Sang Penari

Sang Penari
#Tetap cinta#


__ADS_3

Tania sudah kembali stabil bertepatan dengan bulan yang mulai redup, Kalas tetap menjaga gadis itu dengan baik.


Kalas bahkan selalu membawa gadis itu kemanapun dia pergi.


Seperti saat ini gadis itu dibawa ke Mension peninggalan Marvin.


Keduanya kini tengah duduk di taman belakang bersama saudaranya yang lain.


Gadis itu terlihat malu dan tidak nyaman mungkin karena disana perkumpulan orang-orang yang super sultan.


Semua orang seakan memperhatikan penampilan nya.


Meskipun dia juga menggunakan barang branded yang Kalas berikan setiap kali ada acara pertemuan.


"Apa? Aku boleh kedapur."ucap Tania.


"Apa? kamu butuh sesuatu sayang."ucap Kalas.


"Aku tidak nyaman berada di sini."ucap gadis.


"Sayang santai saja karena mereka tidak akan berani menindasmu, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan ini."ucap Kalas


"Heumm ya sayang."ucap gadis itu lirih.


"Tania bagaimana? keadaan mu aku dengar kamu baru keluar dari rumah sakit."ucap istri dari Kalan.


Galena pun menghampiri Tania.


"Tania apa? kau bisa memasak tolong ajari aku agar aku bisa membuat makanan lezat untuk suamiku yang super duper manja itu."ujar wanita itu.


"Jangan katakan itu honey,,, aku manja hanya padamu."ujar Kalas.


"Kau ingin belajar masak.... apa? kakakku tidak mampu membayar koki untuk memasak makanan untukmu."ucap Kalas.


"Bukankah itu wajar jika calon keluarga bisa akrab."ujar Agatha yang menengahi mereka yang hampir tegang karena Kalas merasa Galena menyinggung masalalu calon istrinya itu.


Agatha pun mengajak para wanita untuk berkumpul dia merangkul bahu Tania dan membawa gadis itu bersamanya diikuti oleh para wanita.


"Mom titip istriku, jangan buat dia tak nyaman."ujar Kalas.


"Tenang saja tidak ada yang akan membuat dia menangis."ujar gadis itu.


"Awas saja kalau benar-benar kembali sambil menangis aku akan membuat perhitungan."ucap pria itu.


"Heumm."ucap Agatha yang tidak tahu bagaimana dahsyatnya kekuatan cinta.


Sampai saat para wanita itu pergi meninggalkan mereka di taman belakang.


Agatha membawa gadis itu masuk kedalam sebuah ruangan yang ternyata adalah sebuah tempat perkumpulan keluarga.


"Duduklah, bersama dengan mereka."ujar Agatha.


"Terimakasih Nyonya."ucap Tania yang terlihat sangat kaku.


"Kamu tidak dengar tadi dia memanggil apa?."ucap Agatha.


"B baik M mom."ujar gadis itu yang terlihat sangat ragu.


"Nah begitu jauh lebih baik."ucap Agatha.


"Tania sebentar lagi kita akan segera menjadi keluarga. dan dipertemuan kita ini kami ingin kamu lebih mengenal keluarga kita nanti."ucap Agatha.


"Baiklah mom."ucap Tania.


"Tolong bawakan barang-barang yang sudah aku siapkan tadi."ujar Agatha pada pelayan Mension.


"Baik Nyonya."ucap wanita itu.


"Kaley putri dari mommy."ucap Kaley.


Wanita itu mengulurkan tangannya.


"Tania."lirih Tania.


Tidak lama para pelayan itu datang dan membawa berbagai perlengkapan wanita mulai dari dress pengantin baru dan juga perlengkapan wanita yang lainnya.


"Pilihlah lah."ucap ketiga wanita itu kompak, sementara Tiara hanya menatap dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.


"Apa? kau serius untuk mengejar cita-cita mu."ujar gadis itu.


"Tentu saja."ucap gadis itu lembut.

__ADS_1


"Bagaimana? dengan rumah tangga mu kelak."ucap Galena.


"Heumm,,, aku sudah bicarakan ini semua dengan Kalas."ucap Tania.


