
Percakapan Anggita dan Sari berakhir saat mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Pagi harinya semua orang sudah berkumpul di meja makan, termasuk seluruh anggota keluarga yang ada di Mension tersebut, meja makan yang panjang itu telah di kelilingi oleh keluarga besar Ariana.
"Hari ini apa? kalian tidak sibuk"tanya Ariana.
"Sibuk Oma, tapi jika Oma, butuh sesuatu aku akan urus urusan ku nanti"ucap mereka yang kompak.
"Oma hanya ingin kita pergi liburan"ucap Ariana.
"Baiklah Oma"ucap semuanya, tidak ada yang berani menolak permintaan Ariana, bukan karena mereka takut tapi karena mereka tidak ingin membuat Ariana bersedih, seperti pesan pria yang sangat mencintai istrinya itu, yang tak lain adalah Marvin.
Jika sudah begitu semua orang akan mengandalkan asisten pribadi mereka yang harus menggantikan posisi mereka saat ini.
"Jangan memaksakan diri jika kalian sibuk"ucap Ariana.
"Tidak Oma,kami juga ingin berlibur"ucap mereka kompak.
"Baiklah kalian semua bisa bersiap"ucap Ariana.
"Kemana? kita pergi Oma" tanya mereka.
"Ke puncak, Villa keluarga kita baru selesai dibangun"ucap Ariana yang membuat mereka terkejut.
"Kapan? Oma membangun villa"tanya NATO.
"Satu tahun sebelum Opah meninggal, dan itu sempat tertunda hingga kini baru selesai di bangun"ucap Ariana.
Mereka semua berpikir sebesar dan semewah apa? villa tersebut.
"Baiklah mom, kita bersiap sekarang"ujar Alvin.
"Ya kita akan bersiap sekarang"ucap mereka.
Semua, orang langsung bergerak menuju kamar masing-masing, mereka mengemas beberapa pakaian dan kebutuhan lainnya untuk sekeluarga mereka masing-masing.
Hingga saat, Sari keluar dengan Adriana mereka berdua begitu kompak.
Sementara, Alvaro masih duduk santai di ruang tengah, Ariana heran kenapa? cucunya yang satu itu tidak bersiap juga hingga ia bertanya.
"kenapa kamu belum bersiap juga bukannya kita akan pergi saat ini." ucapan Ariana.
Namun, Alvaro hanya tersenyum
"Bagaimana aku bisa bersiap jika tidak ada yang menyiapkan semua keperluanku, mereka terlalu sibuk"ucap Alvaro yang memasang wajah sedih.
Ariana, tahu sejak kepergian Irma, Alvaro tidak bisa melakukan apapun sendiri karena ketergantungannya pada Irma, hingga dia meminta Xena untuk melakukan semua itu.
Dan, akhirnya semua yang tidak diinginkan itu terjadi, Ariana pun meminta Sari, untuk menyiapkan semua keperluan Alvaro.
"Jangan sedih begitu masih ada Sari dia yang akan membantumu, lagi pula kamu akan bersama dengan Omah dalam satu mobil. karena mereka semua menggunakan mobilnya masing-masing, Oma akan pergi bersama kalian berdua" ucap Ariana.
"Baiklah Uma Aku akan segera bersiap Ayo sorry ikut aku."ucap Alvaro yang kini berjalan di depan Sari.
Sesampainya mereka berdua di dalam kamar tersebut, Alvaro langsung meminta Sari mengambilkan sebuah koper, dan memasukkan barang-barang yang ia butuhkan.
Alvaro, hanya meminta ini dan itu sementara Sari, bergerak ke sana kemari karena itu sudah menjadi kebiasaan bagi Alvaro, yang tidak bisa melakukan semuanya sendiri.
Pria, itu terlalu bergantung pada istrinya saat Ia memutuskan untuk berumah tangga, dan sekarang dia pun masih tetap sama seperti itu.
Jika, tidak ada pelayan yang membantunya untuk bersiap maka tidak ada kegiatan yang akan dia lakukan seperti pergi bekerja ataupun yang lainnya.
