Sang Penari

Sang Penari
#Kembali#


__ADS_3

Sekembalinya dari rumah sakit ,aku hanya berdiam diri di rumah hingga sebuah pesan singkat aku dapat di ponsel milik Liliana.


✉️"Liliana apa? kabar kalian dimana kakak mu saat ini"kak, Doni.


Aku langsung bergegas membalas pesan itu, tanpa berpikir panjang.


✉️"Doni ini aku, Ariana, lili sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia menjadi korban tabrak lari, aku sendirian di rumah ini"balas ku.


✉️"Tunggu, satu Minggu lagi aku kembali, maaf aku tidak bisa menghubungi kalian selama ini karena aku tersandung kasus prostitusi yang bocor gara-gara ada pihak lain yang iri, dan aku akan segera bebas"balas Doni.


✉️"Kau keterlaluan, sudah kubilang berhenti jangan lagi, melakukan semua itu, aku yakin mereka bukan orang sembarangan karena aku juga mengalami kesulitan yang sama, aku ditolak saat ingin melapor ke pihak berwajib, seperti nya, kasus kematian adikku tidak hanya korban tabrak lari biasa"balasku


✉️"Tunggu aku kembali kita akan pergi jauh dari kota ini"balas Doni.


✉️"Baiklah"balas ku singkat.


Aku menyiapkan baju kedalam koper, untuk bersiap jika suatu hari nanti Doni, datang menjemput ku, aku akan membiarkan rumah ini menjadi rumah terakhir kenangan hidupku yang menyakitkan ditinggalkan oleh orang terakhir yang aku miliki.


"Liliana, semoga kamu bisa tenang disana, dan semoga kakak bisa mengadili manusia manapun yang telah membuat mu meninggalkan kakak saat ini.


Aku kembali menangis sambil duduk di sofa kamar ku, melihat foto- foto Liliana, yang kini ada di ponsel adikku yang sangat cantik itu.


Aku mencoba memejamkan mata ku, di sana dan tidak beranjak dari situ karena hatiku terasa nyeri dan aku tidak bisa melakukan apapun saat ini.


hingga suara dering ponsel mengagetkan lamunan ku yang sedang berusaha memejamkan mata ku, aku langsung mengangkat nya, tanpa melihat ponsel mana yang aku ambil.


"Jangan coba-coba untuk pergi, atau aku akan melenyapkan teman mu saat ini juga"suara itu terdengar jelas hingga mataku membulat, mendengar nya.


"Kau yang sudah menghabisi adikku iya kan jawab aku!"teriak ku.


tapi sambungan telepon itu langsung terputus dan tidak ada lagi suara yang mampu membuat darah ku naik, tapi juga sakit hati.


hingga sebuah pesan mampu membuat ku berteriak memaki pria yang tadi menghubungi ku.


✉️"Ariana maafkan aku mulai saat ini aku tidak bisa lagi menemui mu karena nyawaku pun berada dalam bahaya"Doni.


"Ahhhhhh, kenapa kamu tidak membunuh'ku saja sialan bunuh aku sekarang juga atau aku akan mengakhiri hidup ku sendiri saat ini juga"teriak ku, sambil meraih gunting dari dalam nakas, tapi tiba-tiba seseorang bodyguard langsung merampas gunting itu entah kapan pria itu masuk ke dalam kamar ku.


"Kau tidak bisa mengakhiri hidup mu, karena nyawamu pun milikku"ucap pria di dalam telpon yang bodyguard itu perdengarkan.


"Kau sialan"ucap ku sambil pergi meninggalkan rumah tidak perduli dia membunuhku atau tidak, aku pergi ke alamat yang Tora beri padaku.


sesampainya di sana aku langsung duduk di depan meja bar dan memesan minuman yang benar-benar beralkohol tinggi ,aku tidak memikirkan dampak negatif dari semua itu yang aku lakukan saat ini.