"Heumm itu jauh lebih baik."ujar gadis itu.


"Itu adalah keputusan yang sangat tepat."ujar Agatha.


Tiara terus menatap pada Tania, wanita itu seakan tak suka dengan Tania yang selalu menjadi pusat perhatian semeantara dirinya merasa diacuhkan.


"Mom,,,, mendiang Aunty Sari sakit apa? sampai meninggal dunia."ucap Tiara seakan ingin mencari perhatian.


"Sudah takdir tuhan tentunya."ucap Kaley.


"Tentu saja takdir tuhan meskipun jalannya adalah lewat sakit, karena meskipun dia sakit keras jika tidak ditakdirkan untuk meninggal maka tidak akan pernah meninggal."ucap Galena.


Sontak semua orang mengangguk, hanya Tania yang tidak ikut mengangguk.


"Lalu kau kuliah di jurusan apa?."tanya Agatha.


"Design, mom."jawab Tania singkat.


"Sekarang cobalah mana yang akan kamu kenakan saat acara pernikahan mu nanti sekaligus untuk resepsi."ujar Agatha.


"Saya terserah mommy saja yang pilihkan pasti itu adalah yang terbaik."jawab Tania.


"Heumm,,, baik'lah tapi kau juga harus mencobanya tentunya."ucap Agatha.


"Baik mom."ujar gadis itu.


"Bisa panggilkan adikmu sayang."pinta Agatha pada Kaley.


"Tentu saja mom."ujar ibu dari lima anak itu.


"Heumm,,, kau itu kenapa? tidak memilih sendiri, aku saja memilih gaun pernikahan ku sendiri."ujar Galena.


"Iya dan hasilnya sungguh aneh."timpal istri kalan.


"Itu karena kami pencinta robot, jadilah pernikahan kami adalah yang terunik, tapi sayang pesta pernikahan itu hanya berlangsung sebentar karena masa berkabung dan aku tidak bisa melakukan atraksi bersama dengan suamiku."ucap Galena yang begitu bersemangat.


"Kak Galena pencinta robot, lalu kenapa? tidak pilih suami robot seperti yang ada di film, sepertinya ada kepuasan tersendiri."timpal Tania.


"Suamiku sudah lebih perkasa dari robot jadi aku pilih suami yang benar-benar manusia agar bisa menikmati hidup."ujar gadis itu.


"Nanti mommy siapkan resepsi untuk kalian berdua bertema robot jika perlu satu bulan lebih, tapi kamu harus janji berikan kami cucu perempuan yang banyak setidaknya lima boleh."ucap Agatha


"Owh ya ampun mommy, jangan buat menanantumu ini memiliki perut buncit, nanti perut kotak-kotak ini tidak lagi bagus."ucap Galen yang langsung membuat semua orang menatap tak percaya.


"Perutmu seperti roti sobek milik suamiku."ucap Kaley.


"Tentu saja, biar keras seperti robot."ucap Galena.


"Tidak-tidak sepertinya mommy salah karena terlambat mengetahui itu."ucap Agatha.


"Ada apa? Aku dipanggil, apa? ada yang mengintimidasi istriku disini."ucap Kalas yang langsung duduk di samping wanita yang ia cintai itu.


"Bukan begitu sayang, istrimu minta mommy yang pilihkan gaun pengantin yang akan dia kenakan nanti."ucap Agatha.


"Ya baguslah mom,,, dengan begitu istriku begitu menghargai mommy ku yang sangat cantik dan ini."ucap Kalas.


"Mommy tau Sayang, tapi mommy ingin kamu memberikan pendapat terlebih dahulu dan menilai bagus atau tidaknya pilihan mommy."ucap Agatha.


"Ia berikan saja gaun pengantin yang sangat cantik, tapi ingat gaun pengantin itu harus yang tertutup tidak boleh terbuka apalagi mempertontonkan bagian bahunya, karena istriku sudah sangat cantik jadi tidak baik jika ada yang membantu dia berganti pakaian kecuali aku dan mommy."ucap Kalas.


