Marvin lagi.
"Tentu saja nggak ada masalah yang penting dianya benar-benar siap menjadi ibu dari anakku"ucap Angga.
"Aku juga begitu"ucap Yudha, pria yang sedikit lebih muda dari mas Marvin.
"Tunggu"ucapan ku berhenti saat ketiga teman ku terlihat melewati ruang keluarga.
"Mba Dinda dan Mba Icha kemarilah"ucap ku lantang.
"Ada apa? Ariana, kami pulang saja jika kamu sedang sibuk"ucap mba Dinda.
"Tidak sibuk mba tapi hanya sedang ada tamu mas Marvin, ayo kesini kita gabung biar tambah seru"ucap ku.
"Tidak usah Ari , mba pulang saja malu lagi pula tidak obrolan yang serius"ucap Dinda .
"Dinda, Icha, Rosita" kemarilah gabung, owh ia di mobil mas tadi beli sesuatu kamu bisa minta bantuan bi Ijah ambilkan "ucap mas Marvin.
"Owh iya aku juga tadi beli sesuatu di mobil ku, siapa tau ada yang suka"ucap Yudha dan Angga berbarengan.
"Aku saja yang ambil" ucap ketiga nya kompak.
ketiga laki-laki itu bangkit sementara kami yang perempuan duduk di sofa menunggu barang bawaan mereka yang entah apa? itu.
tidak lama mereka pun, sama-sama membawa kan paper bag, ada beberapa paper bag yang entah apa? isinya jika dilihat itu ada buah-buahan dan juga cheese cake.
semua disimpan di atas meja dan aku mulai membuka nya tidak lama aku meminta bi Ijah untuk mengambil tempat buah dan juga piring khusus untuk cheese cake dan beberapa makanan lainnya, ada yang menarik dari semua yang mereka bawa adalah rujak yang sangat menggoda lidah.
"Wah ada rujak sayang nya aku baru saja melahirkan, dan tidak diperbolehkan untuk makan itu.
"Mas, pengen"ucap ku manja.
"Tanya dokter dulu sayang"ucap mas Marvin, sambil mengelus puncak kepala yang dia dekap.
"Dinda dan Icha jika kalian mau silahkan"ucap mas Marvin, yang memang sengaja menjodohkan mereka berdua.
"Aku gak di tawari ini pak Marvin"ucap mba Rosita.
"Owh sampai lupa kamu juga ambil saja jika kamu mau"ucap nya.
__ADS_1
BI Ijah pun datang dengan nampan berisi berbagai wadah untuk makanan yang mereka bawa tadi, aku langsung meminta bi Ijah untuk mencuci buah terlebih dahulu sambil menyiapkan semua makanan tersebut ke piring dan mangkuk kecil dibantu ketiga sahabat ku.
"Ayo di nikmati semua sudah siap"ucap ku.
mereka pun ada yang mengambil cheese cake dan buah ada juga rujak dan aku memakan cheese cake berdua saling menyuapi dengan mas Marvin, hingga mereka mulai akrab dan mengobrol dengan santai.
sedari tadi Yudha melirik Mba Dinda yang justru lebih tua dua tahun dari nya.
usia kandungan mba Dinda juga sudah masuk lima bulan, saat ini dia sudah dijatuhkan talak dan saat ini sedang proses sidang.
sementara mba Dinda tidak banyak bicara, karena luka setelah perceraian tersebut membuat dia sedikit trauma untuk dekat dengan pria lain sementara dia kini tengah mengandung bayi dari mantan suami nya.
mba Dinda hampir saja pulang jika aku tidak menahan nya, setidaknya dia bisa berkenalan dengan salah satu di antara mereka.
"Ari, mba pulang dulu ya, sudah sore belum ngangkat jemuran"ucap nya.
"Din sudah aku bilang cari pembantu saja, aku masih bisa bayar semua nya"ucap mas Marvin yang merasa tidak tega.
"Tidak pak, sudah cukup saya ngerepotin kalian"ucap mba Dinda.
"Aku tidak ingin Ariana sedih karena sahabat nya sengsara, anggap saja kita keluarga"ucap mas Marvin .
"Terimakasih"ucap nya.
"Tunggu Dinda, nama kamu itu kan kenalkan aku Yudha"ucap Yudha.
"Dinda"ucap mba Dinda.
"Duduk lah Din, biar aku minta BI Ijah untuk kerumah mu"ucap mas Marvin sambil menatap kearah bi Ijah yang langsung mengerti dia langsung meminta kunci rumah mba Dinda.
