
Setelah rentetan kejadian hari itu, kini Piter, sudah benar-benar dinyatakan sehat, mereka pun akhirnya kembali ke Mension, tapi kali ini Agatha menyiapkan dua puluh orang pelayan untuk mengurus rumah besar yang memiliki empat lantai tersebut.
"Sayang istirahat lah Mommy ada disini bersama kalian, Mommy akan menantikan kehadiran cucu Mommy disini" ujar Agatha.
Agatha pun duduk santai di dalam ruangan nya, tepat di lantai bawah, wanita itu terpaksa harus tinggal bersama anak nya, untuk mengantisipasi agar semua aman terkendali tidak sampai terjadi hal yang tak diinginkan.
Sementara itu Agatha, remaja tengah menunggu jemputan pulang sekolah, nya.
Tiba-tiba, sebuah mobil sport yang tidak asing untuk Agatha, gadis itu berusaha untuk pura-pura tidak melihat nya, tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggang Agatha.
Gadis itu terlihat Panik dan ingin melepaskan diri, tapi pria itu bahkan tidak memberikan kesempatan untuk dia bergeser sedikit pun.
"Lepas"ujar Agatha lirih karena dia juga tidak ingin pria itu sampai babak belur di hajar masa.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, jika kamu belum mau ku antar pulang"ujar pria yang tidak Alexander.
"Aku dijemput Mommy"ucap Agatha.
"Agatha, jangan membohongi ku"ujar Alexander.
"Aku tidak bohong"ujar Agatha tapi Alexander, tidak menggubris nya, pria itu langsung memeluk Agatha, membawa Agatha kedalam mobil nya hingga memasang sabuk pengaman.
"Beli eskrim"ujar Alexander.
"Tidak, aku tidak lagi makan eskrim"ujar Agatha berbohong.
"Kedai es krim"ujar Alexander pada sopir.
"Sudah kubilang aku tidak mau"ujar Agatha .
Agatha meraih ponsel nya di saku kiri jas sekolah yang ia gunakan.
"Aku akan menculik mu jika kamu berani menelpon seseorang, sekarang sebutkan dimana alamat rumah mu"ujar Alexander.
"Kak, aku dijemput Mommy"ujar Agatha.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi Agatha please biasakan ini"ujar Alexander.
"Aku tetap anak-anak bagi kedua orang tua ku"ujar Agatha.
"Agatha"ujar Alexander pelan tapi penuh penekanan.
"Aku akan bayar kakak, sekarang katakan berapa nomor ATM nya agar kakak tidak mencari ku lagi"ujar Agatha.
"Apa? kau pikir aku kekurangan uang, cepat katakan dimana kamu tinggal"ujar Alexander.
Agatha pun menyebutkan alamat yang harus dia tuju, tapi bukan alamat rumah melainkan alamat rumah sang kakak Alana.
Beruntung saat itu Alana sedang berada di rumah nya.
Mobil Alexander pun memasuki gerbang yang terbuka otomatis setelah Agata mengeluarkan kepala melihat ke arah gerbang Mension tersebut, pun terbuka.
Alexander pun percaya bahwa itu adalah rumah Agatha, dan gadis itu langsung disambut oleh Agatha yang juga sedang duduk santai sambil melihat pelayan menyiapkan beberapa meja yang entah untuk acara apa.
"Hay sayang sudah pulang sekolah"ujar Agatha.
"Sudah Mom"ujar Agatha sambil memeluk Agatha .
"Dia siapa? sayang"tanya Agatha.
"Dia kak Alexander"ujar Agatha.
"Ajak masuk , kak Piter juga ada di dalam baru pulang kerja"ujar Agatha.
"Tidak Tante terimakasih saya hanya mengantar Agatha saja"ujar pria tampan itu.
"Owh terimakasih nak, kapan-kapan kamu bisa mampir ke sini"ujar Agatha.
"Tentu Tante"ujar Alexander.
"Tidak Mommy"ujar Agatha lirih.
Beruntung Alexander tidak mendengar perkataan Agatha.
Mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman Alana, saat itu juga sementara Agatha.
"Mom, dimana eskrim aku butuh itu mommy buruan"ucap gadis itu dengan tangan yang gemetaran.
__ADS_1
"Sabar sayang ayo masuk dulu oke, kamu aman"ujar Agatha.
Dia membawa Agatha remaja itu masuk, lalu menghubungi Alana menanyakan apa? di atas ada sisa eskrim, karena adiknya ada di bawah.
Alana pun langsung bergegas membawa eskrim dari lemari pendingin yang ada di dalam kamar nya, Piter yang baru saja mandi dia melihat istrinya yang terburu-buru saat ini membuat dia penasaran dan langsung menggunakan baju ganti yang istrinya sediakan.
"Agatha kamu disini"ujar Alana yang berjalan keluar dari pintu lift menghampiri adiknya yang berada di ruang makan, duduk bersama dengan mom Agatha.
Agatha pun hanya mengangguk dan meraih kotak eskrim yang Alana bawa.
"Gadis itu langsung membuka dan melahap nya dengan sendok yang tersedia di hadapan nya, barulah Agatha terlihat tenang.
"Agatha, mana Mommy?"tanya Alana.
"Mommy telat jemput aku, dia juga susah dihubungi, saat ini mungkin sedang meeting bareng Daddy"jawab Agatha.
"Lalu kamu pulang bareng siapa?"tanya Alana lagi.
"Sama mantan kekasih bayaran aku, tiba-tiba dia muncul di depan gerbang sekolah, dan saat itu aku sedang menunggu mommy di luar gerbang"ujar Agatha.
"Owh,, ya ampun Agatha, bagaimana jika ada orang jahat, kamu tidak akan bisa melawan, lain kali jangan mau diajak oleh orang asing"ujar Alana.
"Dia memaksa aku untuk mengantar pulang, kak aku juga sudah menolak, tapi dia malah merangkul pinggang ku dan membawa ku masuk kedalam mobil nya, kami pun pulang ke sini karena tidak mau dia tau rumah Oma, bisa-bisa opa marah jika nanti dia kembali setelah keliling dunia"ujar Agatha.
"Oh, ada big baby rupanya"ujar Piter sambil tersenyum mengejek.
"Ahhhhhh, mommy dia mengejekku terus, aku marah gak mau disini lagi"ujar Agatha yang kini cemberut sambil meraih tasnya.
"Kamu mau kemana? jangan dengerin kak Piter, dia hanya menggoda mu saja, tidak serius iya kan sayang"ujar Alana.
"Aku serius"ujar Piter datar.
"Kak!"ujar Alana.
"Piter, jangan digangguin dia baru saja tenang"ujar mom Agatha.
"Huhu...big baby"ujar Piter sambil pergi mengambil minuman dingin di dapur.
"Aku pulang saja dia jahat aku kasih tau Mommy, biar kamu dipecat jadi menantu!"teriak Agatha.
wlee...
Piter malah semakin menjadi dan akhirnya Agatha menangis meraung-raung saking kesalnya.
Alana pun mencoba menenangkan sang adik dia memeluk nya, tapi Agatha tidak berhenti menangis, hingga Alana pun marah pada Piter.
"Kak, kamu itu keterlaluan, sudah tau adikku itu tidak suka digangguin" ujar Alana yang kini berjalan menuju sebuah rak penyimpanan kunci mobil sport dan lainnya, dengan menggunakan sidik jari dia membuka rak tersebut.
"Sayang kamu mau ngapain?"tanya Piter.
"Mau pulang"ujar Alana yang kini sudah memegang kunci.
"Jangan main-main sayang"ujar Piter, yang saat itu juga meraih kunci mobil dari tangan Alana.
"Aku tidak main-main, aku mau pulang bersama adikku"ujar Alana tegas.
"Sayang, kamu seriusan, aku hanya bercanda"ujar Piter.
"Tapi bercanda nya kakak itu keterlaluan"ujar Alana yang tetap berjalan keluar.
...🌸......................🌸...
