
"Agatha Alexandria, aku datang untuk melamar mu, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan menikah dengan wanita yang telah menyelamatkan hidup ku ujar Tama.
"Tapi yang menyelamatkan mu adalah dokter di rumah sakit itu, aku tidak berbuat apa-apa"ujar Agatha.
"Agatha, jika bukan kamu yang menemukanku , mungkin saat ini aku sudah tiada, please Agatha, jadilah bagian dari hidup ku"ujar Tama.
Agatha, terdiam lalu kemudian berkata"Aku sudah punya tunangan"ujar Agatha.
"Dia sudah menikah"ujar Tama.
"Heumm, ya... oleh karena itu pula aku, tidak ingin lagi berhubungan dengan pria manapun dan termasuk dirimu " ujar Agatha.
Agatha pun, berjalan meninggalkan pelataran kampus diikuti oleh Tama dan sesampainya di cafe di sana wanita itu, mempersilahkan Tama, untuk duduk.
"Kita bisa memulai nya saat ini dengan berteman"ujar Agatha.
"Tidak, aku mau kita bertunangan"ujar Tama.
"Aku tidak akan pernah menikah"ujar Agatha.
"Kau masih muda dan sangat cantik, tapi kenapa? tidak mau menikah apa? kau"ujar Tama tidak melanjutkan kata-katanya.
"Terserah kamu saja"ujarnya.
"Tapi, aku tidak peduli, sampai kau mau menjadi istri ku"ujar Tama.
Agatha, terdiam dan menatap lekat wajah tampan yang ada di hadapannya, "Bagaimana jika kamu menikah dengan teman ku saja, si Rere , sedang mencari sugar Daddy, sepertinya, kamu butuh itu"ucap Agatha.
"Kau, pikir aku, tidak mampu untuk mencari wanita lain, aku, bahkan tidak perlu mencari itu, seluruh wanita bisa aku dapatkan, tapi aku sudah terlanjur berjanji pada diriku sendiri"ujar Tama.
"Tuan Tama, yang terhormat, jangan menyiksa orang lain, untuk sebuah janji yang bahkan terucap dengan diri sendiri, tanpa ada yang meminta itu"ujar Agatha kesal.
"Aku jatuh cinta pada mu, saat aku membuka mata waktu itu"ujar Tama.
Agatha, terdiam hingga akhirnya, gadis itu beranjak dari duduknya dan pergi, tapi Tama, menghentikan langkahnya tangan Agatha, dia genggam erat.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu sebelum kamu mau menerima ku"kata Tama.
"Tuan, Tama, tolong lepaskan tangan ku, kamu, lebih baik berpikir bahwa aku tidak pernah hadir dalam hidup mu, bahwa aku tidak pernah menyelamatkan mu, Agar, kamu tidak terbebani"kata Agatha, yang langsung melepaskan genggaman tangan Tama.
"Agatha, please dengarkan aku, aku akan datang ke rumah orang tua mu, untuk melamar mu, saat ini juga"ucap Tama.
"Terserah kamu saja kita lihat apa? orang tua ku akan mengabulkan permintaan mu, atau tidak, tapi aku, berharap kamu siap untuk kemungkinan besar kau untuk kecewa.
"Aku tidak perduli itu"ujar Tama, serius.
Sampai akhirnya Agatha, tidak jadi masuk kuliah, gadis itu memutuskan untuk pergi menenangkan diri di, tempat Kristofer, dia bahkan tidak perduli jika, pria itu mengikuti nya.
Sesampainya di sana, Agatha, langsung membawa mobilnya, masuk kedalam sebuah pintu yang tiba-tiba muncul dari balik tembok yang rata dengan jalanan aspal itu, mobil nya menghilang seiring pintu tersebut kembali ke dasar tanah, Tama, yang melihat itu dibuat kaget, tapi saat dirinya memarkirkan mobilnya sama persis seperti Agatha, bahkan beberapa menit lamanya tidak ada pergerakan sama sekali.
"Agatha, sebenarnya kamu siapa?"tanya Tama, pria itu tidak habis pikir, dengan semua yang dia lihat.
