Sang Penari

Sang Penari
#Pernikahan#


__ADS_3

Setelah, selesai merenovasi setiap bagian ruangan di apartemen tersebut kini terlihat beberapa orang hilir mudik, membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh Agatha.


Studio Tatto, milik Agatha sudah selesai di siapkan, semua terlihat sangat rapi, dan nyaman, tapi di dalam apartemen tersebut juga ada mini bar, dan juga ruang bersantai bagi Agatha, atau pun mereka yang datang untuk membuat tatto.


Terutama, kamar milik Agatha, yang terlihat, lebih dewasa dari nuansa kamarnya yang dulu, di setiap rumah, kamar itu terlihat sangat berkarakter, sekarang semua telah berubah.


Agatha, sudah menjelma menjadi gadis dewasa, maka dari itu, saat ini dia sudah bisa menempatkan diri, mana yang harus di bagi, dan mana yang harus menjadi privasi.


Hari, ini, hari pertama dia pindah rumah, Agatha, diantar oleh NATO dan Alana, sementara keluarga yang lain nya, akan datang nanti, Agatha, dan NATO, satu mobil, sementara Alana yang kini tengah hamil besar, bersama sang suami tercinta, siapa lagi jika bukan Piter.


"Pria itu terus memperhatikan gerak-gerik, Agatha, dalam diam nya, dia yang selama ini menjadi musuh bebuyutan, gadis itu, kini dia sendiri, merasakan kehilangan, dia terus bertanya-tanya dalam hati nya, apa? benar dia itu Agatha, gadis polos dan cengeng yang selalu ia ejek.


Agatha, terlihat begitu cantik, dan mempesona, meskipun tanpa polesan makeup, bahkan hingga saat ini, Piter, terus mencuri-curi pandang terhadap, adik ipar nya itu.


"Yang kamu sedang lihat apa? sih"ucap Alana.


"Yang, apa? benar itu adalah Agatha Big baby"Tanya Piter.


"Tentu saja, kamu pikir dia siapa?"tanya balik Agatha.


"Aku hanya heran, dua tahun yang, hanya dalam dua tahun dia begitu cepat berubah, seharusnya, kita berterimakasih kepada, si Alexander, berkat dia, Big baby sadar"ucap Piter.


"Sudah, kalo dia marah berabe"ucap Alana.


"Biarkan saja, kak laki-laki stress kaya dia memang, tidak akan pernah berhenti menghujat orang, sampai mulutnya berbusa pun, akan selalu begitu, aku heran kenapa? mommy masih pertahankan dia menjadi menantu"ucap Agatha, datar.


Sontak mata Piter, membulat sempurna, gadis itu, benar-benar ber lidah tajam"Kau, dasar big baby"ucap Piter.


Sementara NATO, hanya mesem di sudut ruangan, tepat di sofa singgel.


"Sayang, boleh kakak minta minum"ucap NATO.


"Belum ada air mineral kak, adanya sampanye, wine , dan Jack Daniels"ucap Agatha, dan kini giliran Piter, yang tertawa terbahak-bahak, sementara NATO, menelan ludah nya.


"Sayang, kamu tau kan, kakak ini seorang dokter"ucap NATO.


"Apa? hubungan nya, kak lagi pula, sedang tidak berdinas bukan"ucap Agatha.


"Iya sayang tapi itu bukan obat haus"ucap NATO.


"Baiklah, Agatha pesan kan sekarang"ucap nya yang langsung meminta seseorang untuk mengirimkan galon air mineral ke united nya, dan hanya beberapa menit itu sudah sampai.


"Nih, minum nya kak"ucap Agatha.


"Terimakasih sayang"ujar NATO sambil tersenyum.


"Tumben, nyambung"ucap Piter.


"kak, Lana, jika dia masih ingin bertemu dengan kakak, suruh dia diam"ujar Agatha tegas.


"Wah, bisa nya, cuma mengancam"ucap wanita itu.


"Yang sudah aku bilang jangan banyak bicara juga"ucap Alana.


"Heumm"balas Piter.


