Sang Penari

Sang Penari
#Agatha sadar#


__ADS_3

wanita paruh baya itu benar-benar marah besar karena putri pertamanya hasil dari pernikahan pertama nya dengan pria lain sebelum merebut ayah Anggita.


"Urusan Anda bukan dengan keponakan saya, tapi dengan saya"ucap Angga.


"Apa? kau ayah dari pelakor itu"ucap wanita paruh baya yang bernama Rani.


"Jaga mulut mu jangan pernah berkata buruk tentang putri ku"ucap Angga.


"Itu adalah kenyataan nya ,kau sudah membela pelakor"ucap wanita itu.


"Kau tidak berkaca heuhhhhh, kau dulu sudah merebut ayah ku dari ibu ku, dan jika kau anggap sepupu ku, seorang pelakor maka itu adalah karma dari apa yang kau lakukan dulu"ucap Anggita menggebu-gebu tidak perduli dilihat asisten pribadi nya karena di sana hanya ada dia tidak dengan yang lain nya.


"Sayang jangan ladeni wanita gila ini"ucap Alvin.


"Kalian yang gila! heran pelakor itu banyak yang bela sudah tahu salah" ucap wanita paruh baya itu.


"Jaga mulut mu, atau kau juga ku jebloskan kedalam penjara"ucap Alvin tegas dan berhasil membuat wanita itu langsung pergi dari hadapan mereka.


"Dasar wanita gila"ucap Anggita.


"Owh ya ampun nyonya Alvin juga bisa mengamuk rupanya"ucap Alvin menggoda Anggita.


"Aku belajar dari keadaan"jawab Anggita singkat.


"Sementara Iko, sedari tadi terbengong saat melihat Dokter cantik itu marah.


sementara Alvin kembali on ke nada cemburu nya, dia langsung merangkul pinggang istri nya dengan posesif.


Anggita berjalan dengan Marvin menuju ruangan Agatha, diikuti oleh Angga dan Ica terakhir Iko, yang berjalan di belakang.


Anggita langsung meminta Iko, masuk duluan dia akan membujuk Alvin untuk menunggu, di luar bersama kedua orang tua Agatha.


"Sayang tunggu"


"Tidak aku ikut titik"ucap Alvin memotong perkataan Anggita.


"Anggita, biarkan Alvin di sini Om yang akan menjaga nya"ucap Angga yang langsung menarik Alvin.


Anggita pun langsung bergegas menuju pintu masuk, sementara Alvin meronta ingin ikut pergi menuju ruang rawat tersebut terlihat beberapa orang perawat dan keluarga pasien mulai melewati lorong rumah sakit tersebut, keadaan yang tadi sunyi sepi kini mulai banyak orang yang berdatangan lewat termasuk ke ruang IGD, tersebut.


hingga beberapa menit kemudian Anggita keluar setelah memastikan bahwa Agatha sudah stabil saat ini.


Anggita tersenyum kearah ketiga nya termasuk suaminya yang kini terlihat cemberut seperti anak kecil.


"Sayang kamu lama sekali"ucap Alvin.


"Aku memastikan Agatha, sudah stabil saat ini, mungkin dua atau tiga hari lagi dia akan kembali pulih meskipun harus terus di pantau "ucap Anggita.


"Apa? Agatha akan sadar"ucap Ica yang masih menitikkan air mata.


"Sebenarnya Agata sudah sadar Tante tapi Anggita memberikan obat agar dia istirahat dengan baik untuk mengantisipasi agar tidak kejang seperti tadi" ucap Anggita menjelaskan.

__ADS_1


"Owh syukur lah,, apa? dia sudah bisa di jenguk"ucap Icha.


"Belum Tante bersabarlah hingga kondisi nya benar-benar stabil"ucap Anggita.


"Kita juga butuh seorang ahli untuk memberikan pendampingan karena tidak mungkin Agatha tidak mengalami trauma berat atau tekanan batin, terutama yang dia butuhkan saat ini adalah dukungan dari keluarga"ucap Anggita.