Sementara Agatha, disambut oleh asisten Kristofer, saat itu juga, dan saat ini ternyata tengah ada meeting penting yang dilakukan oleh Kristofer, bersama jajaran nya, meeting online, lebih tepatnya, karena pria itu masih ada di negara nya, dan saat Agatha, melintas di sana, Kristofer tersenyum padanya, hingga membuat semua orang gagal fokus, karena tidak pernah melihat, senyum manis dari Kristofer, selama ini, yang mereka lihat, adalah kekejaman manusia itu.
"Honey, kau datang"sapa, Kris.
Agatha,pun membalas senyuman tersebut, lalu kemudian mengangguk pelan.
Agatha, meninggalkan tempat meeting, dia berjalan menuju rooftops, tempat yang membawa ketenangan bagi dirinya.
Sampai saat Agatha, duduk di kursi santai, dan sebuah layar monitor muncul di hadapan nya, memperlihatkan sang empunya, yang kini tengah sibuk di kantor.
"Ada apa? apa...ada yang menggangu pikiran mu"ujar Kristofer.
"Banyak sekali"ucap Agatha, sambil menitikkan air mata nya.
"Hey, honey, kau menangis"kata Kristofer.
"Aku merindukan mu"ucap Agatha.
"Aku bisa datang kesana, sekarang juga"ucap Kristofer.
"Tidak... kamu tidak perlu meninggalkan pekerjaan mu, hanya untuk menghibur ku, cukup temani aku bicara sebentar saja"ucap Agatha.
__ADS_1
"Katakan ada, apa?"tanya Kristofer.
"Kris, kamu lebih tau semua nya"ujar Agatha.
"Tentang si brengsek, yang kembali menyakiti mu, atau tentang pria yang masih menunggu mu di luar"ujar Kristofer.
"Keduanya, aku, lelah"ucap Agatha.
"Istirahat lah, jangan pulang sebelum kamu tenang"ujar Kristofer.
"Aku, punya tanggung jawab yang besar, Kris, tidak melulu mengurus tentang hati, aku lelah, tapi Opah, bilang aku, satu-satunya yang bisa menjalankan semua itu"ucap Agatha.
"Opah, mu, memang benar honey, tapi kamu tidak perlu memaksakan diri untuk itu, jalani saja hari mu, dengan santai"ujar pria itu.
"Aku, tidak tau harus bagaimana"ujar Agatha.
"Daddy"ucap anak perempuan dan anak laki-laki, dengan wajah yang begitu mirip dengan Kristofer.
"Hi... kalian sudah datang"ucap Kristofer, yang memberikan pelukan hangat pada keduanya.
"Mereka, sangat mirip dengan mu"ujar Agatha.
"Heumm" Kristofer hanya berdehem.
"Ya, sudah aku pulang dulu"ucap Agatha.
"Honey, stop jangan tinggalkan tempat itu"ucap Kristofer.
"Aku baru ingat, hari ini, ada janji dengan mommy"ucap Agatha, yang langsung bergegas pergi.
"Hati Agatha, semakin sakit, entah kenapa?rasa itu hadir begitu saja, dia melepaskan kalung pemberian Kristofer, dan meletakkan nya, di atas etalase, tempat para ilmuwan menyimpan hasil laboratorium nya.
Agatha, pun pergi meninggalkan tempat tersebut, hingga mobilnya kembali muncul di permukaan jalanan tersebut.
Tangisnya, pecah dia benar-benar merasa sendiri, entah pada siapa? dia harus bersandar, semua orang sudah memiliki pasangan Alex, Kakak nya, dan terakhir Kristofer, dia tidak ingin mengganggu kehidupan orang lain yang sudah sibuk dengan urusan, hidupnya, hanya karena rasa sedih nya.
Agatha, menghentikan mobilnya di tepi jalan, selama berjam-jam, hingga seseorang mengetuk jendela mobil nya.
Agatha, langsung menoleh ke kiri, dilihat nya, Kakak ipar nya, yang mengetuk mobil nya.
"Bukan urusan mu"ucap Agatha.
"Turun"ucap Piter.
"Tidak mau"
"Turun"pinta Piter lagi.