Sementara Agatha, duduk di samping NATO, yang kini mengusap usap puncak kepala nya, dengan sayang, pria itu, terlihat begitu menyayangi Agatha.


"Kak, aku boleh main ke apartemen kakak?"ujar Agatha.


"Tentu saja Sayang"ucap Agatha.


"Tentu saja Sayang ku"ucap NATO.


Sampai keempat orang tua mereka datang, saat itu juga Alvin, menatap apartemen, yang penuh kenangan akan dirinya dan Anggita kini telah berubah, bahkan, saat masuk, matanya, sudah disuguhi rak penyimpanan yang berisi berbagai macam anggur merah dan juga beberapa minuman keras lainnya, yang memiliki perijinan khusus, dan sudah melewati prosedur yang berlaku.


Bahkan minuman tersebut, sangat berkualitas tinggi,di hadapan rak tersentuh ada mini bar, dan juga, ada beberapa tanaman hias di sudut ruangan tersebut, mereka pun berbelok ke arah lain dimana, ada ruang santai yang cukup luas, dengan berbagai furniture, ada tak dinding berisi buku-buku, dan ada aquarium yang cukup besar sebagai dinding sekat, menuju dapur, semua bernuansa, berpadu dengan warna hitam legam, di bagian dinding hitam itu, ada karya seni dari Agatha.


Terdapat beberapa lukisan, hasil karya nya sendiri.


Dia, dapat inspirasi dari Irma, dulu, yang berkata, luapkan keluh kesah mu, diatas kanvas dan Agatha, pun melakukan semua hal itu.

__ADS_1


semua orang berkumpul di ruang santai sementara Agatha dan mommy nya, tengah berbincang sambil menunggu pelayan, menghidangkan makanan di atas meja makan panjang tersumbat, yang tidak jauh dari kolam renang.


di area itu, hanya sedikit perubahan, karena, Agatha, ingin keluarga nya nyaman, saat berkunjung.


"Sayang, mommy mohon jangan lakukan hal yang akan membuat batin mu tersiksa, mommy, akan tetap mencintai dan menyayangi mu, jika kamu mau kembali, jadi anak mommy yang super manja, yang menyukai es krim dan cupcake, mommy tidak pernah malu, atau pun sedih, memiliki mu yang seperti dulu, kecuali rasa sakit mu, rasa sakit mu, membuat mommy, hampir menyerah, tapi dengan do'a yang tidak pernah putus mommy, berhasil menolong mu cinta mommy"ucap Anggita yang kini menangis memohon agar putri nya, tidak menjadi seperti yang ia takutkan.


"Hey...mom.... Agatha mohon, jangan menangis, Agatha, masih putri mommy yang dulu, Agatha, masih sangat mencintai mommy, Daddy, dan seluruh keluarga Agatha, Agatha tidak berubah mom, Agatha, hanya sudah tumbuh besar, mommy tidak usah khawatir, Agatha juga akan kembali kuliah, tapi jurusan manajemen bisnis mom"ucap Agatha.


"Apa? pun itu sayang mommy akan mendukung mu, hanya saja satu, ketakutan mommy, mommy takut Agatha salah jalan sayang, mommy sangat menyayangi mu, kamu harapan terbesar mommy, sayang, karena yang lain sudah bersama dengan yang lainnya"ucap Anggita.


"Mommy, tenang saja, setelah Agatha, lulus nanti, Agatha akan menjadi pebisnis hebat, dan tidak akan pernah buat mommy menangis, seperti sekarang ini, tersenyum lah, mom, agar masadepan Agatha, lebih cerah lagi"ucap gadis itu.


"Sayang, mommy, menangis mungkin karena mommy, merasa kehilangan, Agatha, mommy yang dulu manja, tapi sekarang sudah tidak lagi"ucap Anggita.


"Mom, mungkin, Agatha, sudah dewasa, tapi rasa sayang Agatha, terhadap mommy Daddy dan seluruh keluarga, masih sama, seperti dulu tulus dan suci, tidak terkalahkan"ucap Agatha.


"Mommy, tau itu sayang mommy tau cinta ku, Agatha ku, yang cantik dan yang baik hati, putri mommy, kesayangan mommy"ucap Anggita, sambil memeluk erat tubuh sang putri.