Alvin pun mengangguk sepertinya dia mulai melunak dan tidak merajuk lagi.


hingga saat Anggita usai Bekerja di pagi hari dia sudah bersiap untuk pulang bersama Angga dan Alvin, sementara untuk menjaga Agatha, Yaris dan istrinya sudah datang untuk menggantikan nya dan mereka yang berjaga semalam pulang ke rumah, beruntung nya Ica memiliki hubungan dengan mereka semua meskipun bukan hubungan darah tapi persaudaraan di antara mereka sudah sangat kuat.


di rumah Alvin saat ini tengah ramai dengan ketiga anak Alvin yang menyahut Daddy dan Mommy nya yang sudah menghilang dari rumah dua hari satu malam itu.


Anggita pun memeluk dan mencium ke-tiga anaknya, setelah itu dia masuk kedalam kamar nya untuk beristirahat hingga sore nanti.


begitu juga dengan Alvin yang semalam ikut berjaga terutama menjaga istrinya dari Iko,sang asisten tampan itu, Iko bahkan dilarang untuk dekat dengan Anggita, dan Anggita harus ekstra bersabar untuk itu, hingga Iko, sempat menertawakan Alvin di luar ruangan bersama Anggita saat pria itu tertidur pulas di sofa.


begitu juga dengan Icha dan Angga, kedua nya langsung bergegas istirahat setelah sarapan dan membersihkan tubuh terlebih dahulu, kini mereka tengah beristirahat.


sementara itu di sebuah sel yang dingin dan pengap seseorang tengah menyesali perbuatannya, jika saja ibunya itu tidak menjerumuskan dirinya kedalam jurang kebencian yang begitu dalam mungkin saat ini wanita itu masih menikmati indahnya pernikahan, hingga ia tua nanti, karena suaminya tetap menomor satukan dirinya meskipun diluar dia memiliki istri lain.


dia sungguh menyesal karena telah menyuruh orang untuk memberikan pelajaran yang sangat mengerikan bahkan dia sendiri tidak sanggup untuk melihat wanita yang tergolek lemah dengan beberapa luka sayatan, dan bahkan luka lebam yang cukup parah terlihat dari tubuh nya yang tergeletak seakan sulit untuk bernafas, mungkin jika warga tidak menemukan nya Agatha sudah tinggal nama, penyesalan hanya tinggal penyesalan karena nasi sudah menjadi bubur.


Marvin tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja, karena putri nya sudah begitu menderita saat ini.


dua hari kemudian sudah membaik untuk kesadaran nya, hanya tinggal penyembuhan luka yang dia dapatkan dari penganiayaan dan luka bekas operasi, Anggita bersyukur dia bisa menolong Agatha, hingga wanita itu kembali membuka mata dan bisa berbicara meskipun masih terbata-bata karena luka yang dia alami di bagian wajah mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk menghilangkan bekas, dan itu tidak akan hilang sepenuhnya, selain operasi plastik yang harus dia lakukan.


Anggita masuk saat seluruh keluarga sudah berada di ruang rawat inap VVIP, saat ini Agatha, melirik pada Anggita yang datang untuk memeriksa kondisi nya saat ini, Anggita mendekat ke arah Agatha, tidak ada rasa dendam di hati Anggita pada Agatha karena perlakuan Agatha dulu tapi yang ada rasa iba.


"Baik"ucap nya lirih dengan tatapan mata sendu.


"Syukur lah kalau begitu, dan sudah seharusnya kamu sembuh, setidaknya untuk mereka semua yang begitu sangat mencintai"ucap Anggita, menunjuk kepada semua orang yang ada di ruangan itu, mereka sengaja berkumpul sebelum pamit pulang karena sudah hampir empat hari mereka berada di sana bahkan mengabaikan perusahaan yang kini di urus oleh para asisten nya, termasuk asisten Agatha.


"Terimakasih"ucap Agatha, yang kini terlihat menitikkan air mata.