"Aku bilang tidak, ya tidak" ujar Agatha
"Agatha, kamu sedang tidak baik-baik saja, menurut lah, lagipula disini rawan kejahatan"ujar Piter.
Agatha pun menurut, dia turun membawa tas nya, sementara Piter memberikan kunci mobil milik Agatha, pada asisten pribadi nya, untuk dibawa pulang.
...🌸..........🌸...
Dua jam sudah, Agatha, duduk bersama dengan Piter, di sebuah rooftops, hotel, milik Piter, pria yang baru saja menjadi seorang ayah, itu tidak biasanya, bersikap lembut pada Agatha.
"Kau masih mau terdiam"ucap Piter.
Agatha, tidak bicara sedikit pun, selama dua jam bersama dengan nya.
"Aku tidak punya hal, yang harus aku katakan"ujar Agatha.
"Aku tau kamu sejak dulu Agatha, jadi bukan pertama kalinya aku mengenal mu, kamu menyimpan semua itu sendiri, kenapa? kau tidak pernah bisa percaya pada orang lain"ujar Piter.
"Siapa? yang harus aku percaya, sementara, orang yang kucintai saja bisa berkhianat"ucap Agatha.
"Jika orang yang kau cintai berhianat, maka, musuh mu tidak akan pernah melakukan itu"ucap Piter.
"Justru, musuh, akan melakukan hal itu"ucap Agatha.
"Dia itu, musuh dan musuh itu, tidak akan pernah berhianat karena memang sudah jadi musuh, dan ucapan apapun, yang kau katakan hanya ditanggapi angin lalu"ujar Piter.
__ADS_1
"Kau salah, jika kita memaki dia, maka dia akan membunuh mu"ujar Agatha.
"Mungkin, tapi jika kamu curhat dengan nya, mereka akan bungkam, karena dia merasa musuhnya sudah menyerah dan berdamai dengan nya"ujar Piter.
"Kakak, ipar, aku tidak percaya padamu sampai kapan pun"ucap Agatha.
"Itu pilihan mu"ucap Piter, yang kini berdiri menatap kearah langit malam tanpa bintang.
Agatha menatap pria itu dari samping, lalu dia bertanya"Apa? kau mencintai Kakak ku"ucap Agatha.
"Pertanyaan macam apa? itu, kamu bisa menilai nya sendiri"ujar Piter.
"Aku hanya tanya, ya sudah jika tidak ingin menjawab, aku pergi, dan sebaiknya kamu cepat pulang, putra mu pasti sangat merindukan mu, jangan main perempuan"ujar Agatha, berteriak lantang.
"Aku tidak main perempuan, aku hanya sedang bersama dengan perempuan tidak beruntung"ucap Piter.
"Kau!"teriak Agatha.
"Apa?, aku tau hari ini ada pria lain yang mengejar mu bukan, tapi meskipun, dia benar-benar serius, aku tidak akan pernah membiarkan itu"ucap Piter, yang langsung membuat Agatha, mematung untuk beberapa saat, lalu kemudian berbalik.
"Apa? maksud ucapan mu"tanya Agatha.
Piter, hanya tersenyum kecil, lalu kemudian dia mendekat ke arah Agatha.
"Kau tidak akan pernah dimiliki oleh siapapun, karena kau hanya milikku"ucap Piter tegas.
"Kau!"
"Kenapa? Agatha, apa? kau tidak pernah sadar, jika selama ini, aku memiliki perasaan padamu, bahkan sejak dulu, saat pertama kali aku bertemu dengan mu, aku jatuh cinta pada Agatha, yang begitu polos, bahkan kecantikan itu, berkali-kali lipat, terpancar dari dirimu, sampai saat ini, dan jika saja waktu itu aku tidak mencintai mu, mungkin kau adalah sasaran utama ku, untuk membalas dendam kepada keluarga mu, yang telah menghancurkan keluarga ku, hingga ibuku, menjadi korban pria biadab itu"ucap Piter.
"Kau"ucap Agatha yang seketika menjauh dari Piter.
"Aku, menghentikan dendam yang membara di sini, dengan rasa cinta ku padamu, tidak perduli, kau akan membalas rasa itu atau tidak, yang jelas aku sangat mencintaimu"ujar Piter.
