Sang Penari

Sang Penari
#Menikah paksa#


__ADS_3

"Kak, aku hanya ingin disini apa? itu salah."ucap Sari.


"Bereskan barang-barang mu"ucap Alvaro.


"Untuk apa? disini atau disana sama saja"ucap Sari.


"Aku tidak mau dibantah"ucap Alvaro.


"Terserah saja yang jelas aku akan tetap disini"ucap Sari.


"Menurut atau kamu akan tau akibat nya"ucap Alvaro.


"Kau selalu mengancam ku"ucap Sari.


"Itu karena kau yang keras kepala!"bentak Alvaro.


Sari langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya, gadis itu menangis sesenggukan saat Alvaro membentak nya.


Alvaro langsung mendekap Sari yang kini berontak.


"Lepas kak, aku memang tak pernah pantas untuk terus disini, aku akan pulang ke desa ku"ucap Sari.


"Apa? yang kamu katakan Sari, aku tidak pernah bilang seperti itu aku hanya ingin kamu menikah dengan ku"ucap Alvaro.


"Pernikahan yang dipaksakan tidak akan pernah berakhir baik, aku hanya ingin menikah dengan laki-laki yang benar-benar mencintai ku"ucap Sari.


"Persetan dengan itu, yang saling mencintai saja masih bisa berpisah tidak sepenuhnya anggapan itu benar."ucap Alvaro.


"Kakak,, keterlaluan"ucap gadis itu.


Alvaro, hanya tersenyum "Kau bilang aku keterlaluan, lalu apa? bedanya dengan orang yang lebih memilih menceburkan diri ke dalam danau daripada memilih ku"ujar Alvaro.


Saat, Sari hendak membela diri,, tiba-tiba Alvaro menarik gadis itu dan menahan tengkuk nya saat itu juga, Alvaro mencium bibir Sari dengan kasarnya.


Plak...


Tamparan keras mendarat di pipi Alvaro, yang kini tersenyum remeh.


"Kau keterlaluan"ucap Sari.


Sementara keributan itu terjadi sampai saat makan malam berakhir, Alvaro tidak menyentuh makanan tersebut sedikit pun, hingga ia pergi meninggalkan keluarganya, saat Sari ikut menghidangkan makan malam bersama dengan pelayan.


Sari benar-benar tidak mengerti dengan keinginan Alvaro, pria itu hanya tidak ingin Sari bersikap seperti layaknya pelayan yang ada di sana.


Alvaro, tidak habis pikir kenapa? Irma nya, bisa seperti ini.


Mungkinkah, Irma Sari adalah anak kembar dengan sifat yang berbeda, tapi usia Irma itu jauh lebih tua dari dirinya dan apalagi Sari, sungguh saat ini rasanya kepala Alvaro ingin pecah jika terus memikirkan wanita itu.


Hingga saat Ariana, meminta Sari untuk menyiapkan makan malam untuk Alvaro dan dia sendiri yang harus mengantarkan makan malam itu.


Sari, tiba di depan pintu kamar yang bertuliskan Alvaro, gadis itu mengetuk pintu hingga berulang kali tapi tidak ada sahutan samasekali dari dalam kamar tersebut.


Hingga, akhirnya gadis itu memutuskan untuk masuk kedalam kamar tersebut, dia melihat pria itu tengah duduk sambil memangku laptop, bahkan terlihat sangat serius dan tidak memperdulikan kedatangan gadis itu.


"Kak,, ini makan malam nya."ujar Sari, yang kini meletakkan nampan berisi makan malam tersebut, namun tidak ada jawaban sedikitpun akhirnya Sari memutuskan untuk pergi.


Tapi baru saja satu langkah gadis itu melangkah"Bawa kembali makanannya"ucapnya terdengar begitu dingin.


"Aku hanya mengikuti perintah Omah"ucap Sari.


"Aku tidak lapar"ujar Alvaro.


"Tapi kak"ucap Sari.


"Aku bilang bahwa pergi!"bentak Alvaro dengan nada yang sangat tinggi.