Aku pun sudah mulai kehilangan kesadaran aku tidak perduli dengan sekitar nya, aku berjoged meliuk-liuk kan tubuh ku di atas panggung tanpa sadar seseorang menarik ku dan membawa ku kesebuah ruangan, samar-samar aku mendengar seseorang tengah menelpon.


"Bos dia sedang mabuk berat"ucap nya sambil melirik ke arah ku, aku tidak perduli dengan percakapan mereka.


hingga saat aku merasa tubuh ku melayang di udara, dan setelah, itu aku benar-benar tidak mengingat apapun.


setelah aku sadar ternyata aku sudah berada di dalam kamar ku, aku bangun aku langsung membersihkan diri setelah itu aku sholat, karena sudah masuk waktu subuh.

__ADS_1


aku menangis menumpahkan semua rasa sakit yang ada, terutama aku meminta kebebasan hidup ku bersama sahabat ku Doni.


lama sekali aku bersujud menumpahkan keluh kesah ku, aku pun mengambil tas milikku entah siapa? yang semalam membawa ku pulang ke rumah.


yang pasti semua barang milikku tidak ada satupun yang hilang.


Aku mengambil ponsel pemberian Marvin,aku langsung meneliti apakah ada sesuatu di dalam nya, karena setiap gerak-gerik ku selalu ia ketahui karena tidak mungkin dirumah ini terdapat Cctv, kecuali teras depan.


setelah memastikan semua tidak ada yang mencurigakan akhirnya aku pun kembali berbaring, sambil bermain sosial media meskipun Marvin, sudah melarang ku,hal pertama yang aku lihat adalah berita tentang nya, namun informasi nya seperti nya ada yang melindungi hingga saat aku membuka akun Facebook milik Liliana, aku kaget kenapa? aku itu bisa hidup bahkan terdapat postingan baru tentang dirinya yang menunjukkan bahwa Liliana, tengah berada di sebuah rumah sakit, apa itu mungkin Liliana, tapi adikku sudah tidak ada, ataukah akun miliknya dibajak orang, tapi terlihat dari tanggal nya baru malam ini.


apa? yang sebenarnya terjadi lili... kakak benar-benar bingung.


terus bergumam sendiri hingga rasa kantukku kembali menyerang, aku pun menyimpan ponsel tersebut di atas nakas.


setelah pukul sembilan pagi, aku pun kembali bangun kebetulan ini adalah weekend ,aku langsung mandi dan bersiap untuk mencari sarapan di luar, aku turun dan menyiapkan motor ku, hingga suara si bibi asisten rumah tangga ku, datang menyapa.


"Non, nona mau kemana? ini kan hari libur"ucap nya.


"Mau cari udara segar bi, sekaligus sarapan pagi di luar"jawab ku.


setelah memanaskan mesin motor ku,aku pun langsung meraih tas ku yang ada di meja, aku langsung pergi tanpa pamit, hingga di lampu merah, aku tidak sengaja melihat Marvin, dengan mobilnya, bersama wanita yang dulu aku lihat, mungkinkah itu Marvin, tapi bukankah dia, masih berada di luar negeri, dan siapa wanita itu, saat lampu kembali hijau mobil yang ditumpangi nya, langsung melesat melaju kencang, aku langsung mengejar nya, tapi tiba-tiba, aku terhenti karena mobil tersebut sudah berbalik arah.


aku pergi meninggalkan nya, melanjutkan perjalanan ku, tak lagi peduli, dia Marvin atau bukan yang pasti aku, tidak ingin peduli lagi selama dia tidak menggangu kehidupan ku lagi.


hingga akhirnya aku tiba di sebuah cafetaria, tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku, lalu berkata," Kau Ariana rose bukan, sedari tadi aku mengikuti mu hingga kesini"ucap nya sambil tersenyum pada ku.


tampak seorang gadis seusia ku, dengan pria yang sedikit lebih tua dari kami, itu pasti sugar Daddy nya Shintia, teman lama ku.


