Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 71 Jangan Sakiti Dia


__ADS_3

Andrian merasa khawatir pikirannya selalu saja dipenuhi oleh bayang-bayang Dhita.


Ia terlihat sangat gelisah, sebentar duduk sebentar berdiri.


Bellinda yang melihat semua itu langsung bertanya.


" Sayang, apa kau masih memikirkan Dhita dan Arjuna?" Bellinda bertanya sambil mengusap perutnya yang sangat membuncit.


Mendapat pertanyaan dari istrinya Andrian langsung mendekati Bellinda dan duduk di sampingnya.


" Ya kau benar, aku selalu saja memikirkan tentang keselamatan mereka, entah kenapa hatiku rasanya khawatir." jawab Andrian menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


" Kalau begitu pergilah, carilah mereka sampai ketemu," pinta Bellinda, ia memahami perasaan suaminya yang tidak akan pernah tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan adik angkat dan juga suaminya.


" Tapi... aku jauh lebih mengkhawatirkan dirimu, aku takut kau akan melahirkan di saat aku sedang tidak di rumah." ucap Andrian penuh dilema, jika ia pergi untuk ikut mencari Dhita dan Arjuna ia khawatir istrinya tiba-tiba akan melahirkan.


" Percayalah aku pasti akan baik-baik saja," ucap Bellinda berusaha untuk menenangkan suaminya.


Di peluknya Bellinda oleh Andrian, hatinya begitu tersentuh melihat kondisi istrinya yang seperti badut di Monas.


Tapi didalam hati ia berjanji akan selalu membahagiakan Bellinda seumur hidupnya.


Tring.


Sebuah pesan suara masuk di ponselnya.


( " Andrian, kami telah menemukan dimana Dhita dan Arjuna berada, mereka di sekap di dalam gedung tua yang kosong, yang ada di tengah hutan, saat ini kami sedang menuju kesana!" )


Begitulah pesan suara yang di terima oleh Andrian.


" Dari siapa itu yang ?" tanya Bellinda yang ikut mendengar bunyi pesan suara tersebut.


" Dari Eza, ia dan rekannya sedang menuju ketempat Dhita," jawab Andrian.


" Pergilah, mereka lebih membutuhkan dirimu, aku akan baik-baik saja di sini," Bellinda bersikeras menyuruh Andrian untuk membantu Eza dan rekannya yang sesama anak buah Arjuna.


" Baiklah jika itu maumu, tapi ingat jika terjadi sesuatu padamu atau bayi kita cepat hubungi aku," pesan Andrian.


" Pasti suamiku." Bellinda tersenyum meski di dalam hati ia merasa berat untuk melepas kepergian suaminya, mengingat lawan yang akan ia hadapi bukanlah orang sembarangan.


Orang biasa tidak akan mampu untuk menculik Arjuna mengingat kekuasaan pria itu jauh di atas kekuasaan suaminya.


Menurut Bellinda orang yang telah menculik Arjuna dan Dhita adalah orang-orang handal yang mampu menyelesaikan misi tersebut.


" Aku pergi dulu!" ucap Andrian sambil mencium kening sang istri.


" Hati-hati!" pesan Bellinda.


Bellinda mengiringi kepergian suaminya dengan pandangan.

__ADS_1


Barulah ia memalingkan wajahnya saat Andrian menghilang di balik pintu.


*


*


*


Sementara itu Eza dan juga Reyhan sedang dalam perjalanan menuju hutan.


Mereka di dampingi oleh Boby dan semua rekannya, semua bersiap untuk menyelamatkan tuan mereka dan istrinya.


Setelah menyusuri jalan yang berliku, tak hanya berliku namun juga gelap gulita.


Di tengah jalan Eza, Reyhan dan rekan yang lainnya berjumpa dengan Mommy Rita dan juga orang tua Dhita, disana juga ada David sebagai penunjuk jalan.


" Tante, dari mana Tante tau kalau mereka di sekap di sekitar tempat ini?" tanya Eza kepada mommy Rita.


Ya memang mommy Rita yang telah menginfokan kepadanya dan juga Reyhan tentang keberadaan Dhita dan Arjuna.


" Ceritanya panjang, lebih baik sekarang kita masuk Tante takut terjadi apa-apa kepada mereka." jawab mommy Rita dengan gusar.


