
Setelah selesai perkuliahan aku pun menelpon Marvin, seperti yang dia katakan tadi pagi bahwa dia meminta ku untuk menghubungi nya, tapi tidak pernah dijawab sekalinya diangkat tidak ada yang berbicara sama sekali.
akupun memutuskan untuk pulang ke rumah ku, karena aku sendiri tidak ingat alamat apartemen Marvin.
sesampainya di rumah aku langsung mandi dan berganti pakaian, setelah itu karena lelah setelah seharian kuliah akhirnya aku pun langsung terlelap di atas ranjang sambil mendengarkan musik.
hingga aku terjaga pukul satu malam, aku langsung bangun dan menunaikan salat malam, setelah salat isya.
setelah selesai aku kembali merebahkan diri di atas ranjang, aku mencoba menghubungi Doni, tapi nomor nya mati, aku pun mengirimkan pesan pada Tora, untuk meminta dia mencari tau keberadaan Doni, dan Tora bilang dia akan mencari tau tapi aku harus hadir di club nya besok.
Aku menyetujui persyaratan Tora, lagi pula aku disana hanya butuh joget biasa bukan jadi penari bugil seperti dulu.
hingga pagi menjelang aku pun kembali bersiap untuk kuliah, setelah sholat subuh,aku berjalan menuju lantai bawah karena perutku keroncongan dan betapa terkejutnya aku saat menemukan asisten rumah tangga ku sudah terbujur kaku, dengan mulut dipenuhi busa.
aku berteriak minta tolong kepada tetangga ku, dan mereka pun mulai berdatangan satu persatu, mereka juga ada yang menanyaiku bagaimana kejadiannya bisa seperti itu, dan aku menjawab tidak tahu, karena sedari aku pulang aku tidak melihat keberadaannya, karena biasanya PRT itu akan datang saat dipanggil saja sesuai permintaan Marvin sebelumnya yang penting pekerjaan rumah sudah selesai.
hingga polisi datang melakukan penyidikan kasus kematian tersebut, dan semua bukti menuju pada diriku, bahkan tidak ada jejak siapapun yang masuk rumah tersebut, dan hanya aku yang ada di rumah itu.
sementara yang dialami oleh pembantu ku adalah kasus pembunuhan, aku merasa dunia ku telah benar-benar runtuh, saat wajah ku tersorot kamera, sebagai pelaku pembunuhan, percuma saja aku menyangkal karena semua bukti mengarah pada ku, aku masih ingat saat terakhir kali, aku ditarik oleh Marvin, untuk pergi ke apartemen nya, aku melihat wanita itu dengan sorot mata ketakutan, aku sendiri tidak mengerti mengapa bisa begitu.
hingga penyidik mengintrogasi ku, selama sehari semalam aku bahkan tidak diberikan waktu untuk beristirahat barang sejenak hingga aku benar-benar lelah karena percuma lagi-lagi pertanyaan tersebut memberatkan ku, aku terpaksa mengakui kejahatan yang tidak pernah aku lakukan sama sekali hingga aku di jebloskan ke dalam jeruji besi, tidak ada satu orang pun yang mencari ku saat itu.
aku pasrah, mungkin semua ini jalan hidup ku, meskipun aku sadar ini semua adalah jebakan.
aku terdiam hanya Air mata yang mewakili rasa sakit yang teramat yang kini aku rasakan, tidak ada jalan keluar lagi selain menjalankan hukum-hukum selama dua puluh tahun penjara atau bisa lebih, dan ini adalah akhir hidup ku.
hingga seseorang datang membesuk tahanan dan itu adalah Marvin, pria itu terlihat dingin dan tidak sedikit pun tatapan ramah pada ku.
"Bukan kah sudah kukatakan agar kau patuh, kalau sudah begini siapa? yang rugi"ujarnya lirih.
"Siapa? sebenarnya dirimu Marvin"tanya ku sambil menatap lekat wajah tampan yang diliputi oleh seribu rahasia.
"Kau tidak perlu tau siapa? aku yang aku minta kau mematuhi peraturan yang aku buat, tapi apa? yang kamu lakukan"ucap nya sambil terus menatap wajah ku.
"Ah sudah lah, semua sudah berakhir, kamu bisa pergi tidak usah menemui ku lagi, karena aku sudah tidak punya kesempatan untuk hidup normal lagi, biarkan aku membusuk di penjara"ucap ku yang langsung meminta petugas membawa ku kembali ke sel.
hingga suara Marvin, yang memanggil ku dengan penuh penekanan"Ariana"ucap nya lirih, tapi aku hanya berhenti beberapa detik sebelum akhirnya aku melanjutkan langkah ku.