Sari, yang benar-benar tidak tahan saat mendengar bentakan keras itu, dia langsung pergi meninggalkan nampan tersebut tapi saat hendak membuka pintu kamar tersebut.pintu itu tidak mau terbuka meskipun Sari sudah berusaha keras untuk membuka pintu tersebut.


Sari, masih berdiri menghadap pintu itu, hingga suara seseorang kembali terdengar nyaring.

__ADS_1


"Jika kamu tidak menuruti kata-kata ku maka pintu itu tidak akan pernah terbuka"ucap Alvaro.


Sari pun berbalik badan lalu berjalan kembali menuju meja yang ada di hadapan Alvaro, perlahan ia membungkuk lalu meraih nampan yang ada di hadapannya itu, namun saat akan menarik itu, Alvaro kembali berkata"Jika kamu tidak ikhlas untuk memberiku makan, maka sebaiknya jangan datang apalagi pura-pura peduli terhadap ku"ucap Alvaro.


Sari, menghentikan gerakan tangan nya, Gadis itu telah dibuat serba salah oleh Alvaro.


"Apa? mau mu"ucap Sari.


"Kenapa?"tanya balik Alvaro.


"Aku tanya apa? mau mu"ucap Sari.


"Aku tidak ingin apa-apa, pergilah"ucap Alvaro.


Tapi, gadis itu tidak bergeming sedikitpun, hingga Alvaro mendongak menatap lekat wajah cantik yang terlihat sembab itu.


"Apa? masih kurang jelas apa? yang aku katakan"ucap Alvaro.


Alvaro, menatap tajam kearah Sari.


Gadis, itu langsung bergegas pergi menuju pintu yang sudah terbuka secara otomatis, Sari pergi dalam keadaan menangis, tapi dia tidak kembali ke dalam kamar nya. melainkan pergi menuju taman yang ada di area villa tersebut.


"Apa?salahku"ucap Sari.


Gadis itu menangis sesenggukan, hingga dia tertidur dengan posisi menundukkan kepalanya di atas meja kayu bulat itu.


Seseorang masih berdiri di balkon kamar nya, dia tidak bergeming sedikitpun sejak ia melihat gadis itu berada di sana.


Sampai beberapa jam kemudian, akhirnya pria itu, pergi menuju taman tersebut dia tidak menunda waktu lagi, diangkat nya tubuh gadis yang kini tengah tertidur pulas di atas bangku kayu yang ada di taman villa tersebut.


Pria itu membawa Sari menuju kamar miliknya, dia tidak mungkin membawa dia pergi ke tempat dimana Sari menginap, pasti akan ada pelayan yang masih terjaga disana.


"Kau itu tidur atau mati, kenapa? bahkan kau tidak terganggu sedikit pun"ucap Alvaro setelah dia menyelimuti tubuh gadis itu.


Sementara dirinya kini tengah berbaring di sofa.


Hingga waktu menjelang pagi hari, Sari membuka mata, gadis itu terperanjat kaget saat sadar sedang berada di mana.


"Apa? tidurmu nyenyak"ucap pria yang kini baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang nya.


Sari, langsung memalingkan wajahnya karena sangat malu.


Gadis itu langsung beranjak dari ranjang empuk yang paling nyaman yang baru pertama kalinya ia rasakan, namun sayang itu adalah milik pria arogan.


"Kamu tidak bisa keluar, sebelsebelum selesai membantuku dan setelah itu barulah kamu bersiap tapi di kamar ini juga, karena kamu akan segera keluar bersama dengan ku"ucap Alvaro.


Gadis itu hanya menghela nafas panjang, setelah itu dia mengambil beberapa pakaian semi formal yaitu kemeja lengan panjang dan celana panjang berwarna krem.


Bahkan, Sari merapihkan lengan kemeja yang kini digulung sampai siku lengan nya dengan sangat rapi.


Sementara, setelah terlihat rapi Alvaro langsung meminta Sari bersiap dan berganti pakaian karena hari ini Alvaro ingin mengajak Sari ke suatu tempat.


