Sang Penari

Sang Penari
#Untuk apa#


__ADS_3

"Hebat... benar-benar pertujukan yang sangat mengagumkan"ucap pria yang kini tersenyum licik di hadapan kami berdua.


"Apa? yang kau inginkan Marvin, aku sudah pergi jauh dari hidup mu, tolong jangan usik orang-orang yang ada di samping ku, jika kau ingin membunuhku bunuh saja aku langsung tidak usah menyingkirkan mereka semua"ucap ku sambil menatap tajam kearah nya.


"Owh, begitu rupanya"


Dor...suara tembakan itu begitu nyaring tiba-tiba aku melihat bahuku berdarah Doni hendak menolong ku tapi aku menghentikan nya.


"Jangan Doni, yang dia inginkan hanya kematian ku, lebih baik kamu pulang ke rumah mu, terimakasih sudah menjadi sahabat terbaikku selama ini kamu masih memiliki keluarga"ucap ku


"Ari, kita akan mati sama-sama jika kamu harus mati saat ini kita akan mati bersama"ucap Doni, sambil menahan tubuh ku yang sudah banyak menelurkan darah.


"Ariana, ternyata dia lebih mencintai mu dari pada mencintai keluarga nya, sendiri sungguh wanita penggoda yang benar-benar hebat"ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul.


"Ternyata benar apa? yang dikatakan oleh Mami, anak dari seorang raja iblis, akan menjadi ratu iblis, dan lebih baik membuang nya, sebelum dia tubuh besar dan akan memakan keluarga nya sendiri"ucap ku, yang mengetahui siapa? wanita yang selama ini berada di dekat Marvin.


"Diam kau sialan"ucap wanita itu yang langsung menembak ku kali ini tepat di bagian paha ku aku terjatuh seakan berlutut di hadapan mereka, tapi tatapan ku tak pernah lepas, pada kedua nya, aku masih tersenyum sambil menahan sakit yang teramat jika bukan karena mengingat akan bertemu Mami mungkin aku sudah menyerah sedari tadi, darah semakin banyak Doni, bahkan sudah memohon agar mereka berhenti menyakiti ku tapi aku terus menghentikan nya.


Marvin, masih berdiri sambil menatap kearah ku.


"Hentikan aku mohon hentikan, jangan sakiti wanita yang sangat aku cintai aku mohon berhenti"ucap Doni, yang hendak berlutut tapi aku menarik nya.


"Jangan sia-sia kan tenaga mu Doni, pergilah, meskipun aku mati sekalipun aku tidak takut, setidaknya aku bisa memberitahu Mami bahwa ucapan nya adalah benar, anak yang dititipkan dari raja iblis, sekarang sudah menjelma menjadi ratu iblis, dan Mami, tidak perlu lagi bersedih memikirkan nasibnya akan bagaimana"ucap ku sambil menarik tangan Doni.


perempuan itu semakin murka dan kini dia menginjak luka bekas tembakan itu dengan sepatu yang dia gunakan, aku hanya tersenyum kecut, tidak akan pernah aku mengeluh dihadapan iblis berwujud manusia itu.


"Kau pikir aku akan menangis dan memohon ampun untuk semua rasa sakit yang kamu berikan, hahahaha, kau salah kakak tiri ku, kau benar-benar sudah salah besar"ucap ku yang langsung membuat Marvin terperanjat kaget, saat kebenaran nya terungkap bahwa sebenarnya, Adista, adalah anak dari Sarah yang tak lain adalah ibu ku sendiri


"Kenapa? apa...kau kaget tuan Marvin, dia adalah kakak tiri ku, ayah nya adalah ketua mafia yang sudah memperkosa ibuku, dan setelah lahir, Mami, bahkan tidak pernah menginginkan nya, karena pria itu ingin menjadikan anak nya sebagai pengganti dirinya, dan Mami, sudah melakukan hal yang benar dengan membuang iblis berwujud manusia ini"ucap ku sambil bangkit darah sudah begitu banyak dan tiba-tiba penglihatan ku kabur, aku langsung tak ingat apa-apa lagi.


hingga suara Doni menyadarkan ku, Doni menangis sesenggukan sambil memeluk ku, yang bahkan sudah tidak bernyawa lagi beberapa waktu lalu.


ternyata aku sudah terbaring koma selama tujuh hari, dan lima belas menit lalu aku sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter, hingga Doni , menangis meraung-raung saat aku hendak pergi menemui Mami, dan Papi, yang hendak menjemput ku, tapi tangis Doni menghentikan ku, suaranya begitu keras memanggil nama ku, hingga aku langsung berbalik melewati cahaya putih dimana suara Doni berada.


"Ariana rose, kamu kembali Ari, Owh, syukur lah kau kembali sahabat ku, kau memang wanita kuat aku sangat mencintaimu"ucap Doni, sambil menatap kearah ku yang menatap nya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Kau hampir saja tiada Ari, jika pria itu tidak menolong kita"ucap Doni, sambil menunjuk seseorang yang bahkan selama ini aku tidak pernah peduli dengan keberadaan nya.


