Sang Penari

Sang Penari
#Di paksa#


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinanti oleh Kalas, Tania yang sedari tadi sudah duduk di sampingnya menunggu penentuan untuk membuka gerbang kehidupan baru yang akan mereka jalani.


Sampai saat janji setia itu terucap dan kata sah menggema di ruangan itu semua orang pun bersorak gembira.


Sementara kedua mempelai saat ini tengah memasang cincin pernikahan bergantian pun dilakukan yang pertama Kalas memasang cincin berlian yang indah itu di tangan istrinya Tania lalu mengecup kening istrinya itu.


Setelahnya kini giliran Tania yang kini memasang cincin nikah di jari Kalas, dan Tania mengecup punggung tangan suaminya itu dengan penuh cinta.


Setelah itu mereka pun menandatangani berkas pernikahan yang lumayan banyak itu.


Setelah itu mereka pun mengadakan Acara makan-makan karena resepsi megah itu akan dilakukan keesokan harinya.


Saat ini Kalen langsung pamit pulang pada kedua orang tuanya dan juga pada keluarganya saat ini hatinya sedang sangat kesal karena ternyata Kinara tidak hadir di sana meskipun Kalen sudah memperingatkan bahwa dia akan menghukumnya.


Pria itu berlalu pergi meninggalkan hotel menuju Mension utama.


Sementara itu di Mension Kinara saat ini gadis itu baru saja selesai mandi dan hendak pergi ke luar bersama dengan pelayan lain untuk membeli keperluannya.


Namun saat akan keluar tiba-tiba kalan langsung menarik lengan gadis itu yang kini berjalan mundur mengikuti langkah Kalen yang kini menyeretnya membawa dia ke sebuah ruangan.


"Sudah aku bilang datang kenapa? kamu begitu keras kepala heuh."ucap pria itu.


"Aku tidak tau harus pergi kemana?. sementara tuan muda sudah pergi lebih dulu."ucap Kinara beralasan.


"Disini ada banyak sopir dan pengawal kamu bisa minta mereka untuk mengantar mu pergi... atau kamu hanya mencari alasan."ucap Kalen.


"Aku serius tuan aku tidak tau tolong maafkan aku."ucap Kinara.


"Tidak nyatanya kau akan pergi dengan mereka kemana? heeuh giliran mereka mengajak kamu mau tapi giliran aku bahkan kamu tidak peduli."ucap pria itu sinis.


"Aku mau membeli keperluan ku, itu juga karena mereka ingin berbelanja."ucap gadis itu.


"Ikut aku."ucap Kalen.


"Tapi tuan tidak bisakah lain kali saja aku sudah janji dengan mereka."ucap gadis itu.


"Lebih penting mana aku atau mereka."ucap Kalen.


Gadis itu terdiam.


"Lebih penting mana aku atau mereka!."teriak Kalen.


Gadis itu hanya menatap Kalen dengan linangan air mata.


Baru kali ini dia mendapatkan bentakan keras dari pria yang ada di hadapannya.


"Ikut aku sekarang juga."ucap Kalen yang kini membawa dia pergi menuju keluar Mension.


"Aku harus segera pergi kamu mau mengajak aku kemana?."ucap gadis itu.


Kalen tidak menjawab setibanya di samping mobilnya dia langsung membuka pintu dan mendorong gadis itu untuk masuk kedalam.


Pria itu menutup pintu mobil dengan kasar dan bergegas mengitari mobil dengan langkah lebarnya.


Sesampainya di dalam mobil pria itu kembali menatap lekat wajah cantik yang kini tengah menatapnya.


"Maafkan aku."ucap gadis itu lirih.


"pakai sabuk pengaman mu."ucap Kalen.


Gadis itu hendak menggunakannya tapi Kalen yang tidak sabar langsung meraih itu dari tangannya.


Kalen memasang itu dengan sangat kasar.


Sampai saat pria itu menghidupkan mesin dan langsung tancap gas.


Saat ini Kinara meremas jemari tangannya itu.