"Hay ...Lo disini"jawab ku.


setelah beberapa menit berlalu, kami bertiga mengobrol dan tanpa, sadar pria tampan yang sudah lebih dewasa itu, pernah melihat ku,di club malam, tapi aku berusaha menyangkal nya.


setelah dia yakin, aku pun pamit pulang dan memberikan alamat rumah ku yang baru pada Shintia.


akupun pergi tapi tidak langsung pulang, aku membeli bunga Lily putih dan aku berangkat menuju makam adikku.


hingga tiba di sana, aku melihat wanita yang selama ini Liliana, rindukan tengah duduk di samping makam terlihat tubuhnya bergetar hebat.


"Liliana, putri ku maafkan Mama, karena Mama, sudah tidak perduli padamu selama ini, kini mama sadar mama, sudah terlalu salah, maafkan Mama"ujarnya.


"Terlambat, untuk apa? anda datang kesini bukan kah anda tidak pernah peduli dengan Lili, yang kau anggap pembawa sial.


Aku berdiri dengan angkuh di hadapan nya, dan wanita itu pun memohon maaf pada ku, tapi aku tidak menggubris nya, aku menyimpan bunga tersebut di sandarkan di batu nisan, aku mengelus batu nisan yang bertuliskan nama Liliana, tersebut.


"Liliana, maafkan kakak, kakak tidak datang selama sepuluh hari ini, karena kakak baru keluar dari rumah sakit, Kakak harap kamu tidak marah dan lihat lah, siapa? yang datang setelah kau pergi, wanita yang kau anggap sebagai malaikat, tapi berhati kejam ini sekarang ada di sini, apa? kau senang adikku"ucap yang langsung berdiri setelah untuk yang terakhir kali, mengusap batu nisan tersebut.


aku pergi begitu saja tanpa melihat kearah wanita yang sedari tadi memanggil ku, wanita yang sudah menghancurkan hidup ku, dengan keluarga ku, sekaligus, wanita yang sudah memberi gadis kecil yang selama ini menjadi bagian hidup Papi.


"Papi, andaikan saja Papi, masih ada apa? Papi, akan membenci ku, karena sudah membenci wanita yang berharga untuk Papi"ucap ku sambil terus berjalan derai air mata ku berbarengan dengan gerimis yang datang, membasahi bumi aku langsung tancap gas dan pergi meninggalkan pemakaman tersebut.


hingga tiba di depan rumah ,aku melihat mobil yang tadi berpapasan di jalan dengan ku, padahal saat ini belum tiba hingga waktu yang ditentukan.

__ADS_1


aku memasukkan motor ku kedalam garasi mobil berdampingan dengan mobil tersebut.


dan saat aku masuk aku melihat pria yang selalu mengatur kehidupan ku, selama ini.


"Sudah puas jalan-jalan dan bertemu dengan teman lama mu"ucap nya dingin.


aku tidak menggubris nya dan langsung pergi menuju kamar ku.


dengan langkah cepat dia mengikuti ku menuju kamar ku.


"Kau pembunuh!" teriakku saat berbalik menatap ke arah Marvin, dengan derai air mata yang tidak bisa ku tahan.


"Terserah, kau yang pasti semua karena ketidakpatuhan mu terhadap ku, kini adikmu sudah tiada"ucap nya enteng.


"Aku benci pada mu Marvin, pergilah bukan nya kau sedang berada di luar negeri dan sedang honeymoon bersama dengan nya"ucap ku yang membuat wajah Marvin, tiba-tiba berubah menjadi penuh emosi.


"Siapa? yang sudah memberikan informasi itu "ucap nya sambil menekan rahang ku, tenaga nya, sangat kuat mungkin saja setelah ini wajahku tidak akan berbentuk lagi.


