Sang Penari

Sang Penari
#Masuk#


__ADS_3

Mereka pun kembali tidur berdua saling memeluk, hingga pagi tiba Alvin masuk kedalam kamar mereka, dia langsung membersihkan tubuh nya dulu yang terasa lengket dan bau alkohol hingga berkali-kali dia menggosok gigi dan menghembuskan nafas nya mengecek kondisi kadar bau mulut nya takut sang putri tau jika dia sudah meminum alkohol.


"Sayang, tolong ambilkan bajuku"ujar Alvin dari dalam kamar mandi.


Anggita kaget saat mendengar suara Alvin dari dalam kamar mandi, dia bingung bagaimana jika putri nya mengetahui bahwa Alvin habis mabuk semalam.


Alvin langsung keluar dari dalam kamar mandi, saat itu hingga menggunakan handuk sampai di pinggang.


"Mas kamu tidak lihat ada putri kita disini"ujar Anggita yang langsung menghalangi tubuh suaminya dan menuntun Alvin masuk kedalam walk-in closed.


Sementara yang di tuntun melihat kearah istrinya yang cantik itu dengan muka bantal nya, saat ini terlihat ada kantung mata disana.


Alvin hanya tersenyum melihat istrinya yang masih sangat perhatian terhadap nya.


"Sayang tolong ambilkan bajuku"ujar Alvin.


"Punya tangan bukan ambil sendiri"ujar Anggita yang hendak pergi, tapi tiba-tiba Alvin mengangkat tubuh Anggita dan mendudukkan nya di etalase yang ada di dalam walk-in closed tersebut.


"Mas, turunkan aku"ujar Anggita pelan tapi penuh penekanan.


"Tidak akan sampai kamu ingat dimana letak posisi mu dan kewajiban mu"ujar Anggita.


"Tapi apa? kau ingat dimana posisi dirimu selama ini"ujar Anggita lagi.


"Sayang kamu malah membalikkan fakta, aku melakukan kesalahan saat aku bekerja untuk menghidupi keluarga kita, kamu tau bagaimana kejamnya dunia bisnis, jika tidak kita yang celaka maka kita yang mencelakai orang lain"Alvin.


"Tidak ada alasan, kau pikir dengan mengatakan itu, kau bisa lepas dari kesalahan, aku akan mengurus gugatan cerai"ujar Anggita.


"Anggita!"


"Apa? ayo tampar aku tampar"ujar Anggita.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, sampai kapan pun, ingat itu!"bentak Alvin yang langsung meninggalkan istrinya di atas etalase besar itu.


Pria itu langsung mengambil pakaian nya sendiri meskipun Anggita turun untuk membantu tapi Alvin bersikeras mengambil nya sendiri pria itu langsung mengenakan baju tersebut, dan kini sudah selesai menggunakan kemeja celana pendek, pria itu kemudian menyisir rambut dan mengusap pelembab wajah setelah itu menyemprotkan parfum, sementara Anggita hanya menatap lekat dari samping.


setelah selesai Alvin langsung menghampiri putri nya yang masih tidur, beruntung pertengkaran nya tidak sampai didengar Agatha, entah tidak mendengar atau pura-pura tidur, saat ini Agatha masih memejamkan mata.


"Sayang putri Daddy bangun yu, mau jalan-jalan atau tidak"ujar Alvin.


"Mau tapi aku ngantuk"ujar Agatha.


"Bangun dong sayang ini sudah siang bukan nya kita akan mencari sekolah yang baru disini"ujar Alvin.


Alvin yang selalu memanjakan putri nya itu, membuat Agatha tidak bisa jauh dari sang Daddy, dan itu membuat Anggita sulit untuk mengambil keputusan.


Tiba-tiba, Alina masuk tanpa mengetuk pintu"Daddy aku mau eskrim juga"ujar Alina, yang membuat Alvin terdiam membisu, padahal saat ini Alina terlihat menatap nya sendu.


"Dia siapa? Daddy"ujar Agatha.


"Dia adik mu"


"Alvin" teriak Anggita.


