Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 10 Di ghibah tetangga


__ADS_3

Dalam keramaian kota Puri berjalan seorang diri, ia menelusuri jalanan yang penuh dengan debu. Suara deru mesin mobil seakan-akan menemani di setiap langkahnya. Air matanya terus saja menetes membasahi pipinya. Semua kenangan bersama sahabatnya suka maupun duka seolah-olah menari-nari di ingatannya.


" Aku harus kuat, aku gak boleh lemah ayo puri tegarlah aku yakin kamu bisa" Puri menyemangati dirinya sendiri.


Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan berhenti tepat di depannya. Puri mengamati mobil itu.


" Itukan mobilnya eza ," gumam Puri pelan.


Eza turun dari mobil dan langsung menghampiri Puri.


" Maaf kamu ngapain di sini? ini kan udah sore bentar lagi maghrib. " tanya Eza.


Puri memalingkan wajahnya diam-diam ia menyeka air matanya.


" Nggak ngapa-ngapain kok ." jawab Puri berbohong.


" Loh kok bawa koper segala, emang kamu mau kemana?" Eza memperhatikan sebuah koper yang di bawa Puri.


Gadis itu terlihat gugup terlebih lagi Eza memandangnya sangat lekat membuat Puri merasa grogi. Ia tak tau harus beralasan apa.


" Aku... aku mau pergi ". air mata Puri tak terbendung lagi mengalir membasahi pipi.


" Aku gak bisa lagi tinggal bersama Rena, dia mengusir ku... " ucap Puri di sela isak tangisnya.


Greeepppp...


Eza memeluk Puri mencoba untuk menenangkan gadis pujaannya. Denyut jantungnya terasa berdebar-debar.


Degh.


Degh.


Degh.


" Memangnya kamu mau pergi ke mana? " tanya Eza sambil mengusap kepala Puri yang tertutup jilbab.


Puri belajar menggunakan jilbab saat ia mengenal Rena dan Dhita yang telah berjilbab lebih dulu.


" Ke rumah kontrakan aku yang dulu... " ucap Puri lirih. Tangisnya mulai mereda.


" Aku akan mengantarmu... " ucap Eza sambil melepas pelukannya.


" Gak usah... aku bisa jalan sendiri kok... " Puri menolak.


" Gak apa-apa sekalian aku temenin.. " Eza memaksa.


" Tapi... " Puri masih ragu, haruskah ia menerima tawaran pria itu atau menolaknya.


" Jangan menolak ku mohon setidaknya jadikan aku sebagai penawar rasa sedih di hati mu" ucap Eza menatap penuh harap.


" Baiklah.. " Puri menerima tawaran Eza saat ia melihat ketulusan di wajah pria itu.


" Boleh... aku minta sesuatu? " Eza tersenyum tipis.


" Apa? " Puri terperanjat.


" Ongkos nona ." Eza mulai bercanda menggoda.


Puri keheranan.


" Seulas senyuman.. " ucap Eza tertawa renyah.


Seulas senyuman tersungging di bibir Puri menambah kecantikannya. Walaupun kedua matanya mulai membengkak karna menangis ia tetap saja terlihat cantik.


Eza membukakan pintu mobil mempersilahkan si gadis nya masuk, tak lama kemudian mobil melaju perlahan semakin lama semakin cepat.


...****************...


Keduanya pun sampai di rumah kontrakan, Eza melihat-lihat sekeliling. Sementara Puri pergi ke rumah pemilik rumah kontrakan itu untuk meminta kunci rumah, sekaligus memberitahukan bahwa ia akan tinggal di sana lagi.


" Kamu yakin akan tinggal disini sendirian? " Eza terlihat khawatir.


" Iya gak apa-apa ." ucap Puri sambil memutar anak kunci.


Kreeeekkk....


Pintu terbuka.


" Tapi... walau bagaimana pun kamu tuh perempuan, harus ada yang jagain" Eza kembali merasa khawatir.


" Kamu tenang aja gak akan terjadi apapun sama aku ." Puri menatap Eza meyakinkan pria itu. Kemudian ia melangkah memasuki rumah.


Eza masih tetap saja terlihat khawatir.