"Kau tidak percaya pada kakak dan kakak ipar mu ini."ucap Kaley.


"Tentu saja aku tidak percaya, selera kalian aneh semua."ujar pria tampan itu.


...🌸...........🌸...


Kini Kalas dan Tania sudah berada di apartemen mereka, setelah semua pilihan jatuh pada semua barang yang sudah di pisahkan tadi oleh Agatha dan para pelayan menyimpan itu dengan baik barulah gadis itu memutuskan untuk pulang karena ada tugas kuliah yang harus diselesaikan.


Kalas pun langsung membawa gadis itu pulang bersama dengan dirinya, pria itu tidak mau menuruti kata-kata Agatha untuk tidak tinggal serumah selagi mereka belum resmi menikah, Kalas hendak di tahan di Mension.


Tapi pria itu berhasil meyakinkan ibunya itu, bahwa dia akan menjaga kesucian Tania sebelum mereka resmi menikah karena Tania juga tidak seperti wanita yang murahan seperti gadis kebanyakan.


Dan, kata-kata itu berhasil menyindir Tiara yang selalu nyosor pada Kalen, dia sendiri lupa dengan kata-katanya yang mengatakan bahwa tidak boleh bersentuhan tangan sebelum mereka resmi menikah.


Sungguh Tiara menodai kesucian dari kata-kata itu,. bagi kalas yang awam akan pendidikan kerohanian.


Pria itu juga menyindir wanita itu sebagai wanita matre karena dia lebih peduli dengan sebuah pemberian ketimbang perhatian seperti yang ia lakukan saat itu.

__ADS_1


Saat Kalas memberikan perhatian, tapi belum sampai memberikan bantuan materi karena Kalas juga belum sempat kepikiran kesana tapi kalas sudah melakukan itu lebih dulu.


Sementara Tania, gadis itu tidak pernah berpikir untuk sebuah kesenangan semata, tapi dia lebih ke,,, mematuhi perintah Kalas dan dia pun tidak suka pemborosan dia akan membeli sesuatu yang sangat penting dengan budget sedikit.


Tania pintar mengatur keuangan, jadi Kalas tidak perlu khawatir jika suatu saat nanti mereka di uji dengan kebangkrutan perusahaan meskipun itu adalah hal yang mustahil bagi anak bungsu Kristofer itu.


Sampai saat mereka tiba di apartemen, Kalas langsung bergegas menuju kamar Tania yang lebih dulu berjalan menuju kamar nya.


"Sayang apa? mommy tidak menyusahkan mu, apa? reaksi dia pada bekas luka mu itu."ujar Kalas pemasaran.


"Mommy hanya bertanya sejak kapan luka itu ada dan dia juga bertanya apa? kamu tahu tentang itu."ucap mommy.


"Apa? kamu tidak punya keinginan untuk menghilangkan bekas luka itu."tanya Kalas.


"Aku juga manusia biasa Yank, aku ingin memiliki tubuh yang putih mulus tanpa cacat sedikitpun, tapi tuhan berkehendak lain, aku bisa apa?."ucap gadis itu.


"Ayolah sayang itu bukan cacat tapi hanya bekas luka, aku akan membantumu menghilangkan itu, tapi aku ingin kamu yang memutuskan hal itu, karena aku tidak akan mengharuskan itu jika kamu tidak mau."ucap Kalas.


"Kalau aku tidak mau apa? kamu akan mundur."tanya Tania.


"Hi,,,, jangan pernah berburuk sangka, aku bukan laki-laki yang seperti itu yang mengutamakan kecantikan atau kesempurnaan. bagiku kamu sudah jauh lebih sempurna meskipun bekas luka itu ada di sekujur tubuhmu."ucap Kalas.


"Kamu menyumpahi aku Yank..." ucap gadis itu.


"Tidak sayang tapi itu hanya sebagai perumpamaan saja."ucap Kalas.


"Heumm,,, baik'lah sekarang tolong tuan muda Kalas tinggalkan kamar ini karena saya harus istirahat."ucap gadis itu sambil tersenyum puas.


"Heumm,,,istri ku mengusir ku."ucap Kalas yang malah merangkul pinggang gadis itu.