Sontak, Alvin mematung karena Anggita, saat ini tengah menatap tajam kearah nya.


Anggita pun mendekat.


"Alina tunggu Daddy mu dibawah oke"ujarnya pelan sambil menatap kearah anak kecil itu.


"Baik Mommy"ujar nya.


gadis kecil itu kembali ke bawah, untuk menunggu Alvin.


"Pergilah dia menunggu mu dibawah putri ku akan pergi bersama ku"ujar Anggita.

__ADS_1


"Sayang kamu mandi dulu ya setelah itu temui Daddy di bawah sekarang Daddy mau bicara dulu dengan mommy"ucap Alvin.


"Tentu saja Daddy"ujar Agatha.


Gadis itu pun pergi menuju kamar mandi, sementara Alvin langsung meraih tangan Anggita.


"Aku ini suamimu sayang itu jika kamu lupa"ujar Alvin sambil mendekat kan wajah nya ke arah wajah Anggita yang kini membuang pandangannya ke samping, tapi Alvin tidak kalah dengan Anggita, dia mengecup leher jenjang istrinya itu, hingga Anggita mengigit bibir bawahnya.


"Alvin putri mu menunggu mu"ujar Anggita.


"Aku suamimu sayang, jangan berlaku tidak sopan"ujar Alvin.


"Cepat kau pergi"ujar Anggita.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memanggil ku dengan sayang"ujar Alvin.


"Tidak ada, sebentar lagi kau akan menjadi mantan"ujar Anggita.


"Mantan kekasih iya, begitu kan karena aku sekarang adalah suamimu, ayo panggil aku dengan sayang"ujar Alvin.


"Tidak"ujar Anggita.


Lagi-lagi Alvin mengecup bibir Anggita dan sedikit menyesap nya, meskipun istrinya itu baru bangun tidur.


"Alvin lepas"ucap Anggita pelan tapi penuh penekanan.


Tiba-tiba Alvin mengigit bibir Anggita tanpa ampun hingga Anggita hampir memekik kesakitan tapi tertahan karena kemudian bibir pria itu membungkam nya, dengan ciuman lembut, tidak peduli istrinya terus memukul dadanya, saat ini yang pasti Alvin sedang sangat kesal.


Anggita pun hanya bisa pasrah, karena dia tidak pernah bisa melawan suaminya itu, hingga akhirnya, Anggita pun mengalah karena Agatha keburu keluar dari kamar mandi.


"Mommy Daddy sedang pacaran ya, heumm tapi kok, bibir mommy bengkak sih"ujar Anggita.


Anggita langsung meraba bibir bawahnya yang memang terasa kebas akibat perbuatan Alvin.


"Heumm Mommy tidak bohong kan"ujar Agatha, seolah menyelidik jiwa kepo nya langsung on saat itu juga.


"Tidak sayang mana pernah mommy bohong sama kamu, coba saja tanya Daddy"ujar Anggita.


"Daddy tidak tau"ujar Alvin sambil ngeloyor pergi begitu saja.


"Alvin!"teriak Anggita.


Pria itu hanya mengepalkan tangannya, sambil terus, berjalan tapi kemudian tersenyum licik.


Anggita bukan tidak hormat dengan suaminya tapi, wanita itu sedang kesal setengah mati hingga rasanya ingin meledak, tapi dia tahan di hadapan putri semata wayangnya.


"Mommy, kenapa? panggil nama Daddy saja itu dosa tau kata Bu guru aku disekolah"ujar nya, gadis polos itu.


"Kamu benar sayang Mommy minta maaf,lain kali tidak diulangi lagi"ucap Anggita.


"Janji Mommy"ujar Agatha.


"Iya sayang Mommy"ucap Anggita.


"Mommy yang tadi siapa? kok, dia panggil Daddy sama Daddy aku sih"ujar nya.


"Dia adik mu sayang, jadi kamu harus sayang sama dia"ujar Anggita pelan-pelan.


"Aku punya adik, sejak kapan Mommy hamil"ujar Agatha.


