Sang Penari

Sang Penari
#Marvin sakit#


__ADS_3

Sesampainya di tempat perbelanjaan aku hanya, memilih lalu pergi lagi ke tempat lain, memilih pergi lagi, tapi tidak ada satupun yang aku beli, mas Marvin dengan setia mengikuti ku dari samping, sesekali dia akan merangkul pinggang ku.


saat sedang berada di store khusus barang-barang pria,tiba-tiba ada seseorang yang mengenali aku dia hendak memeluk ku, tapi mas Marvin, langsung pasang badan melindungi ku.


"Ari, Lo dah lupa sama gue, gue Zidane sepupu Lo, gak nyangka yah Lo juga lupain gue, setelah kecelakaan itu, bahkan sudah hampir tiga tahun lebih"ucap nya.


"Maafkan saya bang saya tidak ingat"ucap ku.


mas Marvin langsung memeluk ku ,sebentar setelah itu dia kembali berjalan sepertinya pria itu tidak jadi membeli sesuatu, dari setiap store yang kami datangi hanya ada satu paper bag yang kini dibawa oleh mas Marvin, kini kami turun ke lantai bawah menuju tempat bahan makanan.


aku membawa troli kuambil sayuran segar bahan-bahan lainnya perbumbu an dan juga daging ikan udang telor, untuk kebutuhan dapur, dari tempat tersebut aku membeli dua troli penuh yang dibawa oleh mas Marvin dan aku menuju kasir .


"Yang masih ada lagi yang belum kamu beli"ucap Marvin.


"Tidak mas perasaan sudah semua"jawab ku yang langsung melirik ke arah kasir yang sudah mulai memasukkan barang-barang kami tidak sudah di hitung kedalam kantong kresek, hingga selesai dan kembali dimasukkan kedalam troli aku berjalan bersama mas Marvin, menuju basement, untuk memasukkan belanjaan kami kedalam mobil.


sesampainya di parkiran mobil,mas Marvin meminta ku untuk duduk dan memberikan minuman yang kami beli tadi untuk menyegarkan tenggorokan yang terasa kering setelah berjalan sedikit lebih lama di tempat kebutuhan dapur.


"Yang kamu duduk saja, biar mas yang memasukkan semua nya kedalam mobil"ucap mas Marvin padaku.


"Heummm rajin amat, suamiku ini"ucap ku sambil mengelus tangan kanan nya.


"Gak gratis yang aku minta tiga ronde setelah pulang dari sini"ucap nya berbisik di samping kuping ku.


"Heummm, kirain gratis, yasudah deh kepalang tanggung jawab"ucap ku sambil tersenyum.


"Kamu memang yang terbaik cinta"ucap nya padaku sambil mengecup bibir ku sekilas beruntung di parkiran sepi.


Mas Marvin pun selesai, memasukkan semua barang belanjaan kedalam mobil lalu dia meminta seorang satpam untuk membawa troli bekas kami ke, tempat nya lagi sambil memberikan uang tip pada petugas tersebut.


kami pun sudah berada di dalam mobil, hendak pulang ke rumah, tapi dijalan mas Marvin, membawa ku kesebuah restaurant berbintang untuk sekedar makan siang.


"Mas, tempat nya nyaman , apa? makanan nya enak"ucap ku sambil melihat-lihat buku menu yang ada di tangan ku.


"Coba saja pesan sayang, siapa tau saja ada yang cocok di lidah mu"ucap nya, sambil terus fokus pada gadget nya.