Tanpa berpikir panjang akhirnya mereka semua berjalan memasuki halaman gedung tua tersebut, walaupun sebelumnya Eza dan Reyhan telah melarang mommy Rita dan Bu Safitri untuk ikut masuk ke dalam, mengingat keadaan begitu menegangkan mereka khawatir akan keselamatan mommy Rita dan Bu Safitri namun semua larangan itupun di tolak oleh keduanya. Mereka lebih mengkhawatirkan keselamatan putra- Putri mereka daripada keselamatan diri sendiri.


Tampak suasana sangat menegangkan karena hampir di semua sudut di jaga oleh para pengawal Bastian yang senantiasa selalu sigap berjaga-jaga.


*


*


*


Andrian yang sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk melaporkan penculikan tersebut terlihat sangat terburu-buru.


Andrian sengaja pergi ke kantor polisi untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Maka polisi lah nanti yang akan menangani kasus tersebut.


Usai melapor ke kantor polisi, Andrian langsung menuju ke lokasi yang di share lok oleh Reyhan. Tentunya dengan di dampingi oleh beberapa anggota polisi yang sedang bertugas.


*


*


*


Di dalam gedung tua.


Dhita yang telah berhasil keluar dari kamar tempatnya di sekap, berjalan dengan perlahan mencari keberadaan suaminya.


Semakin jauh Dhita melangkah semakin ia mendengar suara Arjuna yang tengah mengerang kesakitan.

__ADS_1


" Mas Ar, dimana kamu mas," ucap Dhita dalam tangisnya, hatinya sungguh pilu mendengar suara suaminya yang mengaduh kesakitan.


Dhita berusaha berjalan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Seringkali Dhita bersembunyi di balik barang ketika melihat anak buah Bastian yang sedang berlalu lalang.


Setelah di rasa cukup aman Dhita pun keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah menuju tempat dimana suaminya berada.


" Hentikan Bastian hentikan!" seru Dhita saat ia melihat Bastian yang hendak melayangkan cambuknya ke tubuh Arjuna untuk yang kesekian kalinya. Tampak di seluruh tubuh itu Luka memar yang berdarah.


Mendengar suara Teriakan, Bastian menghentikan tangannya yang hendak kembali mencambuk Arjuna.


Dengan penuh kemarahan Dhita berjalan menghampiri Bastian.


PLAAAKK.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bastian hingga membekas di sana.


" Beraninya kau!" teriak Bastian marah sambil memegangi sebelah pipinya.


Melihat hal itu Arjuna terkejut, wanita yang selama ini ia kenal dengan ke lemah lembutannya ternyata mampu menampar seorang Bastian yang cenderung kasar.


" Ini tidak seberapa dengan apa yang kau lakukan padaku dan juga suamiku," Dhita membalas berteriak kepada Bastian mencerminkan kemarahan hatinya.


Sekali lagi Dhita hendak menampar, namun Bastian segera mencekal tangannya.


Lalu menghempaskan tubuh Dhita ke sembarang arah membuat Dhita terjungkir balik.


BREKKP.


Tubuh Dhita terjatuh mengendus lantai.


" Awww," pekik Dhita meringis kesakitan.


Melihat hal itu Arjuna membelalakkan kedua matanya. Namun ia tak dapat melakukan apa-apa karena tangan dan kakinya terikat.


" Bastian jangan pernah sakiti istriku, cambuk saja diriku semaumu asal jangan pernah sakiti dia!" teriak Arjuna dengan lantang menggelegar di seluruh ruangan, suara yang penuh dengan kemarahan.


" Dua kekasih yang tidak berdaya, kasihan sekali," ejek Bastian dengan nada mencibir.


" Kau tidak perlu repot-repot berkorban untuknya karena sebentar lagi dia akan menjadi milikku." ucap Bastian yang langsung membuat Arjuna melotot.


"Apa maksudmu Bastian?" tanya Arjuna masih dengan berteriak.


" Aku yakin dia kesini bukan untukmu, tapi untuk memberikan jawaban dari semua pertanyaanku ." lanjut Bastian.


" Bukankah begitu sayang?" Bastian berjongkok mendekati Dhita yang masih berada di lantai lalu meraih dagu Dhita dengan penuh nafsu.


" Lepaskan!" teriak Dhita.

__ADS_1


__ADS_2