"Dia punya ibu lain, sayang sudah lah tidak boleh kamu pikirkan, yang jelas saat ini kamu dan Alina, akan jalan-jalan dengan Daddy dan Oma"ujar Anggita.


...🌸.........................🌸...


Obrolan mereka berakhir saat suara Ariana memanggil Agatha.

__ADS_1


Sementara Anggita saat ini dia langsung bergegas menuju kamar mandi, wanita itu berencana untuk pergi menuju makam ibundanya, Anggita sudah rindu dengan ibunya meskipun keberadaan makam itu berada di luar kota.


Alvin, sendiri saat ini membawa kedua putrinya jalan-jalan karena ingin membuat keduanya akur.


Alvin membawa mereka ke mall untuk berbelanja bersama dengan sang Mommy, sementara Anggita, tidak bilang akan pergi mengunjungi makam ibunya dia berangkat menggunakan mobil pribadi nya, setelah semua orang pergi.


Anggita, berhenti sejenak untuk makan siang di sebuah cafe, wanita itu tidak melirik kanan kiri sedari tadi dia menjadi pusat perhatian, karena penampilan nya, yang masih seperti anak muda berusia dua puluh tahun, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya itu, dan t-shirt yang ia kenakan berwarna putih dan dipadukan dengan celana jeans panjang berwarna hitam, dia seperti seorang mahasiswi cantik yang hendak pergi kuliah.


"Boleh saya gabung"ujar seorang pria tampan yang terlihat seperti sedang makan siang juga mungkin habis meeting dari barang yang ia bawa saat ini.


"Heumm silahkan ini tempat umum, jadi bebas mau duduk dimana pun"ujar Anggita.


"Terimakasih, kenalkan namaku Satria, usia ku, 27 tahun" ujar pria bernama satria itu.


"Heumm, Anggita, tapi Maaf usia ku jauh di atas mu, jadi panggil , aku Tante saja"ujar Anggita yang membuat Satria membelalakkan matanya.


"Ah, iya Tante, usia Tante memang nya berapa?"ujar Satria.


"Aku sudah kepala empat, tapi apa kamu ingin wawancara kerja, saya sudah tidak bekerja,saya dokter spesialis bedah syaraf"ujar Anggita dengan sengaja sambil tersenyum.


"Aku kira Tante masih usia dua puluh tahun"ujar Satria jujur.


"Heumm mungkin sisanya"ujar Anggita sambil tersenyum manis, setelah itu dia langsung menyantap makan siang nya dengan cueknya.


Anggita pun selesai makan, dia langsung pamit pergi setelah membayar makanan tersebut dan langsung pergi begitu saja, sementara satria menatap lekat punggung wanita yang kini pergi meninggalkan nya, pria itu begitu mengagumi Anggita.


Dia langsung melakukan pencarian tentang Anggita di sosial media, dan dia begitu tercengang saat melihat semua tentang Anggita, ternyata dia adalah seorang anak pengusaha sukses di negara xx dan tidak hanya itu satria tau siapa keluarga Marvin yang terkenal dengan kekayaan dan kekuasaan nya, dan yang menjadi perhatian utama Satria saat ini adalah Agatha gadis cantik dengan penampilan yang tidak sesuai dengan usia nya dengan kepang rambut ala anak usia sembilan tahun tidak hanya itu eskrim yang tidak pernah jauh meskipun mereka tengah berfoto.


"Apa? gadis itu memiliki kekurangan"gumam nya.


Sementara itu di dalam mobil, Anggita hanya tersenyum, jika saja suaminya tau bahwa dia ditaksir oleh anak baru gede entah apa? reaksi nya.


Anggita hanya tersenyum, sepanjang perjalanan, hingga tiba di tempat tujuan wanita itu, langsung keluar dari mobil, setelah itu menghampiri penjual bunga, dia bahkan membeli bunga yang banyak tidak hanya untuk dirinya tapi untuk setiap pengunjung yang datang ke toko itu, Anggita hampir memborong semua nya, dan yang punya toko dan orang yang menerima pun sangat berterimakasih.