" Gimana kalo aku nemenin kamu disini? " usul Eza dengan sebuah senyuman di wajahnya.


Mendengar ucapan Eza, Puri kembali terperanjat.


" Jangan macam-macam kamu, aku gak mau difitnah orang ." Puri menolak.


Eza terdiam sebenarnya ia juga tau tentang peraturan itu, dimana seseorang yang bukan muhrimnya di larang tinggal bersama.


" Oke baiklah... " Eza mengalah.


Eza melangkah pergi


Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa dua kotak makanan di tangannya. Sengaja ia beli waktu di perjalanan tadi karna ia sudah menduga bahwa Puri tidak membawa bekal makanan sedikitpun Ia tak ingin gadisnya kelaparan malam itu.


Eza menyodorkan sebuah kotak pada Puri.


" Nih makanlah.. kamu pasti lapar kan? " ucap Eza.

__ADS_1


" Gak usah aku masih kenyang. " tolak Puri


Kruuukkk.....


kruuukkk.....


Tiba-tiba perut nya berbunyi pertanda ia lapar minta di isi.


" Tuh perut nya bunyi yakin.. gak lapar... " goda Eza, saatelihat Puri meringis sambil memegangi perutnya.


" Nggak kok jangan sok tau deh". jawab Puri masih saja berbohong. Sebenarnya ia merasa malu harus sedekat itu dengan pria yang ia sukai.


Eza memahami sikap Puri, ia membuka kotak berisi nasi dan lauk pauknya yang sangat sedap menusuk indra penciumannya.


Puri meraba perutnya aroma makanan semakin mengaduk -aduk isi perutnya.Ia menelan air liurnya.


" Ayo.. makanlah.. nanti kamu sakit ." Eza menuntun Puri menyuruh nya duduk di kursi meja makan.


" Gak usah aku bisa makan sendiri." Puri menolak ketika eza hendak menyuapinya.


" Aku bukan anak kecil tau" lanjutnya lagi.


Mereka pun makan bersama, sesekali Puri mencuri pandang wajah tampan berkumis tipis, hatinya terasa sejuk kala memandangnya. Puri memalingkan wajahnya kala Eza membalas memandangnya ia terlihat malu-malu kucing.


" Makasih ya... kamu udah mau nemenin aku... " ucap Puri ketika mereka selesai makan.


" Iya... aku pengen kita... " Eza tak meneruskan kata-katanya ia mengambil selembar tisu kemudian mengusap area bibir tipis milik Puri. Rupanya ada sisa makanan yang menempel di sana.


Deggg


Jantung Puri serasa berdebar nafasnya naik turun tak karuan di perlakukan seperti itu oleh pria idamannya. " So sweet bnget sich" batin Puri.


Kemudian ia melangkah ke arah jendela memandang sekitar halaman rumah yang mulai gelap.


" Kamu pulang gih, udah malam " ucap Puri.


" Biarkan aku disini ya.... please... " Eza memohon.


" Za, tolong mengertilah aku bukan siapa-siapa kamu kita gak punya ikatan apapun ." Puri merasa tak nyaman jika harus berduaan dengan pria yang bukan siapa-siapanya.


" Ok, kalo gitu sekarang akan aku buat ikatan denganmu ." ucap Eza serius.


" Apa maksudmu? " Puri bertanya meski ia tau bahwa Eza juga menyukainya. Ia sangat berharap pria itu akan menyatakan isi hatinya.


" Sejak aku bertemu denganmu aku merasa kita cocok, aku merasa begitu nyaman bersamamu aku yakin kamu pasti merasakan hal itu juga kan? " Eza memandang Puri, sementara yang di pandang menyembunyikan senyum di balik wajahnya yang merona.


" Hei.... ayo jawab kalo kamu juga punya perasaan yang sama kan? " Eza mengulangi pertanyaannya.


" Jujur aku juga.... " Puri.


Greeeppp


Belum selesai Puri menjawab, Eza langsung membawa Puri dalam pelukannya.


Puri membalas pelukannya.


" Maukah kamu jadi kekasih ku? " tanya Eza seraya melerai pelukannya. Ia menatap lekat wajah Puri yang memerah karena bahagia.


