Sang Penari

Sang Penari
#Duka di malam pertama#


__ADS_3

Setelah pernikahan itu usai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke ibukota kini Ariana dan keluarganya sudah berada di dalam Mension miliknya termasuk juga dengan pasangan pengantin baru itu.


Sementara, di dalam kamar Alvin pria berusia matang itu kini tengah menatap ke arah jendela melihat pemandangan malam tanpa bintang.


Dia, mengingat masa lalunya bersama Agnes wanita yang sangat ia cintai tapi hanya bisa memiliki tubuhnya Tidak bisa memiliki dia seutuhnya hingga lahirlah sebuah anugerah dari kesalahan tersebut yaitu putranya Alvaro.


Usapan lembut dari sebuah tangan halus membuyarkan lamunannya.


"Yang sudah berlalu biarlah berlalu jadikan semua itu sebagai pelajaran, kita sebagai manusia hanya bisa menjalani takdir tanpa bisa mengubah nya."ucap Anggita.


"Sayang,, apa? kamu pernah menyesal menjadi istri ku."tanya Alvin.


"Pertanyaan macam apa? itu sayang apa? pernah disaat aku marah padamu di setiap ada masalah yang datang aku tidak pernah memberikan mu kesempatan untuk memperbaiki semua nya"ucap Anggita.


"Kamu memang wanita yang sangat baik sayang aku bahkan sangat beruntung karena telah memiliki dirimu"ucap Alvin, sambil berbalik mendekap istri cantik nya yang kini sudah berusia lima puluh tahun itu.


"Aku sangat mencintaimu, saat pertama kali kita memutuskan untuk bersama aku yakin bahwa kamu adalah takdir ku meskipun terkadang hati ini goyah karena cobaan yang datang bertubi-tubi tapi aku yakin dengan semua kasih sayang yang kamu berikan meskipun kamu sempat khilaf tapi semua itu tertutupi oleh rasa cinta mu yang begitu besar dari pada penghianatan."ucap Anggita sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.


"Bagaimana? cara nya agar Sari bisa menyayangi Alercxa, seperti rasa sayang mu pada Alvaro dan NATO"tanya Alvin.


"Aku yakin Sari mampu melakukan hal yang sama, karena disaat memutuskan untuk berkomitmen siap ataupun tidak kita tidak bisa mundur lagi. tapi rasa sayang itu tumbuh dengan alamiah dari hati terdalam, aku bahkan tidak pernah merasa bahwa Alvaro dan NATO lahir dari wanita lain."ucap Anggita.


"Karena kamu adalah mommy mereka."ucap Alvin.


"Mari kita istirahat sayang"ucap Anggita mengajak suaminya itu istirahat.


Keduanya pun naik keatas ranjang, Anggita memberikan vitamin herbal yang selalu ia racik sendiri untuk suaminya yang sampai saat ini terlihat awet muda dan begitu gagah meskipun Alvin pernah mengalami kecelakaan fatal.


Sementara itu di kamar pengantin baru setelah Sari menidurkan baby Alercxa di boks bayi tersebut, dia pun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, masih didalam kamar yang sama yaitu kamar Alvaro pria yang hingga saat ini tidak banyak bicara dan terus berdiam diri di sofa singel yang ada di dalam kamar nya itu sambil menatap kosong, duka atas kepergian Xena semakin terasa apalagi saat ini ada putra mereka bersama dengan nya.


Sampai saat Sari selesai mandi dan berganti pakaian dengan menggunakan piyama tidur yang sama motif nya dengan yang Alvaro kenakan saat ini Sari duduk di depan cermin dia menyisir rambut nya yang baru keramas itu dengan telaten sambil sesekali melirik kearah Alvaro yang sedari tadi anteng dengan lamunan nya.


Sebagai seorang istri, dengan gelar yang ia sandang dan juga sekaligus ibu bagi anak yang bahkan tidak pernah ia tahu siapa? ibunya, Sari adalah perempuan yang hebat yang bisa siap dalam kondisi apapun.


"Kak Alvin belum mengantuk"tanya Sari.


"Tidur lah lebih dulu jika kamu mengantuk"jawabannya dingin.


Deg....


Rasa yang sungguh sangat menyakitkan bagi siapapun wanita nya, setelah dinikahi paksa lalu dicampakkan begitu saja mungkin bagi sebagian wanita dia akan pergi tanpa peduli dengan semua keadaan itu, tapi Sari berusaha untuk memahami itu meskipun hatinya begitu terasa sakit.


Apalagi disaat pria itu melarang siapapun mengganggu foto pernikahan dirinya dengan mendiang istri pertama nya itu.


Hati, wanita mana yang akan terima dengan sikap suaminya yang tidak pernah bisa move on dari masalalu nya itu.


"Aku tidur lebih awal agar saat Alercxa bangun nanti aku sudah tidak mengantuk"ucap Sari.


"Mulai besok Alercxa akan dijaga oleh baby sitter nya"ucap pria itu.


"Kak,, aku masih bisa menjaga dia kenapa? tidak mengizinkan ku untuk menjaga anak kita"ucap Sari sedih.