Kalen tidak berucap sepatah kata pun, pria itu benar-benar marah.


Hingga mereka tiba di parkiran rumah sakit, Kalen langsung meminta gas itu untuk turun.


Sementara Kinara yang kebingungan saat ini hanya menuruti pria itu hingga Kalen membawa dia ke tempat dimana? Tiara berbaring saat ini.


"Sekarang aku memintamu untuk membangunkan kekasih ku yang tengah koma jika kamu bisa aku akan memaafkan kesalahan mu."ujar pria itu seakan tak pernah mau mengerti.


Sementara Kinara hanya bisa mematung dia merasa tidak habis pikir dengan permintaan pemuda itu.


"Bagaimana? caranya dia bisa membangunkan wanita cantik yang kini tengah terbaring lemah tak berdaya itu, seperti putri tidur di dalam dongeng.

__ADS_1


"Tuan bisa meminta aku untuk melopat dari gedung ini jika perlu tapi aku tidak sanggup jika harus membangunkan kekasih tuan, aku bukan tuhan yang bisa melakukan semuanya."ucap Kinara.


"Baiklah pergilah lompat dari gedung ini sekarang juga."ucap Kalen.


Kinara langsung pergi keluar dari dalam ruangan itu dia berjalan cepat menuju tangga darurat yang akan membawa dia hingga ke atap tapi baru dua langkah tangan kekar itu menarik dia hingga gadis itu terjatuh di lantai dengan posisi berlutut menghadap tangga.


"Ah..."lirih gadis itu.


"Kau meminta ku untuk memerintah mu terjun dari atas gedung, sementara baru jatuh segitu saja sudah mengeluh."ucap Kalen yang kini pergi meninggalkan dirinya.


Kinara tidak habis pikir kenapa? Kalen bisa bersikap seperti itu.


Kinara bangkit dengan lutut lecet dan sedikit berdarah dia duduk di tangga.


Sudah sepuluh menit berlalu Gadis itu duduk sambil menunduk tetes air mata berjatuhan begitu saja.


Kinara tidak tahu apa? keputusan dia untuk ikut pulang bersama dengan pria itu sudah tepat atau semakin membuat hidupnya tidak menentu.


Kinara menghapus air matanya dengan kasar dia berusaha untuk bangkit meskipun jujur lututnya begitu sakit.


Gadis itu menelpon bibinya untuk menyiapkan barang-barang miliknya karena rencananya Kinara akan pergi dari Mension.


Dia cape menghadapi tuan muda yang semakin hari semakin aneh saja permintaannya.


Namun Kinara tiba-tiba terkejut saat Kalen merampas ponsel miliknya.


"Kau ingin pergi, maka pergilah jika kamu bisa tapi jangan harap bisa membawa apapun dari Mension termasuk barang-barang milik mu sekalipun."ucap pria itu.


"Apa? sebenarnya maumu tuan muda."tanya gadis itu.


"Kau tanya apa? mauku saat ini setelah aku tidak lagi membutuhkan mu."ucap Kalen datar perkataan itu terasa dingin menusuk jantung


"Kembalikan handphone saya tuan bukankah anda sudah tidak membutuhkan saya lagi."ucap gadis itu.


"Ambilah."ucap Kalen yang menjatuhkan bedah pipih itu hingga layarnya pecah.


Gadis itu tidak memperdulikan hal itu dia langsung pergi berlari bahkan tidak memperdulikan rasa sakitnya Kinara pergi berlari hingga ke luar rumah sakit.


Sesampainya di sana gadis itu langsung naik taksi.


Dia tidak tau dia harus pergi kemana? ditengah malam buta itu.


"Nona anda akan pergi kemana?."ucapnya.


"Saya tidak tau tuan tolong turunkan saya disini."pinta gadis itu.


"Berapa? saya harus membayar."ucap Kinara.


Lima puluh ribu rupiah."ucap sopir taksi yang terlihat kasihan padanya.