Dia adalah tetangga di komplek perumahan kami, tapi pria itu adalah pria dingin, yang bahkan tidak pernah sekalipun mau menyapa, atau sekedar beramah-tamah, pria bule berwajah tampan itu, selalu terlihat kaku saat berpapasan dengan ku.


hingga Doni, menceritakan apa? yang terjadi setelah itu pada ku, ternyata dia adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak kekuasaan wilayah, termasuk wilayah yang kami tempati, peraturan yang ketat ia terapkan pada setiap daerah yang ia kuasai, dia tidak akan mentolerir siapapun yang berani mengotori daerah kekuasaan nya,baik itu kalangan mafia atau yang lainnya, seperti kemarin dia langsung melumpuhkan wanita itu dan Marvin mundur karena dia sadar ada peraturan yang tidak bisa di langgar.


aku melihat pria itu tengah fokus dengan ponsel ditangan nya, setelah beberapa saat dia menatap ke arah ku.


aku tersenyum padanya sebagai rasa terimakasih ku, dan dia hanya menatap lekat ke wajah ku.

__ADS_1


"Thank you"ucap ku.


dia hanya mengangguk pelan, dan kemudian kembali fokus pada ponsel, nya hingga asisten nya datang dan memberitahu sesuatu akhirnya pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri ku.


"Aku harus menyelesaikan sesuatu, jika kamu membutuhkan sesuatu bisa bicara pada mereka"ucap nya sambil menunjuk ke arah dua orang yang ada di luar ruangan.


Aku langsung mengangguk setelah itu Doni, mengantarkan kepergian nya, saat itu juga.


hingga kedepan pintu Doni yang pintar dengan sepuluh bahasa yang ia kuasai dia bisa bicara dengan berbagai orang asing, hingga sedari pertama kali kita berada di negara orang kami tidak pernah kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain.


hingga aku diijinkan untuk pulang, aku kaget saat Doni membawa ku, kesebuah rumah megah yang tidak tau milik siapa? tapi yang pasti rumah itu milik orang yang baik hati ujar Doni, dan kita tinggal di sana bukan hanya sekedar numpang hidup, tapi sekaligus bekerja untuk nya.


setibanya di sana kami disambut dengan ramah oleh seluruh pelayan, mereka terdengar berkomat-kamit membicarakan ku, yang katanya aku adalah asisten pribadi tuan dan Doni sopir dari istri kedua tuan besar, aku tidak tau siapa? yang mereka bicarakan dan akan bagaimana nasib ku kelak kali ini aku hanya bisa pasrah mengikuti kemana takdir membawa ku pergi.


🌸.......................🌸


Hingga satu Minggu berlalu aku masih belum diperbolehkan untuk bekerja, kata ketua pelayan di rumah tersebut, tunggu luka ku benar-benar pulih, aku sangat bersyukur bertemu dengan orang yang sangat pengertian, setidaknya saat ini.


hingga saat aku mendengar bahwa tuan besar dan istri ketiga nya kembali, aku kaget ada berapa? nyonya sebenarnya di rumah ini, hingga aku bertanya kepada Doni, yang kebetulan masuk ke dalam kamar ku.


"Ari, kamu belum tidur"tanyanya


"Belum Don, bagaimana aku bisa tidur, jika seperti ini terus, apa? kamu tau siapa? tuan besar yang menjadi majikan kita dan ada berapa? banyak istrinya saat ini, aku kemarin dengar ada istri ketiga"ucap ku penasaran.


"Apa? Doni, jangan buat aku penasaran"ucap ku.


"Idihh .... jangan-jangan kamu naksir sama dia"ucap Doni.


"Apa?, ya sudah tidak usah dilanjut"ucap ku kesal entah kenapa? bayangan wajah Marvin, sekilas melintas di pikiran ku, saat ini mungkinkah aku....ah itu tidak mungkin.


"Hey.... malah bengong, mau tau kelanjutan ceritanya tidak"tanya Doni.


"Terserah kamu saja"ucap ku langsung tidak bersemangat.


"Mereka hanya dinikahi secara status, karena semua istrinya bilang dia adalah pria impoten "ucap Doni, aku langsung terkekeh geli membayangkan betapa tidak beruntung nya ketujuh wanita itu.


"Jadi mereka dinikahi hanya untuk koleksi, agar bisa menutupi kekurangan-kekurangan nya ia begitu"ucap ku sambil tertawa terbahak-bahak.


Doni tersenyum melihat ku tertawa dan saat itu juga dia mengusap puncak kepala ku.


"Aku senang melihat kamu sudah bisa tertawa lepas, tetap lah seperti ini, seperti Ariana rose, yang aku kenal sejak kecil, lain kali jangan biarkan orang lain menindas mu lagi, dan ingat aku akan selalu ada untuk mu"ucap Doni, sambil kembali mengusap puncak kepala ku, aku sangat berterimakasih kepada Tuhan, dia sudah menghadirkan pria itu di sisiku jika dia tidak ada entah bagaimana nasibku saat ini.