Kini Piter, Alana dan Agatha sudah berada di kediaman Marvin.
Karena dia harus mengantar adik ipar nya yang cengeng itu.
Agatha benar-benar tidak berhenti menangis sampai Alana, sendiri dibuat dongkol dan ikut menangis.
Sesampainya di rumah tersebut, disambut Anggita yang heran melihat Agatha menangis sesenggukan.
"Mommy pecat saja dia jadi menantu, dia bilang aku adalah big baby"ujar Agatha.
"Iya sayang nanti Mommy pecat dia"ujar Anggita, sambil mengedipkan mata nya agar Piter tidak mengikuti mereka berdua, karena Anggita tau pasti Piter tidak sengaja menggoda nya, dan itu adalah hal yang paling dibenci oleh Agatha, karena alasan itu pula Agatha pindah sekolah.
Agatha pun mulai terdiam, sambil memakan eskrim nya di dalam kamar ditemani oleh sang Daddy sementara Anggita berakting seolah dia marah besar pada Piter, dan memecatnya menjadi menantu seperti yang diinginkan oleh Agatha, Alana pun menahan tawa.
Sampai akhirnya Agatha tertawa, bersama dengan Alvin di kamar nya, tanpa tau Alvin menertawakan putri nya itu.
__ADS_1
sementara Piter pura-pura pulang terlebih dahulu padahal Alana sudah berada di dalam mobil nya.
"Kena batunya iya kan"ujar Alana.
"Aku kapok gak lagi-lagi ah menyebalkan"ujar Piter.
"Aku bilang juga apa? jangan coba-coba"ujar Alana.
"Sayang pulang ke hotel?"tanya Piter.
"Gak mau di Mension saja"jawab Alana.
"Ah nyoba sensasi baru lah sayang"pinta Piter.
" kita punya rumah empat lantai dengan view berbeda-beda jadi tidak perlu cari tempat lain"ujar Alana, yang kini lebih suka kesederhanaan.
"Baiklah Sayang ku"ujar Piter.
Mereka berdua pun pulang ke Mension mereka, Piter dan Alana pun menghabiskan waktu berdua di roof top menikmati cahaya bulan hanya berdua , mereka bahkan memadu cinta di atas sana karena disana ada kolam renang dan tempat bersantai yang benar-benar nyaman untuk berbulan madu, seperti yang dikatakan Alana, tidak perlu pergi jauh-jauh untuk berbulan madu.
Keesokan harinya, di rumah Marvin pria itu tengah asik berbincang dengan Alvin,ayah dari wanita yang akan dia antar ke sekolah .
Agatha begitu kaget melihat Alexander berada di rumah nya, bukan kah kemarin dia pulang ke rumah Piter, Agatha langsung berteriak.
"Mommy bukan kah , Mommy sudah memecat pria itu sebagai menantu lalu kenapa? dia masih cari gara-gara" ujar Agatha.
Sontak Alvin dan Anggita dibuat gelagapan di depan tamu mereka.
"Sudah sayang buat gara-gara apalagi?memangnya"tanya Alvin.
"Itu buktinya kak, Alexander ada disini, kemarin aku sengaja pulang ke rumah kakak,agar dia tidak tau rumah ini, nanti opa marah gimana, dia kan mantan kekasih bayaran nya aku"celetuk Agatha tanpa rasa bersalah atau pun malu merengek di depan kedua orang tua nya, sambil menghentakkan kakinya.
Sementara Alexander yang melihat itu saat ini sedang menahan tawa, sekaligus rasa kesalnya, bagaimana bisa bocah ingusan itu mencoba untuk mengelabuhi nya.
"Sayang dia rekan bisnis Daddy"ujar Alvin, sambil merangkul pundak putri nya itu dan mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala putri nya itu.
"Daddy, aku malu jika dia disini, dia tidak mau dibayar"ujar Agatha.
"Dia tidak butuh uang receh sayang karena dia adalah pengusaha sukses"ujar Alvin.
"Pengusaha dari mana, orang dia mahasiswa"ujar Agatha.