Namun, Anggita sebagai ibunya, selalu membantu kebutuhan putranya itu.
Putra, pertama Alvin dari Agnes yang sudah meninggal dunia sejak Alvaro lahir ke dunia ini, kini dia menjadi tanggung jawab Anggita, sejak Ia memutuskan untuk menikah dengan Alvin.
Dan, sekarang tanggung jawab itu beralih pada Sari, seperti yang Ariana katakan Sari, yang akan membantu menyiapkansemua keperluan Alvaro.
Karena, tidak ada lagi orang yang bisa menggantikan menyiapkan semua yang Alvaro butuhkan istrinya dulu, selain keluarga dan juga Sari yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Sudah selesai, kak sekarang kakak mau siapkan apa lagi jika ada yang kurang bilang saja, biar kita bisa cepat pergi lebih awal karena Oma bilang Oma ingin membeli sesuatu di jalan sebelum sampai di villa"ucap Sari.
"Aku belum menyiapkan laptop dan dompet ku, kamu memangnya tidak ingin membeli sesuatu"ucap Alvaro yang kini menatap lekat wajah itu.
"Beli apa? aku tidak memerlukan apapun"ucap Sari.
"Kau itu manusia kan, kenapa? tidak membutuhkan apa-apa, bukannya manusia butuh membeli kebutuhan nya"ucap Alvaro, sedikit merasa kesal kepada gadis yang satu itu.
Sari, menundukkan kepalanya dia tidak bisa melihat wajah masam itu.
"Ambilkan dompet dan laptop ku, masukkan semua kedalam ransel itu."ucap Alvaro.
Sari tidak menjawab dia hanya melakukan apapun yang Alvaro perintah kan.
Jika saja itu Xena, mungkin dia akan melakukan semua itu dengan gaya nya yang menggoda iman, tapi berbeda dengan Sari, yang selalu bersikap biasa saja seperti almarhum istrinya dulu.
__ADS_1
"Sari nanti aku ingin kita bicara"ucap Alvaro.
"Bicara saja kak"ucap Sari.
"Aku ingin kita bicara serius"ucap Alvaro.
"Aku tidak tau apa? yang ingin kakak bicarakan, kenapa? tidak bicara sekarang saja"ucap Sari.
"Nanti saja sekarang bawa kemari koper dan ransel itu, biar aku yang bawa"kata Alvaro.
"Baik"jawab Sari singkat.
Gadis itu pun memberikan apa? yang Alvaro pinta, dan sekarang mereka berjalan menuruni tangga berdua sementara yang lain saat ini tengah memasukan barang-barang milik mereka ke mobil mereka masing-masing.
Sementara Agatha, dia menggunakan mobil yang dirancang khusus oleh pabrik nya untuk membawa bayi kembar tiga di dalam nya ada jok khusus untuk ketiga bayi nya di dalam mobil tersebut.
Agatha, diantar sopir pribadi kristofer dan diikuti oleh mobil para bodyguard nya.
NATO, sekeluarga pun sudah bersiap dan mobil yang paling depan adalah mobil Alvin dan Anggita sebagai kepala keluarga, dan Alana dan Piter yang kedua ketiga Agatha keempat NATO dan kelima Alvin, yang kini pergi bersama dengan sang Oma dan juga Sari.
Sepanjang perjalanan mereka semua seakan sedang melakukan konvoi, tidak ada yang memisahkan diri sedikit pun, dan lagi iring-iringan mobil super mewah itu, dikawal oleh anak buah Kristofer dari depan dan belakang secara diam-diam.
Kini, keduanya tengah berada di sebuah rumah makan, untuk makan siang bersama karena sudah waktunya jam makan siang, Ariana meminta Alvin untuk berhenti di rumah makan tersebut.
"Sari, ayo turun"ajak Ariana.
"Tidak Omah aku belum laper"ucap Sari.
"Tapi setidaknya kamu harus makan sesuatu"ucap Ariana.
"Sudah lah omah dia sudah besar dan punya pendirian, kenapa? harus repot-repot bicara padanya"ucap Alvaro, yang merasa sangat kesal dengan gadis itu.
