
Disaat ini, Kristofer, duduk anteng, bersama Agatha yang masih menikmati camilan yang Kristofer pesan dari, sebuah restaurant lewat anak buah nya.
"Kau masih kuliah, dan usia mu baru dua puluh tahun, tapi kenapa? kau berlagak seperti orang dewasa"pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibir Kristofer.
"Aku tidak berlagak, aku sudah dewasa"ujar Agatha.
Kristofer tersenyum kecil dia, sudah bisa menebak jika, Agatha kini tengah menutupi kekurangan nya.
"Aku menawarkan sesuatu padamu, mulai saat ini kau bisa menjadi teman ku, atau menjadi musuh ku"ucap Kristofer dengan sengaja ingin mengerjai Agatha.
"Berteman dengan maut, maksud nya"ujar Agatha polos.
Hal itu, membuat Kristofer terkekeh geli.
"Kau pikir, aku apa? begini saja mulai besok kau datang ke kantor ku, kau bisa jauh lebih mengenal ku"ucap Kristofer.
"Heumm, baiklah sekalian aku belajar menjadi pebisnis yang luar binasa"ucap Agatha.
"Heumm, boleh juga, sepertinya itu jauh lebih baik"ujar Kristofer.
"Kau suka es krim"ujar Kristofer lagi.
"Untuk apa? es krim, aku bukan anak kecil lagi"kata Agatha, sedikit terbata.
"Hahaha, kau pikir orang dewasa tidak suka eskrim"ujar Kristofer.
"Heumm, aku tidak tau"ucap Agatha.
"Aku suka eskrim tapi, rasa anggur merah"ujar Kristofer, sambil menunjukkan segelas wine.
"Kau pikir ada es krim semacam ini"ucap nya sambil menenggak minuman milik Kristofer.
"Kau, sudah terlalu banyak minum, ayo aku antar pulang"ujar Kristofer.
"Tidak-tidak aku bukan anak kecil, aku bisa pulang sendiri, lebih baik kau urus saja asisten payah mu itu" ucap Agatha, sambil berusaha bangkit meskipun sempoyongan.
"Gadis, keras kepala, sudah tau mabuk kau masih berlagak seperti orang dewasa."ujar Kristofer, sambil menggendong Agatha, ala bridal style menuju lantai bawah diikuti oleh anak buah nya, dan sampai basement club tersebut, dia langsung meminta anak buah nya untuk mengantar mobil Agatha, sementara dia dan Agatha, menggunakan mobilnya, dengan kedua anak buah nya.
Hingga tiba di apartemen Agatha, kristofer, masih menggendong Agatha, sampai tiba di unit apartemen nya, dan pria itu langsung membuka pintu menggunakan sidik jari Agatha.
Karena sang empunya, kini tengah terlelap tidur di pangkuan nya, Kristofer, melihat wajah polos yang kini terlihat sangat alami.
Kristofer, membawa Agatha kedalam kamar nya, dia langsung membaringkan tubuh Agatha, yang sedari tadi tertidur terlelap diatas ranjang milik Agatha, tidak hanya itu, Kristofer juga melepaskan sepatu yang dikenakan oleh Agatha, dan menyelimuti gadis itu, setelah itu ia pun mematikan lampu terang digantikan dengan yang temaram, lalu dia pergi setelah selesai.
Anak buah nya yang melihat itu, tersenyum ini seakan sebuah keajaiban, karena Kristofer, tidak pernah memperlakukan wanita, seperti dia memperlakukan Agatha, karena bagi Kristofer, wanita hanya, seorang budak pemuas, atau pun pelayan.
Tapi dengan Agatha, dia bahkan tidak tega untuk berlaku kasar, dia seakan memperlakukan wanita mulia, seperti ibunya, dan juga adik perempuan beda ibu tersebut.
"Jaga, tempat ini, jangan sampai ada musuh yang mengancam keselamatan gadis itu"ujar Kristofer pada asisten pribadi nya, yang laki-laki .
"Siap Don."ujar anak buah nya.