"Kenapa? bukan kah semua itu benar, dan tadi aku melihat kalian di jalan, dan kau tidak akan bisa menyangkal nya lagi"ucap ku .


"Apa? kau cemburu"ucap nya, sambil menatap mata ku.


"Kenapa? harus cemburu kau bukan siapa-siapa ku, itu hak mu tapi tolong pergi menjauh dari hidup ku,aku tidak ingin dia salah faham terhadap ku"ucap ku sambil berjalan pergi.


"Apa kau bilang kau bukan siapa-siapa ku, kau pikir akan ada orang yang percaya setelah melihat cincin yang melingkar di jari manis mu itu, semua orang tau kau adalah milik Marvin, entah itu wanita simpanan atau pun pelacur ku"ucap nya sambil tersenyum mengejek.


"Stop Marvin, aku bukan wanita seperti itu, kau dengar aku bukan wanita penghibur, harus berapa kali aku jelaskan"ucap ku sambil berteriak, hati ku sakit, saat Marvin, mengatai ku sebagai pelacur nya.


"Terserah kau, saja orang lain bisa menilai nya, dalam sekejap mata"ucap Marvin.


"Sudah kubilang aku bukan pelacur ,oke aku adalah wanita penghibur, tapi aku tidak pernah menjual diri ku Marvin, aku masih virgin!" teriakku sambil melempar tas ku.


"Heuhhhhh, kamu pikir akan ada yang percaya setelah orang melihat ku datang ke sini" ucap nya sambil duduk di sofa kamar ku.


"Aku akan membuktikan nya pada orang-orang bahwa aku bukan wanita seperti itu"ucap ku sambil beranjak pergi tapi tiba-tiba tangan nya mencengkeram erat pergelangan tangan ku.


"Kau belum puas menyakiti ku, Marvin, kau bukan manusia, kau iblis dan kau adalah pembunuh, kenapa? kau biarkan aku hidup kenapa? tidak bunuh saja aku sekalian"ucap ku.


"Belum saatnya" ucap nya, sambil menarik ku keatas pangkuan nya, Marvin langsung mencium bibir ku, dengan sangat brutal dan sesekali ia menjambak rambut ku, aku tidak tau harus berbuat apa? saat ini bahkan tubuh ini berkhianat pada hati ku.


Marvin, terus mencumbu ku, hingga aku berhasil melepaskan ciuman itu, pria itu tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil membuat ku tak berdaya hanya dengan hal itu.


"Kau menikmati nya bukan, sudah kubilang kau hanya wanita penghibur bagiku, dan siapapun tidak akan pernah ada yang mau menyia-nyiakan hidupnya, untuk menolong mu lepas dari ku"ucap nya datar.


Aku langsung berlari menuju kamar mandi,aku tutup pintu itu dengan sekali hentakan tangis ku pecah,kini sudah tidak ada lagi harapan untuk ku,agar bisa hidup dengan bebas, aku mencoba menenggelamkan diri ku,di dalam bathtub, tapi hingga aku hampir kehabisan nafas pun, tuhan tidak mengijinkan ku untuk mati, pria itu dengan cepat mendobrak pintu kamar mandi dan meraih ku dari dalam bathtub.


Aku ter batuk hingga Marvin kembali menjambak rambut ku.


"Sudah aku bilang, bahkan kematian mu pun,aku yang tentukan"ucap nya, sarkas.


"Kau bukan tuhan Marvin, kau tidak bisa menentukan hidup dan mati seseorang"ucap ku.

__ADS_1


"Owh jadi kau sudah pintar menjawab rupanya"ucap nya sambil mendorong ku keatas ranjang, pria itu langsung mengungkung tubuh ku, hingga aku berteriak dan menendang membabi buta, pria itu hanya tertawa terbahak-bahak.


"Kau, takut dengan itu, berani-beraninya kau ingin melawan ku"ucap nya yang langsung berdiri.


__ADS_2