"Al"
...🌸.....🌸...
Sari tetap berada di dalam mobil, dia sendiri merasa malas untuk turun, apalagi dengan sikap Alvaro yang selama ini selalu saja berkata sinis setiap kali Sari menolak penawaran atau pemberian.
"Kau mau tetap disini"ucap Alvaro yang kembali kedalam mobil.
Dia mengambil sesuatu dari dalam ransel nya.
"Aku sudah bilang tidak laper"ucap Sari.
"Apa? wajah ku terlalu buruk hingga kau benci menatap ku saat bicara"ucap Alvaro, yang membuat Sari melirik seketika itu pada Alvaro.
"Wajah mu tidak buruk, hanya saja aku tidak suka kamu selalu berkata sesuka hati mu, jika kamu tidak ingin aku berada di tengah kalian bilang saja aku bisa kembali ke desa"ucap Sari.
Alvaro langsung meraih bahu Sari, dan menekan nya dengan sangat kuat.
"Aku tidak pernah berkata bahwa aku tidak suka kamu ada bersama kami, tapi salahkan wajah ini yang terlalu mirip dengan istri ku, hingga aku tak bisa menerima penolakan mu tentang semua yang aku berikan kepada mu."ucap Alvaro yang kini memalingkan wajahnya kearah lain.
"Aku, tidak tau jika aku mirip dengan istri mu, lagipula itu bukan inginku dan wajar saja jika aku menolak semua pemberian mu, aku tidak punya hubungan apapun dengan mu, dan aku cukup tau diri saat ini aku hanya menumpang di rumah mu, makanya aku tidak punya hak untuk semua itu."balas Sari.
"Kau tidak menumpang kau adalah keluarga bagi kami kamu lihat pelayan dan keluarga itu di perlukan berbeda, meskipun kami tetap harus menghormati mereka yang sudah bekerja untuk kami apa? kau melihat mereka memiliki fasilitas lengkap seperti yang kami berikan padamu."ucap pria itu.
Sari, pun terdiam sejenak"ikut aku makan atau selamanya aku akan bersikap kejam padamu"ucap Alvaro.
Gadis itu pun turun mengikuti Alvaro yang kini ada di depan.
Sesampainya di sana seluruh meja sudah penuh dengan keluarga mereka, dan kini Alvaro mencari meja lain yang terpisah, kebetulan suasana restoran kecil itu tengah lenggang entah memang setiap hari seperti itu, atau ada yang membooking tempat tersebut, diantara keluarga mereka dan siapa lagi yang akan melakukan hal itu jika bukan Kristofer.
Alvaro duduk di meja pojok bersama dengan Sari, kebetulan pemandangan dari arah jendela restauran tersebut sangat indah, ada sebuah perbukitan yang terlihat sangat cantik dengan sejuta tumbuhan hijau yang berada di sana.
"Kamu pesan makanan"ucap Alvaro.
"Semua sudah Oma pesan sayang mungkin sebentar lagi kita akan datang"ucap Ariana yang kini bergabung dengan mereka.
"Oma, sering kesini"tanya Sari.
"Dulu saat opah tidak sibuk"jawab Ariana.
"Heumm,, kalian romantis sekali"ucap Sari.
"Kau memang nya tidak pernah pacaran"kata Alvaro masih sinis.
"Aku bahkan tidak pernah berteman dengan siapapun, saat sekolah hanya sebatas kenal tidak ada pertemanan yang dekat seperti yang lainnya karena ayah bilang mereka tidak akan setulus keluarga."ucap Sari.
Alvaro hanya menggelengkan kepalanya dia benar-benar merasa heran dengan wanita yang ada di hadapannya.
"Oma, kembali ke sana kalian nikmati saja makanan nya"ucap Ariana.
Sementara itu di meja yang melingkar luas itu, seseorang diam-diam tengah menatap wanita cantik yang kini tengah menggendong bayi kembar tiga itu,di pangkuan nya, Agatha hanya memangku Kaley, sementara Kalan dan Kala, berada di pangkuan Alvin dan Anggita, saat ini.