Sementara itu Marvin, mengusap dada dia merasa lega, karena ternyata Agatha benar pria itu, tidak akan berbuat macam-macam terhadap cucunya itu.
perbedaan usia, sepuluh tahun, antara Kristofer dan Agatha, tidak bisa menutupi, perbedaan itu, karena Kristofer, tumbuh di lingkungan keras dan kejam sementara hingga mampu mendewasakan dirinya dengan cepat, dan tidak hanya terlihat dari penampilan nya dengan otot dan penampilan nya yang jauh lebih dewasa, di usianya tiga puluh tahun itu.
"Apa? yang cucuku katakan, memang benar adanya, tapi kita tetap harus waspada"ujar Marvin.
Marvin pun kembali ke kediaman nya, disambut oleh sang istri tercinta, yang memberikan dia pelukan penuh cinta kasih, sedari dulu, setelah Ariana, mengingat semuanya, wanita yang kini sudah berusia lanjut itu, tetap romantis sama seperti dulu.
"Bagaimana, apa? semua baik-baik saja"ucap Ariana.
__ADS_1
"Semua, baik-baik saja Sayang, tidak perlu ada yang di khawatir kan, meskipun kita harus menjauh untuk sementara waktu dari cucu kesayangan kita"ucap Marvin.
"Tidak masalah yang penting, dia akan selalu baik-baik saja"ujar Ariana sambil tersenyum dan kembali memeluk suaminya itu, sementara Alvin dan Anggita, tidak tau percakapan mereka, saat ini karena terlalu pelan.
Sampai Alvin, menyapa Daddy nya.
"Daddy habis dari mana dua hari ini"ucap Alvin.
"Ada sedikit urusan Boy, bagaimana keadaan kalian"jawab Marvin.
"Baik Daddy"jawab Anggita.
"Syukurlah kalau begitu"ujar Marvin lagi.
"Bagaimana? kondisi perusahaan, dan anak nakal itu"ucap Marvin lagi, yang menanyakan tentang perubahan dan Alvaro, yang tidak pernah kapok bermain perempuan, meskipun hampir kehilangan Irma, istri terbaiknya itu.
"Semua baik-baik saja Daddy, mungkin jika mereka memiliki anak, Alvaro akan berhenti bermain-main"ujar Alvin.
"Anak bukan jaminan untuk menghentikan kelakuan buruk, yang jelas, adalah akhlak kalian"ujar Ariana.
"Iya mom"ujar Anggita.
Mereka pun kembali masuk ke tempat peristirahatan masing-masing, dua pasang suami istri itu, sudah tiga tahun tinggal bersama, padahal sejak usia Alvin dua puluh tahun, pria itu, sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah kedua orang tua nya hanya karena ingin hidup mandiri, hingga akhirnya bertemu dengan jodoh nya, Anggita, yang saat itu menjadi pelayan di rumah yang ditempati oleh Anggita.
Kini sudah hampir tiga puluh tahun berlalu, Alvin, bahkan sudah memiliki empat orang anak, termasuk NATO, anak asuhnya, karena NATO, bukan darah daging Alvin.
Sementara NATO, dan istrinya Rosella, saat ini tengah berbahagia, meskipun pernikahan mereka tidak dihadiri oleh sanak saudara, pernikahan itu, tetap membuat mereka bahagia, dengan saling memberikan kasih sayang dan perhatian, NATO, juga masih bekerja di rumah sakit tersebut, dan Anggita, masih bersikap layaknya atasan dan ibu kandung nya, tidak ada yang berubah, hanya saja dia tidak pernah berkunjung lagi ke kediaman Marvin, sebelum keluarga nya mau menerima Rosella, sebagai menantu mereka.
Keputusan yang diambil NATO, memang sangat dilema bagi kedua pihak, selain mereka, saling egois, tapi juga rindu, kebersamaan, hanya NATO, memilih istri, karena biar bagaimanapun istri adalah masadepan nya, dan keluarga, tetap sebagai pendukung yang akan selalu berada di belakang nya, lagipula keluarga adalah pendukung terbaik selama ini, NATO, tidak pernah lupa akan hal itu, dia berharap suatu saat nanti, keluarga nya, bisa menerima kehadiran Rosella dalam hidup nya.