"Nona apa? Kau orang baru di sini."ucapnya bertanya.


"Saya baru datang dari Kanada."ucap Kinara jujur.


...🌸..........🌸...


Gadis itu turun tepat di depan taman kompleks sebuah perumahan entah harus kemana dia pergi saat ini dia kini sendirian di dunia ini bahkan dia hanya membawa tas kecil berisi dompet dan handphonenya yang bahkan sudah rusak tak bisa digunakan.


Gadis itu duduk di bangku taman dalam pencahayaan remang-remang hingga dia tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk tas selempang miliknya.


Dia tidak tahu jika saat ini dari kejauhan sebuah mobil sport berhenti di pinggir jalan raya depan taman kompleks tersebut.


Seorang pria turun dan menghampiri gadis yang menurutnya sangat keras kepala itu.


"Kau lebih memilih seperti ini ketimbang mengikuti keinginan ku."gumam pria itu yang kini duduk di bangku yang sama sambil menatap wajah cantik yang terlihat pucat itu.


Gadis itu tidak sedikitpun terganggu dengan kedatangan Kalen sepertinya dia sudah terbiasa hidup seperti ini.


Hingga saat dia melihat derai air mata yang kini keluar dari sudut mata gadis itu.


Gadis itu pun mengigau memanggil ibunya meminta mereka untuk bangun.


Sepertinya ingatan masa kecilnya itu kembali menjadi mimpi buruk baginya.


Kalen langsung meraih tangan gadis cantik itu dan saat itu dia kaget ternyata tubuh Tiara demam tinggi.


"Kau begitu keras kepala."ucap Kalen yang kini membawa gadis itu pergi.


Sesampainya di rumah sakit dokter langsung menangani Kinara.

__ADS_1


Gadis itu pun langsung di bawa ke ruang perawatan.


Sampai saat dia dibawa ke dalam ruang perawatan.


Kinara masih belum sadarkan diri, Kalen yang kini merasa lelah pun dia tertidur pulas di sofa rumah sakit tersebut.


"Kasihan gadis pasien dengan percobaan bunuh diri itu. ibunya baru saja meninggal akibat tabrak lari."ucap suster itu kedua orang suster itu tengah memeriksa kondisi Kinara dan mengganti botol infus yang sudah hampir habis itu.


Kalen langsung terjaga dan bangkit dari sofa langsung bertanya.


"Apa? itu mengenai pasien bernama Tiara."ucap Kalen.


"Saya kurang tau tapi gadis itu kini tengah koma."ucap suster itu.


"Dimana? jenazah wanita itu."ucap Kalen yang langsung merapihkan jas yang kini melekat di tubuhnya.


Ada di ruang jenazah tuan karena masih menunggu keluarnya."ucap suster tersebut.


"Tolong jaga pasien ini jangan sampai dia pergi jika tidak karier kalian yang menjadi taruhannya."ucap pria tampan itu.


Mereka berdua pun mengangguk, setelah itu Kalen bergegas pergi meninggalkan mereka untuk mencari tahu kabar itu. jika kabar itu benar maka Tiara benar-benar gadis malang sama seperti Kinara.


Sesampainya di ruangan informasi pria itu langsung bertanya tentang kabar tersebut dan setelah di kroscek ternyata benar adanya.


Kalen kini berada di tengah dilema di satu sisi dia harus mengurus Tiara, Kinara dan juga kuliah dan juga perusahaan sementara jenazah ibunya Tiara pun sedang menunggu untuk dijemput oleh keluarga, tapi sampai saat ini tidak ada satupun keluarga yang menjemput jenazah wanita paruh baya itu.


Sungguh malang, disaat dia berjuang untuk melakukan pengobatan putrinya dia sendiri harus kehilangan nyawanya dalam insiden tabrak lari itu.


Kalen pun meminta jenazah itu di urus oleh pihak rumah sakit dan Kalen yang mengambil tanggung jawab itu demi Tiara yang mungkin akan sangat terpukul jika mengetahui bahwa ibunya sudah tiada.