__ADS_1
hari demi hari aku lewati dengan sangat berat ,di sana tidak ada kata teman atau saudara, semua saling bermusuhan untuk menguasai sel, siapa yang terkuat dialah yang jadi bos, nya dan yang kalah akan menjadi kacung, seperti ku yang selalu disuruh ini itu, hanya beberapa detik nama ku sudah kembali dipanggil oleh nya, aku bahkan diminta untuk mencium kakinya, dan saat aku menolak aku dihajar habis-habisan oleh mereka para pengikutnya dan terakhir kepala ku dibenturkan ke tembok, setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi.
yang aku lihat saat tersadar aku berada di sebuah ruangan serba putih dan bau obat-obatan yang menyengat.
hingga seseorang datang membuka pintu, aku memalingkan wajah ku kearah lain.
lagi-lagi Marvin datang menjenguk ku, aku sudah minta petugas untuk tidak membawa tamu, tapi entah kenapa? dia bisa lolos begitu saja.
"Pergilah, jangan buat nama mu tercemar hanya karena sering mengunjungi ku, aku tidak butuh dikasihani, karena tidak ada satu orang manusia pun, yang bisa aku percaya saat ini, aku lebih baik mati daripada harus bersujud di kaki orang-orang mu"ucap ku lantang yang membuat Marvin, membulatkan matanya.
"Jangan bicara sembarangan Ariana, aku tidak pernah meminta orang lain untuk melakukan itu padamu"ucap nya tegas.
"Bahkan semua yang terjadi padaku pun, semua karena mu, aku mungkin tak punya bukti apapun, adikku mati, Doni menghilang dan sekarang aku di jebloskan ke penjara, semua karena siasat mu"ucap ku lantang.
"Baiklah anggaplah semua itu benar, dan sekarang lebih baik kau membusuk di penjara ini"ucap Marvin, yang langsung beranjak pergi.
"Ingat Marvin, suatu saat kau akan menyesali semua nya, apa yang kamu lakukan hari ini karena jika aku matipun, ada pengadilan tuhan yang akan menghukum mu, seberat-beratnya"ujar ku sambil berlinang air mata.
hingga satu tahun berlalu, aku sudah puluhan kali dilarikan ke rumah sakit, aku bahkan belum di sidang sama sekali, bahkan hukum itu, hanya di bacakan saat interogasi dilakukan, hingga seseorang datang menggunakan Hoodie dan masker juga kacamata hitam, dia datang bersama pengacara untuk membebaskan ku, dengan jaminan uang tentunya tidak sedikit, hingga aku dibebaskan, aku tidak tau harus bersyukur atau bagaimana karena hingga aku keluar pun aku sudah tidak punya apa-apa, masadepan ku hancur rumah itu bahkan sudah menjadi milik orang lain entah siapa? yang menjual nya.
ku ikuti kemana pun kakiku melangkah, hingga aku terhenti di halte bus, aku berniat untuk pulang ke kota asal ku, dengan uang pas-pasan yang sempat diberikan oleh seorang sipir penjara yang baik hati.
dia yang selalu menyelamatkan ku dari keroyokan orang satu sel ku sementara jika dia tidak ada aku di buat tidak berdaya dan terbaring di rumah sakit.
hingga tiba di tempat pemakaman aku menangis sejadinya, di samping makam Papi dan Mami ku, aku tidak tau berapa lama aku menangis hingga aku sadar saat seseorang datang mengangkat tubuh ku yang benar-benar sudah tidak berdaya lagi.
"Doni" lirih ku saat aku melihat dari samping dan bau parfum yang sering dia gunakan.
hingga aku kembali tak sadarkan diri.
setelah beberapa waktu aku terjaga aku melihat bahwa pria itu bukan Doni, wajah nya sama sekali tidak mirip, ada bekas luka di samping pelipis nya.
"Siapa? kau, kamu bukan Doni"ucap ku.
"Ariana, tidak penting aku Doni, yang dulu atau sekarang tapi yang pasti kita harus segera pergi meninggalkan negara ini, dan mulai sekarang kita akan menggunakan identitas baru, kita akan pergi sejauh mungkin, karena musuh kita bukan orang biasa"ucap Doni yang ternyata benar-benar sudah berganti wajah.
tepat saat malam hari tiba, aku dan Doni, pergi menuju bandara, dengan tujuan penerbangan negara Kanada, kami menjadi suami istri dari data diri yang entah Doni dapat dari mana.
__ADS_1
kami berangkat tepat saat dini hari, dengan penerbangan pertama, dan akhirnya Doni, bercerai semua tentang yang terjadi pada ku dan seluruh keluarga ku, termasuk Marvin, dan dugaan ku benar Marvin bukan orang biasa, yang hanya memiliki kekuasaan sebagai pengusaha sukses, tapi dia adalah anak angkat seorang mafia yang benar-benar disegani, dan sejak Marvin dewasa dia dijadikan sebagai tangan kanan ayah angkatnya itu.
tidak hanya itu, Marvin juga terpaksa menikahi kakak, angkat nya yang selama ini mencintai nya, dan keberadaan Mariana di sisi Marvin, membuat wanita kejam itu terganggu hingga perlahan dia merenggut satu-persatu orang yang paling Ariana, sayangi, meskipun dia tidak melakukan itu dengan tangannya sendiri, tapi dia selalu mengadu kepada Daddy nya, dan Marvin, mau tidak mau, harus mengikuti perintah nya, hingga jebakan yang terjadi pada Doni, dan anak buah Marvin merusak wajah Doni, dengan sadisnya hingga wajah sahabat ku satu-satunya itu rusak dan harus melakukan operasi.