Puri mengangguk. Terbitlah seulas senyum di bibirnya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan.


" Aku mau.. " ucap Puri malu-malu.


Sekali lagi mereka berpelukan, menikmati indahnya cinta yang baru saja bersemi.


Eza tetap pada pendiriannya ia tak ingin meninggalkan kekasihnya yang baru saja ia pacari.


" Oke aku gak akan diam disini, tapi biarkan aku tetap menjagamu dari luar, " ucap Eza.


" Apa maksud mu, apa kau akan tidur di luar..jangan ngaco'deh ." celetuk Puri.


" Aku akan tidur di mobil ." ujar Eza.


" Terserah lah ." Puri menyerah, jika ia keras kepala maka Eza lebih keras lagi dari dirinya.


Eza mencium mesra tangan Puri kemudian melangkah pergi.


Sementara Puri memandangi punggung pria itu semakin menjauh darinya.


Malam semakin larut kedua insan yang sedang di mabuk asmara masih tetap melangsungkan Video call.


...****************...


Tepat jam 04:30 Puri mengetuk pintu mobil, terlihat Eza tengah tertidur di dalam.


Tok


tok


tok....


Tangan Puri mengetuk pintu mobil perlahan, Eza menggeliat sembari mengucek kedua matanya.


" Udah subuh pulang sana gih... gak enak kalo di liatin orang-orang ," Puri menyuruh kekasihnya untuk pulang.


" Kenapa harus gak enak, kita kan gak ngapa-ngapain ." ucap Eza acuh saja.


" Iya tetap aja mereka akan berprasangka buruk ." lagi-lagi mereka berdebat.


" Baik lah aku pergi dulu ya... nanti berangkat kerja aku jemput.. " ucap Eza mulai mengalah.


Puri mengangguk jika ia menolak pasti mereka akan berdebat dan Auto Eza akan semakin lama di sana.

__ADS_1


Eza keluar dari mobil memeluk kekasihnya sebelum ia pergi, kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


Dreeennn....


Dreeennn....


Suara mesin mobil memecah keheningan. Puri melambaikan tangannya mengiringi kepergian kekasihnya.


...****************...


Saat Puri tengah sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja, tiba-tiba ada suara ribut - ribut di luar rumah.


Tok.


Tok.


Tok.


Suara orang menggedor pintu dengan keras.


" Heiii... ayoo keluar... cepat keluar ." teriak seseorang dari luar.


" Buka pintunya... cepat... " teriak seorang yang lain.


Kreeeekkkk....


Suara pintu terbuka terlihatlah Puri yang sedang kebingungan, salah seorang menarik lengan nya.


" Ayo jawab... siapa laki-laki yang bersamamu semalam " tanya seorang perempuan dengan bengis.


" Apa maksud kalian,? " Puri masih terlihat bingung.


" Alahh... jangan pura- pura gak tau, sok suci padahal tingkahnya sangat memalukan ." cerca yang lain.


" Aku benar-benar gak ngerti apa maksud kalian ." Puri masih belum bisa memahami apa sebenarnya yang terjadi.


" Masih belum mau ngaku juga, semalam kamu memasukkan seorang pria ke rumah ini kan dan lebih parahnya lagi kalian saling berpelukan di rumah ini, Memalukan ." ucap salah seorang dari mereka dangan nada kebencian.


Mereka ada empat orang semuanya perempuan, mereka memang hobi sekali mencari kesalahan orang lain untuk di jadikan bahan pergosipan mereka. Maklumlah mereka ibu-ibu rumah tangga yang kerjanya hanya ngurusin masalah orang tanpa memikirkan masalah nya sendiri. Alias tukang ghibah


" Heei.. jangan sembarangan nuduh ya... aku bisa laporkan kalian ke kantor polisi ." gertak puri membela diri.


" Laporin aja... toh kamu akan malu sendiri, "ucap ibu-ibu itu dengan nada sinis.


" Ya.. aku melihat dengan mata kepala ku sendiri, kamu sedang bermesraan dengan pria itu kan? jangan -jangan kamu ini simpanan om om... " salah seorang dengan nada mencibir.