Sari, langsung masuk kedalam kamar mandi sambil membawa hand bag berisi sebuah dress cantik, berwarna senada dengan celana yang pria itu kenakan.


...🌸...............🌸...


Sampai tiga puluh menit berlalu, Alvaro menunggu gadis itu untuk keluar dari dalam kamar mandi hingga satu jam dia tidak kunjung keluar dari dalam kamar mandi tersebut, dan ternyata Sari, enggan keluar dari dalam kamar mandi karena ternyata dress yang akan dia kenakan adalah dress tanpa lengan dan hanya sebatas menutupi bagian dadanya.


Sari, yang mendengar kamar mandi itu terus digedor dari luar, saat ini dia celingukan tengah mencari sesuatu untuk menutupi tubuh nya karena dia tidak terbiasa dengan dress yang kini ia kenakan.


"Sari, apa? kau pingsan, atau sengaja tidur di dalam,, Sari ayo buka pintu nya!"ucap pria itu.


"Sari!"teriak nya lagi, beruntung area kamar Alvaro itu kedap suara, jadi Alvaro tidak akan membangunkan seluruh orang yang kini tengah menikmati mentari pagi diatas rooftops.


"Sari,, apa? yang kamu lakukan setelah sekian lama kamu tidak menggunakan dress itu"ucap Alvaro yang terlihat sangat kesal.


"A aku"


"A-ku "

__ADS_1


"Aku hamil,, maksudnya, gitu aja susah"ucap Alvaro yang sangat kesal.


"Aku sudah memakai nya, t tapi ini tidak nyaman Karena terlalu terbuka"ucap gadis itu sambil menunduk.


"Bukan bathrobe nya"ucap pria itu tegas.


Tapi Sari, enggan untuk membuka bathrobe tersebut, hingga Alvaro menariknya dengan sekali tarikan.


Dan Betapa terkejutnya, Alvaro saat melihat kulit Sari yang begitu mulus cantik dan sangat bersih, tidak seperti Irma yang memiliki beberapa tato di bagian bahunya itu.


Alvaro pun sadar jika wanita yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Irma hingga dia langsung mengatakan"Gunakan itu untuk menutupi menutupi nya dan setelah itu kamu bisa mengganti pakaian dengan yang kamu mau"ucap Alvaro, seakan tak bersemangat.


Entah kenapa? lagi-lagi ia teringat istrinya Irma yang sudah tiada.


Sari yang menyadari hal itu, dia pun berkata"Sekarang sudah sadar dan bisa membedakan bukan,,, bahwa aku bukan lah dia, dan dia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun disini"ucap Sari.


"Kita tetap akan menikah apapun yang terjadi"ucap Alvaro tegas.


"Pernikahan bukanlah lelucon."ucap Sari.


"Dengarkan aku Sari, aku tidak perduli kamu menganggap itu sebagai apa? yang jelas saat ini aku tidak akan menunda waktu lagi"ucap pria itu.


Sari, langsung berlalu pergi menuju ke luar, gadis itu tidak ingin lagi mendengar kata-kata yang dikatakan oleh Alvaro saat ini.


Alvaro, hanya bisa menghela nafas panjang, setelah itu ia menghembuskan nya.


Gadis itu sudah tidak berada di kamar nya lagi.


Sementara Ariana, yang sudah mendapatkan pemberitahuan dari Alvaro, bahwa hari ini dia akan menikah dengan Sari, sebuah tempat yang tak jauh dari villa, Ariana sebenarnya sudah menyuruh semua orang nya untuk menyiapkan pernikahan paksa itu.


Bukan Ariana, tidak kasihan pada Sari, tapi demi cucu pertama nya itu, dia akan melakukan apapun yang bisa iya lakukan, apalagi ini demi kehidupan nya yang lebih baik lagi.


Sampai, saat Ariana, selesai menyiapkan semua nya, diapun langsung meminta orang kepercayaan nya, membawa dari ke tempat yang sudah disediakan untuk menjadi saksi bisu, kebahagiaan mereka.


Sementara, Alvaro kini tiba-tiba dia mengingat Irma dan juga Xena, kedua wanita itu seakan menghalangi jalan nya untuk membuka lembaran hidup yang baru.