Ada rasa bahagia,di hati Anggita, setidaknya dia bisa berbagi saat tinggal di Indonesia, tidak seperti di luar negeri, tidak ada yang se ramah lingkungan Indonesia yang sudah seperti keluarga sendiri.


Tiba di makam sang Bunda, Anggita langsung bersimpuh, Air mata nya benar-benar tumpah begitu saja, setelah selama belasan tahun baru kali ini dia sempat kembali berziarah kubur, ke makam kedua orang tua nya yang berdampingan.


"Maafkan Anggita Bu, ayah Anggita terlalu sibuk dengan urusan dunia tapi ketahuilah Anggita selalu melantunkan do'a untuk kalian berdua di setiap sujud di setiap hembusan nafas Anggita selalu berdoa semoga ayah dan ibu, berkumpul di surga"ujar wanita cantik yang kini menangis sesenggukan, sambil membacakan doa dan menaburkan bunga yang hampir dua keranjang besar itu lalu Air, yang sudah dibacakan doa oleh pak ustadz, saat Anggita singgah di sebuah mesjid untuk solat tadi.


Anggita adalah cerminan dari Ariana, mereka tidak pernah melupakan waktu sholat meskipun tubuh berlumuran dosa dan keringat, keduanya sudah terbiasa sejak kecil, didik kan kedua orang tua nya.


"Bu, Yah Anggita akan tinggal di Indonesia mulai saat ini, agar lebih dekat dengan kalian berdua, dan perusahaan yang ayah berikan saat ini sudah jauh lebih baik, mas Alvin membantu Anggita mengurus perusahaan, dan Agatha cucu kalian kini sudah besar, dia sudah kembali normal seperti sedia kala, mungkin ini juga berkat doa kalian berdua"ujar Anggita.


"Hari ini Anggita kangen rumah kita, jadi Anggita akan pulang ke rumah, meskipun sepi tanpa kehadiran kalian berdua"ujar Anggita yang bangkit setelah berpamitan.


Sementara itu di kampus, Alana yang baru saja hendak masuk mobil, dia tiba-tiba dibekap seseorang yang tak lain adalah Piter, pria itu langsung membawa Alana masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan mobil Alana dibawa oleh sopir pribadi Piter.


Pria itu bahkan membawa Alana ke sebuah rumah yang cukup besar dan sangat nyaman, yang Piter beli untuk melakukan pendekatan dengan Alana.


"Kak ini rumah siapa? ujar Alana pada Piter.


"Rumah kita sayang"ujar Anggita.


"Apa,, apa? kakak tidak salah"ujar Alana.


"Tentu saja tidak sayang ku"ujar Piter.


Alana di tarik masuk kedalam rumah tersebut dan Piter, langsung mencium bibir Alana, pria itu seakan sudah sangat lama menahan rindu, ada bulir air mata yang membasahi pipi nya saat ini.


"Kakak menangis"ujar Alana kaget.


"Maaf kan aku Alana, maaf, karena selama ini aku tidak benar-benar mendekati mu karena cinta, tapi semua karena dendam dari manusia serahkan seperti pria, yang selama ini membohongi ku, dia hanya membiarkan aku hidup karena dia ingin memanfaatkan ku untuk balas dendam pada keluarga mu, aku orang jahat Lana, aku jahat maafkan aku, andaikan saja aku tau rencana itu dari awal mungkin aku tidak akan pernah menyakiti perasaan mu, sekarang sebaiknya pergi menjauh dari ku dan bilang maaf kan aku pada keluarga mu, bilang pada mereka untuk selalu berhati-hati, meskipun aku yang akan melawan Daddy angkat ku nanti, tapi percayalah aku sangat mencintaimu dulu sekarang dan selamanya"ujar Piter.


Yang membuat Alana,menganga tidak percaya, bagaimana bisa Piter, membohongi diri nya dan keluarga nya, gadis itu melorot ke lantai, hingga piter menahan nya.

__ADS_1


__ADS_2