...🌸................🌸...


Mereka pun akhirnya makan bersama,di meja panjang itu, Marvin, sebagai kepala keluarga yang sangat mereka cintai dan mencintai mereka, selalu menghadirkan momen, seru untuk memecahkan suasana sepi, dan kecanggungan diantara mereka, karena, melihat Agatha, yang jarang bicara.


Hingga malam tiba kini gadis itu, duduk di tepi ranjang Air mata menetes di sudut pipinya.


Kemudian dia berbaring di tempat tidur nya memeluk guling tidak lama, suara bel pintu, terdengar nyaring, hingga Agatha terpaksa bangkit, dan membuka pintu, Agatha kaget melihat siapa? yang datang.


Beberapa orang, yang membawa Alexander, yang yang kini dibawa ke dalam, karena Alexander meminta mereka untuk membawa dia pulang ke tempat Agatha.


"Kemana? kami harus membawa nya,nona"ucap salah seorang bodyguard.


"Bawa kedalam saja"ucap Agatha.


Gadis itu tau jika, Alexander, masih sadar


Alexander pun, dibawa ke kamar yang ada di samping kamar Agatha, dia pun dibaringkan di sana.


Setelah Alexander berbaring Agatha pun mengantar para pria yang kini melihat takjub, kearah rak yang terdiri dari sebuah minuman berkelas, dan sebuah studio tatto yang terlihat transparan dari satu sisi.


"Tidak Nona, saya tidak, bisa membayar nya"ucap mereka, Agatha pun kembali tersenyum ramah.


Mereka pun berlalu pergi, Agatha kembali ke dalam kamar tadi, dimana Alexander, tengah berbaring.


Agatha, mungkin benci pada, Alexander, tapi wanita itu tidak tega, melihat Alexander seperti saat itu, Agatha melepaskan sepatu pria itu, dan mengambil handuk kecil di isi air hangat, dia menyeka wajah Alexander.


Sampai, batas leher, dia pun meminta bantuan seorang pria yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih untuk membantu mengganti pakaian Alexander, dan menggunakan kimono tidur, khusus untuk tamu.


Setelah itu Agatha, memberikan tips, pada pria itu, lima lembar uang, dari dompet Alexander.


Agatha, kembali menyelimuti Alex, lalu saat dia hendak berbalik dan pergi, tiba-tiba tangan Alexandre, meraih tangan nya meskipun Agatha, bisa melepaskan nya.


"Jangan pergi"lirih Alexander, tapi Agatha, tetap pergi dari kamar itu.


"Aku tidak tau siapa? yang memberitahu mu"lirihnya sambil menutup pintu kamar nya tidak lupa juga mengunci nya.


Agatha pun berbaring dan memejamkan mata nya kembali, hingga pagi tiba, dia mengerjapkan mata nya, dan bangun dari tidur nya Agatha, langsung pergi menuju kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu, sebelum dia beraktifitas.


Agatha, keluar dari dalam kamar nya dan berjalan menuju pantry, dia ingin membuat sarapan pagi, sarapan pagi buat dirinya dan juga buat, Alexander.


Alexander, sendiri kini baru selesai mandi, dia hanya menggunakan bathrobe, dan berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.


"Sayang, baju ganti aku"ujar Alexander pada Agatha, tapi gadis itu hanya diam, seribu bahasa.


"Sayang baju ganti aku"ucap Alex.


"Tidak, ada istri mu, disini karena kamu salah pulang"ujar Agatha.


"Aku pulang ke rumah istri ku, yang sebenarnya"ucap Alex dingin.


"Tuan Alexander, sepertinya dirimu, terkena, amnesia, setelah minum"ucap Agatha, yang kini mengambil satu botol anggur dari rak penyimpanan.


Gadis itu menuangkan, anggur tersebut kedalam gelas yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Stop, Agatha.... jangan minum itu"ucap Alexander.


"Lo... kenapa? tidak boleh tuan Alexander, keluarga ku saja tidak ada yang melarang ku minum, lalu kenapa? anda keberatan"ujar Agatha santai.


