
"Mommy, minta tolong bawa cupcake nya kerumah"pinta Anggita.
"Mommy mau pesan ukuran berapa banyak nya, medium atau jumbo"tanya NATO.
"mommy, belum tau ukuran banyak nya tapi jika bisa yang lebih banyak lah, soalnya seluruh keluarga kita suka"ucap Anggita.
"Baiklah Nyonya dokter.
Wanita itu hendak membuka adonan, tapi tangan kekar itu masih menggenggam tangan Rosella, yang kini mendelik ke arah pria itu.
"Tuh dengar apa? kata mertua"ucap NATO.
"Apa? mertua siapa? mertua suster Nara yang cantik itu kan, itu baru betul"Ica Rosella.
"Jangan pura-pura bodoh Rosella, kamu tau jawabannya"ucap NATO tegas.
"Wajar jika saya bodoh, sekolahnya saja hanya sampai SMA, tidak seperti kalian"ucap nya datar.
"Kamu adalah gadis yang cerdas, meskipun tidak tidak harus sekolah tinggi, banyak juga orang berpendidikan tinggi, tapi cerdas dan sukses, malah yang sarjana yang pengangguran" ucap NATO.
"Itu karena orang salah milih jurusan"saut Randi.
"Kok bisa dok?"tanya Rosella.
"Iya coba kalo milih jurusan umu, misalkan kuli bangunan, kuli panggul kuli pukul, kuli ah itu bagian dari jurusan umum, seperti saat ini,kuli hat kamu ingin kab ur jadi, itu jurus seribu bayangan, kabur..." ucap dokter Randi yang langsung lari .
"Sayang kamu tidak bisa pergi dari ku,titik "ujar NATO.
"Aku mau buat adonan"ujar wanita itu.
"Tidak usah, itu masih ada cupcake, jadi tidak perlu beralasan untuk pergi dari ku"ujar NATO.
Jauh dari tempat tersebut seorang gadis yang kini, tengah berada di sebuah club malam, wanita itu tengah menari meliuk-liuk kan badan nya, hingga mengundang perhatian dan tanya dari orang orang yang berkunjung ke sana.
Dialah Agatha, yang kini hanya menggunakan kaos kebesaran dan hotpants, yang bahkan tidak terlihat karena hampir tertutup T-shirt yang dia gunakan.
Agatha, dia adalah Agatha yang selama ini bahkan tidak pernah mengenal dunia malam dan bahkan terkesan polos, kini tidak ada lagi yang seperti itu, gadis itu bahkan berani menyesap rokok, dan juga minuman beralkohol.
Dan setiap malam dia akan hadir di berbagai tempat seperti club malam dan tempat hiburan malam lain.
Meskipun, dia bisa menjaga diri, dari sentuhan laki-laki tapi kehidupan nya saat ini sudah bisa dipastikan, akan mendapatkan kemurkaan dari kedua orang tua nya, jika mereka tau, tapi seakan dunia mendukung rasa frustasi yang kini ia salurkan lewat hobinya menjadi penari di night clubs, bahkan dia menerima bayaran yang cukup besar setiap kali dia tampil menghibur para pengunjung yang bahkan ikut bergoyang bersamanya meskipun berbeda panggung.
Seperti malam ini, Agatha, yang kini memiliki tato permanen di bagian perut bawah dan menyamping menarik perhatian seorang pengunjung yang datang dengan pengawalan ketat dari orang-orang nya, duduk di sofa yang ada di sudut ruangan tersebut, dia adalah (Kristofer Alen ) seorang pengusaha sukses di beberapa negara.
Pria itu melihat Agatha yang kini tengah meliuk-liuk kan tubuhnya di atas panggung bersama kedua orang partner nya.
Hingga, dua jam lamanya tanpa kenal lelah, Agatha yang dulu sangat polos, dan harus selalu ada es krim di sisinya, kini telah berubah hanya karena dia patah hati dan frustasi ditinggal menikah oleh seorang pria yang sangat ia cintai.