"Sepertinya, kamu sudah sangat mabuk"ucap Agatha, yang langsung berbalik pergi, tapi tiba-tiba saja Piter, memeluk nya, dari belakang.
"Aku, tidak pernah mabuk, hanya karena minuman tersebut, aku mengatakan yang sesungguhnya."ujar Piter.
"Aku berharap ini hanya mimpi buruk"ujar Agatha, yang langsung melepaskan pelukan itu, dan pergi, begitu saja.
Sementara itu Piter, mengeratkan genggaman tangan nya sendiri"Aku berjanji bahwa tidak akan ada siapapun yang bisa memiliki mu"ucap Piter.
Sementara Agatha, saat ini pikiran nya, semakin kacau, dia berharap bahwa, kenyataan pahit ini, adalah mimpi buruk, Piter, memang memiliki segalanya, wajah yang rupawan dan harta yang berlimpah, tapi pria itu tidak seharusnya, menyatakan cinta nya pada adik ipar nya, disaat mereka sudah memiliki, keturunan, dan meskipun belum tidak sepantasnya itu terucap dari bibirnya.
Mungkin tidak akan ada satupun yang berkuasa untuk menolak sebuah rasa yang datang dari hati terdalam, tapi semua orang wajib memposisikan diri nya, dan perasaan nya, jika perasaan itu tidak pada tempatnya, maka kita wajib menekan rasa itu,agar tidak terus berkembang di dalam nya.
Agatha, tiba di apartemen nya, saat itu dia langsung masuk kedalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya, tanpa melepaskan baju nya, terlebih dahulu.
Jika, dia tidak punya akal sehat, mungkin saat ini dia, sudah kembali bunuh diri, tapi dia harus tetap kuat dan tegar, demi kedua orang tua nya, pantas saja, Opah nya, tidak menjadikan, Alana, sebagai pemimpin perusahaan, meskipun kakak nya itu cerdas.
Ternyata, dia tau jika Alana, bisa dimanfaatkan oleh pria yang sangat ia cintai, meskipun Piter tidak pernah mengincar harta itu untuk dia miliki, tapi jiwa dendam nya, akan muncul sewaktu-waktu untuk menghancurkan keluarga nya dan seluruh harta nya.
Agatha, pun berjalan menuju walk-in closed, dia bertekad untuk memimpin perusahaan nya.
Sampai saat ia terlelap tidur di atas ranjang empuk nya, wanita itu terus membawa pikiran nya, kedalam mimpi nya.
sampai dua Minggu, berlalu sejak saat itu, Agatha, seakan menghindari semua orang, gadis itu tidak ingin bertemu dengan Piter, sekalipun untuk urusan kumpul keluarga, dia lebih memilih, datang ke cafe milik Yunho, sesampainya di sana dia langsung bertanya bagaimana kabar Alexander, Agatha, sedikit merasa bersalah, meskipun perpisahan itu, sangat menyakitkan tapi semua itu ada campur tangan Piter di dalam nya.
Agatha, memendam semua itu sendiri.
"Aku tak tau, kenapa? tiba-tiba kamu bertanya tentang kabar nya"ucap Yunho.
"Tidak ada alasan, hanya saja sepertinya, teman baik nya, lebih tau tentang semua itu, tidak perlu dijawab jika kamu tidak ingin memberi tahu kak"ujar Agatha.
"Dia baik-baik saja, dan saat ini istrinya, sudah mengandung, meskipun baru berusia empat Minggu"ucap Yunho.
"Syukurlah, jika dia sudah lebih bahagia"ucap Agatha.
"Kau mau es krim"ucap Yunho.
"Tidak usah, aku hanya mau bertanya itu saja, dan aku bersyukur karena dia sudah berbahagia"ucap Agatha.
Meskipun tidak bisa dipungkiri jika hatinya begitu perih.
__ADS_1
Agatha, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia pergi ke sebuah tempat yang bahkan jarang dilewati kendaraan lain nya, dia naik ke atas jembatan yang begitu menjulang tinggi itu.
"Aku kuat! dan aku bisa melewatinya"