Mba Dinda duduk kembali, kali ini Mba Rosita yang mendapat telpon dari suaminya dia pun undur diri.
tinggal kedua sahabat ku yang akhirnya saling mengobrol.
"Dinda, boleh saya menjadi teman dekat mu selama proses perceraian mu aku bisa bantu semuanya"ucap Yudha to the points.
pria itu memang tidak suka bertele-tele, dia adalah pria sejati, seperti mas Marvin.
Mba Dinda hanya mengangguk hingga seseorang datang ke rumah kami, terlihat wajah mas Aryan yang seperti sedang menahan kesal.
"Dinda ayo pulang kita harus bicara"ucap Aryan tegas, entah siapa yang memberitahu mas Aryan tentang semua yang terjadi.
"Pulang kemana mas, aku sudah di usir dari rumah itu, dan sekarang aku menumpang hidup pada mereka"ucap mba Dinda tegas.
"Maaf mas Aryan sebaiknya kalian bicara di rumah mba Dinda saja tidak jauh dari sini ko"ucap ku sambil menatap kearah mas Aryan yang terlihat gugup.
akhirnya mba Dinda pun mengajak mas Aryan untuk mengobrol di mobil nya karena tidak mungkin dia kerumah lama mereka karena sudah pasti mba Dinda tidak akan mau.
aku lihat Yudha, tidak baik-baik saja, saat ini hingga aku membuyar kan kegelisahan nya.
"Tenang saja mas Yudha mba Dinda, adalah tipe wanita yang teguh, sekali dia disakiti maka dia tidak akan menoleh lagi kebelakang.
🌹💖💖💖🌹
hingga tiga puluh menit berlalu terdengar suara mas Aryan memanggil mba Dinda, dengan sangat nyaring.
"Dinda, aku akan memberikan segalanya jika kamu mau tapi anak kita akan bersama ku dan istri pertama ku"ucap mas Aryan, sedikit berteriak.
"Tidak mas, sampai kapan pun aku tak akan memberikan anak ini persetan dengan harta yang kau janjikan, aku bisa mencari nya sendiri setelah putri ku lahir nanti"ucap Mba Dinda.
"Dia laki-laki Dinda bukan bayi perempuan"ucap mas Aryan.
"Aku berbohong pada mu, agar kamu tidak menceraikan aku, jika tau anak yang aku kandung adalah bayi perempuan, tapi sekarang aku sudah putuskan untuk berpisah dan membesarkan putra ku sendiri, ingat mas aku juga mampu mencari uang, sendiri seperti dulu, sebelum kamu melarang ku untuk bekerja dan meminta ku untuk tidak bergaul seperti dulu, dan ternyata kamu adalah seorang pembohong besar yang sudah menipuku, kau bilang hanya aku wanita yang kamu cintai tapi ternyata kamu punya dia yang sangat kau cinta, sungguh tega kamu mas kamu menghancurkan karir ku, dan seluruh hidup ku, dan sekarang setelah aku mengandung kamu bahkan meminta ku melahirkan bayi laki-laki, memang nya kau siapa, kau sudah mengatur tuhan sadar mas, jika kamu mau buat saja dia hamil agar kalian berdua lebih bahagia lagi,aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan pria pengecut seperti mu"teriak mba Dinda yang langsung menangis memeluk ku yang sedari tadi berdiri menghampiri keributan itu,aku takut Mba Dinda kenapa-napa.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Dinda, mulai saat ini pergi jauh dariku, dan jangan pernah menampakkan wajah mu lagi,kau wanita tidak berguna"ucap mas Aryan dengan sadisnya berkata seperti itu setelah habis manis sepah dibuang.
tiba-tiba saja bug...bug...bug...
mas Marvin langsung menghajar Aryan hingga keributan itu terjadi, sudah pasti mas Aryan kalah telak biarpun mas Marvin bukan tipe pria kekar seperti bodyguard, tapi mas Marvin adalah pria yang paling ditakuti di berbagai kota karena ilmu bela diri yang dia miliki dan kekuasaan nya diatas rata-rata.
hingga aku berteriak"Mas hentikan jangan!" ucap ku saat mas Marvin hendak menancap kan belati pada mas Aryan, dia pun berhenti dan mendorong pria itu hingga tersungkur.
pergi kau pengecut jangan pernah tampakkan wajah menjijikkan itu lagi dihadapan ku, jika tidak kau akan aku habisi ingat karir istri mu dan kau tidak ada apa-apa nya jika sekali lagi kau menyakiti Dinda, dan anak itu aku bisa membesarkan dia dengan sangat layak dan berkecukupan"ucap mas Marvin yang kembali menyimpan belati itu ku saku celana nya.
sementara mas Aryan sudah pergi dengan mobilnya saat itu juga.
aku memeluk mas Marvin, dan mengalungkan tanganku ke lehernya aku mengecup bibir nya,agar dia kembali tenang.