Pagi hari yang cerah, semua manusia sudah mulai beraktifitas, seperti biasanya, meskipun tidak semua karena ada juga yang baru beristirahat seperti NATO, yang baru tertidur pulas, setelah menolong banyak pasien, semalam, Rosella, yang sudah berdandan secantik mungkin dan penampilan nya yang kini menggunakan dress selutut berwarna merah, dia berjalan sambil membawa nampan berisi sarapan pagi dan segelas susu untuk suaminya, yang belum lama ini tertidur pulas.
...🌸..............🌸...
"Masih ngantuk honey"ujar NATO.
"Sebentar saja Yang... ayolah, nanti mas sakit siapa? yang ngobatin"ucap Rosella, dengan penuh kasih, sambil mengelus punggung suaminya.
"Ada, dokter Rosella yang cantik"ucap NATO, sambil mengecup bibir istrinya sekilas.
"Heumm, nakal ayo bangun dulu, nanti perutnya sakit gimana"ujar Rosella lagi.
Akhirnya dengan langkah gontai, pria tampan itu berjalan menuju kamar mandi.
Rosella pun menunggu sampai beberapa menit, hingga pria itu keluar dengan wajah yang fresh mungkin karena dia juga sudah membasuh muka.
Rosella, menepuk sofa di sebelah nya.
"Minum lah dulu susunya, setelah itu baru ini ucap Rosella.
"Tumben tidak membuat kopi"Goda NATO, karena biasanya dia malah tidak jadi tidur, setelah Rosella, buatkan kopi dan akhirnya mereka melepas rindu, setelah satu hari satu malam mereka tidak bertemu.
"Mas, harus istirahat dan aku tidak ingin mas kelaparan karena ngantuk dan susu, seperti nya baik untuk lambung"ucap Rosella.
"Apalagi, kamu yang jauh lebih baik untuk ku"ujar NATO ,tulus sambil tersenyum.
"Mas, harus banyak istirahat, belum lagi nanti, ada rapat bukan"ujar Rosella.
"Mas, bisa istirahat setelah isi energi sayang" ucap NATO, pria itu langsung memakan sarapannya dan Rosella, menarik nafas lega, dia sudah berpikir yang tidak-tidak, saat ini dan NATO pun tersenyum, dia tau apa? yang ada di pikiran istrinya, karena memang itu yang dia inginkan.
"Urusan itu nanti sayang setelah aku selesai sarapan"ujar NATO, sambil tersenyum jahil.
__ADS_1
"Tidak boleh mas, harus segera istirahat"ucap Rosella.
"Tidak bisa istirahat, sebelum itu"ujar NATO.
Rosella, pun hanya bisa mencebikkan bibir nya, sementara NATO, terkekeh di sela suapan nya.
"Sayang, kamu sendiri sudah sarapan atau belum"ucap NATO.
"Nanti saja, aku masih kenyang, setelah minum susu"ujar Rosella.
"Kebiasaan deh, ini makan dulu"ucap NATO.
"Enggak mau Yang, nanti sakit perut, jika diisi, sebelum olahraga"ujar Rosella.
"Terimakasih sayang kamu memang sangat pengertian"ucap NATO yang kini tersenyum menawan.
"Mas, bisa gak, jangan menggodaku seperti itu, aku malu tau"ucap Rosella, jujur.
"Kenapa? mesti malu sayang kita sudah bisa lakukan apapun,halal kok"ucap NATO, sambil tersenyum kembali.
"Aku tidak tahan mas, godain aku terus, bisa-bisa kena diabetes, habis yang godanya kebangetan manis nya"ujar Rosella.
"Heumm, sudah pintar menggombal rupanya"ucap NATO.
"Tentu bukan kah, yang ngajarin semua itu kamu Yang"ujar Rosella, sambil tertawa cekikikan.
Mereka pun tertawa terbahak-bahak, bersama, hingga NATO selesai sarapan, mereka berdua masih duduk santai, di sofa, hingga NATO pun meminta jatah pada istrinya itu.