Agatha yang kini sedang tersesat di ujung jurang , tidak lagi bisa kembali ketempat semula, dia sudah memutuskan untuk hidup bebas, tanpa aturan meskipun untuk satu hal yang keramat masih dia jaga.
Namun pergaulan bebas, membuat dia menjadi pecandu minuman keras, bukan lagi es krim, atau pun cupcake, gadis itu bahkan tidak bisa jauh dari rokok.
Dan seakan telah buta dan tuli orang-orang yang Marvin tempatkan di sisi Agatha, justru menutupi kelakuan buruk tersebut karena Agatha pernah memohon dan menangis hingga nyaris bunuh diri, jika mereka membatasi pergerakan nya.
Agatha hanya akan tidur setelah mabuk berat, dia seakan lupa daratan, mungkin jika saja Anggita tau tidak hanya akan pingsan tapi serangan jantung.
Sudah dua tahun berlalu, sejak kepergian nya, dia tidak pernah menghubungi kedua orang tua nya, tapi meskipun Anggita, sangat merindukan nya, Marvin selalu bilang Agatha akan baik-baik saja dia sedang menjalani proses kedewasaan diri dan meminta Anggita untuk tidak terlalu menghawatirkan nya.
__ADS_1
Malam ini Agatha dalam keadaan setengah mabuk, wanita itu diminta seseorang untuk hadir di ruang perawatan VVIP club malam tersebut, dan dia diminta menari di sana.
Agatha pun tak menolak bahkan tidak menaruh rasa curiga, dia yang kini berusia sembilan belas tahun, dengan tubuh yang proporsional dan tidak lupa dengan paras yang cantik, selalu terlihat segar bugar dan sangat menarik, meskipun dalam keadaan mabuk, penampilan nya selalu rapih.
wanita yang kini hanya menggunakan hotpants dan t-shirt yang tak sampai menutupi perut dengan Hoodie yang resleting terbuka mirip jubah yang panjang sebatas dengkul itu tengah duduk di atas panggung yang minim penerangan di bagian sana karena memang di desain khusus untuk itu.
Terlihat, seseorang yang tengah menyesap rokok, di tangannya.
"Buka, Hoodie mu sendiri, mu sendiri dan mulai lah menari"ucap pria yang sudah berusia sepuluh tahun lebih tua dari nya.
Agatha hanya terdiam dia masih menyesap satu botol minuman keras yang berukuran kecil, di telapak tangan nya.
Agatha langsung menunduk ketika satu titik cahaya lampu itu menyorot ke arah nya.
Dan suara musik telah diperdengarkan sebuah tiang besi berukuran genggaman tangan itu muncul dan menyatu dari lantai sampai atap panggung Agatha pun mulai mengerti jika itu adalah media untuk dia menari.
Agatha pun mulai bergerak di sana, dia melepaskan Hoodie, yang sedari tadi menempel di tubuh nya kini tinggal hotpants dan t-shirt yang membentuk lekuk tubuh bagian atas,
Agatha pun mulai menari dengan pikiran melayang tapi irama musik itu tetap menuntun dirinya untuk gerakan tari yang sempurna, hingga pria itu mendatangi nya, dan meminum kan gelas berisi wine tersebut, Agatha yang tak berhenti menggerakkan tubuhnya dengan gerakan slow motion tersebut membuat minuman tersebut meluncur membasahi leher dan t-shirt yang dia gunakan.
Pria itu pun hendak menyentuh bibir Agatha tapi sayang wanita itu menghindari nya, Agatha mungkin saat ini terlihat murah tapi tidak murahan, dia bahkan benci jika ada pria yang sengaja menyentuh kulitnya sedikit pun.
Wanita itu, membuat Kristofer Alen, tersinggung, hingga suara musik itu di hentikan.
"Berapa? bayaran mu untuk satu malam"ucapan nya dingin dan menusuk.
"Jika kamu, kira saya wanita seperti itu, kamu salah alamat"ucap Agatha di hadapan Kristofer, yang kini terlihat sangat dingin.