"Baiklah"ujar ku, sambil meminta pelayan mendekat ke arah ku aku pesankan makanan untukku dan mas Marvin.


tidak lama menunggu pesanan itu datang , aku langsung mengambil sendok untuk mencicipi hidangan pembuka yang ternyata enak pas di lidah ku, itu seperti puding susu madu, manis nya pas hanya dari madu dan tidak menggunakan pemanis buatan.


setelah itu aku mulai mencicipi hidangan utama nya, ikan gurame asam manis, dan ada banyak yang lain nya, karena porsi kecil aku pesan beberapa macam.


mas Marvin, hanya tersenyum setiap kali aku mencicipi makanan tersebut tidak hanya itu dia juga memberikan ku suapan pertama nya.


dia memang tipe pria yang romantis, setelah aku benar-benar mengenal nya, pria itu bahkan tidak pernah membiarkan aku untuk bersedih seperti dulu, saat aku bilang ingatan.


Mas Marvin, pun selesai makan dia dengan sabar menunggu ku, yang masih menikmati makan siang ku itu.


"Yang, kamu banyak makan, tapi tubuh mu tetap langsing, bukan nya biasa juga yang banyak makan itu selalu gemuk"ucap nya sambil tersenyum.


"Aku punya pasukan kebersihan, yang selalu aku minum saat mau tidur"jawab ku asal.


"Perasaan kamu hanya minum air, saat mau tidur"ujarnya lagi.


"Masa sih, ya sudah lah ya tidak perlu dibahas mungkin karena sudah dari sananya juga mas, aku bersyukur"ucap ku.


"Sayang, kamu mau langsung pulang atau mau jalan lagi"ucap nya, bertanya.

__ADS_1


"Aku pulang saja deh, rasanya sudah sedikit lelah"jawab ku.


"Baiklah, tunggu sebentar"ujarnya sambil berjalan menuju kearah kasir mas Marvin seperti sudah sangat akrab dengan mereka semua tidak hanya itu, setiap karyawan terlihat hormat dan patuh pada nya, tidak lama suamiku sudah kembali ke arah meja makan tempat kami, lalu meminta tangan ku untuk berpegang akupun berdiri, dan berjalan mengikutinya berjalan keluar untuk pulang.


"Sayang, hari ini si bibi datang mungkin sudah menunggu kita"ucap mas Marvin, sambil menatap sekilas karena sedang mengemudi.


"Heummm, berarti mulai besok aku bisa mulai mengajar kan mas"ucap ku.


"terserah Sayang ku saja tapi ingat kamu tidak boleh sampai kelelahan"ucap nya.


"Tenang saja mas, aku tidak akan sampai kelelahan"ucap ku yakin.


"Sayang kamu akan sangat senang nanti, karena yang kamu akar adalah anak-anak SD dan SMP, tempat itu juga sangat menyenangkan, aku memilih nya, karena aku tau kamu tidak akan betah berdiam diri di rumah, selagi aku kerja kamu bisa bermain dengan mereka"ucap nya lembut.


"Terimakasih mas, rasanya badanku juga sudah sangat pegal, sudah lama juga tidak menari otot tubuh ini terasa kaku"ucap ku sambil tersenyum manis pada nya.


"Tapi kamu masih tetap yang terhebat sayang dan aku sangat suka itu.


"Terimakasih mas"ujar ku sambil tersenyum.


tidak terasa perjalanan kami pun sudah sampai di tempat tujuan yaitu di rumah tercinta yang kami tempati beberapa hari ini.


"Sudah sampai Alhamdulillah"ucap ku sambil tersenyum.


"Tuh sepertinya si bibi kasihan pasti sudah lama menunggu kita"ucap mas Marvin.


"iya benar mas dari foto profil yang dikirim pihak yayasan wajah nya, sama"ucap ku.


Aku pun turun setelah mas Marvin, membuka pintu sebelah ku, dan wanita paruh baya itu, menghampiri ku.


"Selamat siang nyonya dan tuan, saya dari yayasan ketenaga kerjaan"ucap nya sambil tersenyum ramah.


"Iya nya"jawab nya.