"Dia pemilik perusahaan terbesar di kota ini bahkan beberapa cabang di luar negeri, bagaimana apa? dia masih butuh bayaran darimu"ujar Alvin.
"Tapi aku tidak mau ketemu dia lagi jika tidak mau dibayar Daddy, hutang itu bisa jadi dosa loh, dan Agatha sekarang sudah punya pacar baru"ujar Alana.
"Owh ya ampun benarkah itu, siapa-siapa? ayo bilang sama Mommy"ujar Anggita, yang sedari tadi hanya menyimak sambil menyiapkan sarapan pagi untuk putri nya itu, steak campur salad yang selalu jadi menu sarapan nya.
Agatha menggeleng"Kali ini aku gak mau bilang Mommy, dia bilang orang dewasa harus pintar menyimpan rahasia"ujar nya.
"Tidak-tidak sayang jika kamu tidak jujur, Mommy, tidak akan biarkan kamu makan eskrim lagi"ujar Anggita, tegas.
Sementara Alexander mengepalkan tangannya di bawah meja, karena dia tidak suka jika Agatha, dimiliki oleh orang lain.
"Nanti tidak jadi wanita dewasa dong Mommy"ujar Agatha.
"Justru bicara jujur pada orang tua itu, tandanya kamu sudah dewasa"ujar Anggita.
"Baiklah mommy, dia kakak kelas aku, dia itu tampan dan baik hati"ujar Agatha.
"Namanya sayang"ujar Alvin dengan lembut.
"Nino Daddy, dia anak kepala sekolah"ujar Agatha.
"Heumm, sepertinya ini sudah terlalu terlambat uncle"ujar Alexander.
"Sayang selesaikan sarapan pagi nya dulu Daddy berangkat dengan kak, Alexander nanti diantar mommy ya"ujar Alvin sambil mengusap lembut puncak Kapala putri nya itu, sementara Alina saat ini dia sedang berlibur bersama dengan ibunya, semenjak wanita penggoda itu pulang, dia terus memohon kepada Anggita untuk diberikan kesempatan untuk mengasuh putri nya itu, entah benar-benar sudah tobat atau hanya pencitraan, Alvin sendiri tidak tau siapa? yang membawa wanita itu kembali.
Alexander yang tadinya ingin mengantar Agatha pergi sekolah pun dia urungkan karena ingin mencari tahu dulu, siapa? pria yang bernama Nino, tersebut.
Hingga saat di dalam mobil.
"Maaf kan putri uncle Alex, dia kadang suka keterlaluan, tapi percayalah dia itu satu-satunya gadis polos yang sangat baik hati, untuk sampai di tahap ini, perjuangan kami sangat lah panjang terutama Mommy nya yang bertaruh nyawa untuk bisa menyelamatkan putri kami yang satu ini"ujar Alvin.
"Memangnya ada apa? dengan Agatha uncle?"tanya Alex.
"Putri ku korban penculikan yang berawal dari keegoisan ku, ceritanya sangat panjang hingga, dia berulang kali mengalami pendarahan di otak, dan hampir merenggut nyawa, beruntung ibunya adalah seorang dokter bedah syaraf, dia dibantu oleh teman-temannya melakukan tindakan pada putri kami Agatha, setelah sekian lama jatuh bangun putri ku, tidak bisa berpikir keras, karena jika itu terjadi dia akan mengalami sakit yang hebat di kepalanya bahkan hingga berulang kali koma, selama ini dia pun bersikap layaknya bocah usia sembilan tahun, dia tidak suka pelajaran matematika, ataupun yang menguras otak, hingga kami selalu meminta pihak sekolah agar meloloskan Agatha dari pelajaran tersebut, dan kini Agatha, sudah kembali normal setelah beberapa bulan lalu kembali mengalami koma dan operasi untuk kesekian kalinya, hanya karena berebut uncle, sebagai Daddy nya dengan anak uncle yang lahir dari keegoisan uncle dulu, meskipun sikap kekanakan nya masih ada"
__ADS_1