"Dia bukan putra mu, dan aku tau kamu tidak akan pernah menyayangi dia dengan tulus, jadi lebih baik ada yang mengasuh dia mulai besok"ucap Alvaro datar.

__ADS_1


"Ceraikan aku, dan jadikan aku baby sitter untuk Alercxa"ucap Sari.


"Sari!"bentak Alvaro.


"Kenapa?,,, apa? aku tidak pantas juga untuk menjadi seorang perawat bayi"ucap Sari dengan sarkas, wanita yang kini telah terluka hatinya itu seakan tak lagi terlihat segan pada pria yang baru saja menjadi suaminya itu.


"Jangan main-main Sari, sekali aku mengikatmu untuk tetap berada di sisiku maka selamanya kamu akan tetap disini bersamaku"ucap Alvaro yang bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang dimana Sari kini berada.


"Sebagai apa?,,, apa? sebagai budak nafsu mu,,, karena jika kamu benar-benar menganggap ku sebagai seorang istri maka kamu tidak akan melarang ku untuk mengurus putra kalian! apa? aku tidak berhak menganggap dia sebagai putra ku sendiri setelah kata sah sebagai seorang istri itu terucap, setidaknya jadikan aku sebagai ibu sambung nya, tapi tunggu itu tidak akan pernah mungkin karena aku bahkan tidak pernah diakui sebagai istrimu."ucap Sari sambil tersenyum kecut.


"Sari jangan keterlaluan"


"Kenapa! apa? aku salah aku memang tidak pernah diakui oleh mu sebagai istrimu karena yang ada di hatimu saat ini hanya kedua wanita itu, dan dia dia yang wajah ini begitu mirip dengan nya,,, hanya akan dijadikan budak nafsu karena kamu hanya mencintai dia"


Plak....


Tamparan keras itu mendarat di pipi halus dan mulus itu, hingga gadis itu langsung menunduk dengan Air mata yang membanjiri pipinya.


"Jangan pernah kau ungkit dia lagi, siapapun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi nya disini" pria itu menunjuk dada sebelah kiri nya, tepat di jantung nya. "Dan kamu harus tau dimana posisi mu berada!"ucap Alvaro dengan nada tinggi.


Sari, langsung bangkit dia hendak turun dari ranjang milik Alvaro, namun dengan kasar pria itu mendorong Sari hingga terjerembab di atas ranjang empuk itu.


Gadis itu semakin menangis sesenggukan, malam pertama yang seharusnya membawa bahagia tapi yang dia dapatkan adalah kedukaan, Duka terdalam yang tidak pernah akan ia lupakan seumur hidup nya.


Alvaro masih berdiri menatap tajam kearah gadis itu.


"Jangan membantah"


...🌸...........🌸...


Sementara Alvaro, masih duduk di balkon kamar nya sambil menyesap rokok dan segelas wine yang kini sudah habis setengah nya.


Dia bahkan tidak perduli dengan keadaan Sari dan putra nya, entah apa? yang Alvaro pikiran saat ini mungkin kah rasa penyesalan yang teramat dalam karena telah menyia-nyiakan Xena semasa hidupnya, atau karena dia menyesali pernikahan itu, entahlah yang jelas saat ini Alvaro tidak sedikit pun peduli pada kedua orang yang seharusnya menjadi tempat dia untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayang nya, namun yang terjadi malah sebaliknya.


Alvaro masuk ke dalam kamar nya, setelah ia tak melihat pergerakan dari Sari dan tangisan sang putra tidak terdengar lagi, ternyata bayi itu berada di dalam dekapan Sari yang kini tertidur pulas di sofa singel tempat dimana dia memberikan susu formula pada bayi yang bahkan belum kering tali pusar nya itu.


Alvaro mematung di tempatnya, dia bahkan tidak habis pikir kenapa? putra nya itu begitu lelap tidur di pelukan istri keduanya itu.


"Sihir apa? yang kamu berikan padanya hingga putra ku pun tidak pernah bisa jauh dari dirimu"ucap Alvaro yang kini mengangkat tangan nya dengan ragu-ragu karena ingin membangunkan istrinya itu.


Alvaro juga merasa sangat bersalah saat melihat bekas gambar tangannya itu dia hendak mengusapnya tapi tangan itu mengambang begitu saja karena Sari tiba-tiba membuka mata nya.


"Tidurkan dia di tempat nya, jangan sampai dia terjatuh karena jika sampai lecet sedikit saja, maka kamu akan tau akibatnya."ucap Alvaro dingin.


"Baiklah"ucap Sari hampir tidak terdengar.


Alvaro, langsung meraih bantal dan selimut, setelah itu dia membawa itu keatas sofa.


"Tidurlah ini sudah sangat larut dan mungkin sebentar lagi pagi"ucap Alvaro, sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa.


"Sebaiknya kakak yang tidur di ranjang biar aku yang disini lagipula biar aku bisa menjaga Alercxa"ucap Sari.


"Aku bukan kakak mu"ucap Alvaro.

__ADS_1


"Baik tuan Alvaro"ucap Sari.