"BI Ijah bisa langsung bekerja hari ini tolong bereskan barang-barang belanjaan istri saya, ini ada uang buat bibi, anggap saja bonus saya dan istri saya akan masuk terlebih dahulu dapur nya bibi cari saja sendiri ya, tuh ada peta lokasi"ucap mas Marvin sambil menunjuk dinding di sebelah garasi mobil yang memperlihatkan peta lokasi rumah kami.


"Mas ko, buru-buru sih ini si bibi. mana bisa membuka tutup mobil mas"ucap ku sambil menatap mas Marvin.


"Tidak masalah sayang semua terhubung ke ponsel mas, jadi biar mas saja yang menutup mobil nya, nanti, sekarang buruan mas udah gak tahan gerah ini"ujarnya sambil merangkul pinggang ku, membawa ku masuk si bibi hanya tersenyum.


🌸........................🌸


sesampainya di dalam kamar mas Marvin langsung melucuti pakaiannya dan dia juga langsung meminta ku, masuk kedalam kamar mandi, dia benar-benar tidak sabaran, dan aku hanya bisa patuh, setelah kami berada di dalam, mas Marvin mengisi air kedalam bathtub, tapi dia menarik ku kedalam ruang shower, dia buru-buru menyalakan air, kamu yang sudah polos pun saling mendekat mas Marvin benar-benar meminta jatah hingga tiga ronde, selama kami berada di dalam kamar mandi berakhir di bathtub dan akhirnya kami pun kembali membersihkan diri.


setelah keluar dari dalam kamar mandi, kami sudah sama-sama fresh, meskipun rasa lelah itu sangat terasa, mas Marvin benar-benar hebat tenaga nya tidak berkurang sedikit pun, setelah selesai berpakaian dan mengeringkan rambut ku,aku langsung bergegas menuju ranjang jujur bagi pemula seperti ku, aku benar-benar kualahan.


"Sayang kamu bobo saja ya, mas mau mengerjakan pekerjaan mas dulu di kamar sebelah"ucap nya, sambil mengecup bibir ku dan puncak kepala ku, setelah itu dia langsung bergegas meninggalkan ku yang mulai memejamkan mata dibalik selimut.


aku terlelap dalam tidur siang ku hingga ada tangan jahil yang mengerayangi tubuh ku, aku membuka mataku, terlihat suami ku yang tampan itu tengah tersenyum.


aku langsung meraba pipinya, betapa kagetnya saat meraba kening mas Marvin ternyata badan nya sangat panas.


"Mas, kamu demam sayang kenapa? tidak membangunkan aku sedari tadi"ucap ku yang langsung meminta nya berbaring.


"Sayang mas baik-baik saja hanya saja sedikit lemes"ucap nya.


"Mas tunggu di sini, aku akan pergi panggil kan dokter yang ada di komplek ini"ucap ku sambil berlari meraih kunci mobil mas Marvin.

__ADS_1


"Yang tunggu kamu "ucapan nya terhenti saat aku menutup pintu kamar,aku berlari menuju garasi mobil dan langsung memasuki mobil yang tadi siang kita gunakan, ini sudah pukul tujuh malam, aku harus buru-buru ke sana.


ku tancap gas di jalanan komplek perumahan yang sedikit sepi ini, hingga dua kali belokan aku menemukan rumah sekaligus klinik tempat dokter membuka praktek.


Aku langsung turun dari mobil dan berlari tanpa alas kaki aku lupa menggunakan sandal tanpa sadar sedari tadi keluar tidak pakai alas kaki.


saat pintu terbuka aku langsung masuk seorang gadis belia yang menjadi asisten dokter tersebut menyambut ku.


"Ada yang bisa dibantu Nyona"ucap nya.


"Iya saya ingin membawa dokter ke rumah saya sekarang juga, suami saya sedang sakit"ucap ku sambil terus bergerak seperti orang kebelet pipis, karena aku baru sadar bahwa aku hanya menggunakan tangtop dan juga hotpants.


"Apa? sedang darurat ucap seseorang yang langsung membuat ku mematung.