"Mas jangan lakukan itu lagi, aku takut"ucap ku lembut sambil menatap kearah mata nya .
"Tidak sayang mas, janji"ucap nya sambil mengusap puncak kepala ku aku sudah tenang, kami pun kembali masuk mba Dinda tengah duduk di samping Yudha yang sedari tadi mencoba memberikan kekuatan sementara mba Icha mendekap Mba Dinda.
Mas Angga sendiri sedari tadi menatap kearah Icha yang sibuk menenangkan sahabat nya yang masih menangis.
"Dinda, sudah jangan menangis, kamu tidak perlu khawatir, hidup kalian akan aman, dan masalah putri mu kelak aku akan merawat dia dan tidak akan pernah membiarkan dia hidup kekurangan"ucap mas Marvin.
"Tidak Vin, aku yang akan merawat nya, lagi pula aku tidak punya anak saat ini, jika perlu aku akan menikahi Dinda, sekarang juga karena Dinda, dan pria berengsek itu hanya menikah siri"ucap Yudha tegas.
"Heummm terserah saja, yang pasti jangan pernah kecewa kan saudara istri ku, karena kau juga akan berurusan dengan ku"ucap mas Marvin tegas.
cinta luar biasa dan bukan cinta biasa, jika tiba-tiba bisa langsung dekat saat baru bertemu, sementara mereka masih mengobrol aku dan mas Marvin, pergi ke kamar kami, karena Alvin bangun dan mas Marvin, membersihkan diri, aku menyusui putra ku, sambil menunggu Daddy nya mandi.
hingga saat petang mba Dinda di antar oleh mas Yudha pulang.
sementara mba Icha pulang ke rumah keluarga nya, diantar oleh mas Angga.
aku sendiri menyiapkan makan malam dibantu oleh bi Ijah.
mas Marvin sendiri sedang bercengkrama dengan putra nya yang sudah bisa merespon obrolan mas Marvin, dengan senyum menggemaskan nya.
kami pun akhirnya makan malam berdua karena bi Ijah sedang mengasuh Alvin, lagi pula wanita paruh baya itu tidak pernah mau diajak makan bareng setelah putra kami lahir, alasannya adalah tidak ada yang menjaga Alvin .
setelah selesai makan malam aku langsung naik bareng mas Marvin yang membawa Alvin, saat ini kamar kami di atas karena lebih nyaman juga, lagi pula aku sudah melahirkan Alvin.
"Sayang aku merindukan mu"ucap nya.
"Heummm sabar mas hanya tinggal beberapa hari lagi"ucap ku berbohong.
"Kamu bohong ya sayang, bukannya hanya empat puluh hari, ini sudah dua bulan sayang"ucap mas Marvin.
"Benarkah" ucap ku pura-pura lupa.
"Heummm, bukan nya, dokter sudah menyatakan bahwa kamu sudah sembuh total"ucap mas Marvin, yang bingung.
aku tertawa terbahak-bahak saat itu juga karena melihat mas Marvin kebingungan dia takut otak ku kembali terganggu.
"Sayang kamu menggoda ku"ucap nya yang langsung menarik ku keatas pangkuan nya posisi kami duduk di sofa, mas Marvin langsung menarik tali kimono tidur ku hingga terpanggang jelas bra dan underwear ku yang berwarna merah marun, aku mungkin habis melahirkan putra pertama kami tapi tubuh ku sudah kembali langsing karena aku selalu merawat diri, meskipun tidak pergi ke salon.
hingga selesai melepas rindu, kami berdua pun tidur berpelukan, hingga pagi menjelang, aku hanya bangun sesekali untuk memberikan ASI pada Alvin, karena putra ku selalu tertidur pulas setiap malam nya, tidak pernah rewel dan tumbuh kembang nya begitu cepat, hingga kini timbangan nya terus naik.
"Sayang bangun sudah pagi"ucap mas Marvin.
"Aku masih ngantuk mas"jawab ku.
"Ya tapi kamu belum solat"ucap nya mengingatkan.
"Udah tadi, setelah menyusui Alvin, aku langsung solat karena sudah mandi wajib juga.
__ADS_1