"Lancang!" teriak seseorang yang kini ada hadapannya, seorang wanita yang kini menggunakan stelan jas rapi tersebut.
...🌸..................................🌸...
Sudah hampir dua jam, setelah Agatha, bertarung melawan para bodyguard Keristoper, kini tengah berada di sofa, terikat di bagian lengan dan kaki.
Sementara pria itu hanya duduk diam diam, di sofa sebuah ruangan yang hanya ada cahaya bulan dari balik dinding kaca yang menjulang tinggi, dan hembusan angin kencang menerpa gorden ruangan tersebut, bahkan bisa dibilang dia tengah berada di adegan film vampir, versi Chinese.
Pria yang sedari tadi menatap wajah wanita yang kini sama-sama menatap dengan kesal dan tak berdaya karena pengaruh alkohol yang berlebihan.
"Siapa? nama mu"suara bariton itu menyelusup horor di telinga Agatha, mungkin jika dulu, ada yang bicara seperti itu padanya Agatha sudah pingsan saat itu juga tapi sekarang hanya ada tatapan tajam yang dia berikan.
"Tidak perlu kau tahu"ucap Agatha dingin.
"Kau benar-benar wanita pemberani kah atau hanya untuk menutupi kelemahan mu, kita coba lihat"ujar pria itu.
"Bawa dia kemari" suara itu terdengar seperti sebuah peringatan.
"S Sena"ujar Agatha melotot tajam, ketika melihat, sahabat nya dengan tatapan penuh kehancuran, bajunya terkoyak seakan sedang syuting sinetron yang memerankan adegan pemerkosaan.
"Tunggu-tunggu ini terlihat nyata" monolog Agatha di dalam hati nya.
"Sena....apa kau baik-baik saja, hey kau bajingan lawan aku, jika berani!"teriak Agatha Agatha.
"Heumm, tenang-tenang teman mu, baru saja diberikan kenikmatan oleh anak buah ku"ucap pria itu.
"Anjing kau ....!"ucap Agatha yang langsung menekan cincin di jari manis nya yang terlihat seperti cincin tunangan, padahal itu adalah sebuah GPS, dan juga sinyal bahaya yang akan memberitahukan bahwa Agatha dalam bahaya.
"Apa? yang kau lakukan padanya bajingan, sampai kau mati pun aku akan mencincang tubuh mu dan kuberikan pada anjing jalanan"teriak Agatha, yang kini mulai tersadar.
__ADS_1
"Kau! ha ha ha, ternyata mulut mu itu pedas sekali, tapi aku ingin melihat sampai kapan? kau akan bertahan, untuk tidak mengatakan jati diri mu yang sebenarnya"ucap pria itu yang kini terlihat memberikan isyarat.
"Bajingan, lawan aku jika berani pecundang!"teriak Agatha.
"Heumm belum saatnya nona"ucap pria itu, dia tidak sadar jika pembicaraan mereka tengah di sadap.
Tiba-tiba, serrrt....darah mengalir dari pipi Sena.
"Ahhhhhh.... sakit!"teriak gadis itu.
Agatha semakin memberontak hingga ikatan yang sedari tadi dia lepas secara diam-diam pun terbuka.
Agatha langsung berdiri dan berlari menerjang pria yang tengah menggenggam pisau tersebut, hingga pisau tersebut terhempas ke sembarang arah.
Agatha pun berlari meraih tubuh Sena, sambil menerjang lawan tiba-tiba beberapa helikopter itu muncul mengitari Mension tersebut dan ada beberapa pasukan khusus turun menyerbu tepat tersebut.
"Siapa? sebenarnya kau"ucap Kristofer, sambil menodongkan senjata api di samping kepala Agatha.
Tapi wanita itu tidak bergeming sedikitpun, Agatha tersenyum mengejek.
"Sudah aku katakan tidak perlu kau tau siapa? aku, dan kau harus membayar semu yang telah kau lakukan"ucap Agatha tapi pria itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, hingga suara tembakan itu mulai terdengar memberondong seluruh tepat tersebut.