"Doni!"teriak ku sambil langsung memeluk pria yang seratus persen benar-benar mirip Doni, aku menangis kencang sambil memeluk nya erat, tapi pria itu tiba-tiba berkata.


"Doni sudah lama tidak ada, Ari sejak dulu aku Dion, kakak Doni"ucap nya yang benar-benar ada masalah dengan otak ku, aku sama sekali tidak mengingat bahwa Doni memiliki kakak, Dion, karena seingat ku Doni, adalah anak tunggal Aku sempat mematung tapi kemudian aku teringat mas Marvin.


"Kak Dion, atau siapapun kamu aku mohon tolong suamiku...ya suamiku"ucap ku yang entah kenapa? aku kembali dilanda kepanikan.


"Baiklah apa gejala sakit nya biar sekalian, saya bawa obat nya"ucap nya.


"Aku tidak tau tapi tolong buruan"ucap ku, yang kini tengah memegang dan mengigit jari-jari ku.


"Ari, apa? kau baik-baik saja"ucap pria itu aku sendiri bingung harus menjawab apa karena aku sendiri tidak tau apa? yang terjadi pada ku.


"Ariana, sebaiknya kamu juga diperiksa terlebih dahulu, kamu sedang tidak baik-baik saja"ucap kak Doni, padaku.


"Tidak kak, aku tadi mau apa? ya kesini kok lupa sih apa? ya.


"Kamu, bilang ada suami kamu yang sakit, dan aku harus segera mengobati nya"ucap kak Doni, tiba-tiba bruk, aku tidak ingat apa-apa lagi, hingga seseorang memeluk ku .


"Sayang kamu baik-baik saja"ucap nya


"Kamu siapa?" ucap ku sambil menelisik menatap pria yang ada di hadapanku, tapi kemudian dia mematung.


"Aku suami mu sayang"ucap nya sambil memeluk ku kembali.


"Ah ya, aku ingat kamu itu pria yang sedang sakit itu kan"ucap ku tapi pria itu langsung memberikan isyarat pada seorang berjas putih untuk mendekat ke arah ku.


"Berikan dia obat nya"kata itu terdengar nyaring di samping telinga ku.


"Lain kali jangan biarkan dia sendiri, bahaya bagaimana jika dia jatuh ke tangan orang jahat"ucap pria berjas putih itu, dan setelah dia menyuntikkan obat tersebut akupun sudah tidak ingat apa-apa lagi.


hingga keesokan paginya, aku bingung melihat mas Marvin, tidak beranjak dari samping ku sedikit pun.


"Mas kamu kenapa? menatap ku aneh begitu"ucap ku.


"Aku tidak apa-apa, sayang lain kali tolong jangan panik, lagi aku tidak apa-apa, dan semua akan baik-baik saja"ucap nya, yang bahkan membuat ku tak mengerti.


"Maksud mas apa?"ucap ku bertanya.


"Tidak ada sayang , ingat jangan terlalu lelah bekerja ok , dan jika ingin pulang nanti setelah mengajar kamu bisa telpon aku ok " ucap mas Marvin terlihat khawatir.


"Aku pun bersiap mandi dan pergi mengajar mulai hari ini, tapi anehnya Marvin meminta bi Ijah untuk pergi bersama ku, dan Marvin.


hingga tiba di tempat ku mengajar, aku langsung disambut oleh teman mas Marvin yang seorang wanita cantik, dia adalah pemilik studio tari terbesar di kota itu aku bahkan di rekomendasikan untuk menjadi guru tari anak usia sembilan tahun dan SMP, yang selalu les privat tari dari setiap genre music.

__ADS_1


"Ariana, ini adalah anak-anak yang akan jadi murid mu"ucap wanita bernama Dhea.


"Ya, senang berjumpa dengan kalian, apa? kalian punya cita-cita ingin jadi penari"ucap ku .


__ADS_2