" Penampilan nya aja tertutup, tapi hatinya busuk, ayo kita usir aja dia dari sini dari pada nantinya dia bikin malu kompleks kita. " seru yang lainnya.


" Tunggu, tunggu aku bisa jelasin semuanya ini gak seperti apa yang kalian fikirkan." ucap Puri, tapi salah seseorang telah mendorongnya hingga ia terjatuh terjerembab di lantai.


Tak lama kemudian sang pemilik rumah datang menghampiri segerombolan ibu-ibu yang tengah ribut beradu mulut.


" Hemmm hemmm... "


Si pemilik rumah berdehem membuat mereka menoleh ke arahnya.


" Ada apa ini? apa yang kalian ributkan? " tanya si pemilik rumah. Seorang laki-laki paruh baya. Pak gading namanya.


" Ini pak gadis ini udah berani berbuat mesum di rumah ini ." tuduh seorang ibu-ibu sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Puri.


" Iya pak semalam ia membawa laki-laki kedalam rumah ini, jangan di biarin pak usir aja dia ." timpal yang lain.


" Iya pak usir aja sebelum ia membuat mala petaka di kompleks kita pak ." ucap yang lain lagi dengan kompak.


" Tenang ibu-ibu, kita gak boleh gegabah, kita tanya kan dulu apa sebenarnya yang terjadi, " pak Gading mencoba menengahi.


" Gak usah pak saya melihatnya sendiri mereka berpelukan mesra. Terlebih lagi dia ini yang mendatangi pria itu minta di peluk" seorang dari mereka memanas manasi.Namanya bu Ratih si tukang ghibah kelas kakap. Ia sengaja memanggil temannya untuk melabrak Puri. Karna sejak dulu ia kurang suka dengan Puri entah apa sebabnya.


" Jangan main hakim sendiri lebih baik kita tanyakan dulu, sebelum kita salah bertindak" rupanya pak gading orang yang sangat berwibawa ia tidak mudah tersulut emosi.


Atas permintaan si pemilik rumah akhirnya Puri menceritakan hal yang sebenarnya, hingga membuat mereka merasa salah paham.


" Benar pak apa yang di katakannya. " ucap seseorang dari arah belakang. Eza. Rupanya mereka tidak mengetahui kedatangan pria tampan itu. Karna terlalu sibuk mengghibah.


" Kenalkan saya Eza, calon tunangannya ." Eza memperkenalkan diri.


" Semalam saya memang mengantarnya ke mari" lanjutnya.


" Bagaimana ibu-ibu sudah jelas? " tanya pak Gading.


" Oh, jadi tunangannya... " ucap seseorang, dengan menahan malu mereka kemudian meminta maaf.


" Kapan kalian akan bertunangan, jangan lupa undang saya ya... " ucap bu Ratih dengan tidak tau malunya. Ia cengingisan.


Bu Ratih berubah pikiran ketika melihat Eza datang , ia melirik sebuah mobil mewah,


" Pasti orang kaya, kalau aku bisa kenal baik dengannya, bagus untuk sosialita ku " ucap bu Ratih dalam hati.


" Ya sudah sekarang kita bubar, jangan ulangi lagi kesalahan seperti ini" ucap pak Gading.


" Kami pamit dulu nak, maaf sudah mengganggu ketenangan mu" lanjutnya. sembari undur diri.


" Ya gak apa apa pak. " ucap Puri.


Akhirnya masalah itu pun selesai, satu persatu dari mereka pamit undur diri. Tentunya dengan rasa malu.


" Makasih ya sekali lagi kamu nolong aku, kalo gak ada kamu gak tau deh apa yang akan terjadi padaku ." ucap Puri.


" Udah jadi tanggung jawabku untuk selalu melindungimu daru apapun ." ucap Eza.


" Tapi.. kenapa kamu tadi bilang calon tunangan? " tanya Puri tak mengerti.

__ADS_1


" Memang nya kenapa? kamu gak mau jadi tunangan aku? bukannya orang yang udah pacaran akan melakukan pertunangan dan melanjutkan ke jenjang pernikahan? " Eza memandang lekat wajah kekasihnya.


" Iya kamu benar ." jawab Puri malu-malu namun di hatinya terasa begitu bahagia.


__ADS_2