Alvaro langsung bangkit dari tidurnya, dia menatap tajam kearah Sari yang kini berjalan menuju ranjang nya itu.


"Apa? yang kau katakan tadi, coba katakan satu kali lagi!"bentak Alvaro.


"Yang mana tuan"ucap Sari.


"Sari, apa? aku meminta mu untuk memanggil ku seperti itu"ujar pria itu.


"Lalu aku harus memanggil mu bagaimana?"tanya Sari lembut.


"Aku adalah suami mu, dan kau pasti tau harus memanggil ku dengan sebutan apa!"ucap Alvaro.


"Jika kamu adalah suamiku, apa? ada suami istri yang tidur terpisah seperti saat ini, dan apa? seorang suami akan bersikap seperti itu pada istrinya dan memperlakukan dia seperti musuhnya, jika kamu tidak bisa berbagi dengan ku, setidaknya kamu menghargai ikatan pernikahan itu yang kamu ciptakan sendiri, tapi aku sudah salah karena terlalu berharap banyak atas ikatan ini"ucap Sari yang langsung pergi ke luar meninggalkan Alvaro dengan tangis yang tidak tertahankan lagi.


"Sari kamu mau kemana"Teriak Alvaro.


Tapi gadis itu tidak sedikit pun menoleh pada Alvaro, dan berlalu begitu saja.


Alvaro, langsung pergi menyusul sari saat itu juga, pria itu tidak tahu kemana? Sari pergi saat ini tapi yang jelas dia turun ke lantai bawah dan berkeliling di sana, hingga suara Anggita membuat dia terhenyak.


"Sedang apa? kamu disini Al,ini sudah larut bahkan sebentar lagi pagi"ucap Anggita.


"Ah tidak Mom,, aku hanya haus dan aku sengaja turun untuk mengambilnya"ucap Alvaro.


"Memangnya istrimu dimana heumm,, kenapa? juga tidak meminta bantuan nya, atau kamu ah... mommy sampai lupa jika saat ini adalah malam istimewa kalian"ucap Anggita sambil terkekeh, tapi terasa seakan dipaksakan.


Alvaro, terlihat salah tingkah saat ini bahkan dia salah saat hendak mengambil gelas, dia malah membuka pintu rak penyimpanan pisau.


"Al kau mau minum atau mau mengiris daging, itu tempat pisau"ucap Anggita.


"Ah,, iya mom.. Al lupa mungkin karena tidak pernah turun sendiri untuk mengambil sesuatu"jawab nya sedikit gelagapan.


Wanita paruh baya itu langsung membuka rak khusus tempat dimana berbagai gelas milik keluarga berada di sana dan nama Sari ada di salah satu gelas tersebut, Anggita memberikan gelas itu dan memberikan sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin.


"Pergilah, ingatkan istrimu untuk beristirahat"ucap wanita yang kini terlihat tenang itu.


"Iya mom"ucap pria itu.


Sampai, saat Alvin kembali dari dapur, Anggita pun berbalik melirik ke arah gadis itu, yang kini berdiri di belakang nya sedari tadi Sari berada di balik rak yang menjulang tinggi di sana gadis itu masih terisak.


Anggita langsung memeluk wanita itu bahkan mengusap lembut puncak kepalanya itu.


"Sari,, mommy tau ini berat bagimu, tapi percayalah kamu bisa melewati ini semua hanya saja mungkin perlu waktu untuk semua itu tapi yakinlah Al adalah pria yang baik dan sangat bertanggung jawab hanya saja mungkin saat ini pikiran nya sedang sangat kacau jadi kamu harus bisa maklum dengan semua itu, ingat mommy akan selalu ada untuk mu, kamu tau Agatha tidak akan pernah bisa menerima orang yang ia sayangi tersakiti jadi kamu harus kuat karena ada kami di sisimu."ucap Anggita.


Sampai Anggita meminta dia untuk pergi kembali ke kamar Alvaro atau kamar mereka setelah kondisi Gadis itu terlihat tenang.


Setelah, Sari tenang akhirnya gadis itu pun kembali menuju kamar nya, terlihat Alvaro sedang berdiri menyambut kedatangan nya.


"Masih ingat untuk kembali"ucap nya dingin.


Alvaro mengeratkan genggaman tangan kekar nya di dalam saku celana nya, saat ini sebenarnya tidak hanya Sari yang merasakan sakit dari sikap arogan nya tapi juga dirinya yang kini terlihat menitikkan air mata tapi segera ia usap dengan kasar saat Sari hendak memasuki kamar mandi, jadi gadis itu tidak sempat melihat itu.

__ADS_1


Hingga pagi tiba, keduanya tidak ada yang turun satupun menuju lantai bawah untuk sarapan pagi, bahkan saat ini mereka mengira mungkin pengantin baru itu merasa kelelahan.


Tapi tidak bagi Anggita yang tau semua yang terjadi saat ini, wanita paruh baya itu tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua yang belum bisa turun karena sesuatu hal, dia yang membawa sarapan pagi itu secara langsung dan tidak lama setelah itu dia juga membawa turun cucunya itu yang kini masih tertidur pulas, dengan alasan akan membawa dia berjemur.


__ADS_2