Sang Penari

Sang Penari
#Papah mu#


__ADS_3

Kebahagiaan mereka saat ini tidak lepas dari kehadiran Anggita, matan Nona muda yang sempat jadi pelayan lalu kembali bangkit dan meraih gelar sebagai dokter bedah syaraf terbaik, hingga dia memiliki anak kedua dari pria yang sangat mencintai nya.


kini semua tengah berada di dalam ruangan nya masing-masing wanita yang kini berusia 27 tahun itu sedang sibuk belajar, dan semakin memperdalam ilmu kedokteran nya Anggita selalu belajar dan terus belajar hingga saat ini dia tidak pernah bosan meskipun gelar doktor terbaik nya sudah diakui oleh pasien yang pernah ia tangani dan tidak pernah mengalami kegagalan yang berarti.


"Sayang dasi yang kamu belikan waktu itu kamu simpan di mana"ucap Alvin.


"Kamu mau kemana mas, kenapa? menanyakan dasi tengah malam begini, memang nya mas mau pergi kemana?"ujar Alvin.


"Sayang aku hanya ingin menggunakan itu besok karena besok ada rapat tahunan"ucap Alvin.


""Besok pagi aku siapkan semuanya ok"ucap Anggita baik'lah sayang apa? kuliah nya sudah selesai"ucap Alvin.


"Bentar lagi sayang ku masih ada satu pelajaran yang harus aku selesaikan ini tugas dari dosen killer"ucap Anggita.


"Killer mana dibandingkan dengan ku"ucap Alvin.


"Dia,," ucap Anggita.


"Heumm tampan gak?"tanya Alvin.


"Tampan sih itu nilai plus nya"ucap Anggita tapi seketika itu dia mengusap bulu kuduk nya karena merasa sangat horor, ibu empat anak itu langsung menutup laptop nya, dia melirik ke arah samping.


"Coba ulangi lagi ganteng atau gak"ucap Alvin.


"Daddy aku tadi keceplosan, tapi"ucapan nya terhenti.


"Tapi apa?"ujar Alvin masih menatap horor dan akhirnya Anggita langsung mengecup bibir Alvin, tapi wanita itu langsung didorong ke arah sofa Alvin pun pergi meninggalkan dia begitu saja, tapi Anggita langsung berlari mengejar Alvin memeluk nya dari belakang.


"Daddy jangan marah maafkan aku aku tidak sengaja, tidak ada yang tampan melebihi Sayang ku ini"ujar Anggita.


"Lepas"ucap Alvin tegas.


"Daddy nggak mau, maafkan aku dulu"ucap Anggita.


"Aku tidak mau, kamu lebih memilih dia dari pada aku"ucap Alvin.


Alvin langsung pergi dia langsung marah, tidak tau kenapa? suaminya sangat sensitif sekali.


"Mas, jangan seperti ini tolong aku tidak sengaja bilang begitu"ucap Anggita dengan penuh penyesalan, karena sudah memuji pria lain di hadapan Alvin.


Anggita tidak mengejar Alvin lagi saat ibu mertua nya menyaksikan keributan mereka yang saling kejar, tepat nya Anggita mengejar Alvin.


Ariana pun langsung bertanya"ada apa ini heummm, kenapa? kamu tidak menyahut istri mu sedari tadi memanggil dirimu Alvin, kalian sudah bukan anak kecil lagi"ucap Ariana.


"Tidak, dia sudah berani memuji pria lain dihadapan ku, Mommy"ucap Alvin.


"Owh ya ampun ya ampun mimpi apa? aku waktu ngidam dulu hingga punya anak yang kelewat manja begini"ucap Ariana.


"Mommy bukan nya belain aku gitu malah bela dia, aku marah sama Mommy juga"ucap nya sambil pergi begitu saja.


"Sayang biarkan dia merajuk yang ada rugi sendiri jika istri nya memilih untuk pergi!"teriak Ariana dengan sengaja tiba-tiba Alvin berbalik dan langsung bergegas menghampiri istrinya.