Kalen pun langsung bergegas menuju ke ruangan dimana? kini Tiara terbaring koma.


Sementara itu di kediaman Agatha saat ini tengah terjadi kehebohan pasalnya Kalen dan Kinara tidak ada di rumah Marvin.


Dan saat di cek Cctv rumah besar itu terlihat jika Kalen menyeret Kinara pergi meninggalkan Mension dan hingga kini keduanya tidak bisa dihubungi.


Fero yang saat ini sudah bersiap untuk pergi ke kantor pun diminta untuk membantu mencari keberadaan mereka.


Sampai seseorang melapor bahwa keduanya ada di rumah sakit saat ini akhirnya Agatha meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang keduanya saat ini.


Sampai saat mereka tahu tentang semua yang terjadi akhirnya setelah itu mereka pun pergi menuju tempat resepsi pernikahan Kalas dan Tania.


Fero sendiri kini tengah ada urusan penting di perusahaan setelah itu dia akan menyusul Daddynya ke tempat resepsi pernikahan saudara sepupunya itu.


Disaat semua orang tengah sibuk mengurus resepsi pernikahan, maka Kalen sendiri kini tengah menghadiri pemakaman Ibunda Tiara yang baru saja dilakukan setelah dia tahu bahwa saat ini ayah Tiara tidak mau hadir di pemakaman karena istri keduanya melarang hal itu.


Sungguh malang nasib ibunya Tiara dia bahkan tidak tau jika saat ini suaminya telah mengkhianati cintanya itu.


Hingga saat ia meninggal dunia pun suaminya tidak ingin datang untuk yang terakhir kalinya di pemakaman tersebut.


Setelah selesai pemakaman Kalen bergegas pergi menuju rumah sakit, dia meminta asisten pribadinya itu untuk membawakan apa? Yang dia butuhkan saat ini.


Kalen pergi menuju ruangan Tiara disana dia duduk di samping gadis itu dan mengelus punggung tangan gadis itu.


"Tiara semoga kamu kuat dan bisa menerima kenyataan ini, ibumu yang sangat mengasihi mu kini sudah pergi untuk selamanya, dan ayahmu sudah tidak peduli lagi dengan kalian hidup atau mati karena dia sudah memiliki wanita lain."ucap Kalen.


Tiba-tiba saja tubuh gadis itu kejang-kejang hingga akhirnya Kalen langsung menekan tombol emergency room saat itu juga.


Dokter datang ke ruangan itu dengan terburu-buru diikuti oleh beberapa orang perawat.


"Tolong anda tunggu di luar dulu."ucap sang dokter yang kini langsung memeriksa keadaan gadis itu.


Setelah beberapa saat kemudian akhirnya mereka pun keluar, dokter berkata jika saat ini Tiara sudah sadar dari koma.


Kalen pun kembali masuk kedalam ruangan tersebut.


Perlahan-lahan dia melangkah menghampiri Tiara yang kini berurai air mata saat melihat Kalen berada di hadapannya.


"Maaf."ucapnya lirih.


"Syukurlah kamu sudah bangun Tiara, jangan bicara seperti itu kamu hanya sedang salah faham."ucap Kalen.


Pria itu mendekat dan duduk di samping ranjang dia meraih tangan Tiara lalu berkata.


"Jangan dulu banyak bicara kamu harus segera sembuh aku tidak akan pernah membiarkan mu sendirian di dunia ini."ucap Kalen yang membuat gadis itu bertanya-tanya.


Namun Kalen tidak ingin mengatakan kabar duka itu saat ini, karena dia takut terjadi apa-apa pada Tiara.


"Sudah sekarang sebaiknya kamu istirahat, setelah kamu sembuh nanti aku akan segera menikahi mu."ucap Kalen sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Tiara hanya terdiam, dia tidak mengiyakan perkataan Kalen. gadis itu seolah sedang bingung tapi Kalen tidak ingin memaksa Tiara untuk merespon semua ucapannya.


__ADS_2