"Sama-sama cepat lah sembuh jangan terlalu banyak pikiran, ingat kita akan berjuang sama-sama apapun yang akan terjadi nanti, ada kita disini"ucap Anggita menyemangati bahkan wanita itu memberikan pelukan dengan sangat hati-hati, karena luka-luka yang Agatha derita.


semua orang tersenyum pada kedua nya, hati Agatha pun menghangat hingga akhir dia tersenyum manis.


Icha merasa bersyukur setidaknya dia akan tenang saat Angga harus kembali pulang karena perusahaan membutuhkan dirinya saat ini karena Agatha dan putra putri yang lain belum mampu seperti Agatha.


🌸........................🌸


Satu Minggu berlalu, setelah hari itu kini Anggita, membawa Agatha pulang ke rumah nya, agar lebih mudah untuk mengurus nya, tidak hanya itu saat ini Marvin menyediakan perawat untuk Agatha, disaat Anggita bekerja.


Awalnya Agatha sempat syok karena kakinya tidak bisa digerakkan tapi Anggita menjelaskan, dia menyelamatkan bagian syaraf otak terlebih dahulu karena jika itu dibiarkan akan mengakibatkan kematian, dan untuk syaraf tulang belakang nya, bukan Anggita tidak mampu untuk mengobati nya sekaligus, tapi saat itu Agatha dalam keadaan kritis, tidak mungkin untuk melakukan operasi sekaligus, dan akhirnya Agata pun mengerti dia menerima itu meskipun sulit.


"Anggita kenapa? kamu mau menyelamatkan ku"ucap Agatha, bertanya karena bukan tidak mungkin Anggita akan dendam kepada nya, karena perlakuan buruk dirinya dulu pada Anggita dan juga ibunya.


wanita itu pun tersenyum kecil.


"Jawaban nya sangat mudah Agatha, aku adalah seorang dokter yang dituntut untuk profesional dalam bekerja, tugas ku berusaha menyelamatkan orang, yang membutuhkan pertolongan, baik atau pun buruk orang itu adalah amalnya masing-masing, kita tidak boleh sangkut pautkan urusan pribadi dengan pekerjaan, dan baik atau tidak nya manusia itu tidak ada sangkut pautnya dengan profesi yang kini aku jalani, dan sebagai manusia biasa, aku mungkin sempat marah padamu tapi aku tidak berhak untuk mendendam meskipun hatiku terluka, karena aku bukan Tuhan yang memiliki hak untuk menghukum umatnya yang bersalah"Anggita kembali tersenyum manis pada Agatha.

__ADS_1


"Aku bangga padamu Anggita, Alvin benar kau adalah bidadari tak bersayap, dan saat ini aku mengaku kalah jika harus dibandingkan dengan mu"ucap Agatha.


"Jangan pesimis begitu Anggita, kepongpong juga sangat buruk rupa sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, begitu juga manusia, tidak akan selamanya mau dipandang buruk dia akan melewati proses untuk menjadi lebih baik, mungkin caranya harus melewati ujian yang beda-beda termasuk kamu aku dan yang lainnya, yang penting ada keinginan dan tekad yang kuat untuk itu"ucap Anggita lagi.


Anggita mengobrol dengan Agatha, sambil mengoleskan salep pada luka-luka Anggita untuk mempercepat proses penyembuhan.


dan Alvin yang melihat itu dia tersenyum bahagia.


kini semua sudah kembali beraktifitas seperti biasa, tinggal Agatha dan Icha yang tinggal untuk sementara, sesekali Angga, akan datang menjenguk istri dan anak nya itu.


Alana kini tengah digendong oleh Icha, sejak dia tinggal di sana, Alana menjadi sangat dekat dengan Icha dan selalu mengajak ngobrol aunty nya yang duduk di kursi roda itu. dengan begitu Agatha tidak kesepian lagi dan menjadi salah satu penyemangat bagi kesembuhan Agatha, dia mungkin trauma untuk berkomitmen tapi dia ingin memiliki anak seperti Alana yang sangat cantik dan mengemaskan.


Saat ini Alana, tengah merajuk dia ingin memiliki adik seperti teman-teman nya disekolah yang memamerkan adik bayi yang baru lahir.