"Awas saja jika berani ngelakuin itu"ucap Alvin yang langsung membawa Anggita pergi begitu saja.


"Alvin"ucap sang Mommy geram.


Alvin yang kembali, dia membawa Anggita masuk ke dalam kamar nya, sementara wanita itu hanya bisa menatap pria yang ada di hadapannya saat ini.


pria itu benar-benar pria aneh yang selalu berubah-ubah, moodnya.

__ADS_1


hingga keesokan harinya saat Anggita akan pergi dinas di rumah sakit nya itu, pria itu terus saja mengikuti langkah sang istri, sejak pertama kali bangun hingga beraktifitas menyiapkan sarapan pagi, membereskan kamar menyiapkan keperluan keempat anak nya, tentunya milik Alvin juga, tapi suaminya yang super posesif itu, tidak bisa diam , selain memeluk dan mencium , kadang juga menghadang langkah istrinya.


bagi Anggita semua itu tidak ada masalah tapi bagi Ariana dan Marvin putra nya dianggap berlebihan cenderung tidak normal, bahkan saking jengah nya, Ariana memegang kening putra nya yang ternyata baik-baik saja, setelah itu meminta Anggita tes kehamilan, karena dulu saat hamil Agatha juga begitu, tapi kemudian Anggita berkata.


"Itu bukan bawaan hamil Mom,, mas mas Alvin sifat nya memang seperti itu, sejak dulu saat kita masih jaman perkenalan, hingga dia juga cemburu pada sahabat perempuan ku, karena kami terlalu dekat"jawabnya.


"Iya sih tidak heran dulu Daddy nya juga begitu, tapi memang teman Mommy sudah ganteng dari lahir dia sering cemburu"ucap Ariana yang langsung membuat Marvin tersenyum kecil.


"Owh jadi Daddy tidak tampan nih ceritanya"ucap Marvin.


"Heumm tentu saja tampan, tapi dibalik ketampanan itu juga ada uang yang sangat banyak"ucap Ariana sambil tersenyum manis.


"Jadi Mommy itu cinta Daddy nya atau cinta uang nya"ucap Alvin.


"kedua sih karena, tidak munafik juga ya, wanita juga butuh perawatan"ucap Ariana.


"Tapi Mommy mu selalu menolak pemberian Daddy, dia itu bisa menghasilkan uang banyak dalam sekali pentas tari, tapi Daddy selalu membatasi semua itu"ujar Marvin.


"Daddy wanita itu akan jauh lebih baik bisa bersikap mandiri seperti Mommy, jadi jika suatu hari nanti terjadi sesuatu pada rumah tangga kita amit-amit bukan nya berharap tapi siapapun harus seperti itu harus bisa mandiri jadi tidak ketergantungan pada laki-laki"ucap Ariana, yang memang ada benarnya.


"Tapi Mommy gak ada niat untuk ninggalin Daddy kan"ucap Marvin.


"Tentu saja tidak, kecuali jika Daddy ingin ganti istri ya apa boleh buat"ucap Ariana.


"Tidak ada yang seperti itu, sayang ku Ariana rose ku, love you forever"ucap Marvin.


"Oh,, sweet banget sih Mommy dan Daddy ku ini"ucap Alvin.


"Harus, tapi gak seperti kamu juga"ucap Marvin.


"Aku, aku kenapa?"ujarnya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Owh ya ampun Mommy dan Daddy benar-benar kompak"ucap Alvin yang merasa mendapat dari kedua kubu.


akhirnya sarapan pagi pun berakhir anak-anak yang sekolah diantar oleh mommy dan Daddy nya, sebelum keduanya pergi bekerja sementara sikecil Agatha, saat ini tengah berada dalam gendongan sang kakek.


Agatha lebih manja pada Marvin.


sementara Ariana hanya akan sesekali ia dekati saat ia lapar karena Agatha akan meminta makan pada nenek nya.


sementara tuan Mahendra, akan datang setiap satu Minggu sekali setelah dia senggang dari pekerjaannya nya, di masa tua nya, dia masih mengurus perusahaan, karena Anggita Putri nya sudah terlalu sibuk dengan karier nya, sebagai seorang istri seorang ibu, dan tentunya seorang dokter.