NATO, adalah pria yang sangat baik, jauh dari kata licik, meskipun terlahir dari wanita licik yang penuh dengan tipu muslihat, tapi mungkin, semua karena didikan dari Anggita, kata pepatah mengatakan bahwa anak kecil ibarat kertas kosong yang murni, jadi tergantung kita sebagai guru akan menulis apa? di atas kertas kosong tersebut, dan meskipun NATO, sudah berusia lima tahun saat itu, tapi pengasuhan lebih cenderung Alvin yang paling banyak berinteraksi dengan bocah laki-laki itu.
Sementara itu di depan lobby kantor perusahaan asing milik Kristofer, Agatha langsung disambut oleh beberapa staf kantor seakan mereka sudah mengenal dirinya, gadis yang baru saja pulang kuliah itu, kini berjalan di di dampingi oleh asisten pribadi kristofer, menaiki lift khusus petinggi perusahaan tersebut, hingga tiba di lantai teratas gedung perkantoran tersebut.
Agatha langsung diarahkan untuk masuk sendiri kedalam sebuah ruangan yang bertuliskan CEO, wanita itu mengetuk pintu sampai seseorang meminta nya untuk masuk.
Agatha masuk kedalam ruangan itu, dan disambut senyuman manis dari Kristofer.
"Duduk lah"ucap Kristofer, menunju sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
"Wah ruangan nya, nyaman juga"ucap Agatha.
"Syukurlah jika kamu suka, mulai besok kamu bisa menempati ruangan ini sesuka mu, tapi tidak gratis"ujarnya menggantung kan kalimatnya.
"Maksudnya?"tanya Agatha, sambil mengerutkan keningnya.
"Kamu harus menjadi, asisten pribadi ku"jawab Kristofer, tidak ingin membuat wanita itu berpikir lebih keras.
"Aku sibuk, mana ada waktu untuk itu, akhir-akhir ini, klien ku banyak"ujar Agatha.
"Tutup, studio tatto mu, atau aku bakar apartemen itu"ucap Kristofer tegas.
"Tapi itu hobi ku"ucap Agatha lagi.
"Kau bukan psikopat yang gemar menggores benda tajam di kulit orang, kau melakukan hal itu, untuk menutupi kesedihan karena merasa sendirian di dunia ini, maka dari itu kau harus belajar banyak dari ku, kamu harus tau apa? itu, rasa sakit yang sesungguhnya agar bisa bersyukur karena masih memiliki keluarga yang sangat menyayangi mu"ucap Kristofer.
"Kris, aku hanya tidak ingin, orang lain mengetahui kelemahan ku, itu saja, sudah cukup aku dijadikan bahan olokan teman dan orang diluar sana, karena ada yang tidak beres di kepalaku, tapi itu bukan inginku, aku juga ingin hidup normal seperti yang lain, tapi kadang, rasanya sangat menyakitkan, disini"ucap Agatha, yang kini bercucuran air mata sambil menunjuk kepalanya.
"Maka berhentilah menyakiti diri sendiri, jadilah dirimu yang sebenarnya, karena kebahagiaan bukan didapat saat kita menjadi orang lain, tapi saat kita menjadi diri sendiri, meskipun tidak semua yang kita inginkan kita dapatkan, tapi kau tidak perlu menjadi sempurna untuk mencapai bahagia, karena bahagia yang sesungguhnya akan datang dari yang benar-benar tulus"ucap Kristofer, sambil mengelus puncak kepala Agatha, dan memberikan saputangan milik nya.
"Terimakasih atas nasehat nya, tapi rasanya cukup jauh untuk kembali, bahkan jalan itu seakan menghilang, mungkin jadi seperti saat ini adalah pilihan terakhir, aku akan membangun, semua nya, dari nol"ujar Agatha.
"Belum terlambat untuk kembali, mungkin jalan itu masih ada, hanya saja kamu masih merasa bimbang, dan saat itu terjadi maka tetap lah berada di sisiku, aku yang akan menjadi petunjuk bagi mu"ucap Kristofer, sambil menatap dengan tatapan mata teduh, tidak seperti saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Setelah, obrolan panjang lebar, Agatha dan Kristofer, kini tengah berada di sebuah restaurant, pria itu mengajak Agatha, untuk makan siang bersama.