"Ariana, apa? kau masih suci"ucap Doni.
Aku langsung mengangguk meyakinkan Doni, dan Doni pun terlihat menarik nafas lega.
"Berarti perkataan nya, serius dia tidak akan merusak mu, sebelum kamu benar-benar siap untuk berada di sisinya, dan itu artinya penindasan yang ia lakukan terhadap mu semata-mata agar kamu jadi wanita yang tangguh"ucap Doni sambil menatap kearah ku.
"Tapi kenapa? harus melenyapkan adikku, kenapa? dia tidak pernah berkata jujur pada ku, aku sejak aku tau semua yang terjadi dalam hidup ku, adalah karena Marvin ,aku sudah membenci nya"ucap ku.
hingga saat aku tiba di Kanada, aku tinggal satu atap dengan Doni, karena status kami kini aku menjadi nyonya Adele dan tuan Jack, yang entah mendapatkan identitas dari mana yang penting saat ini adalah hidup kami benar-benar terhindar dari bahaya.
aku juga mencari pekerjaan tidak perduli besar atau kecil gajih yang kudapat, aku hanya punya satu tekad yaitu mengembalikan wajah Doni, seperti dulu.
aku merasa sangat bertanggung jawab atas apa? yang terjadi pada pria itu, tapi lagi-lagi yang aku dapatkan adalah pekerjaan sebagai seorang pekerja malam di sebuah club, bukan tidak mungkin akan ada orang-orang dari kalangan mafia yang hadir di sana.
tapi demi tekad ku yang kuat untuk bisa mengembalikan wajah Doni, seperti semula aku akan melakukan nya, aku akan menjadi wanita yang terlatih untuk kuat karena ditempa oleh ujian kehidupan yang begitu berat, dan mulai malam ini aku pun mulai kembali menjadi penari untuk sebuah private room, dan sebagai bartender juga bergantian dengan Doni.
Doni yang mencarikan pekerjaan ini untuk kami, tepat nya, bukan untuk kami tapi untuk dirinya, namun aku ikut bergabung karena ,aku tidak ingin Doni, bekerja sendirian, Doni bahkan meminta ku untuk tetap tinggal di rumah, dan dia bilang aku harus memulihkan tubuh ku yang terlihat kurus kering, mungkin karena terlalu banyak penyiksaan yang aku alami, saat di penjara.
"Aku meyakinkan Doni, bahwa dengan keadaan ku yang begitu juga aku masih bisa menari, dan membuat para laki-laki tergoda dengan gerakan yang aku buat.
sekarang aku tidak memikirkan halal atau pun haram, meskipun aku tidak pernah meninggalkan sholat, terserah orang lain mau menilai ku bagaimana, yang jelas hidup harus terus berjalan, dan aku berharap suatu saat nanti, hidup ku benar-benar berubah, seperti mimpi ku sejak kecil, akan ada pangeran berkuda putih yang datang merubah kehidupan ku.
hingga aku dibayar dengan sangat mahal malam ini aku dan Doni pulang menggunakan taksi, kami tiba pukul empat pagi, dan kami langsung bersih-bersih dan tidur, karena bos di club tersebut juga menjamin perut kami jadi kami tidak perlu bersusah payah mencari makan di pagi hari.
Doni pun tertidur pulas di sofa, sementara aku di atas ranjang, itu sudah menjadi keinginan Doni, saat pertama kali datang, karena bagi Doni kesehatan ku lebih penting, aku tidak tau dibuat dari apa? hati pria itu, dia bahkan selalu pasang badan menjaga ku, dan selalu memperhatikan kesehatan ku, dan itu bukan karena semata-mata dia ingin memanfaatkan ku, sedari kecil Doni, selalu menjaga ku, jika ada teman-teman ku yang jahati aku.
keesokan harinya aku membuat rekening Bank,atas nama baru ku Adele dan uang kami dijadikan satu, Doni bahkan meminta ku, untuk menggunakan uang itu untuk membeli semua kebutuhan ku, tapi aku tidak akan menghamburkan uang untuk yang tidak penting tujuan ku tetap satu ya itu memulihkan wajah Doni.
hingga lima bulan berlalu, kini uang yang kita kumpulkan sudah cukup untuk melakukan operasi plastik, pada Doni, meskipun pria itu sempat menolak nya, tapi itu tidak bisa menghentikan ku.
akhirnya Doni menjalani bedah plastik, untuk memulihkan kondisi wajah nya, seperti sedia kala, dan aku selalu ada di rumah sakit untuk mendampingi nya, hingga akhirnya operasi itu berhasil seratus persen, wajah Doni sudah kembali seperti sedia kala, saat ini.
tinggal menunggu pemulihan, dan selama itu aku yang bekerja di club malam tersebut sendirian tanpa Doni.
__ADS_1