🌸....................🌸


sepuluh tahun berlalu, kini kedua orang tua yang masih awet muda itu terlihat semakin harmonis, termasuk Ariana dan Marvin yang sudah lanjut usia, sementara itu kini Alvin sudah berusia empat puluh sembilan tahun, dan Anggita, berusia tiga puluh tujuh tahun.


Pasangan Anggita dan Alvin, semakin kesini semakin lengket saja.


sementara Alvaro putra nya saat ini sudah berusia dua puluh tahun, dan NATO, tujuh belas tahun, dan Alana enam belas tahun.


Agatha dua belas tahun.


putra putri Alvin kini tubuh menjadi sosok yang tampan dan cantik , mereka sangat dikagumi oleh anak muda seusia mereka.


seperti halnya Alvaro yang memiliki wajah perpaduan Agnes dan Alvin, dia terlihat begitu sempurna, dan NATO meskipun dia bukan keturunan Alvin wajah anak remaja itu sudah tampan sejak lahir.


dan Alana, yang kini tengah duduk di bangku kelas satu SMA, dia begitu cantik dan berbakat, bakat menari yang Ariana dan Anggita wariskan, ternyata mengantar nya ke gerbang kesuksesan, saat ini Alana sudah menjadi penari terkenal di dunia hiburan atau pun di kota nya, tapi Alvin tidak pernah mengijinkan putri nya untuk menjadi artis, dia ingin Alana menjadi seperti Anggita atau seperti dirinya, karena kedua kakak nya sudah terarah ke dunia bisnis.


Alana, sampai saat ini selalu mewakili sekolah nya, mengikuti lomba tari antar sekolah satu negeri, mungkin yang jago menari itu banyak, tapi yang menguasai segala genre musik hanya Alana dan beberapa orang anak lainnya dan itupun tidak seperti Alana yang super sempurna, mulai dari kecantikan dan postur tubuh yang menyerupai model papan atas, gadis itu memiliki tubuh yang proporsional.

__ADS_1


Alana yang kini baru kelas satu SMA, dia bahkan sudah banyak dilamar oleh pria dewasa yang tak lain dari kalangan pengusaha hingga Alvin kewalahan untuk mengurus mereka, Alvin bahkan membuat konferensi pers, untuk menyatakan bahwa putri nya butuh sepuluh tahun lagi untuk menjalani masa lajang nya, dan mereka semua ditolak.


sementara sang putri yang memang tidak pernah berpikir tentang hal berbau dewasa pacaran atau sejenisnya, dia terlihat enjoy, bahkan kebanyakan teman Alana di SMA kebanyakan anak laki-laki, meskipun dia tidak tomboi atau pun terlalu feminim, Alana itu punya gaya tersendiri.


di sini di ruang santai disaat sang kakak, sedang belajar untuk membahas tentang bisnis bersama dengan sang Daddy, Alana malah asyik chating dengan teman-teman nya .


gadis itu bahkan ketawa ngakak sendiri, hingga sang ayah menoleh ke arah nya.


sementara Agatha protes karena berisik.


jika sudah begitu Alvin akan menegur putri nya secara halus.


"Kakak Al sudah mengerjakan tugas?"tanya Alvin.


"Belum Daddy, sebentar lagi ya, aku ngerjain tugas nya"jawab Alana.


"Sayang tidak baik menunda-nunda kewajiban"ucap nya lembut.


dan akhirnya, gadis itu pun menyudahi rumpi nya, dia mengambil tas sekolah nya, masih diatas karpet empuk tersebut dia pun langsung mengerjakan tugas sekolah nya, sementara si kecil.


"Daddy, tugas nya sulit sekali, Agatha berhenti sekolah saja ya, bosan dikasih matematika terus"ucap Agatha yang memang suka memutuskan segala nya sendiri.