"Heumm,,, terserah saja."ucap gadis itu.


"Apa ini juga terserah."kata Kalas saat pria itu mengecup leher gadis cantik yang kini tengah mematung itu.


"Heumm,,, j jangan lepaskan aku."ucap pria itu.


"Apa? kau takut honey...."bisik Kalas menggoda Tania, karena Kalas tahu jika saat ini tubuh Tania bergetar hebat.


"T tidak hanya saja itu belum saatnya.... ya belum saatnya ingat janjimu tadi pada mommy."ucap gadis itu.


"Tentu aku ingat sayang tapi mommy tidak akan pernah tahu jika pun itu terjadi."ucap Kalas yang kembali menggoda gadis itu dengan meraba perut rata milik Tania.


"Aku bilang jangan Yank,,, apa? kau tidak mengerti!."ucap Tania dengan nada tinggi.


Namun setelah itu ia kembali berkata lirih."Maafkan aku Yank,,, sebaiknya kamu keluar dulu."ucap Tania.


Kalas pun langsung bergegas pergi begitu saja tanpa menoleh pada Tania apalagi bicara.


Bukan Kalas marah tapi dia sengaja melakukan hal itu untuk mencari perhatian Tania.


"Yank,,, please jangan seperti ini, tolong tunggu dan mengertilah."ucap Tania.


Sementara Kalas tersenyum penuh kemenangan, saat ini karena ternyata Tania begitu peduli dengan dirinya.


"Yank,,, please, baiklah-baiklah jika kamu tidak bisa memaafkan aku lebih baik aku pergi saja dari sini."ucap Tania yang langsung berbalik tapi lagi-lagi Kalas langsung mengalah dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Jangan pernah berfikir untuk pergi aku sangat mencintaimu sayangku, aku akan mengejar mu hingga ke ujung dunia jika perlu. karena aku tidak ingin kehilangan gadis cantik yang begitu aku cintai ini sampai aku mati nanti."ucap Kalas.


Alina yang mematung untuk beberapa saat kemudian dia berbalik dan balas memeluk Kalas begitu erat.


"Terimakasih sudah memberikan semuanya terhadap ku, kasih sayang dan perhatian mu juga cinta yang sering kamu ucapkan Yank, aku sungguh sangat beruntung bertemu dengan pria baik hati seperti dirimu."ucap gadis itu.


"Justru aku yang berterimakasih padamu honey, kamu mampu menghadirkan warna baru dalam hidupku dan sebuah kehangatan."ucap Kalas.


Kalas pun melepaskan Tania sambil berkata. "segeralah istirahat agar kamu cepat pulih sebelum hari pernikahan kita nanti karena aku ingin kamu juga bersiap untuk menjadi ibu bagi anak-anak kita kelak."ucap Kalas.


Sementara itu di kediaman Tiara gadis itu tengah mengamuk hebat bukan karena dia kerasukan jin, tapi setan iri dengki terhadap Tania.


Dia merasa menyesal karena tidak memilih Kalas waktu itu, dia juga menyesal karena telah memilih Kalen yang justru belum memberikan kepastian status pada dirinya.


Justru malah dia merasa tidak dihargai oleh mereka, tidak seperti Tania yang sampai saat ini mendapatkan perhatian khusus dari semuanya.


Dia sendiri malah seperti orang bodoh dihadapan semua orang.


Kini dia pun bertengkar dengan ibunya gara-gara kelakuannya itu.


Ibunya itu bahkan sampai memaki dia habis-habisan dan menyebut Tiara sebagai anak yang tidak berguna, karena tidak mampu untuk menjadi yang terbaik di keluarga.


Tania bahkan terancam diusir dari keluarga karena telah melanggar norma yang berlaku di dalam keluarganya selama ini, gadis itu berani berpacaran dan bahkan sering kali terlihat over saat bersama dengan Kalen.


Kini Kalas yang seharusnya menjadi menantu idaman kedua orang tuanya itu, malah akan menikahi gadis lain.

__ADS_1


Tiara benar-benar merasa kalah dari gadis pelayan itu.


__ADS_2