Sampai, saat semua orang tengah berada di panggung yang sengaja disediakan untuk acara ijab qobul, panggung yang sudah disulap sedemikian rupa oleh petugas wedding organizer, dengan bunga mawar putih yang tersemat di setiap sudut yang sangat indah tersebut membuat semua itu terlihat lebih indah.


"Apa? semua sudah siap"ucap penghulu.


"Siap,, pak penghulu semua sudah siap"ucap Ariana.


Sari, yang sedari tadi menitikkan air mata, selain rasa sedihnya karena harus menjadi pengganti wanita yang berwajah sama dengan nya, dia juga sedih karena ini adalah momen berharga dalam hidup nya, dan kedua orang tua nya tidak bisa menghadiri pernikahan itu karena mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Saat, ijab qobul itu di mulai hingga kata sah itu terucap saat itu, tiba-tiba sebuah helikopter terbang di atas mereka, Kristofer yang tau bahwa mereka adalah anak buahnya, dia pun memberikan isyarat untuk turun, saat itu juga.


Seseorang turun dengan membawa sebuah keranjang yang biasa digunakan untuk membawa bayi, dan itu memang berisi seorang bayi laki-laki yang begitu tampan dan menggemaskan, persis seperti Alvaro.


"Don,, Xena meninggal saat melahirkan bayi ini dan sekarang Kenan, tengah berduka jika saja dia tidak ingat bahwa Don, melindungi bayi ini mungkin saat ini dia sudah lenyap"ucap anak buah Kristofer.


"Tidak,,,,!"teriak Agatha yang kini jatuh pingsan, posisinya persis di belakang Kristofer, dia ambruk di atas rumput hijau itu.


"Honey"ucap Kristofer yang kaget dan langsung mengangkat tubuh istri nya itu.


Sementara, anak buah yang tadi membawa bayi laki-laki yang tak lain adalah putra pertama Alvaro itu, dia menyerahkan bayi itu di pangkuan Alvaro, yang kini terbengong bahkan tidak bisa mengatakan apapun, hanya air mata yang mewakili semua nya.


"Nak nasibmu seperti daddy"ucap Alvaro yang kini mengusap kasar wajah nya.


Pria, itu teringat saat kelahiran nya dulu, seperti cerita dari sang Oma, semua orang menangis sesenggukan, bukan hanya kelahiran bayi itu, tapi kepergian Xena, untuk selamanya membuat mereka sangat kehilangan biar bagaimanapun, Xena pernah hidup bersama dengan mereka selama ini, dan Agatha, adalah orang yang membawa gadis itu kedalam keluarga mereka.


Dan, Agatha yang saat ini benar-benar terpukul atas kepergian sahabat nya itu, dia kini tengah berada di dalam dekapan Kristofer, menangis histeris, dan berkali-kali pingsan, hingga membuat semua orang memutuskan untuk kembali ke villa saat itu juga, sementara Ariana terlebih dahulu mendampingi kedua mempelai, yang kini membawa bayi itu.


Sementara, itu Sari kini terlihat seperti mayat hidup, gadis itu masih tidak bisa percaya, baru saja dia sah menjadi istri bagi Alvaro, gadis itu sudah mendapatkan seorang putra sambung yang bahkan baru saja dilahirkan kemarin sore.


Sesampainya di villa semua orang masih menyeka sudut mata nya, begitu juga dengan Alvaro, dia yang memiliki kenangan terindah bersama dengan Xena, hingga berbuah dosa dan kini lahir anak mereka, dari hubungan tanpa status dan juga dari sebuah ego yang selalu Alvaro pertahankan.


"Oma yang akan merawat putra mu, dan untuk Sari, jangan pernah merasa terbebani dengan kehadiran dia, Alercxa Alexander.akan dibesarkan oleh tangan ku sendiri"ucap Ariana.


"Tidak Oma, apapun itu, aku adalah ibu sambung nya, aku akan membesarkan Alercxa Alexander, dan mohon bimbingannya"ucap Sari.

__ADS_1


__ADS_2