"Sayang kamu tau berapa? banyak anak-anak yang putus sekolah di luar sana karena tidak punya biyaya"ucap Alvin lembut sambil meletakkan laptop nya di depan kedua putranya yang sedang belajar menangani perusahaan.


"ada satu dua tiga, empat, Ahhhhhh pusing Daddy berhutang disini juga sulit bagaimana bisa menghitung jumlah mereka"ucap nya sambil mengacak rambut nya sendiri.


sontak ketiga kakaknya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah si bontot yang memang paling tidak suka dengan hitung-hitungan matematika.


Alvin pun tersenyum kecil, dia bukan nya kesal atau marah tapi si kecil begitu menggemaskan untuk nya.


Agatha yang sedang putus asa pun hanya bisa memanyunkan bibirnya karena merasa kesal ditertawakan oleh mereka bertiga.


Agatha, sudah kelas enam SD, tapi dia paling tidak suka dengan pelajaran matematika yang selalu mendapat kan nilai paling rendah bahkan pihak sekolah pun meminta Alvin untuk menambah jam belajar nya untuk putri nya itu, tapi bukan tidak dicoba namun Alvin tidak ingin memaksakan putri nya jika memang dia tidak mampu untuk itu.


"Sayang ini begini caranya ini kesini ditambah ini dan nanti setelah di jumlah kamu kalikan lagi dengan ini"ucap Alvin mengajari putri nya dengan sabar.


"Gak masuk Daddy, malah sakit kepala Agatha"ucap nya.


"Ya sudah begini saja, Agatha tetap sekolah dan belajar matematika semampu Agatha saja, nanti setelah Agatha punya cita-cita yang tinggi ingin jadi apa? Daddy akan arahkan Agatha"ucap Alvin dengan sabar.


"Aku mau jadi koki saja, itu juga menghasilkan uang"ujarnya.


"keinginan Agatha tidak salah tapi sayang jadi koki atau pun profesi lain tetap membutuhkan perhitungan yang tepat"ucap Alvin.


"Minta es krem dulu"ujarnya sambil menatap penuh harap.


"Baiklah Daddy berikan tapi tidak boleh terlalu banyak, tidak baik, Mommy juga pulang sebentar lagi jadi Agatha harus sudah selesai makan eskrim nya"ucap Alvin.


sebenarnya ada sesuatu yang terjadi, kenapa? Agatha bersikap seakan tak mau berpikir keras, ada gangguan di otak berpikir nya yang diakibatkan oleh sebuah benturan keras Agatha bahkan pernah mengalami trauma berat akibat kasus penculikan lima tahun yang lalu.


gadis kecil itu, sebenarnya adalah anak yang sangat pintar, dalam pelajaran apapun, tapi karena kejadian itu, dia akan merasakan sakit kepala jika berpikir terlalu keras menurut nya.


Agatha hanya mampu mengingat yang menurut nya mudah saja, dan untuk yang sulit dia akan melupakan nya, sebenarnya dia sudah diobati bahkan menjalani operasi bedah di bagian kepala nya, tapi untuk proses pengobatan harus dilakukan secara bertahap, beruntung putri nya sudah ada kemajuan seperti sekarang ini hanya saja itu dia tidak bisa berpikir terlalu keras.


Anggita sendiri, tidak pernah menyerah dia selalu memberikan yang terbaik untuk putri bungsu nya itu, hingga saat ini dia sudah bisa berinteraksi dengan normal saja sudah bisa bersyukur meskipun dia lebih manja dari anak tiga tahun dibawah nya.


Anggita saat ini masih sibuk menangani pasien nya, saat hendak pulang dia terpaksa membatalkan nya karena ada pasien gawat darurat yang harus ia tangani.


sementara sudah larut malam dirumah keempat anak mereka pun sudah tidur Alvin yang mencemaskan sang istri dia pun pergi dengan mobilnya menuju rumah sakit, setibanya di sana, pria itu melihat sang istri baru keluar dari ruang operasi, dan terlihat sangat lelah diikuti oleh beberapa orang asisten yang kini mendorong pasien yang baru saja selesai ia tangani.

__ADS_1


__ADS_2