"Kau pikir aku takut"ucap Kristofer.
Tiba-tiba bom asap itu meledak menyelimuti ruangan tersebut, Agatha dan Sena, hilang dari pandangan Kristofer, bagaikan sebuah keajaiban dunia.
Kristofer saat dia memencet tombol kecil yang ada di jam tangan nya tiba-tiba saja tempat itu meledak, sementara pria itu sendiri sudah berada di atas helikopter.
Pria itu tidak suka meninggalkan jejak, dan anak buah Marvin pun tidak berniat untuk melawan ketua perhimpunan mafia di wilayah tersebut, misi mereka hanya ingin menyelamatkan Agatha dan sandera lainnya.
Marvin langsung memerintahkan anak buahnya mengurus kepulangan cucunya, dan juga gadis yang dinyatakan telah meninggal dunia,di sana akibat kecelakaan, padahal Sena masih hidup dengan identitas baru, yang telah disediakan.
Kristofer mungkin bukan lawan seimbang tapi , minimal dia bisa melindungi keluarga nya.
Marvin mewanti-wanti Agatha untuk tidak lagi berurusan dengan dunia malam, Marvin sudah tau semua nya, dia tidak marah pada cucunya itu, dia mengelus memberikan pelukan hangat, yang selama dua tahun lebih tidak pernah Agatha dapatkan.
Agatha hanya bisa menitikkan air mata, dia sadar dengan semua kesalahannya, tapi yang Marvin, minta Agatha, harus merahasiakan semua itu, dan tidak ada siapapun yang tau dan satu lagi dia meminta cucunya agar bersikap biasa saja, seperti gadis pada umumnya.
Selama dua tahun ini, Agatha dilatih untuk bisa menguasai berbagai macam ilmu bela diri, yang dilakukan oleh orang-orang terbaik nya, disela kesibukan Agatha.
Saat ini Marvin, menjemput Agatha, ke LA, secara diam-diam bahkan istrinya sendiri pun tidak tahu untuk menghindari kerisauan keluarga.
Sementara itu Sena, dipulangkan kepada keluarganya, agar gadis itu kembali menjadi lebih baik, beruntung Sena, tidak sampai hilang kegadisan nya, karena, saat itu hanya gertakan, anak buah Kristofer, karena mereka penyuka sesama jenis.
Agatha, dan Marvin pun terbang kembali ke Indonesia, wanita bahan kembali menggunakan baju yang sopan, Agatha juga menjadi gadis pendiam.
Agatha menyandar di pundak sang kakek, dia merindukan kelembutan dan perhatian, saat ini Agatha akan mendaftar kan ulang kuliahnya, karena Marvin sengaja melakukan itu untuk melindungi cucu kesayangan nya itu.
Agatha pun berjalan berdampingan dengan Marvin diikuti beberapa orang bodyguard nya, sampai seseorang melihat kedatangan nya, dan diam-diam memotret mereka berdua dari jauh.
Marvin bukan tidak tahu tapi sengaja membiarkan itu, karena orang itu adalah suruhan pria yang sudah menghancurkan kehidupan cucunya yang sangat ia sayangi.
Agatha berjalan terburu-buru menuju mobilnya, dan disambut oleh beberapa orang pengawal.
Agatha dan Marvin pun masuk ke dalam mobil yang kini melaju menuju Mension.
Hingga tiba di sana para pelayan yang menyambut kedatangan Nona mudanya bahkan ada yang berteriak saking gembiranya, karena dengan adanya Agatha rumah mereka akan kembali hangat seperti dulu, sementara Alvin yang kini sudah mulai bisa berjalan meskipun dengan bantuan tongkat, pria itu langsung memeluk putri kesayangan nya itu, dengan derai air mata kerinduan, tangis haru pun pecah, saat Anggita mendapati putri nya berada di rumah, Agata bahkan berkali-kali mendarat kan kecupan pada seluruh wajah putri kesayangannya belahan jiwa nya.
__ADS_1