"Oma, mana Mommy kenapa? Mommy tidak berikan Alana adik bayi, teman ku disekolah semua punya adik bayi"ucap Alana sambil menangis sesenggukan.


sementara Agata malah tertawa terbahak-bahak karena gemas melihat tingkah polos bidadari kecil itu, dia kira minta adik semudah meminta permen, kemudian Agatha bersandar di samping sofa.


"Sebentar ya, sayang Oma telpon Mommy dulu"ucap Icha mencoba membujuk bidadari kecil itu.


setelah panggilan tersambung tampak wajah letih sang Mommy yang mencoba untuk tersenyum pada putrinya dan juga sang Tante.


📱"Ada apa? sayang nya mommy"ucap Anggita.


📱" Mommy, Alana mau adik bayi seperti teman-teman Alana, semua foto sama adik bayi,hiks hiks hiks"ucap nya, Anggita mengusap wajah nya kasar, jangan kan untuk mengurus bayi kecil, bayi besar nya saja masih belum bisa mandiri dan bersikap dewasa seperti dulu.


📱"Alana tidak butuh adik bayi untuk berfoto, Mommy ada banyak bayi yang baru lahir semua lucu-lucu Alana mau foto bukan sekarang minta Daddy antar Alana kesini"ucap Anggita sambil tersenyum.


panggilan pun berakhir dia akan pulang setelah Alana datang dengan ayahnya untuk berfoto bersama dengan bayi yang baru lahir disana, tentunya Alana, akan meminta bantuan rekanya dari tempat bersalin agar mengijinkan putri nya itu mengambil foto sebanyak yang dia mau.


dan benar saja Alana, datang bersama Alvin yang datang untuk memenuhi keinginan putri nya itu.


Anggita yang sudah lelah pun langsung membawa keduanya ke ruang bayi salah satu perawat membawa bayi kembar tiga, dan akhirnya dengan gaya centil nya putri nya itu berpose dengan ketiga bayi tersebut dan Alvin dengan senang hati mengambil gambar tersebut.


"Sudah dapat kan sayang kita bisa cetak di depan gedung rumah sakit ini, ada tempat cetak foto kamu bisa pamerkan pada mereka"ucap Anggita, yang entah kenapa? gampang terpancing , saat putri nya menangis, dia tidak bisa melihat itu, yang dia inginkan adalah tangis bahagia.


"Sayang apa? tidak sebaiknya kita memikirkan keinginan putri kita"ucap Alvin.


"Jangan banyak bicara mas, kamu saja masih lebih lebih manja dari bayi"ucap Anggita, sontak Alvin tersenyum manis karena tidak ingin istrinya yang lelah itu merajuk.


mereka pun bersiap untuk kembali ke rumah setelah berterima kasih pada ibu bayi dan juga suster yang menjaga nya.


sampai di tempat cetak foto, bukan hanya foto Alana dengan bayi saja, Alvin mencetak foto mesra dirinya dan Anggita.


Anggita sempat melotot tak percaya kenapa? Alvin bisa melakukan hal itu, dan satu lagi pertanyaan siapa yang mengambil foto mereka saat sedang berciuman di kamar nya.


Anggita curiga jangan-jangan setiap berhubungan intim, Alvin mengabadikan momen tersebut, Anggita akan membongkar seluruh barang-barang yang ada di dalam kamar, untuk mencari tau apa? ada kamera tersembunyi, atau dilakukan oleh Alvin sendiri.


sementara Alvin tau istrinya sedang bertanya-tanya tentang foto itu dalam hatinya, dia harus segera menyingkir kan barang bukti dari kamar nya.


"Mas bisa jelaskan semua ini"ucap Anggita yang sudah berada di dalam mobil, sementara putri nya tengah asik melihat foto dirinya dengan bayi kembar itu tidak peduli dengan Daddy dan Mommy nya yang tengah ribut membahas foto satunya lagi yang berukuran besar itu.

__ADS_1


__ADS_2