Pria itu masih tidak bisa melupakan wanita cantik yang ada di sana.
__ADS_1
Agatha tidak menyadari hal itu, dia pun memberikan Kaley, pada pengasuh saat mereka memulai menikmati makanan tersebut.
Sampai mereka selesai makan siang, Alvaro masih betah duduk di sana hingga Sari selesai makan.
"Mau sesuatu?"tanya Alvaro.
Sementara seluruh keluarga kini sudah berada di dalam mobil.
"Aku duluan"ucap Sari.
"Kamu mau pergi dengan siapa?"ucap Alvaro.
"Sama Oma"jawab Sari.
"Indah Sari, Oma sudah berangkat dengan Agatha"ucap Alvaro.
"Tidak mungkin, lalu aku"ucap Sari.
"Kau pikir dengan siapa? dengan bodyguard Kristofer yang juga sudah pergi"ucap Alvaro.
Gadis itu pun terpaksa kembali duduk, sementara Alvaro masih anteng dengan Handphone nya, diam-diam ia tengah membandingkan foto Sari dengan Irma.
"Kak"lirih Sari.
"Apa? Xena"ucap Alvaro tanpa sadar.
"Xena"ucap Sari.
"Maaf aku salah"ucap Alvaro.
Sari pun diam seribu bahasa.
Gadis itu hendak pergi tapi tangan kekar itu menggenggam tangan Sari.
"Duduk atau aku tinggal sendiri di sini"ucap Alvaro.
"Aku tunggu di luar jika kakak masih betah disini"balas Sari.
"Kau tidak lihat cuaca mendung"ucap Alvaro.
Dan benar saja, cuaca tiba-tiba mendung gadis itu pun kembali duduk.
"Bagaimana jika Oma, butuh bantuan ku"ucap gadis itu.
"Barang Oma, sudah dipindahkan ke mobil lain dan di mobil bodyguard Kristofer mereka membawa pelayan dan pengasuh jadi tidak perlu khawatir dengan itu.
"Tapi sekarang akan turun hujan dan jalanan pasti berkabut"ucap Sari.
"Kau tahu daerah ini"ucap Alvaro.
"Aku tidak tau tapi biasanya daerah perbukitan selalu seperti itu."ucap Sari.
"Heumm"ujar Alvaro.
"Aku masih ingin disini suasananya sangat tenang"ucap Alvaro.
"Tapi di villa Oma juga sangat nyaman"ucap Sari yang membuat pria itu terperanjat kaget.
"Kau sudah tau itu?"kata Alvaro kaget.
"Tentu saja tau, karena aku pernah kesana bersama dengan Oma saat kalian semua tidak berada di rumah"ucap Sari.
"Tapi kenapa? kau tidak memberitahu ku"ucap Alvaro.
"Oma, merahasiakan semua karena dia ingin memberikan kejutan pada kalian semua di hari ulang tahun Oma, besok"ucap Sari.
"Bukan ulang tahun Oma, tapi Opah"ucap Alvin.
"Ya siapapun itu yang jelas cerita nya seperti itu"ucap Sari.
Alvaro, pun bangkit dari duduknya dan berjalan begitu saja meninggalkan sari di tempat nya.
"Apa? kau masih ingin disini"ucap Alvaro setelah berjalan beberapa langkah.
Sari langsung bangkit berjalan mengikuti Alvaro dengan langkah lebar nya membuat Sari ketinggalan jauh.
"Lama sekali kau jalan"ujar pria itu yang langsung membukakan pintu mobil untuk Sari.
"Aku sudah berusaha jalan lebih cepat, kakak nya saja yang terlalu cepat"protes Sari.
"Sudah salah protes lagi"ucap pria itu.
Alvaro seakan sedang memperlakukan istrinya dulu.
Irma yang terbiasa diperlukan seperti itu, oleh Alvaro, tidak pernah protes, justru sebaliknya Irma yang tangguh akan membalas Alvaro, tapi tidak dengan Sari, gadis itu lebih bawa perasaan mungkin karena jiwa mereka tidaklah sama.
__ADS_1