"Yang please, aku mohon maafkan aku jika semua ini berasal dari ku"ujar Alex.


"Jangan ge-er tuan Alexander, anda tidak ada hubungan nya dengan ini"ujar Agatha.


Gadis itu, bahkan tidak bergeming saat Alexander memintanya untuk berhenti minuman.


"Pernikahan, itu adalah alasan utama kamu pergi dan tiba-tiba berubah, seperti ini,ia kan"ujar Alexander.


"Silahkan telpon istri anda jika ingin jelas, sekalian minta baju mu"ucap Agatha.


Agatha pun meninggalkan meja makan tersebut, dan menyenggol botol untung Alexander dengan sigap menangkap botol tersebut.


"Berhenti disitu sayang, jangan sampai kamu menyesal karena semua ini"ucap Alexander.


"Menyesal, heuhhhhh yang benar saja, aku bahkan tidak pernah menyesal sudah seperti saat ini, untuk apa? aku menyesal"ucap Agatha.


"Yang!"teriak Alexander, saat wanita itu benar-benar pergi.


Jika Agatha dan Alex masih saja saling bertengkar hebat, di sebuah cafetaria, sekaligus rumah tempat tinggal Rosella yang NATO, beli untuk nya.


Gadis itu, saat ini tengah banjir pesanan, hingga mengharuskan dirinya, untuk meminta bantuan orang lain, untuk membantu nya, padahal sudah ada tiga orang karyawan di sana.


"Sepertinya, sedang sangat sibuk"ucap NATO, sambil menyodorkan bunga.


"Heumm.... kamu benar kak"jawab Rosella.


"Mau tambah karyawan"ucap nya, sambil memeluk, gadis itu.


"Tidak usah yang, aku bisa minta bantuan pada yang lain jika sedang sibuk"jawab Rosella.


"Terimakasih bunga nya, dokter tampan pujaan ku"ucap Rosella, sambil mengecup pipi NATO, yang kini terlihat tersenyum manis.


"Sama-sama koki cantik ku"ujar NATO.


Mereka pun duduk setelah melepas rindu, karena, sudah satu Minggu tidak bertemu, bahkan tidak saling memberikan kabar.


Rasanya ingin memeluk erat, Rosella jika saja tidak sedang sibuk, seperti saat ini.


"Mau minum apa?"ucap Rosella.


"Minum, yang biasa kamu buat saja yang"ucap NATO, sambil pergi meninggalkan cafe, menuju kedalam rumah tersebut.


NATO, pun duduk di balkon lantai dua, tempat bersantai dimana, mereka bisa melihat suasana cafe , sementara yang berada di cafe, tidak akan bisa melihat mereka berdua, karena kaca tak tembus pandang dari luar.


Rosella, membawa secangkir kopi, dan juga makan siang untuk mereka berdua, NATO pun tersenyum manis.


"Sayang, semakin hari, kamu semakin cantik saja, rasanya aku, seperti tidak ingin jauh lagi darimu"ucap NATO.


"Jangan lupa dengan pekerjaan, nanti istri mu,mau makan apa"ucap Rosella.


"Buat, apa? bekerja, toh istri sudah pintar mencari duit"ucap NATO.


Pria itu terkekeh kecil, karena kini Rosella, tengah mencebikkan bibir nya.


"Jangan digituin, nanti aku gigit, baru tahu rasa"ucap NATO.


"Heumm, sepertinya enak tuh, boleh minta"ucap Rosella, mengalihkan pandangannya, ke arah coklat yang tadi di pegang NATO.


"Dikira mau di gigit, eh taunya ini" ucap NATO, tanpa dosa.


"Gigit, suster Nara, seperti nya, nikmat, ucap Rosella.


NATO, langsung menarik Rosella, keatas pangkuan nya, lalu dia menggigit bibir Rosella, dengan lembut, pria itu tidak hanya sekali melakukan itu.


Setelah itu, NATO pun menyesap kopi yang sedari tadi terhidang di meja.


"Kak, bibir ku bengkak, bagaimana aku bisa bekerja"ucap nya.

__ADS_1


"Tidak usah bekerja"


__ADS_2