"Selama, kau berada di sisiku, aku tidak akan pernah hidup kekurangan dan tidak akan pernah ada yang bisa menghancurkan ku"ucap ku sambil tersenyum.


"Aku harus mengantar istri kedua tuan ke hotel xx hari ini, apa? kau ingin aku bawakan sesuatu"tanya Doni padaku.

__ADS_1


"Tidak ada, tapi boleh belikan aku eskrim kesukaan ku"ucap ku sambil tersenyum.


"Tentu, tapi aku tidak janji, pulang cepat, tapi aku pasti bawakan pesanan mu, tuan putri ku"ucap Doni, sambil beranjak pergi dari kamar ku, yang sudah seperti sebuah rumah utuh.


Aku duduk termenung di balkon kamar ku, melihat ke arah luar, entah berapa luas bangunan ini lagi-lagi aku dibuat pusing karena selalu memikirkan semua itu.


hingga ketua pelayan mendatangi ku, dia meminta ku untuk bersiap menyambut tuan besar, yang baru kembali ke rumah ini, dan aku langsung bergegas mengganti pakaian ku dengan pakaian pelayan yang tersedia di kamar yang aku tempati saat ini.


setelah selesai bersiap aku segera turun dan ikut berbaris dengan semua pelayan yang ada di rumah tersebut yang saat ini tengah berjajar rapi, membentuk dua barisan yang begitu panjang dan aku berada di barisan kanan hingga sepuluh menit berlalu tuan rumah belum juga tiba, dan aku sudah merasa sangat kesakitan karena luka bekas tembakan itu belum sepenuhnya sembuh dan rasa sakit itu masih aku rasakan hingga saat ini, meskipun tidak sesakit saat pertama kali.


dan disaat Tuan Arthur tiba dan semua orang membungkuk, aku yang hendak membungkuk tiba-tiba langsung terjatuh karena kakiku sudah tidak kuat untuk digerakkan, dan itu menyebabkan Arthur, berhenti di tengah-tengah barisan dan berteriak pada ketua pelayan memakinya sambil menolong ku untuk bangkit karena aku masih belum bisa berdiri saat itu keringat dingin membasahi seluruh tubuh ku, rasanya begitu menyakitkan termasuk luka di bahu ku.


"Kalian semua dipecat"ucap Arthur, sambil membawa ku pergi dalam gendongan ku, tapi asisten pribadi Arthur, terus berusaha meyakinkan bahwa mereka semua tidak bersalah karena tidak tau apa yang terjadi pada ku, meskipun Arthur, pernah bilang untuk mempekerjakan ku, sebagai asisten pribadi nya setelah aku sembuh.


Arthur langsung bergegas membawa ku kedalam kamar nya, aku yang sedari tadi hanya menangis dalam diam, dan Arthur ,tampak tak tega melihat ku.


"Ariana, maaf aku tidak menyangka jika kau akan menunggu ku, seperti mereka, aku tadi ada sedikit urusan di jalan"ucap nya lirih.


"Tidak masalah tuan, saya memang sudah seharusnya melakukan itu bersama mereka karena aku juga pelayan di rumah ini"ucap ku.


"Tidak Ariana, aku menempatkan posisi mu, disitu hanya untuk keamanan mu, dan kamu akan tau sendiri nanti apa? yang aku maksud"ucap nya, sambil terus membaringkan tubuh ku di atas ranjang empuk nya itu.


"Tuan, ini kamar siapa?"ucap ku.


"Kamar ini milikku, dan kamu bisa bebas masuk kesini kapanpun, tapi tidak dengan pelayan lain dan ketujuh istri ku, karena aku akan mendatangi nya,satu persatu"ucap Arthur tegas.


"Tapi bagaimana jika mereka membenci ku tuan"ucap ku lagi.


"Tidak akan ada yang, berani membenci mu, karena jika itu terjadi akan aku singkirkan semua nya, tidak ada yang aku sisakan satupun.


aku pun merasa lega, setidaknya aku, masih dipertemukan dengan orang baik, seperti dia.


hingga Arthur, mengambil kotak obat dari sebuah laci nakas, dan benar saja luka ku, berdarah kembali meskipun sedikit.


Arthur, bahkan langsung bergegas menghubungi dokter, karena luka jahitan tersebut terbuka lagi.


sementara aku sudah berusaha untuk menolak karena mungkin sebentar lagi semua nya, akan baik-baik saja, tapi aku harus tetap mau diobati oleh dokter.


sementara itu Doni, yang baru saja pulang mencari ku, sambil membawa satu kotak eskrim berukuran besar dengan tiga rasa tersebut.


hingga seorang pelayan yang sedari menunggu keputusan tuan nya , apa mereka jadi dipecat atau tidak.


salah satu diantara mereka mengatakan jika Ariana,di bawa ke kamar tuan besar, setelah jatuh saat menyambut tuan besarnya.


"Ariana"

__ADS_1


__ADS_2